Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
Pengakuan


__ADS_3

*Mia POV*


Aku duduk kembali dengan enggan.


"Aku akan bercerita dari awal, jadi kumohon kau dengarkan dengan sabar."


Aku mengangguk, memangnya harus apa lagi?


"Satu setengah tahun lalu, saat aku sedang meeting dengan client di restoran, aku melihatmu. Kau tau? aku langsung jatuh cinta saat itu, melihat kau yang begitu manis dan periang. Lalu aku menyuruh Leo untuk mencari semua informasi tentangmu."


Aku melotot tak percaya mendengarnya tapi tak mengatakan apa-apa.


"Maaf.. Lalu setelah aku tau kau adalah mahasiswi tingkat akhir yang punya banyak pekerjaan paruh waktu, aku pergi ke setiap tempat kau pergi bekerja. Aku tidak bermaksud menguntit, aku hanya ingin lebih sering melihatmu."


Kenapa gak langsung ngajak kenalan aja.


"Entah kenapa aku tidak cukup percaya diri untuk sekedar mengajakmu berkenalan."


Dia membaca pikiranku.


"Selama satu tahun aku melakukan itu tanpa kemajuan. Bahkan aku menyuruh para manager di tempat kau bekerja untuk menyembunyikan identitasku jika kau tak bertanya dan nyatanya kau juga tidak pernah bertanya." Dia tersenyum menyedihkan.


Aku tidak pernah bertanya karna aku hanya pelayan. Jadi rasanya tidak pantas untuk bertanya tentang pelanggan mereka.


"Lalu, satu bulan sebelum kau wisuda aku menyuruh Leo untuk membuatkan surat panggilan kerja untukmu. Aku mengatakan ingin kisah cinta romantis antara CEO dan sekretaris."


"Jadi aku bekerja di Astra Group karena anda?"


Aku benar-benar kesal mendengarnya.


"Tidak, bukan. Kami memang selalu memanggil satu fresh graduate untuk bekerja dengan kami, dan tahun ini kau yang kupilih."


Oke, itu tidak penting sekarang.


"Sayangnya setelah aku meminta itu pada Leo aku meminum minuman yang telah diracuni. Dan aku dinyatakan koma."


"Saat aku koma, aku bermimpi tentangmu."


Mimpi?


"Aku bermimpi bertemu denganmu di sini, di rumahmu."


Apa mungkin?


"Semuanya terasa nyata, sampai aku menganggap semua yang ku mimpikan benar-benar terjadi. Aku bahkan tau alamat rumahmu karna mimpi itu."


"Mimpi seperti apa?"


Aku harus memastikan.


"Aku yakin kau tau Mia."


Apa?


"Mimpiku, adalah semua yang ada dalam benakmu."


"Apa maksud anda?"


"Kau masih bertanya?"


"Beri aku kejelasan."


"Aku Devan Arkadiana, yang beberapa bulan ini kau panggil Arka, kekasihmu."


Aku tak tau apa yang kurasakan saat mendengar perngakuannya. Sama sekali tak menyangka kalo dia mengingat semuanya. Ini bukan mimpi kan?


"Sekarang kenapa melamun?"


"A..aku masih tidak percaya kau mengingat semuanya."


"Aku juga awalnya mengira itu hanya mimpi yang panjang, tapi bukankah sangat disayangkan jika itu hanya jadi sebuah mimpi? Apalagi aku sudah memiliki ciuman pertamamu." dia mengerling nakal padaku. Astaga, mukaku pasti sudah memerah sekarang.


***


*Author*


Hening.

__ADS_1


Tak ada yang mengeluarkan suara lagi. Devan masih setia memandangi Mia, sedang Mia terus saja menunduk tak berani membalas tatapan Devan.


"Baru tiga hari aku tinggal, kenapa sekarang kau berubah jadi pemalu."


"Aku tidak malu!" Mia mengangkat wajahnya menghadap Devan. Tapi matanya menatap pipi Devan, tidak berani menatap langsung ke matanya.


"Kalo tidak malu tatap mataku."


Tatapan keduanya bertemu setelah Mia mengalihkan pandangannya.


"Sekarang apa?"


Devan tersenyum sangat manis.


"Aku kangen."


"Cih, baru juga tiga hari. Dasar gombal."


"Jadi sekarang udah berani ngomong santai?"


Mia membuang muka.


"Yaudah kalo kamu mau kita tetap bicara formal."


"Enggak! Jangan. Aku lebih suka kamu yang kayak gini."


Mia mencibir.


"Kemarilah!"


"Mau ngapain?"


"Mau peluk."


"Nooo!!!"


"Tapi aku mau."


Devan mendekati Mia dan langsung memeluknya dengan erat.


"Kau ngapain sih, lepas." Mia memberontak.


"Kata siapa? Aku malah tenang kamu pergi." Ucap Mia asal untuk menghilangkan rasa malunya.


Devan langsung melepaskan pelukan Mia seketika.


"Ternyata cuma aku yang punya perasaan di sini."


"Eh gak gitu.." Mia merasa bersalah karena asal bicara.


Devan menyandarkan punggungnya menatap lurus ke depan, raut wajahnya datar seperti saat bersama orang lain.


"Maaf." ucap Mia.


"Tidak apa, mungkin aku yang terlalu menganggap empat bulan kemarin begitu penting."


"Mungkin seharusnya aku tidak datang ke sini."


Devan berdiri lalu melangkah menuju pintu.


Grep.


Mia memeluk Devan dari belakang, tepat saat Devan hendak membuka pintu.


"Maaf, aku gak bermaksud begitu. Aku cuma malu karna sekarang kamu adalah atasanku. Aku bahkan masih belum yakin kalo kamu adalah orang yang sama."


"Jangan berbalik! Biarkan tetap seperti ini sebentar saja."


Devan tak jadi saat akan berbalik. Membiarkan Mia mencari kenyamanan di sana.


"Sudah puas?"


"Hah?"


"Sudah puas memelukku?"


Reflek Mia melepaskan jalinan tangannya di perut Devan. Wajahnya merengut kesal. Dengan gerakan cepat Devan menangkup wajah mungil Mia dengan kedua tangan besarnya.

__ADS_1


Mata Mia melebar merasakan bibirnya dicium tiba-tiba. Rasa hangat menjalar ke hatinya. Bibir bawahnya disesap penuh kelembutan membuatnya terbuai dan menutup mata.


Lama kelamaan ciuman itu berubah menjadi ciuman yang bergai-rah. Hawa panas menerpa keduanya. Tangan Devan sudah berpindah ke tengkuk Mia agar ciumannya semakin dalam.


Mia pun melingkarkan jemarinya ke leher kekasihnya. Pasrah karena terlalu nyaman dan terlena. Nafas keduanya sudah memburu tak beraturan.


Satu tangan Devan mulai bergerak, meraba tubuh belakang Mia, menambah gai-rah yang sudah terkumpul.


"Eummhhh.."


Suara desa-han Mia seolah menjadi alarm bagi keduanya untuk berhenti. Devan menghentikan gerakannya seketika, begitu pun Mia yang langsung beringsut menjauh ke ujung sofa.


Keduanya tampak salah tingkah dengan apa yang sudah mereka mulai sendiri.


"Sepertinya kau harus pulang." usul Mia setelah beberapa saat.


"Ya, hujannya sudah reda ternyata."


"Baiklah, aku pulang."


Mia mengangguk.


Devan berjalan keluar diikuti Mia di belakangnya.


"Aku pulang dulu."


"Ya, hati-hati."


Devan mengangguk.


"Jadi, kita tetap pacaran kan?" tanya Devan sebelum membuka pintu mobilnya.


"Tetap?"


"Ya, aku sudah memintamu untuk jadi pacarku saat masih menjadi Arka."


"Iya juga."


"Apa perlu aku meminta lagi?"


"Tidak perlu, itu akan membuatku merasa punya dua pacar." Bibir Mia mengerucut.


"Oke, aku pulang dulu."


"Kau sudah mengatakan itu tadi." Mia terkikik geli.


"Apa boleh aku menginap?" Tanya Devan dengan wajah memohon.


Wajah Mia terasa panas seketika, untung saja penerangan di luar sini sedikit redup jadi tidak terlihat wajahnya yang memerah. Fantasinya langsung liar begitu mendengar kata menginap. Astaga, kenapa otaknya jadi mesum begini.


"Tidak!!"


"Oke." Devan masuk ke mobil dengan wajah lesu yang dibuat-buat.


"Masuklah, setelah itu aku akan pergi."


"Baiklah, hati-hati."


"Hmm. Bye-bye!" Devan melambaikan tangannya lalu dibalas oleh Mia.


Baru setelah melihat Mia masuk, Devan pergi meluncur dengan mobilnya.


"Aaaaaaaa!!!" Mia berteriak dengan keras ke dalam bantal hingga suaranya teredam.


"Apa aku mimpi? Gimana bisa Arka si hantu kini berubah menjadi Devan si CEO?"


"Mimpi apa aku bisa pacaran dengan bosku sendiri?"


"Apalagi dia bilang dia sudah menyukaiku sejak lama. Oh betapa indah takdirmu, Tuhan."


"Aku benar-benar ada di atas awan!!"


Mia tak tau jika di luar Devan mendengar semua yang Mia katakan. Devan kembali untuk mengambil dompetnya yang tertinggal. Tapi mendengar Mia menyebut namanya, Devan tidak jadi mengetuk pintu."


"Ternyata aku tidak exited sendirian." Devan tersenyum bahagia.


Devan mengurungkan niatnya untuk mengambil dompet, biarlah dia mengirim pesan pada Mia untuk membawanya besok.

__ADS_1


***


bersambung....


__ADS_2