
"Pagi, Mia!"
"Pagi, Leo!"
"Gimana? gak ada masalah kan selama aku pergi?"
Masalah? Mia jadi memikirkan Arka yang sejak semalam belum muncul lagi di hadapannya. Entah kemana hantu itu pergi.
"Mia? haloo?" Leo melambaikan tangannya di depan wajah asistennya itu.
"Eh, iya. Baik, kok gak ada masalah."
"Baguslah."
"Eh, sebenarnya ada satu."
"Apa?"
"Mr.Alex."
"Kenapa dia?"
"Dia memundurkan rapat jadi dua minggu ke depan, karna ingin Tuan Devan sendiri yang menemuinya. Dia gak mau aku ataupun kamu yang menghadiri meeting nanti."
"Apaa? kenapa baru ngomong sekarang?"
"Aku udah coba hubungi kamu, tapi gak pernah kamu respon." Mia sedikit kesal dengan respon Leo yang seolah menyalahkannya.
Leo menghembuskan nafas kasar. Memang saat di Singapura banyak sekali pekerjaan yang harus dia handle sampai-sampai dia mengabaikan panggilan dari Mia.
"Ah sudahlah, nanti aku pikirkan lagi."
Mia dan Leo akhirnya memilih tidak ambil pusing dengan permintaan Mr.Alex yang dua minggu lagi, mereka lebih dulu mengerjakan pekerjaan di depan mata yang sudah menumpuk.
Arka, kamu di mana?
__ADS_1
***
Jika kau seseorang yang bisa melihat mereka yang tak kasat mata, kau akan melihat seorang lelaki tampan yang sedang hilang-timbul di dalam sebuah gedung pencakar langit. Gedung itu milik Giant Family.
Arka sudah berada di sana sejak tadi pagi, mencari informasi tentang dirinya yang pernah bereaksi ketika melihat direktur perusahaan ini.
Sejak semalam Arka tidak muncul lagi di depan Mia. Dia merasa bersalah karena tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Dia merasa ada orang lain yang mengendalikannya semalam, dia bahkan tidak bisa berhenti ketika dia mencoba. Dan dia juga takut, kalau-kalau saat dia muncul Mia menghindarinya karena kecewa padanya. Itu akan lebih menyakitkan lagi.
Kini, Arka duduk di sofa ruangan Alex, sana direktur. Dia sudah berkeliling di seluruh gedung, tapi tak menemukan apapun yang membuatnya kembali bereaksi. Jadi dia memutuskan untuk mengawasi Alex.
Tok..Tok..pintu ruangan itu diketuk.
"Masuk."
Lola masuk membawa sebuah amplop besar ditangannya.
"Saya membawa informasi yang anda minta, Mister." Lola menyerahkan amplop itu pada atasannya.
"Leo, selama dua minggu ini ada di Singapur, tidak ada catatan dia pergi ke Jepang seperti yang dikatakan asistennya."
"Sedang apa dia di sini?"
"Seminggu pertama dia di Singapur, Leo tak pernah absen pergi ke rumah sakit itu dan ini adalah foto di minggu kedua dia di sana." Lola menunjuk satu foto.
"Sedang apa dia di sana?"
"Maaf, Mister, kami tidak bisa mengakses informasi dari sana, karna rumah sakit itu berada di bwah naungan Astra Group."
"Bagaimana dengan Devan?" Dia baru sadar kalau di sini tidak ada foto Devan.
"Devan sama sekali tidak terlihat bersama Leo. Catatan terakhirnya adalah, dia terbang ke Jepang dua bulan yang lalu."
"Apa Leo juga ke Jepang dua bulan lalu?"
"Ya, waktunya sama persis dengan keberangkatan Devan. Anehnya, kami tidak bisa menemukan Devan di Jepang. Dia sama sekali tidak terlihat di semua area Astra Group yang ada di sana."
__ADS_1
"Oke, selidiki lagi di mana Devan berada." Alex mengisyaratkan Lola untuk keluar dari ruangannya.
"Eeee, sebenarnya ada satu foto lagi."
"Foto apa?"
"Ini tentang nona Celina."
"Ada apa? mana fotonya."
Lola mengeluarkan satu foto dari saku blazernya, lalu memberikannya pada Alex.
"Apa ini!!"
"Itu foto dua bulan lalu, dan sepertinya itu alasan kenapa Devan memutuskan hubungan dengan nona Celina, Mister, karna pada saat yang sama Devan juga terlihat di club itu."
BRAKKK... Alex memukul meja kerjanya, merasa murka dengan apa yang baru saja dia ketahui.
Arka yang sejak tadi menyimak pembicaraan mereka yang sebenarnya sudah ia ketahui, jadi penasaran karena melihat reaksi Alex.
Dia berdiri di belakang Alex untuk melihat gambar itu. Foto itu menampilkan satu pasangan yang sedang berciuman.
Terlihat wanita muda yang dia kenali sebagai putri Alex, kemudian dia lebih mendekatkan wajahnya lagi ke foto itu untuk melihat siapa laki-laki itu. Dan ketika dia sudah benar-benar melihatnya dengan jelas, dia yakin laki-laki itu adalah orang yang selama ini dia kenal.
"Arrghh.." Sakit kepalanya kembali. Sakit yang benar-benar tak tertahannkan sampai dia jatuh terduduk di lantai.
Bayangan itu kembali muncul, dua orang yang sedang bercumbu di sebuah sofa hitam dengan lampu kerlap-kerlip. Kali ini dia melihat dengan jelas siapa dua orang itu, sama persis dengan siapa yang dia lihat di foto. Namun, kali ini dia melihat satu orang lagi. Seseorang yang sedang berdiri tak jauh dari mereka berdua. Orang itu membelakangi dirinya, tapi Arka seperti sangat familiar dengan postur tubuhnya.
Karena sudah tak tahan, Arka akhirnya memilih pergi dari sana.
"Cari tau ada hubungan apa Celina dengan si asisten ini."
"Baik, Mister."
***
__ADS_1
bersambung....