
#Visualnya aku ganti karena kayaknya lebih cocok yang ini daripada yang kemarin Sampulnya pun aku ganti, bisa liat di episode sebelum ini. Happy readingš„°#
...***...
Celina memasuki sebuah bar khusus kalangan elit. Dia menyerahkan kartu membernya ketika penjaga di sana memintanya, dan penjaga itu langsung menuntun Celina ke meja yang sebelumnya sudah Celina pesan.
Semua mata tertuju pada Celina, penampilannya sekarang yang menggunakan rok mini yang hanya menutupi setengah pahanya, juga croptop model sabrina membuat kesan seksi membayanginya. Namun, Celina sama sekali tak peduli. Yang dia inginkan sekarang adalah minum sepuasnya sampai mabuk lalu melupakan sakit hatinya yang diabaikan oleh Leo.
Celina langsung menuangkan minumannya ke dalam gelas kecil lalu meminumnya dalam sekali teguk. Sensasi terbakar merayapi tenggorokannya. Minuman yang dia pesan adalah minuman yang memiliki kadar alkohol tertinggi. Celina terus menerus menuangkan minuman itu lalu kembali meneguknya.
"Kau datang sendiri?" Seorang pria tampan berdiri di depan Celina sambil membawa segelas minuman di tangannya.
Mata Celina menyipit agar lebih jelas melihat wajah pria tersebut. Rupanya minuman tersebut sudah berefek padanya meski tidak sampai membuatnya mabuk.
"Seperti yang kau lihat." jawab Celina seadanya, setelah beberapa saat, lalu meneruskan minumnya, kali ini dia menenggaknya langsung dari botol.
Mendapat respon yang cenderung baik pria tersebut kembali bertanya.
"Boleh aku bergabung?"
Celina tersenyum miring mendengarnya.
"Apa kau tidak punya uang untuk sekedar menyewa meja? Kalo tidak punya uang seharusnya kau tidak datang ke tempat ini, pergi saja ke tempat murahan di luar sana."
"Benar sekali, sepertinya aku salah tempat. Tapi aku sudah terlanjur memesan minuman ini, sayang sekali jika aku harus pulang tanpa meminumnya. Jadi, berbaik hatilah untuk membiarkanku duduk bersamamu." Rupanya pria itu sama sekali tak terpancing emosi oleh kata-kata kasar Celina, dia malah semakin kekeh. Padahal penampilannya sama sekali tak menunjukkan seorang yang tak punya uang. Semua yang melekat padanya adalah barang bermerk.
"Cih, terserah kau saja kalo begitu." Celina menyandarkan punggungnya.
Mendengar jawaban Celina, pria itu tersenyum senang lalu duduk di samping Celina.
"Sofa ini luas, kenapa harus duduk di sini?"
"Maaf." Pria itu geser ke sudut.
"Kris."
"Hah?"
"Namaku, Kris. Kau?" Pria bernama Kris itu mengulurkan tangannya ke arah Celina. Celina menatap tangan itu sesaat, tapi kemudian menyambutnya.
"Celina." Dia langsung melepaskan tangannya.
"Cheers!" Kris mengadukan gelasnya ke gelas Celina, mau tak mau Celina membalasnya. "Cheers!" Lalu keduanya meminum minuman masing-masing.
"Biar kutebak, kau sedang patah hati kan?"
"Cih, tidak usah sok tau."
"Aku bisa melihat dari caramu minum dan menghela nafas. Aku juga sudah memperhatikanmu sejak tadi."
"Benarkah?" Celina bertanya dengan wajah meledek.
__ADS_1
"Ya."
"Kau anak kecil tau apa?"
"Anak kecil? Siapa yang kau bilang anak kecil?"
"Kau. Siapa lagi?"
Kris langsung menegakkan tubuhnya.
"Aku bukan anak kecil. Aku sudah lulus kuliah satu tahun lalu." Egonya merasa terancam kala wanita itu memandangnya remeh.
"Itu artinya kau memang anak kecil bagiku." Celina terkekeh, entah karena merasa lucu atau efek minumannya. Kris ikut tersenyum melihat Celina tertawa. Baginya, kecantikan Celina bertambah berkali-kali lipat.
"Memangnya berapa usiamu sampai kau memanggilku anak kecil?"
Celina menoleh pada Kris yang tersenyum manis.
"Kau tidak perlu tau, kita tidak sedekat itu sampai harus membahas umur."
"Kalo begitu izinkan aku lebih dekat denganmu." Kris menggeser duduknya sedikit lebih dekat dengan Celina.
Celina menatap Kris dengan pandangan sayunya. Sepertinya dia sudah mulai mabuk. Melihat Celina yang diam, Kris berani untuk semakin mendekat. Wajahnya dia condongkan ke arah wajah Celina. Matanya tertuju pada bibir pink Celina yang terbuka. Namun, saat jarak mereka hanya tinggal beberapa centi lagi Celina memalingkan wajahnya, lalu mendorong kening Kris dengan telunjuknya.
"Berani-beraninya kau!"
Kria malah tertawa dengan itu. Reaksi Celina yang tidak marah membuat Kris percaya diri kalau Celina pun tertarik padanya walau sedikit.
"Maafkan aku. Aku terlalu terpesona."
"Aku antar!"
Celina menoleh.
"Kau masih belum menyerah juga?" Celina menyeringai.
"Tidak, terimakasih. Sopirku sudah menunggu di luar." Celina berbalik.
"Celina!" panggil Kris.
"Hm?"
"Semoga kita bertemu lagi!" Ujar Kris tersenyum begitu manis.
Celina hanya menaikkan sudut bibirnya sebagai balasan, lalu kembali melangkah keluar.
***
Di hari lainnya, sebuah pesta diadakan. Pesta itu adalah pesta ulang tahun perusahaan otomotif yang baru-baru ini menjadi perbincangan hangat di dunia bisnis. Dari rumor yang beredar, katanya pesta ini diadakan untuk mengenalkan calon penerus perusahaan yang selama ini tidak dipublikasikan.
Celina datang ke acara tersebut menggantikan daddynya. Alex tidak bisa hadir karena menemani Lola yang sedang dirawat di rumah sakit. Mereka sudah menikah, dan Celina sudah melupakan kejadian yang sudah lalu.
Celina hadir dengan mengenakan gaun panjang warna hitam dengan belahan yang tinggi, lalu terbuka bagian atasnya.
__ADS_1
Dengan penampilannya sudah pasti Celina menjadi sorotan. Bukan tanpa alasan dia memakai pakaian itu. Dia ingin memancing seseorang. Seseorang yang dia tau pasti akan menghadiri acara ini.
"Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bertemu lagi," Celina menoleh ke asal suara. Seorang pemuda yang dia temui di bar malam itu kini berdiri di depan matanya.
"Kau datang ke acara seperti ini juga ternyata." Celina menanggapi Kris dengan malas.
"Ya, ini pertama kalinya," ujar Kris memandang ke seluruh ruangan yang sudah mulai penuh dengan tamu undangan. Celina tak menanggapi lagi ucapan Kris. Dia berjalan ke sebuah meja untuk berbaur dengan orang yang dia kenal.
"Selamat malam, tuan, nyonya!" Celina menyapa pasangan paruh baya yang tampak serasi. Mereka adalah David dan Maria.
"Oh hai, sayang.!" Maria menyapa balik Celina akrab dengan mencium pipi kanan kirinya.
"Kau datang sendiri?" tanya David yang adalah teman Alex.
"Ya. Aku mewakili daddy." David mengangguk lalu kembali mengobrol dengan yang lain.
"Kau tampak luar biasa, malam ini."
"Terimakasih, nyonya." Celina tersenyum manis.
"Sudah kubilang jangan memanggilku seperti itu. Kau adalah putri dari sahabat kami. Panggil aku tante, oke?"
"Baik, tante."
"Nah, seperti itu."
"Kau begitu ramah pada orang lain, tapi kenapa padaku ketus sekali." Tiba-tiba saja Kris sudah berada di sampingnya dan berbisik membuat bulu kuduknya meremang.
"Kenapa juga aku harus ramah pada anak kecil sepertimu. Aku hanya akan ramah dan sopan pada orang yang lebih tua."
"Apa bagimu usia begitu penting."
"Ya, tentu saja. Usia bisa menunjukkan kematangan seseorang." Celina tersenyum.
"Apa menurutmu aku tidak cukup matang untuk sekedar mengenalmu lebih jauh?"
"Aku tidak tau." Celina meninggalkan Kris yang tampak masih ingin bicara karena melihat seseorang yang dia cari.
***
Leo memasukki pintu besar itu setelah menyerahkan kartu undangan kepada penjaga. Devan menyuruhnya untuk menggantikannya untuk menghadiri pesta ini karena Mia yang sedang hamil muda merasa lemah untuk sekedar menemani Devan ke sini. Dan Devan tentu saja tidak mau meninggalkan Mia. Jadi, mau tidak mau Leo harus menggantikan Devan. Meski sebenarnya dia tidaÄ· begitu suka dengan acara seperti ini.
Leo mengambil segelas champagne yang dibawa oleh pelayan yang berlalu lalang. Menyesapnya sedikit lalu menatap ke seluruh ruangan. Hampir semua orang yang ada di sini Leo mengenalnya. Karena Leo sudah sering ke acara seperti ini.
Ketika sedang asyik mengamati orang-orang tanpa ada niat menyapa, tiba-tiba manik matanya menangkap pemandangan yang membuat dadanya berdebar sekaligus bergemuruh. Berdebar karena melibat wanita yang dicintainya terlihat begitu cantik dan menawan. Bergemuruh karena wanita itu sepertinya tengah asyik bercengkrama dengan seorang pria muda yang dia akui cukup tampan. Apalagi dia melihat senyum Celina mengembang saat menanggapi pria itu. Tak mau semakin merasa panas, Leo memilih pergi mencari sudut yang tak menampilkan pemandangan itu.
Leo melihat sebuah pintu terbuka yang ternyata mengarah ke balkon. Dia berjalan ke sana, menghirup udara segar dan menetralkan kembali nafasnya lalu meneguk minuman yang dia bawa.
__ADS_1
"Dasar bodoh!" umpat Leo.
"Siapa yang bodoh?"