
Devan dan Mia akhirnya sampai di bandara tujuan mereka. Sebuah negara cantik bersalju yang selalu menjadi impian Mia. Ya, satu minggu setelah pernikahan Devan memutuskan untuk honeymoon ke luar negeri. Dia ingin melukis momen bersama Mia sebanyak-banyaknya.
Devan terus menggenggam tangan Mia. Dia terus memandangi wajah Mia tanpa bosan. Baginya, wajah Mia lebih menarik dari pemandangan di luar sana. Sekarang, mereka dalam perjalanan menuju villa. Mereka diantar oleh sopir yang telah Devan sewa selama mereka di sini.
Devan melihat Mia menghela nafas. Perjalanan menuju villa memang agak panjang karena Devan memesan villa di daerah pedesaan. Dia ingin suasana yang lebih intim dengan Mia tanpa hiruk pikuk perkotaan.
"Tidurlah jika kau lelah." Devan menarik kepala Mia, menyandarkannya pada bahunya.
"Aku ingin tidur, bangunkan kalo sudah sampai ya." Mia berbenah mencari posisi nyaman, Devan merangkul bahu, menepuk-nepuknya dan dalam beberapa menit Mia pun terlelap.
Devan kembali memandang wajah Mia yang tertidur. Cantik, manis, imut, lucu menggemaskan semuanya ada pada Mia. Tak sedikit dari koleganya yang mengira Mia masih belasan tahun pada acara pernikahan kemarin. Hal itu membuat Devan sedikit resah, takut dikira pedofil oleh orang-orang. Meski sebelumnya Devan tak pernah peduli pendapat orang lain, tapi jika itu menyangkut Mia dia akan terpengaruh.
Gadis ini telah menjungkir balikkan kehidupannya yang monoton dan sunyi. Ya, gadis, meski sudah sah menjadi istrinya, kegadisan Mia belum menjadi miliknya. Gadis itu datang bulan bahkan saat acara belum selesai.
Mengingat wajah Mia saat itu membuatnya sedikit terkekeh. Mia tak henti-hentinya mengucapkan maaf sambil menunduk merasa bersalah, padahal Devan sendiri tak merasa kecewa sedikit pun. Tak masalah baginya melewati malam pertama pernikahan hanya dengan pelukan, toh yang penting Mia sudah menjadi miliknya jadi mereka bisa melakukannya kapan saja.
***
Mobil telah berhenti di depan villa yang Devan sewa. Sebuah villa mewah yang mempunyai fasilitas lengkap. Sopir sudah duluan keluar, mengeluarkan koper mereka lalu membawanya keluar. Sedangkan Devan masih menimang-nimang antara membangunkan Mia atau menggendongnya. Bukan apa-apa, saat ini Mia mengenakan mantel tebal yang membungkus tubuhnya, dan itu sedikit membuat Devan kesulitan. Tapi pada akhirnya, Devan menggendong Mia juga. Mood Mia sedang kacau gara-gara datang bulan, jadi Devan rasa jika dia membangunkannya Mia akan lebih badmood.
"Buka pintu kamarku." Devan menyuruh pelayan yang akan melayani mereka selama menginap di sini.
(Ngomongnya pake bahasa negara yang dikunjungi Devan dan Mia)
Sang pelayan dengan sigap mendahului Devan menaikki tangga menuju kamar Devan. Setelah sampai di kamarnya, Devan langsung merebahkan Mia di atas kasur mereka. Gadis itu sama sekali tak terusik. Mungkin saking lelahnya, karena di pesawat tadi Mia sepertinya kurang tidur, padahal perjalanan mereka memakan waktu 24 jam lebih. Melihat Mia yang begitu nyaman Devan pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Mia.
***
Mia mengerjapkan matanya, melirik kanan kiri kamar yang tampak asing baginya. Dilihatnya Devan yang terlelap di sampingnya, kemudian dia ingat kalau tadi dia tertidur di mobil, apakah Devan yang memindahkannya? Mungkin saja.
Mia bangkit menuju kamar mandi, tapi niatnya dia urungkan saat melihat sekilas keluar jendela kaca yang ternyata sudah gelap, tapi yang membuat dia tertarik adalah salju yang tengah turun tipis-tipis. Mia berjalan lebih dekat dengan kaca pembatas itu. Ini pertama kalinya dia melihat salju turun secara langsung.
Mia melihat ada pintu yang mengarah ke balkon, dia membukanya lalu keluar. Dia sangat ingin menyentuh salju yang turun itu. Hawa dingin langsung menyeruak tiga kali lipat dari yang tadi dia rasakan dalam kamar, tak lupa dia menutup pintu agar Devan tetap nyaman dalam tidurnya.
Tangannya perlahan terulur menangkap salju itu. Mia tersenyum senang saat salju itu mendarat di telapak tangannya.
__ADS_1
"Wah, rasanya benar-benar luar biasa!" Angin yang bertiup membuat salju juga mendarat di pakaian dan rambutnya, tapi Mia tak peduli, dia terlalu senang saat ini.
"Apa kamu gak kedinginan?" Suara Devan membuat Mia menoleh dan langsung tersenyum.
"Dingin. Tapi aku senang." Mia menyambut tangan Devan yang terentang.
"Terimakasih, sudah membawaku ke sini." Mia semakin mengeratkan pelukannya.
"Ini tempat impianmu, tentu aku harus membawamu ke sini."
Mereka saling memeluk dalam diam. Saling memberi kehangatan di dinginnya udara.
"Mmmmm.... Mia!" Devan memanggil Mia pelan.
"Ya?"
"Apa kau masih.." Devan sedikit sulit mengatakannya.
Mia menengadah untuk melihat wajah Devan yang ternyata juga tengah menatapnya. Entah kenapa Mia langsung tau apa yang akan Devan katakan hanya dari sorot matanya.
Devan meregangkan pelukannya, meraih wajah Mia yang masih menunduk malu. "Lihat aku!" pinta Devan. Mia membalas tatapan Devan yang perlahan semakin dekat. Mia memejamkan matanya pasrah. Dia tau hanya itu satu-satunya yang bisa dia lakukan saat ini.
Bibir Devan mendarat di bibir manis Mia. Mendiamkannya sejenak sebelum akhirnya melu-matnya dengan lembut. Tangannya menahan tengkuk Mia agar ciumannya semakin dalam.
Angin dingin yang sejak tadi berhembus mulai merasa kalah dengan hawa panas yang dua sejoli ini ciptakan. Tak ada yang tau pasti siapa yang menaikkan level cum-buan mereka, yang pasti nafas mereka sudah semakin memburu ingin melakukan lebih.
Mia merasakan kakinya semakin lemas, Devan yang mengerti itu segera mengangkat tubuh Mia ala koala. Membawanya masuk tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
Mantel dan baju hangat Mia Devan tanggalkan dengan satu tangan, hingga kini Mia hanya memakai satu lapis pakaian tipis. Devan merebahkan Mia di atas ranjang mereka, kemudian melepas semua pakaian atasnya hingga Mia mengalihkan tatapannya karna malu melihat tubuh topless suaminya.
Devan naik ke atas Mia, mengukung tubuh istrinya untuk menunjukkan dominannya.
"Lihat aku!" seru Devan.
"Aku malu." gumam Mia masih melihat ke arah lain.
__ADS_1
"Kenapa harus malu? Aku adalah bagian dari dirimu." Devan menarik wajah Mia agar menatapnya.
"Keliatan banget kalo kamu berpengalaman." Mia berkata dengan sedikit cemberut.
Devan tersenyum.
"Percaya atau tidak ini juga pertama kalinya untukku." Devan merubah raut wajahnya dengan serius. Mia mencari kebohongan di mata Devan, tapi tak menemukannya.
"Beneran?"
"Hmm.. kamu itu cinta pertama aku, pacar pertama aku, dan pertama kalinya untuk aku." Tatapan Devan begitu dalam dan penuh cinta saat mengatakannya, membuat siapa saja akan percaya dan meyakini ucapannya.
"Kamu adalah wanita satu-satunya dalam hidupku saat ini dan selamanya. Bersiaplah karna aku tidak akan pernah melepaskanmu sampai kapanpun dan untuk alasan apapun."
"Dan akupun tidak ada rencana untuk pergi dari hidupmu." Mia hanya dapat mengatakan itu. Dirinya sudah terhipnotis dengan mata dan kata-kata Devan.
Devan kembali mencium Mia, kali ini dengan sangat menuntut seolah meluapkan rasa cinta mereka yang membuncah. Tangan Mia melingkar cantik di leher Devan, sesekali mere-mas rambutnya.
Dada Mia melengkung sensual ketika Devan bermain di sana. Menggunakan keahliannya yang entah Devan datang dari mana. Sungguh, ini pun pertama kali untuknya.
Kedua tangannya berusaha melepas bawahan istrinya yang masih melekat, melepas sebentar tautan kesenangannya demi mendapat kesenangan yang lebih lagi. Matanya sontak berbinar dan semakin berkabut gai-rah melihat aset utama sang istri. Sedangkan Mia reflek menutupinya, meski gai-rah tengah melingkupinya namun urat malunya masih ia milikki.
Tangan Devan sekali lagi menarik tangan Mia, badannya kembali dia turunkan untuk meraup)))))()() bibir Mia yang sudah memerah akibat ulahnya. Kaki Mia perlahan melemas, membiarkan tangan Devan bermain di sana. Merasakan lebih lemas lagi dari pada saat tadi Devan memainkan dadanya.
Suara de-sa-han Mia dan era-ngan Devan saling bersahutan, mengalun indah dan menggai-rahkan bagi siapa saja yang mendengarkan. Sayangnya alunan itu hanya dapat didengar oleh mereka berdua saja.
Tubuh Mia seketika kaku saat merasa ada sesuatu yang hendak menembus tubuhnya. Devan merasakan itu, dia mencoba menenangkan Mia dengan memainkan kembali dadanya. Dengan pelan dia kembali mencoba menembus dinding itu, Mia tanpa sadar menancapkan kuku-kukunya di punggung Devan hingga berbekas, air matanya mengalir begitu saja.
Devan mengecup kening Mia setelah berhasil menembus dinding itu, mendiamkannya agar Mia terbiasa.
"Terimakasih, sudah mau menjadi milikku." bisik Devan dengan nafas yang memburu.
Mia yang masih memejamkan matanya, tersenyum mendengar bisikkan Devan. Tangannya memeluk punggung Devan.
Malam itu mereka habiskan untuk saling menyatukan kasih cinta dan gai-rah mereka. Bahkan salju musim dingin seperti kehilangan kuasanya saking panasnya permainan mereka. Devan si CEO dingin kini telah mencair oleh kehangatan Mia yang polos dan periang.
__ADS_1