Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
Dugaan


__ADS_3

Devan melihat berita pagi di tabletnya sambil sarapan sebelum berangkat ke kantor. Mulanya ia tak terlalu peduli dan hampir saja menekan skip. Sampai dia melihat korban tersebut. Wajahnya terlihat tak asing.


Kemudian ingatannya terbang ke waktu beberapa bulan lalu saat ia pulang dari mengunjungi restoran Mia bekerja.


Saat itu mobil Devan tiba-tiba mogok tepat di depan pasar tradisional yang sepi. Sepi karena ini sudah malam. Devan segera menghubungi Leo untuk menjemputnya lalu menghubungi bengkel juga.


Leo menyuruhnya untuk tetap di dalam mobil dan menguncinya karena daerah itu rawan penjahat dan Devan menurutinya.


Beberapa menit menunggu Devan melihat sebuah mobil putih datang dari arah berlawanan dengannya dan berhenti beberapa meter di depannya agak masuk sedikit ke area pasar.


Seorang pria keluar dari mobil tersebut. Devan sedikit penasaran dengan apa yang dilakukan pria tersebut di tempat sepi dan gelap seperti ini.


Lima menit kemudian datang lagi seorang pengemudi motor menghampiri pria bermobil itu. Lampu motor itu menyorot wajah si pria bermobil dan ternyata itu adalah seorang yang dia tau. Devan memang tidak mengenalnya secara dekat, tapi Devan tau dia adalah bodyguard Celina.


Rasa penasaran Devan semakin tinggi, dia dengan seksama memperhatikan apa yang mereka lakukan. Terlihat pria bermotor itu menyerahkan sebuah papper bag dari jaketnya kepada Dion. Dan Dion tampak memberikan sebuah tas besar pada pria bermotor itu.


Pria bermotor itu pergi setelah mengecek isi tas itu. Devan dapat melihat dengan jelas wajah si pria bermotor tersebut karena dia pergi melewati mobilnya. Dion pun tampak pergi tanpa menoleh ke arah mobilnya. Tak berapa lama Leo pun datang dengan dua orang montir.


Sekarang Devan ingat jika pria yang sedang diberitakan itu adalah pria bermotor yang dia lihat bersama Dion. Satu pertanyaan melintas di kepala Devan. Kenapa Dion menemui seorang bandar narkoba? Apa dia seorang pemakai? Tapi dilihat dari penampilannya dia sama sekali tidak terlihat seperti seorang pemakai.


Leo masuk ke apartemen Devan untuk menjemputnya bekerja. Dia tak ingin ambil resiko Devan berangjat sendiri lagi.


"Udah siap?" Leo melihat makanan Devan masih setengah juga obat yang belum diminum.


"Lo lagi liat apa serius banget." Leo duduk di depan Devan.


"Le, coba lo liat ini." Leo melihat yang ada di tablet yang Devan serahkan. Berita yang sama dengan yang dia lihat tadi.


"Kenapa? lo kenal?" canda Leo.


"Gue pernah liat Dion transaksi sama orang ini."


"Dion? Dion bodyguard Celina?"


Devan mengangguk.


"Tapi yang gue heran, dia sama sekali gak kayak pemake?"


"Gak semua pemake itu nunjukkin ciri-ciri, Dev."


Namun setelah mengatakan itu entah kenapa pikirannya melayang ke Celina. Dia juga ingat kalau Celina selalu membawa botol kecil yang dia bilang obat dari psikiater.


"Kenapa?" Devan melihat Leo melamun.


"Gak. Gue udah punya dugaan di otak gue, tapi sebelum yakin gue gak akan kasih tau lo."


Devan memandang Leo intens, kemudian mengangguk.


"Oke, gue serahin ke lo."


"Oke, sekarang kita berangkat. Ayo!"


***

__ADS_1


"Selamat pagi, Mia!" Devan menyapa Mia yang sudah duduk di kursinya.


"Selamat pagi, Tuan Devan." balas Mia sambil berdiri.


"Kapan kau akan memanggil namaku?"


"Sebaiknya tetap seperti itu, tuan."


Devan mengangkat bahunya mendengar jawaban Mia. Sedangkan Leo hanya bisa menggelengkan kepala melihat keduanya. Yang satu seperti kereta ekspres yang ingin cepat melaju, yang satu lagi enggan menaiki kereta tersebut.


Hari ini tidak jadwal di luar jadi Devan terus berada di ruangannya. Membuat Mia merasa sedikit sesak. Matanya pun tak bisa ia kontrol untuk tidak terus melirik pada Devan. Bagaimana tidak? Wajah itu adalah wajah yang sudah membuatnya jatuh cinta, jadi secara naluri ia akan selalu melihat kepada orang yang dia cintai. Meski ingatan itu hanya dimiliki oleh Mia. Ya, tidak mungkin bukan arwahnya membawa ingatan itu pada Devan.


"Ingin makan siang bersama?" Entah pada siapa Devan bertanya, karena dia mengatakan itu sambil menunduk.


"Boleh." Akhirnya Leo yang menjawab.


"Mia?"


"Tidak, saya pesan saja, tuan."


"Oke, ayo Leo kita makan di luar."


Mia menangkap rasa kesal pada suara Devan. Tapi mau apa lagi, dia memang agak tidak nyaman dengan sikap Devan yang terlihat ingin lebih akrab dengannya.


Bukan ia tidak ingin akrab dengan Devan seperti layaknya ia dengan Leo, tapi Mia tidak mau kalo nantinya ia tidak bisa menahan perasaannya kepada Devan yang notabenenya memiliki wajah yang sama dengan Arka, atau lebih tepatnya Devanlah pemilik wajah itu.


***


Setelah makan siang, Devan dan Leo kembali ke kantor. Mia pun telah menghabiskan makanan yang ia pesan.


Mia melirik Devan yang diam tidak seperti dua hari ini atau seperti saat Devan menjadi pelanggannya yang selalu memintanya melakukan ini dan itu.


Sampai waktu pulang pun Devan langsung keluar ruangan tanpa sepatah kata. Mia merasa aneh dengan sikap Devan, tapi juga merasa lega karena tidak harus menjawab atau menolak apapun yang Devan katakan.


"Aku pulang Mia." Leo


Mia mengangguk.


***


Mia sampai di rumahnya dengan letih. Jalanan benar-benar macet, hingga perjalanan pupang menjadi lebih lama. Langsung saja Mia menyamankan dirinya dengan bermandi air hangat.


Setelah mandi, Mia berniat membuat makan malam favoritnya yaitu mi instan. Entah kenapa dia begitu kecanduan mi instan. Namun, belum dia menyalakan kompor, pintu rumahnya ada yang mengetuk. Mia berfikir siapa yang datang malam-malam begini.


Mia mengintip dari jendela samping pintu, terlihat laki-laki berdiri tegap di sana.


"Tuan Devan?" Mia memastikan.


"Ya, ini aku Mia." Ternyata bukan.


Mia membuka pintunya segera meski sebenarnya dia enggan. Tapi tak mungkin juga dia menolak kunjungan atasannya.


"Malam, Mia. Apa aku mengganggu?"

__ADS_1


"Tidak, tuan. Ada keperluan apa tuan datang kemari?"


"Ada yang ingin ku katakan."


"Ya?"


"Kau tidak menyuruhku masuk?"


"Maaf, ini sudah malam."


"Kau dulu bahkan membiarkan seorang lelaki tinggal di sini." gumam Devan.


"Maaf?" Mia tidak terlalu yakin dengan apa yang dia dengar.


"Tidak, baiklah aku akan duduk di sini." Devan hendak duduk di kursi depan rumah Mia, namun sepertinya dewi keberuntungan berpihak padanya. Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya.


"Kau yakin kita di luar saja?"


Mia menghembuskan nafasnya.


"Baiklah, mari masuk."


Devan tersenyum penuh kemenangan.


Mereka duduk di sofa depan TV.


"Silakan duduk, tuan."


Setelah Devan duduk, Mia membuat teh hangat untuk Devan.


"Saya hanya punya teh, tuan."


"Tidak apa-apa, terimakasih."


Devan meminum teh itu sedikit.


Mia menunggu apa yang akan disampaikan atasannya itu.


"Begini, sebelumnya apa kau melupakanku?"


"Maaf?"


Apa maksudnya? Ingatan Mia tidak sependek itu untuk melupakan atasannya.


"Apa kau punya kekasih?" Devan malah menanyakan pertanyaan lain.


"Maaf tuan, saya rasa itu privasi saya."


"Tapi aku ingin tau."


"Maaf, jika tidak ada hal penting yang ingin anda sampaikan, anda bisa pergi saja." Mia berdiri.


"Oke-oke, aku akan langsung mengatakannya padamu. Duduklah."

__ADS_1


***


bersambung....


__ADS_2