Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
Semakin Meruncing


__ADS_3

Kini mereka bertiga sedang berkumpul di apartemen Devan. Ya, bertiga. Devan, Leo, dan Mia. Sebenarnya Mia tidak ingin ikut, karna dia tau kehadirannya tidak akan membantu. Apalagi dia tidak tau seperti apa Dion yang mereka sebutkan. Tapi, Devan tetap memaksanya untuk ikut sepulang dari kantor tadi.


Ruang kerja Devan kini terasa sedikit mencekam karena sepertinya perang dingin masih terjadi antara Devan dan Leo.


"Kalo kalian mau diam saja, lebih baik aku pulang." Mia memecah keheningan yang sudah 30menit berlangsung.


Leo bangkit dari duduknya kemudian menempelkan dua poto di papan tulis putih dihadapan mereka. Mia bisa melihat gambar Celina di sana tapi tak melihat yang satunya lagi karena terhalang badan Dion.


"Celina, dinyatakan menderita penyakit mental dan dirawat di rumah sakit jiwa sejak ibunya meninggal. Kemudian dipulangkan saat dinyatakan sembuh total. Tapi beberapa bulan kemudian dia kembali menunjukkan gejala yang sama seperti dulu, Mr. Alex menyuruh Dion untuk membawa Celina ke psikiater kenalannya. Setelah beberapa kali ke sana dan Celina mulai sembuh entah kenapa Leo mengganti psikiaternya tanpa sepengetahun Mr.Alex. Dan di saat itu pula pil ini diberikan pada Celina." Leo menjelaskan panjang lebar tentang Celina.


"Ini sebenarnya lo mau cari tau siapa yang ngeracunin gue, atau lo sekedar mau selametin Celina dari obat terlarang itu."


"Dev!" Mia menegur Devan yang terdengar seperti memancing emosi Leo lagi. Namun, Leo tak bereaksi, dia hanya melirik malas pada Devan.


"Pemberian pil itu tepat setelah gue sama Celina menjalin hubungan."


"Sekarang kita beralih ke Dion. Dia adalah anak dari orang kepercayaan Mr.Alex yang selalu membersihkan namanya dari gosip perselingkuhannya. Dion diminta untuk menjaga Celina tepat setelah Celina keluar dari rumah sakit jiwa. Dion sangat menjaga Celina karna dia menyukainya bahkan sebelum dia ditugaskan untuk menjaganya."


"Apa?" Devan jadi ingat saat di club waktu itu. Sekarang Devan mengerti arti tatapan Dion saat melihat Leo dan Celina berciuman.


"Tapi, apa hubungannya sama gue? Dia tau kan kalo yang pacaran sama Celina itu elo bukan gue?"


"Karna target sebenarnya bukan lo, tapi gue."


"Bukannya itu cuma dugaan kita waktu itu?"


"Awalnya gue juga mikir gak mungkin. Tapi setelah gue pikirin lagi, semuanya jadi masuk akal. Dion suka sama Celina, dia udah ngejaga Celina sepenuh hati tapi Celina malah suka sama gue. Lalu dia ngasih pil itu ke Celina dan berharap gue ninggalin Celina karna sejak minum itu emosi dan obsesi Celina semakin menjadi."


Leo menarik nafas sejenak kemudian melanjutkan.


"Tapi karna reaksi gue gak sesuai harapannya, dia mau bikin gue ninggalin Celina secara paksa, yaitu dengan ngebunuh gue lewat racun. Dan gue yakin, Dion naruh racun ke semua minuman di salah satu kantung belanjaan Celina hari itu. Sayangnya, karna dia gak tau minuman dan makanan favorit gue dia jadi salah masukkin racunnya ke kantung belanjaan yang buat lo."


"Berarti sekarang kita perlu nyari bukti apa yang dia lakuin hari itu." Devan menjentikkan jarinya.


Leo mengangguk lalu duduk kembali ke kursinya. Dengan Leo yang duduk Mia jadi bisa melihat jelas gambar Dion. Mia mengerutkan keningnya merasa familiar. Mia bangun lalu mendekati gambar tersebut.


"Ada apa Mia?" tanya Devan, heran.


"Aku seperti pernah melihat orang ini."


"Ya, mungkin kau melihatnya bersama Celina."


"Tidak. Aku hanya bertemu Celina sekali di sini." Mia mengetuk-ngetuk keningnya mencoba mengingat.


"Mungkin kau hanya pernah melihatnya di jalan." putus Leo.


"Ah iya. Aku pernah melihatnya di basement mall yang aku kunjungi."

__ADS_1


"Basement? Sedang apa kau di basement? Kau kan tidak bawa mobil?" Devan malah mempertanyakan keberadaan Mia di basement.


"Waktu itu, mungkin sekitar sebulan sebelum aku wisuda. Aku pergi ke mall untuk mencari baju yang akan aku pakai di acara wisuda. Juga beberapa persiapan baju kerja. Tapi, karna aku baru pertama kali ke mall sebesar itu aku nyasar dan malah sampai ke basement."


"Terus?"


"Terus aku liat satu cowo yang lagi jalan ke tempat sampah, aku samperin deh.."


"Bisa-bisanya kamu lagi nyasar malah merhatiin cowo." Devan memotong kalimat Mia.


"Iiihhh, dengerin dulu." Mia memajukan bibirnya kesal.


"Oke, lanjut." Leo bersuara.


"Aku liat cowo deket tempat sampah aku samperin buat nanya jalan keluar dari situ karna aku udah muter di sana. Tapi pas aku panggil dia kayak kaget dan menjatuhkan sampah yang mau dia buang. Pas aku liat ternyata itu jarum suntik dan sebuah botol kaca kecil. Dia panik gitu dan langsung mengambilnya lagi dan langsung berlari."


"Berarti dia gak jadi buang sampah."


Mia mengangguk.


"Lalu apa hubungannya ceritamu dengan ini?"


"Cowo itu, dia." Mia menunjuk gambar Dion.


"Kau serius?" Devan dan Leo yang tadinya bersandar santai, menegakkan tubuhnya.


"Aku yakin. Ingatanku sangat kuat." Mia percaya diri.


"Tapi itu tujuh bulan lalu. Apa rekamannya masih ada?" Mia bertanya ragu. Dia takut ceritanya tak membantu.


"Itu sebuah mall besar, jadi rekamannya pasti diarsipkan."


"Benar. Sebaiknya kita bergegas ke sana." Devan bangkit.


"Biar gue aja." Leo berdiri juga.


"Yakin mereka bakal ngasih kalo lo yang minta? Gue rasa mereka bakal lebih mudah ngasihnya kalo gue yang minta." Devan mengatakannya dengan bangga. Leo berpikir, benar juga yang dikatakan Devan. Nama dan jabatannya sebagai CEO Astra Group pasti akan lebih mempermudah proses bujuk membujuk.


"Gimana kalo kalian berdua aja?" Mia mengusulkan.


"Kenapa? kamu gak percaya sama aku?"


"Bukan. Tapi,.."


"Tapi apa?"


"Aku yakin kau akan mengancam mereka alih-alih membujuk."

__ADS_1


Devan mencebik mendengarnya.


"Oke, lo ikut gue." Devan menujuk Leo kemudian mereka bersiap, lalu melangkah.


"Kalian yakin akan pergi sekarang?"


"Tentu saja, lebih cepat lebih baik."


"Ini sudah malam. Kalian yakin mereka masih di sana?"


Keduanya melihat jam tangan masing-masing, di sana menujukkan pukul 9 malam, lalu saling pandang.


"Gue rasa lebih baik kita berangkat besok." putus Devan.


"Benar. Sebaiknya kita pergi besok." setuju Leo.


"Nah, sebaiknya malam ini kalian istirahat."


Leo mengangguk, "Oke, kalo gitu gue pulang dulu."


"Hmm, inget jangan bertindak sendirian!"


"Hmm." Leo akhirnya benar-benar pergi. Jadi tinggal Mia dan Devan berdua di ruangan itu.


"Aku juga akan pulang." Mia mengambil tasnya.


"Kenapa tidak menginap saja?" Devan menahan tangan Mia. Mia melihat pergelangan tangannya yang digengam Devan.


"Tidak. Aku pulang saja."


"Kau takut padaku?" tanya Devan penuh selidik, dia sedikit mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan wajah Mia.


"Tidak. Kenapa juga aku harus takut?"


"Benar. Kalo begitu kau menginap saja, ini sudah malam."


"Tapi, aku tidak bawa baju ganti."


"Kau tau aku sudah menyiapkan semuanya di kamar yang kau pakai waktu itu."


Mia diam sejenak. Sebenarnya dia bukan hanya takut Devan tak bisa menahan dirinya, tapi dia juga takut dirinya sendiri pun tak kuasa menolaknya. Di kampungnya, menjaga kepe-rawanan sebelum menikah adalah sama dengan menjaga kehormatan keluarga, jadi sudah tertanam dalam jiwanya sejak kecil kalo dia harus menjaganya untuk suaminya kelak.


"Aku janji tidak akan melakukan apapun." Devan seperti membaca apa yang ada di kepala Mia.


Mia memandang Devan sejenak.


"Baiklah." Devan tersenyum sumringah mendengarnya. Tidak ada salahnya menaruh kepercayaan pada kekasihnya itu, karena jika Devan tak memulai Mia pun tak akan terpengaruh.

__ADS_1


***


bersambung...


__ADS_2