Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
17


__ADS_3

Tengah malam, Leo dan Celina baru mengakhiri kegiatan panas mereka. Entah berapa ronde mereka melakukannya. Yang jelas, Leo merasa harus menebus waktu yang telah dia lewatkan selama dua tahun lebih.


Leo bangkit hendak ke kamar mandi, dia melirik Celina yang tertidur telungkup. Dia tersenyum bangga melihat punggung Celina yang penuh dengan tanda-tanda yang dia buat, kemudian Leo beralih pada dada dan perutnya sendiri, di sana juga banyak tanda cinta Celina. Mereka benar-benar melakukannya dengan ganas. Bukan hanya dirinya yang mendominasi, tapi Celina pun bergantian memimpin permainan. Jiwa buas keduanya keluar diwaktu bersamaan. Leo menyelimuti tubuh kekasihnya dan beranjak ke kamar mandi.


Celina terjaga dari tidurnya, dia mengulurkan tangannya untuk meraih Leo tapi dia tak menemukannya. Matanya terbuka sempurna lalu melihat jam, baru pukul dua dini hari. Kemana Leo? Saat itu pula Leo keluar dari kamar mandi dengan tampilan segar. Leo hanya mengenakan boxer saja. Rambut basahnya di keringkan dengan handuk.


"Kau terbangun?" tanya Leo melihat Celina menatapnya.


"Hmm.. Kenapa mandi tengah malam begini?"


"Tadinya aku ingin buang air kecil, tapi melihat air aku jadi merasa badanku lengket jadi aku mandi saja." Leo menghampiri Celina yang menyandarkan dirinya di headboard dan duduk di pinggiran tempat tidur, dia mendekatkan wajahnya pada Celina.


"Tadi itu sangat luar biasa." bisik Leo tepat di telinga Celina, membuat gadis itu merona karena malu.


"Apaan sih!" Celina memukul manja dada Leo dan Leo menangkapnya.


"Kau malu? Tadi kau tidak malu saat membuat ini."


Leo menuntun tangan Celina untuk menyentuh setiap tanda yang dibuat Celina. Hal itu tentu saja semakin membuat wajah Celina merah bagai kepiting rebus.


Celina menarik tangannya saat Leo semakin mengarahkan tangannya ke tempat terlarang.


"Aku juga mau mandi." Celina membungkus tubuhnya dengan selimut lalu berjalan ke kamar mandi, meninggalkan Leo yang terkekeh karena berhasil menggoda kekasihnya.


Celina menatap dirinya di cermin kamar mandi. Wajahnya benar-benar dibuat merah oleh Leo, ditambah dia mengingat kembali permainan panas mereka yang baru berakhir sekitar satu jam yang lalu, darahnya seakan berkumpul semua di wajahnya. Dia membasuh wajahnya, mencoba mendinginkan udara yang mulai terasa panas.


"Kau pasti sudah gila! Bagaimana bisa kau bergairah hanya karena mengingatnya."


"Lebih baik aku mandi saja."


Celina membiarkan selimut yang dia bawa teronggok begitu saja di lantai. Dia mengguyur tubuh polosnya dengan air hangat yang memancar dari shower.


Begitu selesai dia langsung keluar menggunakan bathrobe. Bisa dia lihat Leo masih terjaga sambil memainkan ponselnya dan begitu melihat Celina keluar dia langsung menyimpannya.


"Kau sudah selesai?" tanya Leo.


Cina menganggukan kepalanya. Dia duduk di meja rias. Meja rias yang Leo beli khusus untuk Celina saat awal hubungan mereka dulu.


"Biar aku bantu." Leo mengambil alat pengering rambut dari tangan Celina.


Celina dia saja, membiarkan Leo menyelesaikannya.


"Sudah." Leo mematikan alat itu.


"Terimakasih."


"Hmm.. kemarilah!" Leo menuntun Celina ke tempat tidur.


"Aku mau ganti baju dulu." Gadis itu mengambil pakaian miliknya dari lemari dan memakainya langsung di depan Leo.


"Kau tidak membuang bajuku?" tanya Celina sambil menyerahkan kaos pada Leo karena pria itu belum memakai baju.


Leo menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Celina, lalu memakai kaos yang Celina berikan.


"Kenapa? padahal kau begitu membenciku sebelumnya."


"Entahlah, sepertinya aku punya firasat kalo kita akan bersama lagi. Kemarilah!" Leo menarik Celina untuk berbaring di sampingnya.


"Terimakasih sudah memaafkanku." Ucap Leo sambil menatap mata Celina. Mereka berbaring saling berhadapan.


"Sebenarnya aku masih marah."

__ADS_1


"Benarkah? Lalu apa yang harus aku lakukan agar kau berhenti marah padaku?"


"Jadilah pacarku!" pinta Celina.


"Hah?"


"Kau tidak mau?"


"Mau!" sentak Leo membuat Celina tersenyum geli. Leo pun salah tingkah, tapi kemudian seperti tersadar akan sesuatu.


"Eh, tapi kau memang kekasihku, kenapa kau bertanya?"


"Kemarin kau mengatakan kalo kau tidak pernah menganggap aku kekasihmu."


Leo tertegun.


"Maafkan aku!" wajah Leo berubah sendu, rasa bersalah kembali menyeruak.


"Tidak apa. Memang benar kita tidak pernah punya status sejak awal, karna itulah sekarang aku ingin kita resmi pacaran."


"Aku tak pernah terpikirkan sebelumnya, aku merasa selama kita saling mencintai status tidak terlalu penting."


"Aku juga sebenarnya berpikiran sama, tapi setelah apa yang terjadi kemarin, aku jadi ingin punya status biar jelas, biar aku bisa dengan yakin mengatakan kalo kamu itu kekasihku."


Leo mengangguk-angguk.


"Kalo begitu karna sekarang kau sudah menjadi kekasihku secara resmi, kau tidak boleh dekat-dekat lagi dengan bocah itu!" Leo mulai menunjukkan sifat posesifnya.


"Bocah? siapa?"


"Christian." jawab Leo malas.


"Tidak!"


"Benarkah? Kalo begitu aku tidak perlu menjauh darinya." Celina mengubah posisi tidurnya jadi terlentang.


"Coba saja kalau berani!"


"Akhh!!"


Leo tiba-tiba saja beralih ke atas Celina, sengaja tidak menahan bobot tubuhnya.


"Berat, Leo!" pekik Celina.


"Katakan dulu padaku kalau kau tidak akan lagi berdekatan dengan bocah itu."


"Kenapa aku harus menjauh kalau kau saja tidak cemburu?" Celina malah menantang Leo dan Leo semakin menekan Celina.


"Leo lepaskan!"


"Tidak!"


"Baiklah kalau begitu." Celina mengerahkan seluruh tenaganya untuk menggulingkan Leo dan berhasil. Kini Leo berada di bawahnya.


"Kau ingin bermain lagi?" tanya Leo mengerling nakal. Hal itu justru membuat Celina gugup, tapi dia berusaha menutupinya dengan wajah garang.


"Katakan alasan kenapa aku harus menjauh dari Kris!"


"Kris.. Bisakah kau berhenti menyebut namanya? Aku sungguh muak." Leo memalingkan wajah kesalnya.


"Lihat! Kau itu cemburu, kenapa susah sekali mengakuinya?"

__ADS_1


Leo tak menjawab ucapan Celina.


"Benarkan, kau cemburu pada Kris?" Celina terus saja menggoda Leo dengan mencolek dagunya.


"Benar, aku cemburu! Kau puas!" sentak Leo, kemudian bangkit dari tidurnya hingga Celina kini duduk di pangkuannya. Celina kaget sekaligus merasa bersalah karena telah menggoda Leo.


"Ke-kenapa tidak kau bilang dari tadi." Celina mencoba untuk bersikap biasa. Leo mendelik mendengar Celina berkata begitu.


"Baiklah aku tidak akan dekat-dekat lagi dengan Kris."


"Terserah, aku tidak peduli lagi."


Celina menangkup wajah Leo.


"Tatap aku!" pinta Celina.


Leo tetap tak mau menatap Celina meski wajahnya sudah berhadapan.


"Leo!"


"Apa?" akhirnya Leo menyerah.


"Sekarang aku tanya, apa Kris tampan?"


"Lumayan."


"Tampan mana dengan dirimu?" tanya Celina lagi.


"Tentu saja aku!"


"Nah, itu kau tau. Mana mungkin aku berpaling pada pria yang tidak lebih tampan darimu." ucap Celina lembut. Leo salah tingkah, tapi dia menyembunyikannya.


"Pipimu merah."


"Mana ada!" sanggah Leo.


"Ini, coba lihat!" Celina mengambil ponselnya dan membiarkan Leo melihat wajahnya.


"Itu karna kau menekan pipiku terlalu keras." Leo tetap mengelak.


"Baiklah, baiklah. Jadi, apa kau masih marah?"


"Tidak." Leo menyelipkan anak rambut Celina.


"Aku tidak marah, aku hanya tidak suka kau akrab dengan pria lain selain aku."


"Tapi kau tidak pernah cemburu pada Devan, padahal bisa dibilang kedekatanku dengan dia hampir sama dekatnya aku denganmu."


"Itu beda cerita, Devan tidak menyukaimu sejak awal sedangkan Kris menyukaimu."


Celina diam, dia ingat kalau Kris pernah bilang akan mengejarnya, yang itu artinya Kris menyukainya.


"Kata siapa dia menyukaiku?"


"Dari penglihatanku. Sebagai pria tentu aku tau arti tatapan pria lainnya. Masa kau tidak merasa."


"Aku tidak tau. Aku hanya menganggap semua yang kami-" Celina tergagap melihat Leo melotot saat mengatakan kata 'kami'.


"Maksudku, aku menganggap hubungan aku dan Kris tidak lebih dari teman." Celina hanya dapat mengatakan itu karena tidak ada untungnya juga dia mengatakan kalau Kris mengejarnya. Toh, dia memang hanya menganggap Kris sebagai teman.


Leo tidak menjawab lagi, dia hanya menatap Celina dengan intens, mengagumi kecantikan Celina yang semakin bertambah.

__ADS_1


__ADS_2