
*Masih flashback*
Devan tengah asyik minum kopi ditemani sepotong kue. Manik matanya tak pernah lepas dari seorang wanita yang sudah bebeberapa bulan ini jadi pengisi hatinya yang lama kosong.
Saat tengah asyik memandang, tiba-tiba saja tanpa dia sadari gadis itu sudah ada di depan mejanya.
"Anda mau tambah kopi lagi?" ini kedua kalinya Mia, gadis itu menawarkan untuk menambah kopinya, yang artinya sudah dua gelas kopi yang Devan habiskan.
Devan masih saja terpana, padahal ini bukan pertama kalinya dia visa sedekat itu dengan Mia. Tentu saja, karena Devan sudah sangat sering bertandang ke setiap tempat di mana Mia kerja paruh waktu.
Mia pun menyadari itu, dan anehnya manager di semua tempat kerjanya selalu menyuruh dirinya untuk melayani pria tersebut. Ketika Mia menanyakan alasannya, semua managernya selalu menjawab hal yang sama yaitu 'karna dia tamu spesial' dan ketika Mia tanya siapa dia tak pernah ada yang menjawab sama sekali.
"Tuan?" Mia kembali bertanya.
"Ya?"
"Anda ingin kopi lagi?"
"Hah?" Devan melihap cangkir kopinya yang telah kosong tanpa sadar. Sebenarnya dia ingin lebih lama di sini, tapi perutnya sudah terasa kembung. Apalagi dia ingat punya janji dengan Celina dan Leo. Bisa-bisa Leo akan merajuk kalau dia tidak datang.
"Tidak, tolong bill-nya saja." Devan berkata dengan raut wajah datar dan suara yang tenang, berbanding terbalik dengan jantungnya yang berdebar kencang tak karuan.
"Baik." Mia tersenyum ramah, kemudian berbalik untuk mengambil tagihan. Walaupun dia sudah sedikit curiga dengan kehadiran Devan, dia tidak punya hak untuk mempertanyakannya.
"Ini billnya, tuan."
Devan mengeluarkan kartunya.
"Dan ini tip untukmu." Devan memberikan sejumlah uang cash pada Mia.
"Ini terlalu banyak, tuan." Mia merasa tidak nyaman, karna setiap melayani Devan dia seoalu mendapat uang tip yang besar.
"Terima saja. Kau bisa membaginya dengan temanmu kalo merasa seprti itu." Devan melenggang pergi setelah mengatakan itu.
"Terimakasih." Mia menunduk ketika Devan sudah berjarak beberapa langkah.
***
Devan sudah sampai di club malam berbintang yang Celina katakan. Dia masuk ke sana setelah melewati para penjaga dan mengatakan sudah ada yang menunggu. Dia jarang ke tempat seperti ini kalau bukan ada rekan bisnis yang mengundangnya, karena itu dia tidak punya kartu member.
Devan celingukan mencari Leo dan Celina. Telinga dan matanya benar-benar tersiksa dengan suasana di sini. Lalu setelah agak masuk dia melihat Dion tengah berdiri menghadap ke arahnya. Jaraknya yang jauh tak memungkinkan untuk Devan memanggil, jadi dia melambaikan tangannya tapi sama sekali tak digubris oleh Dion. Dia terlihat memaku ke satu titik. Devan mengikuti arah mata Dion dan begitu kaget melihat pemandangan yang dia lihat.
(jadi posisinya tuh mejanya Celina dan Leo tuh ada di tengah-tengah Devan dan Dion, ngerti ya hihi)
Devan melihat Leo dan Celina tengah berciuman dengan panas, tanpa peduli dengan sekitar. Perlahan, Devan melangkahkan kakinya mendekati mereka. Sekilas Devan melirik Dion yang masih terpaku.
"Aku bisa menyewakan satu kamar untuk kalian agar lebih leluasa."
Mendengar itu Leo dan Celina spontan saling melepaskan pagutan serta cengkraman tangan mereka.
Celina tampak biasa saja melihat Devan di sana, berbeda dengan Leo yang langsung membuang muka dan pindah duduknya ke tempat semula lalu minum dalam sekali teguk. Devan menyeringai melihat Leo yang salah tingkah kemudian duduk di sampingnya.
"Jadi, sudah ada kemajuan?" Devan berkata sambil menatap Celina.
"Aku tidak tau. Tanyakan pada temanmu." Celina agak kesal karna sejak kedatangan Devan, Leo sama sekali tak melihatnya.
Devan beralih menatap Leo. Yang ditatap hanya menunduk.
"Apa?" Leo tak tahan oleh tatapan menuntut dari Celina dan juga Devan. Devan mengangkat alisnya.
"Aku menciumnya karna mabuk." Leo memilih berkilah.
__ADS_1
"Kau hanya minum dua teguk." Celina menyanggah.
"Dan lo gak mabuk cuma karna dua teguk alkohol." Devan menambahkan, membuat Leo semakin tersudut.
Leo tidak bicara lagi. Devan hanya menatap keduanya bergantian, sesekali menyesap minumannya.
"Aku bosan, aku akan turun ke dance floor. Kau ikut?" Celina yang sudah sedikit mabuk mengajak Devan untuk menari. Devan menggeleng.
"Oke." Celina pun pergi.
"Lo sengaja biarin gw ke sini sendiri."
Devan mengangguk.
"Akuin aja lo juga suka, kan sama Celina?"
Leo diam menerawang tidak mengiyakan maupun menyangkal ucapan Devan.
"Lo gak nyusul dia?" Devan menyadarkan Leo dari lamunannya.
"Jangan nyesel kalo besok dia bangun di ranjang cowo lain." Devan terus memanasi Leo dan berhasil. Leo bangkit dan menyusul Celina.
Leo menarik Celina yang tengah asyik menari. Beberapa pria merasa keberatan dengan aksi Leo, tapi tidak dengan Celina. Dia malah pasrah ketika Leo menyeretnya.
"Gue duluan." Leo pamit dan Celina mengedipkan sebelah matanya pada Devan yang dibalas dengan sudut bibir yang terangkat.
Sejak saat itu hubungan Celina dan Leo berubah. Leo tidak sedingin dulu, meski tetap datar apalagi kalo menyangkut pekerjaan. Sesekali mereka akan bertemu atau lebih tepatnya Celina yang mendatangi Leo di apartementnya.
Hubungan mereka sama sekali tidak diketahui Alex. Yang Alex tau putrinya sedang dekat dengan Devan. Karena itu walaupun Celina tidak pulang, Alex tak pernah bertanya karena mengira dia menginap dengan Devan.
***
"Aku mau kasih ini ke Leo dan Devan."
"Untuk apa?"
"Aku bisa ngerti kalo kamu beliin buat Leo, tapi Devan?"
"Agar daddy tidak curiga."
Dion mengerutkan kening tak mengerti.
"Daddy mengirim orang untuk membuntutiku, jadi mau tidak mau aku harus ke apartement Devan. Dan karna unit Leo dan Devan sebelahan jadi sekalian aja."
"Dan aku yang jadi korban." ucap Dion sedikit kesal. Dia mendorong troli mendahului Celina yang cekikikan.
***
"Apa mereka masing-masing dapat satu kantong?" Dion bertanya melihat dua kantong di kedua tangannya.
"Yap!"
"Aku?"
"Kau mendapat ini." Celina memeluk Dion membuat Dion terpaku. "Thank you!" ucap Celina melepaskan pelukannya.
"Tolong tunggu di sini ya, aku mau ke toilet dulu."
"Hmm."
Dion memperhatikan Celina sampai dia tak terlihat.
__ADS_1
***
Celina masuk ke apartemen Devan dengan pin yang sudah dia tau. Dia membawa dua kantong belanjaan yang tadi dia beli. Sementara Dion tidak ikut untuk mengawasi orang suruhan Alex.
Celina menaruh begitu saja kantong belanjaan itu di dapur Devan dan langsung keluar ketika Dion menghubungi kalo orang yang mengikutinya sudah pergi. Kemudian Celina masuk ke unit di sebelahnya, yaitu milik Leo.
Tak lama setelah Celina masuk ke unit Leo, seorang pelayan masuk ke unit Devan.
"Tebak aku ada di mana?" Celina menelpon Leo.
"Di tempatku?"
"Yap!"
"Aku akan pulang dalam satu jam."
"Jangan lebih."
"Tidak akan."
***
"Kayaknya lo udah mulai serius ya sama Celina. Lo bahkan langsung pergi pas dia manggil."
Leo mengangkat bahu, entah apa maksudnya.
"Gue cuma ngerasa candu."
"Itu karna lo belum pernah sebelumnya."
"Cih kayak lo pernah aja."
Devan tak menjawab lagi karena memang keduanya adalah anti wanita, apalagi one night stand. Tentunya sebelum Devan melihat Mia dan sebelum Leo merasakan Celina.
"Kerjaan gue udah selesai, mau bareng?" Leo merapihkan jasnya.
"Sebenernya bosnya siapa?"
"Lo yang bilang gak ada kata bos diantara kita."
"Sialan!" Devan melempar Leo dengan bolpoinnya. Sedangkan Leo malah menendang bolpoin itu sembari berjalan menuju pintu tapi sebelum keluar dia berkata.
"Mending lo cepet confess ke Mia, sebelum Mia jadi milik orang lain."
***
Devan pulang dua jam setelah Leo. Dia jadi memikirkan ucapan Leo tadi, yang ada benarnya juga. Sudah hampir setahun dia mengikuti Mia tanpa membiarkan Mia tau siapa dirinya.
Dengan semangat yang menggebu akhirnya dia memutuskan untuk berkenalan dengan Mia. Sebelumnya dia memang ingin Mia mengenalnya nanti saat Mia sudah bekerja dengannya, bahkan dia sudah meminta Leo untuk membuat surat panggilan kerja. Tapi, sepertinya tidak ada salahnya berkenalan dulu.
Devan segera mandi dan berdandan agar terlihat mempesona di depan Mia. Yang tidak dia tau, bahwa tanpa berdandan pun dia tetap mempesona.
Sebelum berangkat dia ke dapur dulu, karena sepertinya berkenalan dengan Mia akan membutuhkan tenaga ekstra. Siapa sangka, pria menawan yang diincar banyak gadis merasa gugup setengah mati hanya karena akan mengajak gebetannya berkenalan.
Devan membuka kulkas, agak kaget karena kulkasnya terisi penuh dengan banyak minuman favoritnya. Kemudian dia ingat bahwa semalam Celina mengatakan akan mampir.
Devan mengambil satu lalu meneguknya hingga tandas. Tapi saat hendak melangkah tiba-tiba saja dia merasa nafasnya semakin berat. Dan ketika mulutnya terasa agak kaku, dia cepat-cepat menghubungi ambulance karena dia tau ada yang aneh dengan tubuhnya dan benar saja setelah itu tubuhnya melemas dan ambruk.
***
bersambung....
__ADS_1