
Mia terus memandangi jari manisnya yang disemati cincin dari Devan. Masih sedikit tak percaya, kalau awal mula perkenalan dia dengan Devan adalah saat Devan menjadi hantu. Lebih tak percaya lagi kalau ternyata Devan sudah memperhatikannya sejak dia masih menjadi mahasiswi. Benar-benar sebuah takdir yang sangat indah, namun mustahil untuk diceritakan pada irang lain. Cukup dia dan Devan yang menyimpan cerita itu.
Tin Tin
Suara klakson mobil Devan terdengar di luar. Mia segera keluar sambil menarik koper kecil miliknya. Hari ini dia akan pergi ke kampungnya bersama Devan. Setelah memikirkannya matang-matang dia akhirnya mengijinkan Devan menemui orang tuanya.
"Itu saja?" Devan bertanya saat melihat koper kecil yang Mia bawa. Dia pernah kenal beberapa wanita dan saat bepergian mereka selalu membawa minimal satu koper besar.
Mia mengangguk.
"Ya sudah, ayo pergi!" Mereka masuk ke dalam mobil dengan Devan yang membuka dan menutup pintu untuk Mia.
"Tolong masukkan alamatnya di sini." Devan menunjuk monitor di depannya. Mia pun menuliskan alamat rumahnya di kampung.
"Apa kau sudah memberitau orang tuamu kalo kita akan datang?"
"Ya, semalam aku kasih tau mereka." Jawab Mia pelan.
"Kenapa?"
"Apa?"
"Kau tampak tak bersemangat. Apa kau masih keberatan kalo aku menemui orang tuamu?" Ini adalah pertanyaan Devan yang kesekian kalinya.
"Enggak, bukan gitu."
"Aku hanya bingung karna sudah terlalu lama tidak pulang."
"Bingung?"
"Ya. Sejak aku mulai kuliah aku gak pernah pulang lagi."
"Kenapa?"
Mia diam sejenak. Bingung antara memberitahu Devan atau tidak tentang dia yang kabur dari rumah.
"Dulu aku kabur dari rumah." Akhirnya Mia mengatakannya.
"Kabur?"
"Ya, waktu itu aku dapat beasiswa di universitas di sini, tapi ayah sama ibu gak ngizinin aku kuliah."
"Kenapa?"
"Karna di kampungku perempuan itu selalu dipandang sebelah mata. Dimata mereka, perempuan gak perlu punya pendidikan tinggi karna ujung-ujungnya juga bakalan bgurus rumah tangga. Beda lagi kalo laki-laki, mereka akan disekolahin tinggi-tinggi biar bisa ngangkat derajat keluarga."
"Karna itu aku kabur dari rumah, biar aku gak dipaksa nikah sama laki-laki pilihan ayahku."
"Jadi kamu sebenarnya udah dijodohin?" Devan malah terfokus pada pada hal itu.
"Belum sih."
Devan menghembuskan nafas lega.
"Mungkin." lanjut Mia, ragu membuat Devan yang sudah lega menatap tajam pada Mia.
"Aku gak peduli, mau kamu udah dijodohin pun kamu tetep milik aku." Devan mengatakannya dengan serius sambil menatap lurus ke depan.
"Lagian aku juga gak akan mau kok nikah sama laki-laki pilihan ayah, karna aku udah punya kamu." Mia menyentuh tangan Devan yang menganggur. Devan menoleh, disuguhkan wajah Mia yang sedang tersenyum manis ke arahnya lalu menular begitu saja padanya. Dia membalikkan tangan Mia kemudian menautkan jari-jari mereka dengan erat, lalu mengecupnya sepenuh hati.
***
__ADS_1
Setelah melakukan perjalanan selama 5 jam dengan satu kali istirahat, akhirnya mereka sampai di kampung halaman Mia. Devan memarkirkan mobilnya di halaman beralas tanah sebuah rumah permanen. Rumah itu tampak lebih bagus dibanding yang lainnya yang hanya semi permanen, juga rumah kayu.
"Ini rumahku." ucap Mia sebelum keluar.
Ada beberapa orang yang berkerumun di balik pohon mangga dekat rumah Mia. Sebagian mengagumi kemewahan mobil Devan, sebagian lagi penasaran dengan pemilik mobil tersebut. Apalagi mobil itu berhenti di depan rumah Pak Rudi yang notabenenya salah satu orang terkaya di kampung ini.
"Ayo!" Mia memimpin jalan, dia hanya tersenyum kikuk menyapa orang-orang yang sedang menatap ke arahnya.
Tok Tok
Mia mengetuk pintu rumahnya. Tak berapa lama terdengar langkah seseorang dari dalam.
"Sebentar." seru orang itu yang bisa Mia pastikan itu adalah suara adik laki-lakinya.
Ceklek, pintu pun di buka.
Andi-adik Mia melongo melihat siapa yang datang.
"Kak Mia?"
"Andi!" Mia merentangkan tangannya. Devan menaikkan alisnya melihat tingkah Mia. Matanya lebih melebar ketika laki-laki yang membuka pintu itu langsung berhambur ke pelukan Mia, memeluk Mia dengan eratnya.
"Kakak kemana aja? Andi kangen sama kakak."
Oh, adiknya. gumam Devan dalam hati, dia tadi sudah merasa panas melihat kekasihnya dipeluk oleh pria muda.
Mata Andi menangkap sekilas tubuh Devan. Lalu menatapnya dengan kening berkerut. Andi melepaskan pelukannya.
"Dia siapa, kak?" Dagunya menunjuk Devan dengan mata sinis.
Kurang ajar!
"Bisa kita masuk dulu? Nanti kakak jelaskan."
"Duduk dulu, Dev." Devan duduk di sofa ruang tamu.
"Dimana ayah dan ibu?"
"Ada di dalam."
"Tunggu sebentar ya? aku mau panggil orang tuaku dulu."
"Ya."
Mia dan Andi segera masuk ke ruang tengah.
"Ayah, ibu!" Mia memanggil ayah ibunya yang sedang menonton televisi. Mereka serempak menoleh. Tatapan keduanya langsung bertemu dengan wajah Mia yang sudah merah menahan tangis.
Untuk beberapa saat tak ada yang bicara. Semuanya masih terpana dengan pertemuan pertama ini setelah hampir 5 tahun tak bertemu.
"Ibu." Mia akhirnya memeluk ibunya. Tangisnya langsung pecah begitu dagunya menyentuh bahu sang ibu. Ibu pun membalas pelukan Mia, sama-sama tak kuasa menahan haru.
Mereka menangis cukup lama. Membuat sang ayah berdehem.
"Apa kau hanya merindukan ibumu?" Mia dan Ibu terkekeh mendengar suara ayah yang terdengar merajuk.
"Aku juga rindu ayah." Mia memeluk ayahnya, tak kalah erat dari memeluk ibunya. Setelah cukup puas mereka melepaskan pelukannya. Mereka duduk di sofa depan tv.
"Andi, bisa kau membawakan minum untuk Devan?" Mia hampir saja melupakan kekasihnya.
"Apa harus aku?"
__ADS_1
"Iya."
"Oke!" Andi melenggang ke dapur dengan enggan.
"Aww!!" Mia mengaduh karena telinganya dijewer oleh ibu.
"Dasar anak nakal! Berani-beraninya kau baru pulang sekarang!" Ibu ngomel-ngomel sambil terus menjewer kuping Mia, sang ayah hanya menonton istrinya yang sedang meluapkan kekesalannya.
"Aduh ibu, sudah! Awwwww!!!" Mia terus mengaduh sampai akhirnya Ibu melepaskan tangannya dari telinga Mia yang sudah memerah.
"Sekarang katakan pada ibu. Kenapa kau tidak pulang sama sekali selama ini?"
"Bukannya ayah dan ibu bilang akan menikahkanku jika aku pulang?"
"Dan kau memilih untuk tak pulang dan tak bertemu orang tuamu?"
"Maaf.." Mia menunduk merasa bersalah.
"Mia, kami tak mungkin memaksakan kehendak. Tentang siapa yang akan jadi pendamping kamu nanti, ayah akan menyerahkan semuanya padamu." Kali ini sang ayah mengelus rambut Mia dengan lembut.
"Iya, sayang. Maafkan kami yang sempat berkata seperti itu sampai kamu nekat kabur tanpa uang sepeser pun." Ibu menambahkan.
Mia tersenyum bahkan hampir tertawa, membuat ayah dan ibu mengerutkan keningnya.
"Sebenarnya aku mengambil uang ayah satu juta." Mia menunjukkan giginya.
"Kau!"
"Maaf ayah, uang tabunganku hanya sedikit aku takut tak akan cukup untuk menyewa tempat tinggal." Mia menggelayut manja di lengan ayahnya.
"Makanya jangan sok sok kabur. Pantas saja ibu menghitung uangnya kurang, sampai ibu kira ayahmu membeli burung lagi tanpa sepengetahuan ibu."
"Maaf ibu." Mia mengambil satu tangan ibunya hingga dia mengamit tangan kedua orang tuanya.
Sementara di ruang tamu...
"Ini, minumlah! Kak Mia menyuruhku membuatkan minum." Andi berkata dengan ketus lalu meletakkan teh hangat di meja depan Devan.
"Terimakasih."
"Hmm." Andi duduk di sofa single lalu memainkan ponselnya.
Tidak sopan sekali. Devan menyeruput tehnya sambil melirik sinis pada Andi.
"Siapa namamu?" Andi bertanya tiba-tiba membuat Devan hampir tersedak.
"Devan."
"Ada hubungan apa kau dengan kak Mia?" Andi menyipitkan matanya memandang Devan.
"Kau bisa menanyakan itu pada kakakmu." Devan menjawab dengan ketus juga.
"Dari apa yang kulihat usiamu sepertinya berbeda jauh dengan kak Mia."
"Ya, sepertinya begitu." Devan kesal karena dia membahas umur.
Andi masih mempertahankan pandangannya, tajam dan menyipit. Tapi malah terlihat lucu di mata Devan. Wajah Andi ini sama seperti Mia yang memiliki wajah bayi.
"Kau bukan suami orang yang menjadikan kak Mia sugar baby kan?"
"Apa??"
__ADS_1
****