
Celina segera meninggalkan Kris yang masih bicara kala sekilas melihat sosok Leo. Dia terus mengikuti orang itu, sesekali menyapa orang-orang yang dia lewati dengan senyuman hinggal kehilangan jejak. Dia yakin itu Leo, tapi kenapa tidak ada?
Setelah mencari ke segala sudut, akhirnya dia menemukan Leo di balkon, tampak tengah menenggak habis minumannya.
"Dasar bodoh!" Celina mendengar Leo mengumpat cukup keras.
"Siapa yang bodoh?" Dia tak bisa menahan diri untuk tidak bersuara. Tadinya dia ingin menatapnya lebih lama.
Leo menoleh, tampak sedikit terkejut dengan kehadiran Celina, namun dengan cepat dia kembali merubah raut wajahnya lalu kembali memalingkan wajahnya, menatap lurus ke hamparan taman bunga.
"Devan tidak datang?" Celina berdiri di samping Leo dengan tetap memberi jarak.
"Tidak." jawab Leo seadanya.
"Kenapa?"
"Mia terlalu lemah untuk datang ke acara seperti ini."
"Benarkah? Astaga, apakah parah?"
Melihat respon Leo yang menjawab basa-basinya, Celina jadi ingin terus bertanya. Meski tadinya dia ingin menuntut penjelasan tentang sikap Leo, tapi kini dia mengurungkan niatnya.
"Tidak."
Celina tersenyum.
"Tolong sampaikan maafku pada Mia karna aku belum sempat menemuinya."
Leo menoleh dan Celina tersenyum.
"Kau bisa bilang sendiri pada Mia atau Devan." jawab Leo lagi, terlihat dia mulai jengah.
Celina tertawa kecil, cantik sekali. Membuat Leo hampir saja tidak bisa menahan senyumnya.
"Di sini kau rupanya." Kris datang dengan senyumannya. Melihat ketegangan di wajah Leo dan juga raut wajah Celina yang tiba-tiba berubah, Kris tau ada yang tidak beres.
"Apa aku mengganggu?"
"Tidak. Kami sudah selesai." Kemudian Leo hendak meninggalkan mereka berdua.
"Kris." Kris mengulurkan tangannya pada Leo.
Leo menatap tangan itu dengan alis terangkat, tapi kemudian menjabatnya.
"Leo." Leo langsung melepaskan tangannya.
"Tunggu. Apa kau Leo asisten pribadi Tuan Devan dari Astra Group."
"Ya."
__ADS_1
"Wah, senang bertemu denganmu. Semoga kelak aku bisa bekerja denganmu."
Leo sedikit mengerutkan dahinya, begitupun Celina.
"Perhatian semuanya! Acara utama akan segera di mulai." Seruan seorang pembawa acara mengalihkan perhatian ketiganya.
"Sepertinya kita harus segera ke aula." Ucap Kris tersenyum ramah.
Celina melirik Leo, tapi kemudian berjalan mendahului keduanya.
"Mari, Tuan Leo!" Kris menyusul Celina dan mensejajarkan langkahnya.
Leo memeperhatikan interaksi keduanya terlihat sekali Kris tertarik dengan Celina, dan Celina sendiri tampaknya tidak menolak kehadiran Kris.
"Aku harus ke sana," pamit Kris, Celina mengangguk. "Aku akan menemuimu lagi nanti," lanjut Kris sebelum benar-benar pergi.
Setelah Kris pergi, Celina berbalik pada Leo. Dia tau sejak tadi pria itu memeperhatikannya.
"Kau melihatku sejak tadi." Itu pernyataan, bukan pertanyaan.
"Tidak."
"Tentu saja, aku tidak berharap kau mengakuinya." Celina tersenyum simpul.
Leo kebih mmilih fokus ke depan dan tak menanggapi Celina. Terlalu lama menatapnya akan membuatnya terperangkap dalam mata indah itu.
"Saya Mario Santoso selaku CEO Maso Machine mengadakan acara ini sebagai pesta ulang tahun putra saya satu-satunya yang ke 24 tahun, juga akan mengenalkannya sebagai calon penerus saya nanti."
Seorang lelaki muda naik ke atas panggung menghampiri tuan dan nyonya rumah pesta ini.
"Inilah putra kami, Christian Santoso yang mulai sekarang akan menjabat sebagai wakil CEO."
Celina melotot ke arah panggung melihat Kris yang dia kenal diperkenalkan sebagai penerus Maso Machine. Begitupun Leo, dia tak menyangka anak itu adalah putra dari Mario.
Christian atau Kris menebar senyumnya kepada semua orang. Semuanya bertepuk tangan menyambut putra Mario yang tampan dan juga ramah itu.
"Mohon bimbingannya kepada anda semua." Itulah sepenggal kalimat yang diucapkan Kris, palu dia menunduk memberi hormat.
Setelah acara formalitas selesai, Kris kembali berbaur dengan semua orang. Banyak yang menyapanya setelah tau dia adalah anak dari Mario.
Kris celingukan mencari Celina, kemudian menemukannya di sebuah sudut.
"Hai, aku kembali." Sapa Kris dengan senyum khas.
"Aku tidak menyangka kau adalah putra Tuan Mario. Kenapa kau tidak mengatakannya tadi."
"Kau tidak bertanya." Kris tetap tersenyum.
"Benar."
__ADS_1
"Di mana Tuan Leo?"
"Aku tidak tau, mungkin dia pulang setelah acara utama tadi selesai. Dia bukan orang yang suka pada acara seperti ini."
Kris mengangguk-angguk.
"Sepertinya kau tau banyak tentang Tuan Leo."
"Ya, sedikit."
"Kalo boleh tau, apa hubunganmu dengannya?"
"Kenapa aku harus memberitaumu?" Celina menaikkan alisnya.
"Ahh, tidak apa jika kau tidak ingin memberitauku." Kris mengambil minuman dari pelayan yang lewat lalu menyesapnya perlahan lalu melanjutkan ucapannya.
"Aku hanya melihat sedikit api cemburu dimatanya saat aku bicara denganmu, jadi kupikir kau ada hubungan spesial dengannya."
Celina tersenyum simpul mendengarnya.
"Dulu kami kekasih."
"Sekarang?"
"Aku tidak tau."
"Aaa, dia menggantungmu?"
"Sesuatu seperti itu. Dia mengabaikanku tanpa alasan selama 2 tahun."
"Wah, hebat sekali."
"Apa?"
"Hebat sekali dia bisa mengabaikan gadis sesempurna dirimu. Karna jika itu aku, tak akan mungkin aku berpaling walau hanya sedetik." Kris menoleh pada Celina, kali ini bukan dengan senyum ramah dan menawan, tetapi senyuman menggoda yang Celina lihat di bar waktu itu.
Celina terpaku pada senyum itu dalam beberapa detik.
"Cih, gombal sekali kau anak kecil." Celina menutupi kegugupannya dengan cibiran.
Kris pun terkekeh. "Hey, sampai kapan kau akan terus memanggilku anak kecil?"
"Aku tidak tau. Seharusnya aku yang bertanya, kapan kau akan memanggilku kakak? Kau jauh lebih muda di bawahku."
"Tidak akan, aku sudah nyaman memanggil namamu."
"Dasar keras kepala." Celina mencebikkan bibirnya membuat Kris tertawa lebih lebar.
Sementara itu tanpa sepengetahuan Celina, Leo sejak tadi memperhatikan mereka. Tadinya dia akan bertanya tentang kejadian dua tahun lalu, tapi melihat Kris mendatangi Celina lebih dulu Leo mengurungkan niatnya. Nyatanya rasa cemburu langsung berkobar dalam dadanya, tak dapat dipungkiri rasa cintanya masih begitu dalam untuk Celina. Sebelum merasakan sakit yang lebih lagi, Leo pergi meninggalkan pesta itu. Dia memutuskan untuk memepercayai yang dia lihat dua tahun lalu.
__ADS_1