
Celina keluar dari gerbang rumahnya. Dia berjalan menuju mobil sport yang telah menunggunya sejak 30 menit yang lalu. Begitu sampai di samping mobil itu Celina langsung masuk dan duduk di kursi penumpang satu-satunya.
"Ayo!" Seru Celina ketika sudah selesai memasang sabuk pengaman , namun tak ada jawaban dari si pengemudi, Celina pun menoleh.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Celina pada Kria yang berwajah masam.
"Apa aku begitu memalukan sampai kau tidak ingin aku menjemputmu ke rumahmu?" Nada kesal begitu kentara dalam suara Kris.
"Loh, inikan rumahku."
"Maksudku,,, kenapa kau tidak membiarkanku masuk?"
"Astagaa!! jadi kau merajuk hanya karna aku menyuruhmu menunggu di sini?"
Kris bergeming, dia hanya semakin menunjukkan wajah kesalnya.
"Apa kita tidak jadi pergi?" Celina merasa tak perlu menanggapi rajukan Kris.
"Jadi," tukas Kris, lalu menyalakan mesin mobilnya dan melaju menembus jalanan yang cukup ramai.
"Dasar anak kecil!" gumam Celina tapi masih terdengar di telinga Kris.
"Aku bukan anak kecil!"
"Benarkah? Lalu kenapa kau merajuk hanya karna aku menyuruhmu menunggu depan rumah?"
"Aku tidak ingin namaku buruk di mata Mr.Alex."
"Buruk?"
"Ya."
"Kenapa kau mengkhawatirkan itu?"
"Bukankah sudah aku bilang kalo aku akan mengejarmu. Sudah tentu aku harus menjaga nama baikku di mata ayahmu agar tak sulit mendapat restu."
Celina melongo mendengar kalimat panjang Kris. Dia tak menyangka kalau Kris serius dengan ucapannya, dan dia lebih tak menduga lagi kalau dia sampai memikirkan ke arah sana.
"Kau itu masih kecil, tidak perlu memikirkan hal seperti itu." Celina terkekeh.
"Ishh, berhenti memanggilku anak kecil!"
Celina malah semakin tertawa mendengar Kris yang semakin kesal.
"Oke, oke." Celina menghentikan tawanya.
"Jadi sekarang kita kemana?" tanya Celina dengan sisa-sisa tawanya.
"Lihat saja nanti!" ketus Kris.
Hari ini memang Kris mengajak Celina untuk pergi bersamanya, tapi Celina tidak tau kemana.
***
"Taman hiburan?" Kaget Celina, ketika mobil Kris berhenti di depan gerbang sebuah taman hiburan.
"Kau tidak salah, kan?"
"Tidak. Bukankah aku sudah bilang kalo kita akan bersenang-senang?"
"Aku tau, tapi kenapa harus taman hiburan!"
__ADS_1
"Kau tidak suka?"
"Sedikit."
"Yasudah kita cari tempat lain saja kalo begitu." Kris kembali memakai sabuk pengamannya. Celina menjadi tak enak hati.
"Tidak perlu, di sini saja."
"Tapi kau tidak suka."
"Aku hanya bilang sedikit tidak suka. Bukan berarti tidak suka sama sekali. Sudah, ayo turun!" Celina turun duluan, lalu Kris mengikutinya.
Mereka masuk setelah membeli tiket. Celina melihat Kris tampak begitu senang ketika mereka masuk. Benar-benar anak kecil!
"Jadi kita harus apa di sini?" Celina bertanya karena sejak tadi Kris hanya melihat-lihat saja.
"Kau suka naik apa?" tanya Kris.
"Tidak tau. Aku tidak pernah pergi ke tempat seperti ini." jawab Celina jujur.
"Kau serius?"
Celina mengangguk malas.
"Kalo begitu ayo aku tunjukkan, semenyenangkan apa tempat ini!" Kris menarik tangan Celina lalu berjalan cepat ke arah antrian roller coaster. Mereka harus antri karena ini adalah akhir pekan yang sudah pasti ramai.
***
Leo masih bergulung dalam selimut tebalnya meski matahari sudah tinggi sejak tadi. Bukan tanpa alasan, dia merasa badannya tidak enak sejak kemarin sore. Dia merasakan dingin dan panas secara bersamaan. Kepalanya juga pusing dan berdengung ketika bangun. Semalam dia sudah minum obat pereda demam tapi sepertinya obat itu hanya membuatnya tidur nyenyak saja.
Leo berusaha bangun untuk mengambil segelas air di meja samping tempat tidur, tenggorokkannya kering sekali. Dia mencoba menahan ketika kepalanya kembali berdengung. Tapi, pandangannya semakin buram, kepalanya semakin pusing dan prang! Leo malah menyenggol gelas yang akan dia ambil.
Dia kembali merebahkan dirinya, tidak peduli lagi dengan tenggorokannya juga dengan pecahan gelas yang mungkin berserakan. Setelah dirasa lebih baik, Leo meraih ponselnya yang tergeletak di sampingnya. Matanya sama sekali tak terbuka saat tangannya menekan sebuah angka untuk panggilan cepat. Dia ingin menghubungi Devan agar membantunya pergi ke dokter.
"Gue sakit, gak bisa bangun. Tolong bawa gue ke dokter." ucap Leo dengan suara serak dan lemah.
Tidak ada jawaban dari sebrang sana.
"Dev?" panggil Leo.
"Tunggu aku! Aku akan ke sana sekarang!" jawab seseorang dengan suara yang membuat Leo mengeryit. Itu suara perempuan.
"Halo?" Tak ada jawaban lagi. Panggilannya telah terputus. Dan ketika Leo membuka matanya hendak melihat layar ponselnya, kepalanya kembali berdenging hingga dia malah menjatuhkan ponselnya.
***
"Aku harus pulang," ucap Celina pada Kris yang baru saja kembali sambil membawa dua es krim.
"Kenapa?"
"Ada hal mendesak yang harus aku urus."
"Benarkah? Kalo begitu ayo aku antar!"
"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Kau lanjut saja mainnya!" Celina berlari meninggalkan Kris yang termenung dengan eskrim di kedua tangannya.
"Hal penting apa yang membuatmu tak mau kuantar?"
***
Celina menyetop taksi yang kebetulan sekali lewat begitu dia keluar dari taman hiburan itu. Dia kemudian menghubungi dokter yang biasa menangani keluarganya untuk datang ke alamat Leo.
__ADS_1
Ya, tadi Leo mengatakan kalau dia sakit dan minta dibwa ke dokter. Leo adalah orang yang anti sekali dengan dokter ataupun rumah sakit. Tapi tadi dia meminta dokter yang artinya sakitnya cukup parah. Apalagi tadi sepertinya dia salah menghubungi orang karena Leo memanggilnya Devan. Hal itu tentu membuat Celina khawatir dua kali lipat.
Begitu sampai, Celina langsung berlari lagi dan cepat-cepat masuk ke lift menuju lantai di mana apartemen Leo berada. Lift terasa sangat lama bagi Celina, dia mengetuk-ngetuk sepatunya berharap itu dapat mempercepat laju liftnya.
Sampai di depan apartemen Leo, Celina menarik nafas, berdoa agar Leo tidak mengganti kode sandinya. Dan sepertinya dewi keberuntungan berpihak padanya karena memang Leo belum menggantinya.
"Kau memang masih mengharapkanku, Leo!" gumam Celina dengan mata berbinar.
Kembali ke tujuan awal, Celina pergi ke kamar Leo dengan pelan, takut jika mengganggu istirahat Leo.
Celina menutup mulutnya ketika melihat kondisi kamar Leo yang berantakan. Pecahan kaca berserakan, lantai yang basah, dan ponsel yang sedikit terendam oleh air di lantai. Mau tak mau Celina harus membersihkan itu dulu sebelum mencapai Leo. Dia pergi ke dapur dan mengambil alat bersih-bersih. Seumur hidupnya baru kali ini dia memegang sapu dan skop. Dia membersihkannya dengan hati-hati. Dia tidak ingin ada drama tergores pecahan kaca karena tidak akan ada pria tampan yang memasangkan plester di jarinya. Karena apa? Karena pria tampan itu tengah terbaring lemah.
Selesai dengan itu, suara bel terdengar. Celina yang baru akan menyentuh Leo harus kembali mengurungkan niatnya untuk membuka pintu.
"Celina?" sapa dokter paruh baya bernama Adam begitu Celina membuka pintu.
"Silakan masuk! Pasiennya ada di kamar."
Celina melangkah lebih dulu lalu Adam pun mengikutinya. Adam langsung membuka tas peralatan yang ia bawa untuk memeriksa Leo. Celina hanya memperhatikan ketika Adam melakukan beberapa pemeriksaan terhadap Leo. Hingga 10 menit kemudian, Adam baru selesai.
"Jadi, dia sakit apa?"
"Apa beberapa hari ini dia tidak makan dengan teratur?" pertanyaan Adam membuat Celina diam, dia sudah lama tidak bertemu Leo jadi mana tau Leo makan atau tidak.
"Mmm, sepertinya begitu. Memangnya kenapa?"
"Dia mengalami dehidrasi karena kekurangan cairan, demamnya pun sangat tinggi. Jadi, aku sarankan agar dia dirawat di rumah sakit."
"Begitu ya, baiklah aku akan membawanya ke rumah sakit sekarang."
"Kau bisa sendiri?" tanya Adam.
"Mmm.." Celina tidak langsung menjawab. Dia berpikir bagaimana caranya membawa Leo sendirian dalam keadaan Leo yang seperti itu.
"Mau kubantu? Kebetulan aku punya jadwal di rumah sakit dekat sini."
"Kau mau? Terimakasih."
"Tentu, kau sudah seperti putriku sendiri."
Celina tersenyum mendengar itu. Adam adalah sahabat ibunya, jadi dia sudah menganggap Adam sebagai paman kandungnya.
"Kalo begitu ayo bantu aku. Dia begitu besar hingga aku tak mungkin bisa mengangkatnya sendirian."
"Oke, aku akan membawanya ke mobilku."
"Sendirian? Kau yakin?"
"Tentu saja! Aku masih sangat bugar kau tau!" seru Adam sambil mengangkat kedua tangannya ala-ala binaraga.
"Baiklah, baiklah aku percaya." Angguk Celina dengan tawanya. "Tunggu saja di mobil, aku akan menyiapkan beberapa keperluan dia."
Adam mengangguk lalu membangunkan Leo dari tempat tidurnya. Leo sama sekali tak terusik, sepertinya dia benar-bebar sudah tak sadar.
"Tolong tahan punggungnya!" pinta Adam. Celina dengan sigap naik ke ranjang dan menahan Leo dari belakang. Adam memposisikan dirinya di depan Leo untuk menggendongnya di belakang. Celina membenarkan tangan Leo agar memeluk leher Adam. Lalu Celina berjalan lebih dulu untuk membuka pintu.
"Aku tunggu di bawah."
"Oke."
Celina kembali ke kamar Leo. Dia membuka lemari dan mengambil pakaian santai juga ****** ***** milik Leo. Tak lupa dia menyiapkan alat mandi juga.
__ADS_1
Setelah dirasa cukup dia keluar dari apartemen Leo hendak segera menyusul Adam. Tapi, begitu menutup pintu apartemen sebuah suara mengagetkannya.
"Jadi ini urusanmu yang sangat mendesak itu?"