
"Hallo, daddy!!" suara manja seorang gadis menyapa Alex dari ponselnya.
"Hallo, honey. Gimana kabar kamu?" Alex menjawab sapaan putrinya dengan sumringah.
"Aku baik, dad. Daddy kapan kemari? pameranku sebentar lagi digelar, aku butuh penyemangat." Nada suaranya terdengar merajuk.
"Hahaha, kau yakin honey? bukannya ada Dion yang selalu kasih semangatnya buat kamu." Alex menggoda.
"Daddy, Dion hanya ku anggap kakak, tidak lebih."
"Benarkah?"
"Tentu saja."
"Aku tidak yakin."
"Daddyyyyy!!!!"
"Oke, oke. Daddy tidak akan menggodamu lagi."
"Jadi, apa yang mau kamu katakan pada daddy? Kamu tidak menelpon daddy hanya untuk memberitahu tentang pameran bukan?" Alex bertanya dengan serius sekarang.
"Apa? aku menelpon karna aku kangen daddy, tidak lebih."
"Celina, tell me!"
"Oke."
"Jadi?"
"Apa... Apa daddy tau Devan di mana?" Celina bertanya dengan hati-hati.
"Buat apa kamu menanyakan dia?" Alex nampak tak suka saat putrinya membahas Devan.
"Aku hanya ingin tau keadaannya, dad."
Alex menghela nafas.
"Sekretarisnya bilang dia sedang perjalanan bisnis di Jepang."
"Jepang? Daddy yakin dia sedang bekerja?"
"Daddy tidak tau. Sudahlah daddy tidak mau membahas orang yang telah menyakiti putri daddy."
"Tapi, dad sebenarnya...."Alex mendengar keraguan dalam suara Celina.
"Apa?"
Hening sejenak.
"Celina? Sebenarnya apa?"
"Ah tidak. Oh iya, kenapa Leo tidak ikut kalo memang Devan sedang perjalanan bisnis?"
"Bukan Leo, tapi sekretaris barunya."
"Sekretaris baru? laki-laki?"
"A girl."
"Sial." Celina mengumpat tanpa sadar.
"Kau bilang apa?" Ternyata Alex tidak mendengar jelas umpatan Celina.
__ADS_1
"Sudah ya, daddy. Selamat malam, bye!" Tut.. Celina mematikan sambungan telponnya tanpa menunggu balasan lagi dari Alex.
Alex merasa curiga dengan sikap Celina, kemudian menghubungi Lola.
"Cari tau keberadaan Devan sekarang!" Alex langsung mematikan telponnya tanpa jawaban sekretarisnya.
***
"Kau sudah pulang?" Arka menyapa Mia yang baru saja menutup pintu rumahnya.
"Arka, astaga! Kamu baik-baik aja?" Mia langsung berhambur menuju Arka.
"Aku tidak apa-apa, memangnya kenapa?"
"Kamu tadi kesakitan gitu, masih tanya kenapa." Mia sedikit kesal kekhawatirannya tidak dianggap oleh Arka.
"Ah tadi. Aku hanya sedikit mendengar sesuatu."
"Apa yang kamu dengar?"
"Aku lupa, karna tadi tidak begitu jelas." Arka mengalihkan pandangannya menghindari kontak dengan Mia.
Mia menatap Arka dengan pandangan menyelidik, dia tau Arka menyembunyikan sesuatu. Ingin rasanya dia kembali bertanya, memaksa Arka mengatakan yang sebenarnya, tapi dia urungkan. Mia takut rasa penasarannya akan memicu kembali rasa sakit Arka.
"Aku mau mandi." Mia melewati Arka begitu saja menuju kamar mandi.
Arka pun membiarkan Mia. Dia kembali merenung memikirkan bisikkan yang dia dengar tadi siang, tentang wanita impiannya. Memang siapa wanita impiannya? Dan siapa pemilik suara tadi? Dia merasa familiar dengan suara itu, tapi tidak bisa memikirkan siapapun. Yang lebih membuat dia penasaran adalah, kenapa suara itu menyuruhnya bangun. Bukannya dia sudah mati?
"Arka?" Suara Mia menyadarkan Arka dari lamunannya. Mia tampak segar sehabis mandi, dengan rambut terurai setengah basah. Ternyata Arka sudah melamun cukup lama.
"Sedang apa di situ?" Mia mendekati Arka yang sedang berdiri di depan jendela kaca yang tertutup.
"Enggak. Kamu udah selesai?"
"Kenapa belum pake baju?" Arka melihat Mia masih menggunakan handuk kimono.
Mia berhenti satu meter dari Arka.
"Mau ngeringin rambut dulu." Dia menggosok-gosok rambutnya dengan handuk kecil.
Tatapan Arka terus mengikuti gerak-gerik Mia. Rambut Mia yang pendek membuat leher dan tulang selangka Mia terekspos. Dan itu membuat tatapan Arka berkilat dengan adam apple yang naik turun.
"Kamu akan masuk angin kalo gak pake baju sekarang." Arka memilih mengalihkan perhatiannya.
"Gak akan, handuknya tebel kok." Mia malah semakin mendekat pada Arka.
"Mau bantuin aku ngeringin rambut gak?" kini tatapan Arka tertuju ke bibir merah Mia.
"Arka?" Mia melambaikan tangannya dihadapan Arka.
"Hah?"
"Yuk!"
"Kemana?" pikiran Arka benar-benar jauh dari kata jernih sekarang.
"Bantuin aku keringin rambut. Rambut aku pendek, jadi susah kalo sendiri."
"Oohh."
"Iya, ayo!" Mia menarik tangan Arka.
"Eh, bukannya sebelumnya juga kamu keringin sendiri?" Sebenarnya bukan karena tidak mau, tapi Arka takut tak bisa mengontrol dirinya. Sayangnya kata-katanya membuat Mia kesal dan melepaskan gandengan tangannya.
__ADS_1
"Ishh, dasar gak peka. Gak romantis." Mia merajuk, meninggalkan Arka dengan hentakan kaki juga bantingan pintu kamar.
Arka merasa lega tapi sedetik kemudian menyusul Mia ke kamar, takut kekasihnya merajuk berkepanjangan.
"Sayang?" Arka memanggil Mia yang duduk di depan meja rias, tengah menggunakan alat pengering rambut, kemudian dia duduk di tempat tidur tepat di belakang Mia.
Mia melirik Arka sekilas lewat cermin.
Merasa diabaikan, Arka meraih pengering rambut yang dipegang Mia.
"Sini, aku bantu."
"Gak usah, aku bisa sendiri." Mia menjawabnya dengan ketus.
"Mia maafin aku, sekarang biar bantu."
Malas berdebat, Mia melepaskan pengering rambutnya dan prangggg.....pengering itu jatuh, lolos dari tangan Arka.
"Yaahh, kenapa gak kamu pegang?" Mia meninggikan suaranya, kaget sekaligus kesal karna merasa Arka tak benar-benar ingin membantunya.
"Aku pegang kok tapi tembus." Dia baru menyadari kalau tadi dia bisa menyentuh bahkan menggenggam alat itu.
"Bukannya tadi bisa kamu pegang."
"Iya, tapi pas kamu lepas langsung tembus."
"Masa sih?" Mia seakan tak percaya dengan kata-kata Arka. Dia bergegas mencabut alat pengering rambutnya, takut ada konsleting.
"Mana mungkin aku bohong, Mia."
Mia menatap lekat Arka.
"Oke, kita coba."
"Coba apa?"
"Kamu pegang ini." Mia menyodorkan sebuah buku, membuat Arka mengernyit ragu tapi Mia mengangguk meyakinkan Arka.
Perlahan Arka mengarahkan tangannya pada buku yang dipegang Mia. Dan berhasil. Arka dapat menggenggam buku itu dengan erat. Matanya melotot tak percaya, begitupun dengan Mia.
Kemudian buku itu jatuh seketika, bersamaan dengan Mia yang melepaskan buku itu.
"Kenapa?" Arka heran kenapa buku itu kembali tembus dari tangannya.
"Sekarang aku tau."
"Tau apa?"
"Kamu bisa pegang apapun yang aku pegang, tapi kalo aku lepas barangnya, bakalan tembus lagi."
"Jadi, maksudnya aku cuma bisa pegang benda barengan sama kamu?" Mia mengangguk.
"Kok bisa?"
Kali ini Mia mengendikan bahunya.
"Mana aku tau."
****
bersambung....
Maaf ya sebulan terakhir ini bener-bener penuh cobaan, gak sempet bikin cerita. Mulai hari ini, bakal aku usahakan up sehari sekali. Love you all❤❤❤
__ADS_1