
Celina tiba di rumah tepat pada jam makan malam. Dia langsung menuju ruang makan yang ternyata sudah ada Alex sang daddy.
"Hai, dad!" Celina menyapa Alex dengan kecupan di pipi. Namun pada Lola dia hanya tersenyum tipis yang dibalas juga serupa.
"Hai sweety, habis dari mana?"
Celina duduk bersebrangan dengan Lola yang kini menjadi istri Alex.
"Menghabiskan uang daddy." Celina mengerlingkan matanya.
"Ahahahha." Alex tertawa lucu. "Baguslah jika begitu."
"Pelayan, siapkan makanannya!" titah Alex pada pelayan yang berdiri di ujung ruangan. Pelayan itupun segera beranjak ke dapur untuk memeñuhi perintah tuannya.
"Kudengar kau sedang dekat dengan putra Maso?" ucap Alex memulai kembali percakapan.
"Dad, kau buntuti aku lagi?"
Alex hanya tersenyum melihat putrinya yang bertampang kesal manja.
"Tck, kami baru saja kenal."
"Baru kenal tapi sudah menginap di tempatnya."
"Dad!"
"Kenapa? Daddy tidak keberatan kau berkencan dengannya."
"Astaga, dad! Aku tidak mungkin berkencan dengannya, dia lebih pantas menjadi adikku."
"Benarkah?"
"Yeah,"
"Okay, we'll see." ucap Alex dengan wajah mengejek.
"Dad!!" Celina merajuk karena Alex terus saja menggodanya, dia memotong dagingnya dengan keras-keras. Alex tergelak melihat tingkah putrinya begitupun Lola yang sejak tadi tak ikut andil dalam obrolan ayah-anak itu.
Celina telah dinyatakan sembuh oleh dokter di Amerika sana, tapi dokter mengatakan untuk sebisa mungkin menjauhkan Celina dari hal-hal yang akan membuat Celina kembali terobsesi. Dan Alex merasa selama ini yang selalu menjadi obsesi Celina adalah Leo. Jadi dia mengirim orang untuk mengawasi Celina agar dia bisa tau kapan dia harus bertindak jika sewaktu-waktu Celina lepas kontrol. Dan tentu saja sekarang dia memilih orang yang benar-benar dapat dia percaya. Dia tidak ingin kejadian Dion terulang lagi.
***
Dalam beberapa minggu Celina dan Leo menjalani hari dengan seharusnya. Sama-sama fokus pada pekerjaanya masing-masing. Leo di Astra Group dan Celina di Giant Family. Bedanya, Celina menjalani hari dengan ceria, dia sama sekali tidak menganggap serius perpisahannya dengan Leo. Dia berpikir, jika memang Leo sudah tak ada rasa dengannya, dia akan memulai lagi dari awal. Sementara Leo, dia berubah menjadi sedingin vampire. Dia benar-benar menyimpan semuanya sendiri.
Kalau Kris, dia sibuk belajar segala tentang Maso Machine. Kelak dia akan jadi penerus ayahnya, jadi dia harus tau semuanya. Sesekali dia akan menghubungi Celina untuk sekedar bertanya kabar dan sedikit mengobati rasa rindunya. Perasaannya ternyata tak main-main. Dia benar-benar menyukai Celina.
Siang ini, Celina menyandangi kantor Astra Group untuk rapat. Seperti yang kita tau, proyek baru antara Astra dan Giant kini dipegang oleh Celina.
Celina menarik nafas dalam saat sedang dalam lift. Dia harus menguatkan hati, karena ini pertama kalinya dia akan bertemu lagi dengan Leo setelah satu bulan lebih sejak hari itu. Dia tak tau apakah hatinya akan sekuat yang dia kira.
Begitu keluar lift, Celina langsung menuju ruang pertemuan yang biasa mereka gunakan. Berjalan dengan percaya diri seperti biasa. Kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya membuatnya semakin memukau.
Celina membuka pintu ruang pertemuan itu, tampak Devan dan Leo sudah duduk di sana.
"Apa aku terlambat?" tanya Celina sambil membuka kacamatanya.
__ADS_1
Devan dan Leo menoleh bersamaan.
"Tidak, masuklah!" seru Devan, sedangkan Leo mengalihkan pandangannya. Celina duduk di berhadapan dengan Leo. Sebelum duduk dia mengangguk sopan sambil tersenyum pada Leo. Sapaan yang biasa dikalangan pebisnis.
Devan melirik kedua sahabatnya yang tampak seperti orang asing sekarang. Dia menghela nafas, begitu penasaran tapi tak ingin begitu ikut campur dengan urusan mereka.
"Kita mulai aja rapatnya." ujar Celina.
"Bentar Cel, ada satu lagi orang yang mau gabung sama proyek kita." Devan melihat jam tangannya, "Mungkin bentar lagi nyampe."
"Siapa?"
Tok tok tok..
Belum Devan menjawab suara pintu telah mengalihkan fokus mereka.
"Itu orangnya datang. Masuk!"
Pintu terbuka, menampilkan sosok pria tampan yang telah dikenal oleh Celina maupun Leo.
"Kris?" gumam Celina.
"Selamat siang semua! Maaf saya terlambat." Kris menebar senyuman ramahnya.
"Kami baru saja akan mulai, duduklah!" Devan mempersilakan Kris duduk, dan Kris duduk di sebelah Celina.
"Mungkin kalian sudah mengenal satu sama lain, tapi biar aku perkenalkan lagi secara resmi. Ini adalah Christian Santoso, putra dari Tuan Mario Santoso. Mulai hari ini dia akan menjadi bagian dari proyek kita."
"Ya, saya mendengar bahwa proyek ini membutuhkan banyak teknik mesin jadi saya mengajukan diri untuk bergabung dengan proyek ini dan tiga hari lalu saya sudah menandatangani kontraknya."
Celina mengangguk mendengarnya.
"Kurasa aku sudah mengajakmu bertemu, tapi kau bilang kau sibuk." Devan tersenyum sambil memainkan alisnya.
"Hari itu kau tidak bilang kalau.."
"Sudahlah, yang penting sekarang kau tau kan!" Devan memotong ucapan Celina yang merajuk.
Celina memajukan bibirnya tanda ia masih merajuk. Leo tanpa sadar tersenyum tipis melihat tingkah Celina. Dan tanpa disadari Kris menangkap senyuman itu membuat Kris ikut memajukan bibirnya. Dia tak suka ada orang lain yang memperhatikan Celina, termasuk Leo. Yang dia sendiri tak tau seperti apa sebenarnya hubungan mereka sekarang.
"Tuan Chistian, silakan anda mempresentasikan apa yang anda punya untuk proyek kami!" Devan beralih pada Kris.
"Baik, tapi sebelum itu bisakah Tuan Devan bicara santai saja dengan saya dan memanggil saya dengan nama Kris?"
Devan mengeritkan kening sejenak tapi kemudian mengiyakan.
"Oke, Kris, kau mulai presentasinya!"
"Baik. Tapi maaf jika masih banyak kekurangan karena ini adalah kali pertama saya."
Kris berdiri menyambungkan laptopnya dengan proyektor yang tersedia. Kemudian dia mulai mempresentasikan apa yang telah ia siapkan.
Sepanjang presentasi Kris, semuanya menyimak dengan serius. Mereka takjub dengan keahlian Kris dalam mempromosikan apa yang dia punya. Dia begitu lihai hingga tak akan ada yang menyangka kalau ini adalah pertama kalinya dia presentasi.
Leo pun yang sejatinya tak suka pada pria itu, berdecak kagum dengan kemampuannya. Dia semakin yakin kalau Celina memang lebih pantas bersanding dengan Kris yang pintar dan juga pewaris sebuah perusahaan besar. Meski dalam pekerjaan Leo pun seorang yang handal tapi dia tetaplah seorang asisten direktur.
__ADS_1
***
Rapat telah selesai, Devan memutuskan untuk mengadakan pertemuan lagi bulan depan.
"Aku duluan! Leo, tolong bereskan semuanya!"
"Kau mau kemana?" Celina heran melihat Devan yang teeburu-buru.
"Sore ini Mia ada janji dengan dokter kandungan."
"Apa dia masih lemas?"
"Tidak, dia baik sekarang. Kami hanya melakukan pemeriksaan rutin tiap bulan."
"Baguslah kalo begitu, aku senang mendengarnya."
Devan mengangguk, lalu pergi meninggalkan Celina dengan Kris dan Leo.
Celina pun mengambil tasnya dan bersiap untuk pergi. Tapi, sebelum itu dia berhenti di dekat Leo, membuat Leo terpaku dan Kris terbakar api cemburu.
"Bagaimana kabarmu?" Celina bertanya dengan nada yang biasa saja. Tidak ada suara manja yang biasa dia gunakan pada Leo dan Alex. Diam-diam Kris menghela nafas lega, Celina menanyakan kabar itu yang artinya mereka sudah tidak saling bertemu.
Leo diam sejenak sambil menunduk, kemudian menatap mata Celina.
"Aku baik, kau?" Leo sama sekali tak mengubah wajah datarnya.
"Tidak bisa lebih baik lagi."
"Baguslah." Leo kembali membereskan dokumen-dokumen milik Devan.
"Aku duluan," pamit Celina pada Leo yang dibalas dengan anggukan.
Kris pun langsung menyusul Celina, tak lupa dia pamit juga pada Leo dengan sebuah senyum dan anggukan.
Leo pun berbalik menyusul mereka. Dia melihat Kris yang mensejajarkan langkahnya dengan Celina lalu mereka berhenti di depan lift.
"Kau menyetir sendiri?" tanya Kris pada Celina.
Entah kenapa Leo penasaran dengan percakapan mereka, hingga dia diam di sudut yang tak terlihat oleh mereka.
"Ya." jawab Celina.
"Aku tidak bawa mobil. Boleh aku ikut denganmu?"
"Tidak. Kau naik taksi saja."
"Ayolah, aku malas menunggu taksi di pinggir jalan." Kris tetap kekeh ingin menumpang.
"Sekarang banyak taksi online."
"Aku tidak tau caranya." Kris memajukan bibirnya membuat wajah lucu.
Celina menghadap Kris dengan jengkel, tapi tak sengaja dia melihat sepatu Leo dibalik dinding. Tadinya dia ingin memarahi Kris, tapi kemudian sebuah ide muncul di kepalanya.
"Baiklah, meski aku tau itu hanya alasanmu agar kau bisa pulang bersamaku. Aku akan mengijinkanmu."
__ADS_1
"Kau benar-benar menggemaskan Celina!" Kris mencubit kedua pipi Celina saking senangnya. Dan Celina tersenyum senang karena berhasil memanasi Leo, dia bisa melihat dari tangan Leo yang mengepal sambil berjalan pergi berlawanan arah dengan mereka.
"Ayo!" Kris menyadarkan Celina, dia menarik Celina masuk ke dalam lift.