
Dion dibawa ke ruang introgasi denganbtangan yang masih diborgol. Wajahnya sama sekali tak menampakan ketakutan. Bahkan terlampau santai untuk seorang tersangka pembunuhan berencana. Devan pun sudah berada di sana memantau dari balik kaca gelap.
"Sekarang aku akan bertanya, benarkah kau yang menaruh racun di minuman Tuan Devan?" Polisi yang bertugas mengintrogasi memulai tugasnya.
"Tidak."
"Jangan menyangkal. Bukti sudah ada dalam genggaman kami."
"Kalau begitu kenapa kalian masih bertanya?" Dion tersenyum licik.
Brak.. Polisi menggebrak meja.
"Apa motifmu melakukan semua itu?"
"Aku tidak punya motif apapun." Dion kembali bersandar di kursinya.
"Kalau begitu kenapa kau melakukannya?"
"Aku tidak bermaksud meracuni Devan. Targetku adalah asistennya, tapi siapa sangka Celina salah menaruh kantung belanjaannya. Aahhh seharusnya aku tak mempercayakan tugas sepenting itu pada seorang pecandu." Dion menyeringai ke arah kaca gelap di sana, seolah tau ada orang yang mengawasinya.
Devan mendengar itu mengepalkan tangannya. Dia tau siapa yang dimaksud Dion.
"Apa masudmu? Siapa yang kau sebut pecandu itu?"
"Kalian akan segera tau. Mungkin dia dalam perjalanan sekarang."
"Berani-beraninya kau mempermaikanku!" Polisi itu bangkit dari duduknya lalu menarik baju Dion sampai Dion terangkat dari duduknya.
"Kalian lihat gadis yang bersamaku tadi? Dia orangnya." Dalam keadaan tegang seperti ini pun Dion masih tertawa.
"Ya, Celina. Dia adalah kaki tanganku." Dion mengatakannya sambil menatap mata polisi tersebut yang melebar tak percaya.
"Brengsek! Bicara apa kau sialan!" Tiba-tiba saja Leo masuk ke ruang introgasi dan langsung menarik lengan Dion dan memukulnya sekali tapi mampu membuat darah mengucur dari hidungnya.
"Tuan Leo, hentikan!" Polisi tadi menghalangi Leo yang akan memukul Dion lagi.
"Akhirnya kau datang juga!" Dia bangun dari lantai.
"Kau bisa tanya dia, dia adalah kekasih Celina. Dia tau selama ini gadis itu mengkonsumsi narkoba, tapi tak pernah bertindak."
Tak ada yang menanggapi ucapan Dion. Leo malah mengeluarkan sebuah pena. Pena yang sama yang dia perlihatkan pada Devan.
"Kau pikir aku bodoh?" Leo menyeringai pada Dion.
"Sialan, kau!"
"Tenanglah, sepertinya kau akan kena pasal berlapis." Polisi itu menarik Dion keluar dari ruang introgasi. Setelah mendengar rekaman yang Leo serahkan, mereka tak jadi mengintrogasi Celina.
(Maybe dikepolisian prosesnya gak seperti ini. Kalo real semua bukan novel fiksi namanya, wkwkwk pembelaan😆)
Saat berjalan di koridor Alex datang dengan wajah garangnya.
Plak...
Dia menampar Dion dengan sekuat tenaga hingga pipi Dion memerah bekas tangannya.
"Berani-beraninya kau memberikan narkoba pada putriku!"
"Kau! Aku mempercayakan putriku padamu agar kau menjaganya tapi kau malah menjerumuskan dia pada barang haram itu!"
"Putrimu? Cih Harusnya kau menyadari kalo dia seperti itu karna ulahmu sendiri. Aku hanya memberikan apanyang membuatnya bahagia."
"Kurang aja kau!"
"Kalian! Pastikan dia mendekam selamanya di penjara." Alex melepaskan Dion lalu pergi Celina yang duduk di sofa tamu.
"Ayo sayang kita pergi!" Alex hendak menggenggam tangan Celina tapi Celina menghindar.
"Aku mau pergi dengan Leo."
"Tapi.."
__ADS_1
"Leoo!!" Celina berlari ke arah Leo yang berjalan di belakang Alex. Leo menunduk memberi hormat pada Alex, tapi Alex malah memandang tak suka pada Leo.
"Aku ingin bicara denganmu." Alex menatap Leo lalu berjalan keluar.
"Kamu tunggu di sini sama Devan, oke?"
Celina mengangguk.
*
"Apa yang ingin anda bicarakan?" tanya Leo to the point.
"Tinggalkan putriku!"
"Setelah apa yang terjadi, anda belum sadar juga? Bagaimana jika keadaan Celina lebih buruk dari sebelumnya?"
"Tidak akan. Aku akan membawanya menjalani rehabilitasi di luar negri, asal kau tidak menghubunginya maka Celina akan perlahan melupakanmu."
"Tidak. Saya akan terus menemaninya sampai dia sembuh."
"Kau yakin perasaannya nyata terhadapmu? Mungkin saja dia hanya mengalami delusi karena obat yang dia minum."
Leo terdiam mendengarnya, dadanya berdenyut nyeri membayangkan bila perasaan Celina benar-benar hanya pengaruh obat.
"Saya akan buktikan bahwa perasaannya nyata."
"Buktikan nanti saat dia sudah sepenuhnya sembuh. Jika nanti dia masih mencarimu, maka aku tidak akan ikut campur lagi."
Alex pergi setelah mengatakan itu, meninggalkan Leo yang terpaku merenungkan kata-katanya.
"Apa yang kalian bicarakan?" Celina datang bersama Devan membuyarkan lamunan Leo.
"Tidak ada." Leo mencoba tersenyum pada Celina. Tapi Devan menyadari ada yang tidak beres dengan Leo.
"Ayo pulang!" Leo menggandeng tangan Celina.
"Gue duluan!" pamitnya pada Devan.
***
Tok tok tok..
Mia membuka pintu begitu mendengar suara ketukan. Devan langsung masuk tanpa bicara, dan ketika Mia sudah menutup pintu dia memeluknya dari belakang.
"Dev!" Mia sedikit terkejut dengan pelukan Devan yang tiba-tiba dan ingin melepaskannya.
"Tolong biarkan seperti ini sebentar saja." Mia tak jadi melepaskan diri saat mendengar suara lesu Devan. Dia mengelus tangan Devan yang ada di perutnya. Devan semakin menyembunyikan wajahnya di leher Mia.
"Jangan seperti ini, geli." Mia menggeliat. Devan langsung melepaskan pelukannya dan melangkah menuju sofa. Mia merasa tak enak hati.
"Dev!"
"Hm.." Devan menyahut tanpa membuka mata, memilih tetap menyandarkan punggungnya sambil memejamkan mata.
"Bagaimana Dion?"
"Dia sudah ditangkap polisi. Sidangnya akan segera dijadwalkan." Lagi-lagi Devan menjawab tanpa membuka mata.
"Lalu Celina?"
"Mungkin dia akan menjalani rehabilitasi. Entahlah, aku tidak begitu menyimak."
"Oh begitu.." Mia bingung harus bicara apalagi.
"Kau sudah makan?"
"Belum."
"Kalo begitu akan kubuatkan sesuatu." Mia bangkit dari duduknya, tapi tangannya ditahan oleh Devan.
"Biarkan aku menginap malam ini saja." Pandangannya begitu sayu, tersirat kelelahan di sana, Mia rasanya tak kuasa untuk menolak.
__ADS_1
"Hmm,, kalo begitu mandilah aku akan mencari pakaian yang mungkin cocok untukmu."
"Iya.." Devan melepas genggamannya membiarkan Mia pergi ke kamar lalu dia pergi ke kamar mandi.
Sudah 10 menit Mia menatap lemarinya yang terbuka. Mencari baju dan celana yang kira-kira akan muat dipakai Devan. Postur Devan yang tinggi besar berbanding terbalik dengan dirinya yang mungil membuat dia kesulitan.
Lalu matanya tertuju pada one set t-shirt oversize dengan celana pendek yang longgar, bagian pinggangnya memakai tali karet jadi bisa melar sampai ukuran jumbo.
Ceklek.. Mia berbalik mendengar suara pintu dibuka, ternyata itu Devan yang sudah selesai mandi. Matanya dimanjakan dengan tubuh Devan yang hanya berbalut handuk dari pinggang ke lutut. Roti sobek yang selama ini hanya dia lihat dibeberapa drama Korea kini terpampang nyata di hadapannya. Apalagi air masih menetes dari rambutnya yang masih belum mengering. Sungguh indah ciptaan Tuhan yang satu ini.
"Aku tau badanku sangat seksi, tapi kau bisa melihatnya lagi lain kali. Aku kedinginan sekarang."
Mia mengerjapkan matanya, malu karena ketauan secara terang-terangan memandangi tubuh Devan.
"I..ini kau pake ini saja." Mia mendorong baju yang dia pegang ke tangan Devan.
"Aku akan memasak sesuatu." Devan terkekeh geli melihat Mia yang gelagapan.
Selesai berganti baju Devan keluar kamar.
"Kamu masak apa?"
Mia menoleh, kali ini pun dia dibuat terpaku dengan penampilan Devan, bedanya sekarang bukan karena dia terlihat seksi tapi Devan terlihat lucu memakai atasan yang sedikit press juga celana yang sangat pendek bahkan tidak menutupi setengah pahanya.
"Kau lucu sekali." Mia menahan tawa agar tak terbahak.
"Kau menertawaiku?"
"Tidak." Senyum Mia semakin lebar, bahkan giginya hampir terlihat.
"Lihat! Kamu ketawa." Devan mendekati Mia.
"Mau apa kau!" Mia berubah waspada melihat Devan yang melangkah perlahan.
"Aku mau...." Devan menggantungkan ucapannya membuat Mia menaikkan alisnya.
"Ini!"
"Aaaaa.."
Mia spontan teriak kemudian tertawa saat Devan tiba-tiba menggelitikinya.
"Aaahh Devan sudah.. Ampun.. Ampun!" Mia memohon dengan suara lemas karena tertawa.
"Ah masa segitu aja udah nyerah."
"Aku capek."
"Iya.." Devan cemberut berbalik menuju sofa.
"Astaga lihatlah masakanku hampir saja gosong." Mia mengomel karena nasi goreng yang dia buat hampir gosong.
"Ini makanlah. Aku hanya bisa membuat ini." Mia membawa dua piring untuknya dan Devan.
"Makasih." Devan mengambil sesendok lalu memasukannya ke mulutnya.
"Wah ternyata kau pintar masak ya." gumam Devan sambil mengunyah.
"Jangan mengejek, ini hanya nasi goreng."
"Aku serius, ini benar-benar enak." Devan menyuapkan lagi nasinya.
"Benarkah?" Mia ikut menyuapkan satu sendok.
"Hmm, benar. Lumayan juga."
"Aku jadi ingin cepat-cepat menikah, agar kau bisa terus makan masakanmu setiap saat."
Mia terpaku mendengar ucapan Devan. Dia menatap wajah Devan untuk mendengar kalimat selanjutnya. Tapi sayangnya Devan malah terus memakan makanannya tanpa beban, seperti tidak habis mengatakan sesuatu yang penting.
Mia meneruskan makannya dengan sedikit enggan. Mia berpikir mungkin Devan tidak serius mengatakannya. Sejak awal dia memang belum berpikir ke arah sana, tapi mendengar kata menikah dari mulut Devan membuatnya berharap tanpa sadar.
__ADS_1
***
bersambung....