
Begitu sampai di rumah Celina langsung menjatuhkan dirinya ke ranjang. Dia menangis sesegukan menyalurkan rasa sakit hatinya. Kenapa Leo bisa sampai berpikir seperti itu? Apa yang salah darinya? Tidur di tempat Kris memang salahnya, tapi itu adalah pertama kalinya dia tidur di tempat pria asing setelah dia punya hubungan dengan Leo. Itu pun tidak terjadi apa-apa. Celina akhirnya tertidur saking lelahnya dia menangis.
***
Alex pulang ke rumah setelah mendengar kalau Celina pergi dari rumah sakit sambil menangis dari orang suruhannya. Dia bergegas mengetuk pintu kamar putrinya karena khawatir.
"Sayang, daddy masuk ya?"
Alex membuka pintu kamar Celina ketika tak ada jawaban dari dalam. Dia melihat Celina tidur dengan posisi seperti bayi. Wajah Celina masih sembab dengan bekas air mata yang mengering.
"Bukankah sudah daddy bilang kau tidak usah lagi menemui laki-laki itu?" Alex bergumam sambil mengelus rambut Celina dengan sayang.
"Daddy?" Celina bangun saat merasa tidurnya terusik.
Alex tersenyum pada Celina yang baru saja membuka mata.
"Apa yang daddy lakukan di sini? Bukannya sekarang harusnya daddy di kantor?"
"Daddy khawatir sama kamu, jadi daddy pulang."
"Daddy tau?"
"Ya, daddy selalu tau segalanya." Celina tak kaget lagi kalau Alex tau segalanya tentang apa yang terjadi pada Celina. Dia tau, Alex selalu mengirim orang untuk mengawasinya.
Celina bangun untuk duduk, kemudian merentangkan tangannya, memeluk Alex. Alex pun mendekap Celina dengan lembut.
"Ternyata benar apa yang daddy katakan. Leo tidak setulus itu padaku. Dia bahkan mengataiku murahan, daddy!" Celina kembali menangis saat mengatakannya.
"Ssshhh.. Kamu tidak perlu menangisi pria seperti Leo."
"Maaf, daddy! Maaf, karena aku sempat tak percaya pada daddy."
"Sudahlah, tidak apa-apa. Yang penting sekarang kamu sudah sadar kalo Leo dulu mengencanimu hanya karena dia kasihan dan mengira kamu terobsesi padanya. Dia tidak pernah benar-benar tulus mencintaimu. Dan setelah dia bosan, dia mencampakkanmu. Bahkan dia tidak pernah mengunjungimu saat di Amerika, bukan?"
Celina mengangguk di pelukan Alex. Dan Alex hanya tersenyum puas mendapati putrinya kini telah termakan kata katanya.
"Jadi, kau mau kembali ke Amerika?" tanya Alex.
Alex memang sempat melarang Celina untuk kembali ke Indonesia dan meminta Celina mengurusi bisnis mereka di Amerika. Tapi, Celina tetap ingin kembali dan ingin menemui Leo. Alex pun mengatakan kalau Leo tidak benar-benar mencintai Celina dan hanya menjadikan Celina sebagai salah satu mainannya saja, tapi Celina tak percaya itu dan tetap kekeh ingin kembali.
"Aku.."
Alex menunggu jawaban putrinya dengan sabar.
"Sebenarnya Celina lebih nyaman di sini, dad."
"Kalo begitu tidak apa-apa, kamu bisa tetap di sini."
"Thank you, daddy!" Celina kembali memeluk Alex dengan nyaman.
***
Devan akhirnya bisa menghubungi Celina di hari berikutnya dan mengajaknya bertemu di suatu restoran bersama Mia. Dia hendak membicarakan tentang hubungannya dengan Leo.
"Celina, disini!" Mia melihat Celina lebih dulu dan melambaikan tangannya. Celina tersenyum melihat Mia.
"Bagaimana kabarmu?" Celina memeluk Mia dengan akrab.
"Aku baik."
__ADS_1
"Wah, perutmu semakin terlihat, Mia!"
"Ya, dan akan lebih membesar lagi nanti."
Mereka duduk setelah saling menyapa.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Devan.
"Aku baik." jawab Celina mantap.
Mereka memesan makanan terlebih dahulu. Devan tidak ingin terlalu menunjukan niatnya.
"Leo sakit." ucap Devan ketika semuanya sudah mulai makan, dia sengaja memulai pembicaraan dari topik yang paling ringan. Ia pura-pura tidak tau kalau Celina lah yang membawa Leo ke rumah sakit.
"Ohya? Sakit apa?" tanya Celina santai, seolah tidak tau.
"Kata dokter dia kelelahan."
"Oh, mungkin kau harus mengurangi jam kerjanya."
"Mungkin. Kau tidak mau menjenguknya?"
Celina diam sesaat. "Untuk apa? Toh, sekarang kami sudah menjadi orang asing."
"Kenapa?"
"Kau bisa tanya sendiri pada temanmu."
"Aku tidak akan bertanya padamu jika dia memberitahuku." Devan menyimpan sendoknya dan memandang Celina dengan serius. Celina pun melakukan hal yang sama.
"Dia mempermainkanku, dia tak pernah mencintaiku. Jadi, untuk apa aku terus bersamanya."
"Dia yang mengatakannya sendiri kalau dia sama sekali tak pernah menganggapku kekasih, apalagi mencintaiku. Dia bahkan berkali-kali mengusirku saat aku mencoba memperbaiki sesuatu yang bahkan aku tidak tau di mana letaknya. Dia bahkan mengatai aku wanita murahan yang bisa tidur dengan pria manapun." Celina terengah-engah setelah mengatakan itu pada Devan. Entah kenapa dia mudah sekali terpancing.
"Seminggu sebelum pernikahanku dengan Mia, dia melihatmu bersama pria lain di Amerika." ucap Devan akhirnya.
"Siapa yang kau maksud?"
"Aku tidak tau, tapi Leo bilang dia melihatmu bersama seorang pria di rumah liburan. Dia juga melihat pria itu memeluk dan menciummu."
"Rumah liburan?" Celina menerawang, mencoba mengingat-ingat kejadian waktu itu.
...**dua tahun lalu**...
Menjalani rehabilitasi di negri orang dan harus jauh dari orang-orang yang dia sayangi terasa begitu berat bagi Celina. Namun, dia tetap berusaha optimis, apalagi Leo selalu memberinya semangat melalui panggilan video yang mereka lakukan hampir setiap hari. Hingga saat, ponselnya tiba-tiba mati total tak tau kenapa dan dia tak bisa membeli ponsel baru karena dia tidak diperbolehkan berpergian. Jadinya, Celina tak bisa menghubungi Leo karena dia tak ingat nomornya.
Beberapa minggu dia tak menghubungi Leo ternyata makin berdampak pada kesehatan mentalnya. Dari yang tadinya sudah mulai membaik, kini Celina kembali tak bisa mengontrol emosinya. Celina kabur dari tempat rehabilitasinya dan pergi ke rumah liburan keluarganya menggunakan taksi dan membayarnya dengan sebuah cincin yang dia pakai.
"Leo.." Celina meringkuk di ranjang dengan wajah sembab. Dia terus menangis karena lupa nomor telpon Leo.
Celina mengeluarkan ponsel yang dia curi dari dokter yang menanganinya. Dia mencoba menekan beberapa nomor yang dia coba rangkai sebagai nomor Leo. Tapi telinganya kembali mendengar nada tanda nomornya tak terhubung.
"Aaaaaaaa...." Celina kembali histeris dan membanting ponsel yang dia pegang. Celina melempar semua barang yang ada di dekatnya. Mulai dari selimut, bantal dan satu pas bunga di meja. Kemudian dia jatuh terduduk sambil menjambak rambutnya sendiri sekuat tenaga.
"Aaaaaaaaaaaaaa..... Leoooo!!" Dia kembali melempar pecahan vas yang ada di sampingnya ke jendela kaca di depannya hingga menimbulkan suara yang nyaring.
"Aku mau mati saja, Leo." lirih Celina.
"Aku ingin bersamamu.."
__ADS_1
"Aku tak bisa tanpamu.."
Tangan Celina perlahan mengambil sisa pecahan vas lagi dan mengarahkan pada lehernya.
Prang!!
Tiba-tiba seorang pria mengambil pecahan itu dari tangan Celina dan langsung melemparkannya.
"Apa yang kau lakukan Celina!!"
Pria itu menarik paksa Celina keluar dari kamar. Dia adalah Edward, dokter rehabilitasi yang menangani Celina. Dia menyusulnya karena tau apa yang akan terjadi jika membiarkan Celina sendiri lebih lama lagi. Dan dia tau Celina berada di sini dari Alex yang menghubungi panti rehabilitasi.
Edward mengajak Celina duduk di sofa ruang tamu. Celina tak melawan, dia duduk dengan wajah menunduk.
"Kau mau bertemu Leo?" Edward bertanya dengan lembut.
Mendengar nama Leo Celina langsung mengangkat wajahnya. Sedetik kemudian dia mengangguk dengan mata berbinar.
"Kalo begitu kau jangan melakukan hal seperti tadi lagi. Ya?"
Celina kembali mengangguk.
"Aku ingin Leo." ucap Celina, lirih.
"Aku tau. Dan aku yakin Leo pun menginginkanmu, jadi kau harus sembuh. Kau harus bisa menahan ini." Edward menunjuk dada atas Celina.
"Kau harus bisa menyalurkan ledakan emosimu ke hal positif agar kau bisa cepat sembuh dan kembali pada Leo."
"Aku tidak bisa."
"Mau kuajarkan caranya?"
Celina mengangguk lagi.
"Oke, aku akan mengajarimu tapi ada syaratnya.."
"Apa?"
"Kau harus menuruti semua aturanku dan kau harus berjanji jika ledakan itu terasa lagi kau harus bilang padaku, jangan malah melakukan hal tadi. Kau bisa?"
Celina terdiam, mungkin mencerna kata-kata Edward. Hingga setelah cukup lama akhirnya Celina mengangguk.
Edward tersenyum melihat Celina dan entah kenapa senyum itu menular pada Celina walau sedikit.
"Nah, sekarang ayo kita kembali ke panti dan jangan coba-coba untuk kabur lagi!" Edward berdiri sambil mengulurkan tangannya pada Celina. Celina menatap tangan itu kemudian berdiri dan berjalan mendahului Edward.
Celina keluar lebih dulu lalu di susul oleh Edward. Melihat mobil Edward yang terparkir di depannya Celina merasakan keraguan kembali merayapi hatinya.
"Ada apa?" tanya Edward.
"..." Celina tak menjawab.
Edward yang melihat kegundahan di wajah Celina berinisiatif memeluk Celina untuk memberinya ketenangan, dia juga menciumi rambut Celina. Dia memang sesekali melakukannya pada pasien yang sekiranya membutuhkannya, namun untuk ciuman, dia hanya reflek.
"Ayo, kita pergi!" Edward melepaskan pelukannya lalu membukakan pintu untuk Celina.
(Anggap aja obrolan Celina dan Edward pake English ya!😁)
...***...
__ADS_1
Lama ya up nya? Maaf🙁 Satu rumah sakit dengan ciri-ciri omicron, jadi gak bisa mikir.