Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
21


__ADS_3

Kekhawatiran itu berakhir juga kala dia melihat lampu-lampu yang menerangi jalan dengan indahnya. Mobil itu kemudian berhenti di depan sebuah pondok yang dihiasi dengan ampu-lampu dan juga bunga-bunga hingga pondok itu jadi yang paling bersinar dari pondok-pondok lain.


Mata Celina menangkap Leo yang berdiri di ujung tangga, tersenyum ke arahnya. Celina berlari  menghampiri kekasihnya.


"Aku merindukanmu!" ucap Celina saat telah berada dipelukan Leo.


"Aku juga." Leo tak kalah erat memeluk Celina, tapi Celina melepaskannya tiba-tiba.


"Kau jahat!" dada Leo menjadi sasaran pukulan kecil Celina.


"Aww! Apa salahku?"


"Kau tidak menghubungiku seminggu lebih, dan kau masih tanya apa salahmu?" wajah merajuk Celina begitu menggemaskan di mata Leo hingga spontan Leo mengecup pipi Celina.


Mata Celina membulat, pipinya merona akibat hawa panas yang tiba-tiba menerpa.


Cup, sekali lagi Leo mengecup pipi Celina.


"Kamu lucu sekali!"


Celina menyembunyikan wajahnya di dada bidang Leo. Entah kenapa dia malu hanya karena sebuah kecupan.


"Ayo masuk!" ajak Leo, dia memegang tangan Celina dengan lembut, menuntunnya menuju meja yang telah dia siapkan.


Celina terpana dengan dekorasi di dalam pondok, lebih cantik dari bagian luar. Semua lampu berwarna kuning keemasan, berbagai macam bunga tertata rapih menghiasi setiap sudut ruangan. Di tengah-tengah, satu set kursi meja diletakkan.


"Terimakasih." Celina tersenyum cantik ketika Leo menarik kursi untuknya.


"Kau menghilang untuk menyiapkan ini?"


"Tidak. Mendekor tempat ini bahkan tak memakan waktu satu hari penuh."


"Lalu kemana saja kau selama ini?"


"Kau akan tau nanti. Sekarang kita makan dulu." Leo tersenyum misterius.


Seorang pelayan mengantarkan dua mangkuk sup sebagai hidangan pembuka. Mereka makan dengan perlahan, senyuman tak lepas dari wajah Celina, entah kemana rasa kesalnya.


Hidangan pembuka dan utama telah selesai mereka santap. Mereka makan tanpa topik apapun, hanya sesekali saling melempar senyuman.


Leo menjentikkan jarinya setelah pelayan membersihkan piring kotor mereka. Satu pelayan lainnya membawa kue berbentuk love warna merah. Kue itu dihiasi mahkota berwarna emas dengan lilin ditengahnya.

__ADS_1


"Happy birthday!" Ucap Leo setelah kue tersebut diletakan di depan mereka. Celina begitu terharu melihat kue itu.


"Terimakasih, ini cantik sekali Leo." senyum bahagia tak lepas dari wajah Celina.


"Ayo tiup lilinnya!"


Celina menautkan kedua tangannya sambil memejamkan matanya, make a wish adalah hal yang selalu dilakukan kebanyakan orang sebelum meniup lilin ulang tahun


"Semoga aku dan Leo bersama selamanya." itulah harapan yang dia ucapkan dalam hatinya sebelum kemudian meniup lilinnya.


"Aku punya hadiah untukmu."


"Benarkah? seharusnya kau tidak perlu menyiapkan hadiah lagi, semua ini sudah lebih dari yang aku harapkan."


"Benarkah?"


Celina mengangguk.


"Menurutku tidak, karena dengan ini aku baru bisa menyebut malam ini sempurna."


"Wah, aku jadi tidak sabar." Celina menatap penasaran pada Leo.


Leo mengambil sesuatu dari dari saku jasnya. Sebuah kotak beludru berwarna biru shappire diletakkan di depan Celina.


"Bukalah!"


Perlahan, Celina membuka kotak itu. Dia tak bisa berkata-kata saat melihat sebuah cincin berbentuk mahkota tersemat di kotak itu.



"Cincin?" Celina menatap Leo.


Leo berdiri, mengambil kotak itu lalu berlutut di depan Celina.


"Ini adalah kadoku yang sebenarnya."


"Celina, menikahlah denganku!" sifat dominan Leo keluar, dia tidak bertanya.


Celina menutup mulutnya tak percaya. Saat saat yang dia impikan akhirnya terjadi juga. Dia hanya bisa mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata pun. Setetes air mata mengalir menghiasi keharuannya.


"Say something, please!" Leo tampaknya tak puas dengan anggukan Celina, meski sebenarnya hatinya seperti akan meledak.

__ADS_1


"Ya, aku akan menikah denganmu." Suaranya serak karena derasnya air mata bahagia.


Leo menyematkan cincin itu di jari Celina, kemudian berdiri dan memeluk gadis yang telah menjadi calon istrinya itu. Pelukan erat yang menjadi tanda kebahagian tiada tara keduanya.


Para pelayan yang ada di sana bertempuk tangan melihat tamu mereka bahagia. Artinya kerja keras mereka dalam mengerjakan semuanya terbayarkan.


***


Tiga bulan kemudian, pesta pernikahan Leo dan Celina akhirnya terlaksana. Mereka mengundang ribuan tamu termasuk kolega bisnis Leo dan Mr.Alex. Semuanya tampak bahagia dan menikmati acaranya, ada juga beberapa yang hanya sekedar setor wajah kepada kedua pimpinan perusahaan besar ini.


Alex telah menyerahkan Giant Family kepada Celina. Dia percaya, di tangan Celina dibantu Leo Giant Family akan semakin maju dan berkembang. Dia sudah tak ingin ikut campur dalam perusahaan lagi, dia ingin menghabiskan waktunya bersama sang istri, Lola. Celina pun telah mengenyahkan semua rasa marah dan dendam yang masih tersisa. Terlepas dari kesalahan Alex dan Lola di masa lalu, mereka berhak bahagia.


"Astaga, kenapa orang-orang itu tidak pulang juga!" keluh Celina yang hanya dibalas senyuman oleh Leo.


"Rasanya aku menyesal telah mengundang mereka."


"Sabar sayang, sebentar lagi."


Celina malah semakin cemberut mendengar Leo, tapi kemudian tersenyum saat ada orang yang menghampiri mereka. Walaupun lelah, tapi Celina tetap harus menampilkan senyum terbaiknya, dia tak ingin ada gosip kalau dia tak bahagia di acara pernikahannya sendiri.


"Aduh kenapa ini susah sekali." gerutu Celina begitu mereka telah di dalam kamar hotel yang Leo sewa. Dia tau acaranya akan sampai tengah malam, jadi daripada pulang ke apartemen lebih baik menginap di hotel saja.


"Sini aku bantu!" Leo membantu membuka resleting gaun istrinya.


Istri, Leo tersenyum mengingat kalau wanita dihadapannya ini telah menjadi istrinya.


"Mandilah lebih dulu!" ucap Leo.


"Tidak mau bersama?" Celina menoleh ke belakang, menatap Leo dengan tatapan menggoda. Leo yang tadinya mencoba menahan hasratnya karena takut Celina kelelahan jadi terpancing. Dia mengangkat tubuh Celina dengan tiba-tiba membuat Celina memekik.


Leo membawa Celina ke kamar mandi, lalu mendusukannya di wastafel. Mata keduanya saling mengunci, tubuh mereka diam tak bergerak, hanya tangan Leo saja yang menelusuri punggung polos Celina.


"Masih ada waktu jika kau ingin mundur." bisik Leo tepat di telinga istrinya.


"Lebih baik kita manfaatkan waktu sebaik mungkin, karena aku tidak akan mundur." balas Celina lalu menggigit kecil kuping Leo. Leo menunjukkan seringainya kemudian tanpa abaaba menyerang leher Celina dengan kecupan-kecupan basah.


Suara-suara indah Celina langsung mengalun memenuhi kamar mandi. Tangan Leo tak tinggal diam, dia meloloskan gaun sabrina Celina dari bahunya membuat spot favorit Leo terpampang tanpa halangan. Segera saja Leo beralih ke sana, memberikan sensasi tiada dua yang selalu Celina gilai sampai-sampai dia harus menekan kepala Leo agar tak beranjak dari sana.


Kamar mandi yang harusnya menjadi tempat membersihkan diri, dirubah menjadi tempat terbukanya surga ke tujuh.


Ikatan baru diantara mereka membuat semuanya terasa lebih spesial. Cinta yang dulunya dianggap semu hingga terhalang restu dan kesalahpahaman kini terealisasikan dalam ikatan pernikahan yang suci.

__ADS_1


*TAMAT*


Terimakasih yang sudah setia membaca! Maaf jika masih banyak kata-kata yang tidak tepat dan juga alur yang membosankan. Saya masih belajar dan semoga saja bisa lebih baik lagi ke depannya! Nantikan novel baru saya, ya!!!


__ADS_2