
"Siapa yang kau temui?" Celina menyambut Leo di depan pintu sambil berkacak pinggang.
"Harusnya kau menciumku begitu aku sampai, bukan malah menodongku dengan pertanyaan." ucap Leo dengan nada jahil. Dia melewati Celina begitu saja, lalu mendudukan dirinya di sofa.
"Kau menghindariku?" Celina duduk di samping Leo dengan wajah cemberut.
"Aku menemui Mr.Alex."
"Daddy?"
"Ya."
"Apa yang dia katakan? Apa dia bilang untuk memutuskanku?"
"Ya, dia bilang begitu."
"Aku akan menelponnya, dan mengatakan kalo aku tidak ingin putus denganmu apapun yang terjadi." Celina sudah mengeluarkan ponselnya dan bersiap menekan nomor Alex tapi Leo mengambilnya dan meletakkan ponsel itu di meja.
"Apa yang kau lakukan? aku harus menghubungi daddy. Atau jangan-jangan kau sudah setuju dengan ucapan daddy?"
"Aku memang setuju dengan permintaan Mr.Alex."
Wajah Celina berubah sedih, matanya sedikit berkabut membayangkan dirinya akan kembali berpisah dengan Leo.
"Bagaimana bisa?"
"Aku setuju untuk menjadi lebih sukses dari sekarang agar aku bisa sepadan denganmu."
"Maksudnya?"
"Mr.Alex memberiku syarat untuk mngembangkan usahaku menjadi bertarap internasional dalam setahu, baru setelah itu dia akan meberikan restu sepenuhnya pada hubungan kita."
Celina mematung mendengar penjelasan Leo. Semudah itu?
"Kau serius?"
"Ya, dia mengatakan itu padaku."
"Tidak-tidak, daddy tidak akan semudah itu memberikan restunya."
"Kau pikir itu mudah?" Leo mengerutkan keningnya.
"Apa?"
"Syarat itu, kau pikir mudah?"
__ADS_1
"Tentu, untuk orang sekompeten dirimu." Leo sedikit merona mendengar pujian Celina. "Atau jangan-jangan daddy punya rencana lain?" Celina menatap Leo waspada.
"Sudahlah, jangan berpikiran negatif. Mungkin Mr.Alex sudah melihat seberapa besar cinta kita. Atau mungkin saja sebenarnya dia memang sudah memberikan restu, dan menjadikan syarat itu sebagai penutup gengsinya."
"Gengsi?" Celina semakin tak mengerti.
"Ya, bukankah daddymu adalah orang yang pantang menarik kata-katanya? Jadi, daddymu memberiku tekanan agar dia tak perlu menarik kembali ucapannya."
Celina masih ragu, tapi kemudian tersenyum dengan pemikiran positif Leo.
"Semoga saja." Gadis itu memeluk Leo dengan erat begitupun Leo dia membalasnya tak kalah erat.
***
"Lo serius?" Devan melihat surat pengunduran diri Leo di mejanyanya, Leo juga berdiri di depannya.
"Ya. Lo suruh gue buat berjuang demi Celina dan ini termasuk jalannya."
Devan menghela nafas.
"Yaudah kalo gitu, mau gimana lagi. Tapi lo harus cari dulu pengganti lo sebelum bener-bener resign."
"Oke, gue udah ada beberapa kandidat, besok mereka ke sini."
"Oke. Lo perlu bantuan lain?"
"Apa?"
"Gue butuh sedikit koneksi lo buat ngenalin produk gue."
"Oke, nanti gue bantu."
"Thanks."
"Hm."
Leo kembali bekerja untuk menuntaskan apa yang sedang dia kerjakan. Dia juga membuat beberapa catatan untuk penggantinya nanti. Banyak hal yang harus dia urus sebelum resign mengingat semuanya dia yang urus selama ini.
Intensitas bertemu dengan Celina pun berkurang karena Leo lebih sering lembur dan Celina pun diminta Alex untuk serius bekerja di perusahaan sebagai syarat direstui.
Dua minggu berlalu, akhirnya Leo benar-benar berhenti menjadi asisten Devan. Penggantinya pun sudah dia ajari dengan baik sehingga dia tenang menyerahkan tugasnya yang sudah dia tekuni selama hampir 13 tahun.
Kini Leo berpindah fokus mengembangkan usahanya. Perusahaan Leo bergerak di bidang makanan basah dan kering dalam kemasan. Makanan khas dari setiap penjuru Nusantara dia kemas dalam bentuk kemasan yang menarik. Dia juga telah membuka beberapa restoran di hotel berbintang.
Perusahaan yang diberi nama Nusa Food Company ini sudah berdiri sekitar 4 tahun tanpa sepengetahuan siapa pun, kecuali Devan. Cabangnya sudah berada di beberapa kota besar di seluruh negeri. Dan tentang membuka cabang di luar negri, Leo sebenarnya sudah merencanakannya sejak tahun lalu, tapi banyak sekali yang harus dipersiapkan, termasuk rasa yang harus menyesuaikan dengan selera orang asing di luar sana. Maka dari itu, selama setahun ini dia sibuk mengkombinasikan beberapa makanannya dengan makanan luar negri.
__ADS_1
Dengan adanya syarat dari Alex, Leo semakin serius menanganinya. Produk yang dia buat pun akan segera selesai dan secara resmi akan direlease dalam satu bulan. Dan jika sesuai target, mungkin dia akan segera membuka cabang di luar negri.
"Ah aku lelah sekali." Leo menyandarkan tubuhnya di sofa. Dia kembali ke apartemennya hampir tengah malam. Saking lelahnya, dia bahkan enggan menyalakan lampu ruang tengah. Leo memejamkan matanya, merasakan tubuhnya yang pegal dimana-mana karena selalu bekerja lembur.
Ketika alam mimpi hampir menyapa, Leo merasakan kedua pundaknya mendapat sentuhan halus, sangat halus hingga dia tidak bisa membedakan apakah ini mimpi atau bukan.
Tangan itu terus saja merambat dari arah belakang turun ke dadanya hingga membuatnya berdesir. Mungkin aku sudah terlalu merindukan sentuhan Celina, sampai-sampai aku bermimpi seperti ini. Itulah yang ada di kepala Leo. Setelah itu, dia merasa lehernya dikecup, lalu kecupan itu berubah menjadi ciuman dan hisa-pan hingga terasa dingin dan basah.
"Andai Celina di sini, pasti aku tak perlu membiarkan mimpi seperti ini." racau Leo sambil menikmati gelenyar akibat pancingan di titik sensitifnya itu.
"Aku memang di sini." sebuah bisikkan terdengar membuat Leo terperanjat dan bangun seketika. Dia menoleh ke belakang dan menemukan seorang wanita tengah berpangku pada sandaran kursi, tepat di tempat Leo bersandar barusan.
"Kenapa? bukankah kau menikmatinya?" suara itu, suara Celina. Leo memicingkan matanya untuk menyesuaikan matanya dengan kegelapan, memang benar itu kekasihnya tapi Leo tidak yakin, akhirnya dia memilih menyalakan lampu pintarnya dengan satu kata.
Lampu pun menyala, menampilkan sosok Celina yang masih pada posisinya dengan wajah tersenyum.
"Jadi benar itu kau." Leo bernafas lega saat benar-benar melihat kekasihnya.
"Memang kau pikir aku siapa?"
"Bukan siapa-siapa, hanya aku takut kalau kau" hanya ilusi."
Celina tersenyum lagi, kemudian naik ke pangkuan Leo, berhadapan.
"Apa sekarang kau percaya kalau aku bukanlah ilusimu?" Tangan Celina melingkari leher Leo.
"Mmm.." Leo menggeleng. "Aku perlu bukti lain."
"Bukti seperti apa yang kau inginkan?"
"Entahlah, terserah kau saja." Leo memainkan alisnya, menggoda Celina.
"Seperti ini?" Celina mengecup bibir Leo.
Leo kembali menggeleng.
"Seperti ini?" Celina kembali mengecup bibir Leo tapi kali ini lebih lama.
"Belum."
"Lalu harus seperti apa?" Celina sedikit merajuk.
"Seperti ini!" Leo menyerang Celina dengan ganas. Lidahnya langsung masuk saat Celina memekik karena kaget. Tangan Leo tak tinggal diam, ia melaksanakan tugasnya sebagai indera peraba, mencari tempat ternyaman baginya.
Malam itu, semua kegundahan, kelelah-letihan keduanya melebur menjadi satu.
__ADS_1
***
Dari beberapa gagal dimuat mulu, aku gak tau penyebabnya apa.