
Selama perjalanan tak ada percakapan sama sekali. Celina sesekali melirik Leo yang tengah fokus menyetir. Tapi dia sedikit kesal karena Leo sama sekali tak meliriknya, jadi dia mengalihkan pandangannya ke luar. Yang tak Celina tau, begitu dia melihat ke luar, Leo menoleh ke arahnya dan tersenyum gemas melihat bibir Celina yang sedikit mengerucut.
Leo membawa mobil Celina ke basement gedung apartemennya, yang itu artinya Celina harus ikut ke atas.
"Ayo!" ajak Leo hendak membuka pintu mobil.
"Bisakah kita bicara di sini saja?"
"Kau yakin? Kita bisa saja ditegur petugas keamanan." Leo tersenyum miring dan Celina mengerti apa maksud Leo.
"Oke, kita ke apartmu saja." Celina pun keluar dari mobil tanpa menunggu Leo.
Lift langsung terbuka begitu Celina menekan tombol buka. Leo sedikit berlari karena Celina sepertinya tak berniat menunggunya.
"Kenapa buru-buru sekali?" Leo bertanya saat sudah berada dalam lift.
"Aku hanya ingin semuanya cepat selesai." ketua Celina.
"Aku..-"
"Kita bicara nanti saja." potong Celina.
"Baiklah." serah Leo.
Mereka akhirnya sampai di apartemen Leo. Celina langsung duduk di sofa depan tv.
"Kau mau minum apa?" tanya Leo.
"Anything."
"Oke." Leo beranjak ke dapur dan kembali seraya membawa dua gelas jus jeruk dingin.
Leo membuka jasnya, kemudian melepas dua kancing teratas juga menggulung lengan kemejanya. Hal itu tak luput dari perhatian Celina, baginya Leo terlihat sangat menggoda. Namun, dia segera menggelengkan, menyadarkan dirinya.
Leo mendekati Celina dengan perlahan, membuat jantung gadis itu berdetak tak karuan. Celina menatap Leo yang berdiri menjulang di depannya yang tengah duduk.
"Kenapa kau.-" kata-kata Celina terhenti ketika Leo tiba-tiba menekuk lututnya dan bersimpuh di hadapannya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" tanya Celina.
Leo tetap menunduk untuk sesaat.
"Aku minta maaf." lirih Leo sambil menatap tepat ke manik Celina.
"Aku minta maaf karena saat itu tak langsung menemuimu. Maaf karena waktu itu aku pergi begitu saja tanpa meminta penjelasan darimu. Maaf karena aku meragukanmu dan menuduhmu yang tidak-tidak. Dan maaf karena aku mengatakan hal-hal yang begitu menyakitkan padamu." Leo mengucapkannya dengan mata yang berembun, menahan agar air matanya tidak jatuh.
Celina merasa teriris melihat Leo seperti ini. Padahal kemarin dia masih begitu kecewa dan sakit hati atas perlakuan Leo. Tapi, melihat Leo sekarang dengan kalimat-kalimat maafnya, hatinya luluh seketika. Batu besar yang selama ini terasa menimpa hatinya menguap entah kemana. Ternyata selemah itu dirinya jika berhadapan dengan Leo. Dirinya bahkan tidak bisa berkata-kata untuk sekedar mengungkapkan betapa sakit hatinya agar menambah rasa bersalah Leo padanya.
Namun, Leo salah mengartikan diamnya Celina. Dia mengira Celina sama sekali tak tersentuh dan enggan memaafkannya. Leo kemudian meraih kedua tangan Celina dan menggenggamnya.
"Celina, aku tau kau pasti butuh waktu untuk memaafkanku. Tapi, aku mohon..-"
"Tck!" decakan Celina mampu menghentikan kelanjutan ucapan Leo.
"Kau bisa bawel juga ternyata." Leo melongo mendengar ucapan Celina yang sama sekali tak ada sangkutannya dengan semua kalimat Leo tadi.
"Celina,,-"
"Kau berubah Leo! Dulu kau tidak banyak bicara, tapi sekarang sudah tak terhitung berapa kalimat yang kau ucapkan."
"Maaf, aku hanya ingin bicara sejelas-jelasnya dan membuatmu mengerti."
"Dan itu berhasil. Aku mengerti sekarang."
Leo mengerutkan keningnya.
"Tck, selain jadi banyak bicara kau juga sekarang jadi kurang tanggap, ya."
"A,apa maksudmu?"
"Aku mengerti Leo."
"Mengerti apa?" tanya Leo lagi. Dia benar-benar kebingungan sekarang.
"Aku mengerti dengan semua yang kau katakan tadi. Aku memahami semuanya."
__ADS_1
Leo diam, mencerna baik-baik kata-kata Celina.
"Maksudmu, kau memaafkanku?" tanya Leo antusias.
Celina tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Leo yang masih terduduk di depannya.
Cup! Celina mengecup bibir Leo secepat kilat hingga Leo membelalakan matanya saking kagetnya. Celina pun sedikit kaget dengan kelakuannya sendiri.
"Tadinya aku ingin sedikit berjual mahal padamu dan membiarkanmu berjuang sedikit lebih keras. Tapi, sepertinya itu bukan gayaku." ucap Celina setelah menjauhkan wajahnya dari wajah Leo.
"Kenapa tidak kau lakukan saja?" Leo mengubah posisinya, dari yang tadinya duduk bersimpuh kini dia berdiri dengan lututnya.
"Apa?" Celina gelagapan karena Leo semakin mendekat padanya.
"Jual mahal. Aku pasti akan sanggup menebusnya meski semahal apapun itu." Leo mengurung Celina dengan kedua tangannya.
Celina tak bisa berkutik, dia terjebak di antara tubuh Leo dan sandaran kursi. Tubuh mereka bahkan hampir tak berjarak. Pipinya bersemu merah karena ditatap begitu intens oleh Leo. Perlahan, Celina menggerakan tangannya dan melingkarkannya di leher Leo.
"Kau tau aku selalu banting harga jika bersamamu." Entah kenapa, suara Celina terdengar begitu menggoda di telinga Leo. Apalagi setelah mengatakan itu Celina membiarkan bibirnya sedikit terbuka.
Dengan jarak sedekat itu, Leo tak bisa mengontrol dirinya. Bibirnya tanpa sadar sudah mendarat di bibir manis Celina. Menyesapnya lembut dan perlahankarena takut menghancurkannya. Tapi, itu tak bertahan lama. Begitu Celina balas memainkan bibirnya, Leo berubah rakus. Dia memperdalam luma-tannya dan beralih menggunakan lidahnya untuk menyapu seluruh bibir Celina.
"Emmmhh.." Celina mende-sah tertahan. Tangannya menjambak rambut Leo ketika bibir Leo turun ke leher jenjangnya.
Leo mengecup, menjilat dan menghisap bahu kekasihnya. Ya, kekasih. Celina adalah kekasihnya. Bodoh sekali dia mengatakan kalau gadis ini bukan kekasihnya kemarin. Padahal dia begitu kecanduan dengan gadis ini.
Tangan Leo menelusup ke punggung Celina. Meraba-raba dan melepaskan sesuatu di sana. Kemudian tangannya beralih ke depan, mere-mas gemas spot favoritnya hingga membuat Celina mende-sah sekaligus menge-rang saking sukanya dengan perlakuan Leo.
Tubuh Celina sudah terlentang tanpa helai kain di sofa. Keringat mulai bergulir saking panasnya permainan mereka. Ini bahkan belum mencapai inti, tapi Celina sudah beberapa kali dibuat melayang oleh Leo.
"Aku ingin di kamar." lirih Celina di sela-sela euphorianya. Dengan sigap Leo mengangkat Celina ala koala. Dia berjalan menuju kamar sambil terus menciumi leher Celina. Gadis itu hanya bisa mende-sah sambil memeluk erat tubuh Leo.
Leo merebahkan Celina di atas kasurnya dan segera melepaskan pakaiannya yang masih lengkap. Tak lupa juga jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Setelah itu dia kembali mengukung Celina.
"Bolehkah?" tanya Leo dengan nafas memburu, terlihat sekali dia sudah mencapai tingkatnya.
Celina mengangguk dengan senyuman. Leo menggeram dan melancarkan tujuannya. Akhirnya mereka sama-sama saling melepas rindu, sama-sama meraup candu yang selama ini mereka sangkal karena kesalahpahaman.
__ADS_1