Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
Pemberkatan


__ADS_3

Hari pernikahan pun tiba...


Pernikahannya digelar mewah di salah satu gedung milik Astra Group. Semua keluarga besar Mia di kampung diundang dan difasilitasi oleh Devan. Mia sebenarnya merasa tidak enak karena semua biaya pernikahan ini Devan yang menanggung. Apalagi Devan tak mengundang satu kerabat pun, hanya ratusan kolega bisnis yang Devan undang.


Bukan tanpa alasan Devan tak mengundang siapapun dari keluarganya. Tapi karena memang Devan adalah anak yang dibenci oleh keluarga mamanya maupun keluarga papanya. Dia bukanlah anak brokenhome, tapi papa mamanyalah yang anak brokenhome. Jadi setelah mama papanya meninggal, dia sendirian. Tapi, sepertinya dia akan cukup merasakan kehangatan dari keluarga Mia yang tampak sangat harmonis.


Acara pemberkatan akan segera dimulai. Namun, Mia belum juga turun dari kamar rias. Devan terus mondar-mandir dengan hati yang tak karuan. Bagaimana kalau Mia berubah pikiran? Pertanyaan itu sudah bertengger dikepalanya sejak beberapa hari sebelum hari ini. Entah apa yang membuat Devan begitu tak percaya diri. Leo ada yang sejak tadi ada di sana menepuk bahu Devan.


"Tenang, bro! Mungkin Mia masih bersiap." Leo terus menenangkan sahabatnya.


"Udah hampir semua tamu datang, tapi Mia belum juga turun."


"Gue yakin bentar lagi turun kok, lo sabar aja."


Leo sebenarnya sedikit mengerti perasaan Devan sekarang. Sejak 3 hari lalu Devan belum bertemu dengan Mia, katanya mereka dipingit supaya pas hari pernikahan lebih pangling, lebih rindu. Tapi, melihat Devan yang ketar-ketir seperti ini membuat Leo bingung harus berbuat apa.


Beberapa menit berlalu akhirnya Leo mendapat kabar bahwa pengantin wanita telah siap, dia pun menginfokannya pada Devan. Devan langsung berdiri di ujung altar.


Pintu ruangan itu pun terbuka, memperlihatkan Mia yang berdiri anggun dengan balutan gaun pengantin berwarna putih model A-line dengan bagian atas bergaya sabrina, sangat pas di tubuh mungilnya.


Rambutnya dikepang ke belakang, di atasnya diberi mahkota bunga yang disambung dengan tudung pengantin, lalu poninya dia biarkan seperti biasa. Devan dan para tamu begitu terpana melihat pengantin wanita yang begitu menawan.


Pelahan, langkah demi langkah Mia maju sambil mengamit lengan sang ayah. Semua mata tertuju pada mereka. Sedang mata Mia sejak tadi hanya tertuju pada Devan yang berdiri tegap mengenakan tuxedo putih. Benar-benar terlihat bersinar di mata Mia. Ditambah senyuman menawan yang menular begitu saja padanya. Rasa gugup yang sejak tadi dia rasakan akhirnya menguap seketika.


Tangan Devan terulur begitu Mia dan Ayah sampai di hadapannya. Beberapa detik Ayah memandang Devan, kemudian menyerahkan tangan Mia pada Devan.


"Aku serahkan putriku padamu, jangan sekali-sekali kau membuat air matanya jatuh."


"Tidak akan." jawab Devan mantap.


Ayah pun keluar dari altar dipandu oleh pengatur acara. Devan dan Mia berbalik menghadap pendeta yang akan memimpin prosesi pemberkatan mereka.


Pemberkatan dimulai dengan melantunkan pujian dan firman Tuhan. Kemudian dilanjutkan dengan upacara peneguhan.


"Saudara Devan Arkadiana, apakah anda akan menjadikan Saudari Mia Calista menjadi istri anda satu-satunya dan menjaga kesucian pernikahan ini?"

__ADS_1


"Ya."


"Apakah anda bersedia bertanggung jawab atas Saudari Mia Calista dalam keadaan suka maupun duka, sehat maupun sakit seumur hidup anda?"


"Ya, saya bersedia." jawab Devan.


"Saudari Mia Calista, apakah anda yakin akan menjadikan Saudara Devan satu-satunya suami untuk anda dan menjaga kesucian pernikahan ini?"


"Ya." jawaban Mia sama mantapnya dengan Devan.


"Apakah anda bersedia menerima segala keadaan Saudara Devan Arkadiana dalam keadaan suka maupun duka, sehat maupun sakit seumur hidup anda?"


"Ya, saya bersedia."


Setelah itu, Mia dan Devan saling berhadapan untuk mengucapkan janji suci mereka.


"Saudara Devan sekarang ucapkan janji pernikahan dengan sungguh-sungguh dan tanpa paksaan."


"Saya Devan Arkadiana, memilih engkau Mia Calista untuk menjadi istri saya satu-satunya. Saya berjanji akan terus setia dalam keadaan untung dan malang, diwaktu sehat dan sakit, saya mau menghormati dan mencintai engkau seumur hidup." Mata Devan menatap Mia begitu dalam.


"Saya Mia Calista, memilih engkau Devan Arkadiana untuk menjadi suami saya satu-satunya. Saya berjanji akan terus setia dalam keadaan untung dan malang, diwaktu sehat dan sakit, saya mau menghormati dan mencintai engkau seumur hidup."


Andi maju membawa kotak cincin pernikahan mereka. Begitu tampan dengan setelan jas yang melekat pas di badannya. Tak sedikit yang salah fokus padanya.


"Cincin ini melambangkan kasih sayang suami istri yang tiada berujung. Saudara Devan pasangkanlah cincin ini ke jari manis saudari Mia sebagai tanda kasih yang tidak berakhir."


Devan mengambil satu cincin lalu meraih tangan kanan Mia dan memasukkannya dengan perlahan. Senyuman tak jua luntur dari wajahnya.


"Saudari Mia pasangkanlah cincin ini ke jari manis saudara Devan sebagai tanda kasih yang tidak akan berakhir."


Mia pun melakukan hal sama pada Devan.


Setelah itu mereka berdua berlutut perlahan dengan diiringi pujian dari para hadirin yang berdiri.


"Dengan demikian saya sebagai Hamba Tuhan menyatakan bahwa saudara Devan dan saudari Mia telah resmi dan sah menjadi sepasang suami istri dihadapan Tuhan."

__ADS_1


Devan dan Mia kembali berdiri dengan tetap saling berpegangan tangan. Devan maju satu langkah mendekat pada Mia, tangannya meraih kedua sisi wajah Mia lalu mencium bibir Mia dengan lembut. Riuh tepuk tangan mengiringi ciuman sakral mereka. Mia dan Devan sama-sama tersenyum dalam tautan bibir mereka.


Devan dan Mia melepaskan tautan bibir mereka. Rasa haru, bahagia, dan rasa tak percaya bercampur menjadi satu dalam dada keduanya. Ayah dan Ibu maju, memberikan pelukan secara bergantian.


"Selamat ya sayang." Ibu memeluk dengan penuh rasa haru. Begitu pun Ayah, dia tak percaya putri kecilnya kini sudah menjadi milik laki-laki lain.


"Ayah percayakan Mia padamu,"


"Terimakasih, yah. Saya janji tidak akan mengecewakan."


Setelah itu Mia dan Devan berjalan menuju pelaminan dengan diiringi taburan bunga.


***


Acara resepsi masih berlangsung walau sudah menjelang sore. Acara tersebut diisi oleh musisi-musisi papan atas yang sengaja Devan undang untuk menghibur para tamu.


Devan dan Mia tak henti-hentinya mendapat ucapan selamat dari para tamu yang hadir. Devan juga mengenalkan Mia kepada para kolega yang belum Mia kenal.


Banyak yang mengambil poto sebagai kenang-kenangan. Sedangkan poto pernikahan sudah mereka ambil tadi tepat setelah pemberkatan.


"Apa kau lelah?" Devan melihat Mia yang mengusap keningnya.


"Sedikit, tapi aku bahagia." Mia tersenyum manis.


"Aku juga, rasanya aku tak pernah merasa sebahagia ini dalam hidupku."


"Aku pun begitu."


Pancaran cinta terpatri jelas di wajah mereka. Adalah impian semua orang dapat menikah dan menghabiskan sisa hidup dengan orang yang kita cintai dan juga mencintai kita.


***


***TAMAT*


Terimakasih yang sudah setia membaca🄰**

__ADS_1


__ADS_2