
...*Kisah Cinta Celina*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Di sebuah bandara internasional seorang gadis berjalan dengan anggun dan percaya diri. Pakaian yang terbuka namun elegan membuat siapapun akan menoleh dua kali untuk sekedar menikmati keindahan paras dan tubuh gadis itu.
Dia adalah Celina yang baru saja kembali ke negara asalanyasetelah dua tahun menjalani perawatan mental dan rehabilitasi kecanduan obat terlarang di luar negeri.
Seorang sopir menuntun koper Celina menuju mobil yang telah disediakan.
"Dimana daddy?" Tanya Celina saat sudah dalam mobil.
"Mr.Alex sudah berada di Astra Group, nona." jawab sang sopir sambil menyalakan mesin mobil.
"Kita ke sana sekarang!" titah Celina, dia menyandarkan punggungnya. Perjalanan jauh tak membuat dirinya lelah, justru dia bersemangat karena akan menemui kekasih yang dia rindukan, kekasih yang dua tahun ini tak menunjukan batang hidungnya.
***
Sampai di gedung Astra Group, Celina langsung masuk menuju resepsionis.
"Di mana ruangan rapat Tuan Devan dan Mr. Alex dari Giant Family?"
Resepsionis pria tersebut malah diam membisu, terpukau dengan kecantikan Celina yang bersinar. Celina sampai harus menjentikan harinya di depan wajah orang itu.
"Eh, ruangannya ada di lantai 8 pintu nomor 2." jawab resepsionis itu gelagapan. Celina langsung pergi begitu mendapat jawabannya, dia tak mengidahkan banyaknya orang yang terpana melihatnya.
Celina masuk ke dalam lift dan menekan tombol nomor 8.
"Kita lihat bagaimana reaksimu melihatku yang semakin menggoda." Celina menaikkan sudut bibirnya sambil menatap pantulan dirinya di dinding lift.
Ting. Pintu lift terbuka, Cekina keluar setelah sekali lagi memastikan penampilanny sempurna.
Tok Tok
Celina mengetuk pintu ruangan yang disebutkan resepsionis tadi.
"Masuk!" sahut sebuah suara dari dalam, yang bisa Celina tebak adalah suara Devan.
Semua mata yang ada di ruangan itu menatap ke arah pintu . Celina masuk dengan langkah perlahan namun tegas membuat suara hentakan high heels yang beradu dengan lantai marmer begitu kentara.
"Selamat pagi, semuanya!" sapa Celina dengan suara menggodanya, menatap satu per satu orang yang duduk di sana. Kemudian tatapannya berhenti di satu orang. Orang yang begitu dia rindukan namun sama sekali tak balas melihat ke arahnya.
"Celina!" Alex bereaksi lebih dulu. Dia berdiri merentangkan kedua tangannya. Celina mengalihkan pandangannya pada Alex, lalu berjalan cepat sambil melakukan hal sama seperti daddynya. Mereka berpelukan begitu erat.
"Maaf daddy tidak menjemputmu." Alex mengelus kepala Celina lalu melepaskan pelukannya.
"Its okay, dad. Aku bukan anak kecil."
__ADS_1
Devan berdiri, mengulurkan tangan pada Celina.
"Selamat datang kembali Celina."
Celina menyalami Devan, lalu matanya beralih pada Leo yang juga ikut berdiri dengan Devan.
"Selamat datang kembali." Ucap Leo dingin tanpa menatap mata Celina, dia hanya menundukan kepalanya sedikit lalu kembali duduk. Celina mengangkat alisnya heran, namun tak mungkin dia menanyakannya di depan semua orang.
"Oh ya, Dev. Maaf aku tidak hadir di pernikahanmu. Orang yang katanya akan menjemputku tidak datang." Celina melirik Leo sekilas ingin melihat reaksinya, tapi nyatanya lelaki itu malah seperti tak mendengar apapun.
"Tidak apa-apa, aku dan Mia mengerti. Temui saja Mia nanti, dia pasti akan senang melihatmu sudah kembali."
"Baiklah, aku akan mengajaknya bertemu nanti. Apa sekarang dia sudah tak bekerja lagi?"
"Dia sudah berhenti dua bulan lalu, karna dia sedang hamil."
"Wah, benarkah?? Aku turut bahagia mendengarnya."
"Terimakasih. Sekarang, duduklah!" Devan duduk setelah mempersilakan Celina duduk.
Celina duduk di samping Alex setelah Lola, sekretaris Alex pindah ke kursi sebelahnya. Dia berhadapan dengan Leo, namun Leo malah melihat ke arah lain, terlihat sekali dia menghindari kontak mata dengan Celina.
Celina memandang Leo dengan sorot kerinduan yang dalam. Di matanya Leo berkali lipat lebih tampan juga seksi dari dua tahun lalu. Tapi sepertinya dirinya sama sekali tak menarik di mata pria itu.
"Aku akan menyerahkan proyek ini pada Celina. Aku yakin kali ini dia tidak akan lepas tanggung jawab seperti proyek sebelumnya." suara Alex membuat Celina mengalihkan pandangannya.
"Kau tidak masalah, Dev?" Celina bertanya pada Devan tapi matanya melirik Leo.
"Tentu saja tidak, aku senang bisa bekerja sama denganmu lagi."
"Kalo begitu, aku permisi dulu, Dev." Alex berdiri menyalami Devan.
"Silakan, Mister."
"Mmm.. Sepertinya masih ada yang harus aku urus, dad."
"Baiklah kalo begitu, daddy duluan."
"Oke, bye dad!"
Alex keluar dari sana diikuti Lola.
"Aku duluan, Cel. Jangan lupa temui Mia kapan pun kau senggang."
"Pasti."
Devan berjalan keluar, Leo pun hendak mengikuti Devan.
"Aku ingin bicara." ujar Celina
Leo berhenti tanpa menoleh.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan." ucap Leo, dingin. Lalu dia melanjutkan langkahnya keluar dari ruang rapat tersebut. Meninggalkan Celina yang menitikan air matanya.
"Kenapa jadi seperti ini?" Tanya Celina entah pada siapa.
***
Leo memasuki ruangannya dengan wajah dingin seperti biasa. Wajah itu sudah ia pertahankan sejak dua tahun lalu.
__ADS_1
"Gue penasaran sebenernya apa yang terjadi antara lo dan Celina." ujar Devan begitu melihat Leo masuk. Leo hanya menghela nafas, tanda dia malas menanggapi Devan. Pertanyaan itu sudah ada sejak dua tahun lalu.
"Leo!" Devan kesal karena tak dihiraukan oleh sahabatnya itu.
"Udahlah Dev, gue gak mau bahas."
"Tapi lo kayak gini dari pas lo balik dari sana jenguk Celina dan lo gak pernah cerita apa-apa sama gue."
"Gak penting gue cerita atau enggak. Semuanya udah berlalu dan gak ada yang akan berubah."
Leo duduk di kursinya kemudian fokus pada monitornya.
Devan menyerah tak ingin berkomentar lagi. Dia mungkin tak akan peduli jika itu bukan Leo, tapi dia ingin tau apa yang terjadi dengan dua sahabatnya itu.
***
Leo pulang ke apartemennya. Begitu menutup pintu dia langsung melemparkan jasnya sembarang, dasi yang sejak tadi pagi mencekik lehernya dia longgarkan dan dilempar, lalu tiga kancing teratas kemejanya dia buka. Kedua lengan kemejanya dia gulung sampai siku.
Meski wajahnya tampak lelah, tapi kadar ketampanan Leo sama sekali tak berkurang. Malah kesan seksi semakin menempel pada dirinya. Leo merebahkan dirinya di sofa ruang tamu.
Hari ini adalah hari yang panjang. Kehadiran Celina tadi nyatanya masih bisa membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Meski selama dua tahun ini dia yakin telah membencinya, tapi begitu dia muncul dihadapannya dia hampir tak bisa menahan diri untuk tidak memeluknya.
Rasa benci yang selama ini dia rasakan luruh seketika saat melihat mata indah itu. Apalagi tadi penampilan Celina begitu menawan dan menggoda, membuat dia ingin sekali membungkus dan mengurungnya agar orang-orang tak bisa menikmati keindahan yang dimiliki Celina.
"Kau tidak mengganti kodenya." Sebuah suara membuat Leo terperanjat bangun dari tidur-tidur ayamnya.
Dia melihat ke sumber suara yang ternyata adalah orang yang saat ini dia pikirkan.
"Kau!" Leo masih mengira ini hanya khayalannya saja.
"Ya, ini aku."
"Sedang apa kau di sini?" Sekarang Leo yakin kalau dia benar-benar Celina dan bukan khayalannya semata.
"Kau tadi menolak tinggal untuk bicara denganku, jadi aku yang mendatangimu." Ucap Celina santai lalu melangkah mendekati Leo yang masih memasang wajah terkejutnya.
"Kau tidak mau memelukku? Aku merindukanmu setengah mati, tapi reaksimu mengecewakanku." Celina menyentuh dada Leo yang terbuka dengan jari-jari lentiknya membuat Leo menelan ludah dengan susah payah.
Hap
Leo menahan tangan Celina yang sudah berada di perutnya lalu menghempaskannya sedikit kasar.
"Kenapa? Bukankah kau juga merindukan sentuhanku?" tanya Celina dengan suara seductive.
"Pergilah! Aku tidak ingin melihatmu." Leo berbalik hendak meninggalkan Celina, tapi Celina menahannya dengan memeluk Leo dari belakang.
"Ada apa?" suara Celina berubah serak menahan tangis.
Leo membeku mendengar suara Celina. Ingin sekali dia berbalik memeluk Celina dan mengatakan kalau dia juga merindukannya. Tapi ingatan dua tahun lalu kembali melintas di kepalanya dan itu membuat darah Leo kembali mendidih. Leo melepaskan tautan tangan Celina diperutnya.
"Harusnya kau tanya pada dirimu sendiri kenapa aku bersikap begini!" sentak Leo.
"Apa maksudmu?"
"Pergi dari sini dan pikirkan sendiri apa maksudku."
"Tapi, Leo.." Celina hendak meraih tangan Leo.
"PERGI!!" Leo membentak Celina sambil menunjuk pintu keluar rumahnya.
__ADS_1
Celina memandang Leo tak percaya. Lelaki yang dulu bersikap begitu lembut kini membentaknya dengan keras. Air matanya luruh tak tertahankan. Celina berbalik lalu berjalan menuju pintu lalu keluar dari apartemen Leo.
"BRENGSEK!!" Leo melemparkan vas bunga yang ada di meja itu hingga hancur berkeping-keping. Nafasnya memburu karena amarah. Dia benci pada dirinya yang bisa-bisanya membuat wanita itu menangis. Tapi dia juga tak bisa menahan sakit hati yang dia dapat dari dua tahun lalu.