Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
Cemburu


__ADS_3

Sudah satu minggu Mia bekerja sendiri tanpa adanya Leo. Sejak minta dibelikan tiket pesawat hari itu, Leo belum kembali, hanya memberikan instruksi pekerjaan pada Mia lewat telpon. Dan setiap akhir pembicaran mereka lewat telpon Leo selalu menegaskan untuk mengatakan bahwa Leo dipanggil oleh Tuan Devan untuk menangani proyek di Jepang. Dan itulah yang Mia katakan setiap kali ada orang di kantor yang bertanya padanya tentang kemana kepergian Leo.


Mia sebenarnya penasaran bagaimana keadaan Tuan Devan disana. Karena sebelumnya Leo mengatakan hanya akan pergi dua hari tapi kenyataannya sampai satu minggu dia belum juga kembali. Apakah terjadi sesuatu yang buruk di sana?


"Bu Mia, bagaimana pendapat ibu tentang laporannya?" Mia tersadar kalo saat ini dia sedang memimpin rapat rutin yang selalu diadakan dua minggu sekali.


Demi Tuhan, kenapa dia harus memimpin rapat yang bahkan dia tidak tau detail proyek yang baru saja dibahas. Dia memang sudah membaca berkas-berkasnya, tapi tetap saja duduk di tengah-tengah tatapan tak suka dari karyawan senior membuatnya ciut.


Mia duduk di kursi CEO mewakili Devan yang biasanya diwakili Leo. Ditelinganya kirinya terpasang sebuah earphone yang terhubung dengan Leo lewat ponselnya yang dia simpan diatas meja.


"Mmmm,, Pak Rian, tambahkan beberapa pekerja supaya proyeknya selesai sesuai target. Dan usahakan jangan ada kelalaian seperti kemarin. Saya tau apa yang sebenarnya terjadi, jadi jangan sampai ada kejadian serupa lagi." Mia mengatakan apa yang dia dengar dari Leo.


"Baik, Bu."


Mia sedikit melotot saat mendengar Leo mengatakan apa yang harus Mia katakan selanjutnya.


Mia menarik nafas dalam berusaha tetap tenang.


"Bu Susi, sepertinya keuangan yang sudah dikeluarkan untuk proyek ini lebih besar dari laporan yang saya terima. Apakah ada dana keluar yang tidak anda masukan dalam laporan?"


Susi selaku kepala tim keuangan melotot tajam mendengar pertanyaan Mia, dan Mia semakin ciut dibuatnya.


"Apakah anda menuduh saya korupsi, Bu Mia?" Susi melontarkan sanggahan dengan nada keras mengintimidasi.


"Bukan,,-"


"Lalu apa? Tuan Leo tidak pernah mempertanyakan soal keuangan yang sudah saya pegang bertahun-tahun. Tapi, karyawan baru sepertimu bisa-bisanya menuduh saya yang tidak-tidak." Susi seolah-olah memprovokasi semua anggota rapat dengan mengatakan Mia adalah karyawan baru.


Mia gugup setengah mati mendapat cercaan dari semua yang ada di ruang rapat dan sialnya, sambungan telpon dengan Leo tiba-tiba terputus saat Mia tak tau harus menjawab apa.


Tatapan tajam dan bisikkan-bisikkan membuatnya gemetar hebat, dia tak pernah berada di situasi semacam ini sebelumnya.


Air matanya hampir saja tumpah, namun tiba-tiba tangannya digenggam seseorang. Mia menoleh ke arah pemilik tangan tersebut. Arka tersenyum manis, tangan sebelahnya mengelus punggung Mia yang bergetar mencoba memberikan ketenangan pada gadis itu.


Hening. Mia seolah tak mendengar lagi suara-suara cercaan yang ditujukan padanya. Mia merasa di sana hanya ada dirinya bersama Arka.


"Kau pasti bisa, Mia!" ucap Arka dengan anggukkan dan senyum yang semakin merekah.


Perlahan Mia ikut tersenyum, dan kegugupannya mulai lenyap digantikan oleh rasa tenang dan hangat yang menjalar di hatinya.


Mia berdiri dengan sebelah tangan yang masih menggenggam tangan Arka dan sebelahnya lagi memukul meja.


BUG.

__ADS_1


Semua kegaduhan itu berhenti seketika. Semua orang menatap Mia dengan pandangan yang lebih horor dari sebelumnya.


"Maaf semuanya, saya memang baru bekerja dua bulan di sini, tapi saat ini saya sedang mewakili Tuan Devan, jadi jika anda semua tidak setuju dengan apa yang saya katakan anda semua bisa mengatakannya langsung pada Tuan Devan." Mia berbicara dengan tegas dan lantang. Dia melirik pada Arka kemudian pada tangannya yang masih Arka genggam.


Semuanya diam tak berkutik saat Mia mengucapkan nama Devan. Apa Tuan Devan begitu menakutkan?


"Bu Susi, buat kembali laporan keuangan tanpa ada yang terlewatkan. Harusnya anda memasukkan juga kemana dana yang hilang itu mengalir, sebelum Leo kembali. Anda pasti tidak mau bukan jika sampai Leo mengetahuinya. Karena jika sampai Leo tau, dia tidak akan memberi kesempatan seperti yang saya lakukan." Mia mengatakan itu dengan senyuman. Namun yang dilihat oleh semua orang di sana adalah sebuah peringatan yang biasa mereka lihat dari Devan maupun Leo.


"Baik, bu." Susi sudah tak bisa berkutik lagi.


"Kalo begitu, rapat saya tutup."


Mia menunggu semua orang keluar. Meski biasanya Leo akan keluar lebih dulu, tapi dia hanyalah seorang junior meskipun dia mewakili CEO. Dia masih menghormati mereka yang telah bekerja lebih lama dari dirinya.


Saat semua orang sudah keluar, Mia baru menatap Arka yang berdiri di dekat kaca.


"Terimakasih." Ungkapnya tulus.


"Bukan apa-apa," jawab Arka.


"Aku hanya merasa familiar dengan keadaan seperti tadi," lanjut Arka.


"Benarkah?"


"Ya, sepertinya aku sering berada di situasi yang sama."


"Ck, aku gak tau."


"Yasudah, ayo kita kembali ke ruanganku."


"Ayo."


Arka menghilang setelah mengatakan itu dan Mia keluar dari ruang rapat.


Saat melewati bilik kaca menuju lift, banyak sang mata yang memperhatikannya. Mia berusaha tidak peduli, dan hanya menyapa orang yang berpapasan dengannya.


Setelah sampai di ruangan CEO, ponsel Mia berdering oleh panggilan Leo.


"Halo."


"Halo, Mia maaf tadi sambungannya tiba-tiba putus. Gimana rapatnya?"


"Gapapa kok, rapatnya sudah selesai."

__ADS_1


"Benarkah? Syukurlah kalo begitu."


"Iya."


"Ohya, aku akan pulang dua hari lagi. Rapat dengan klien tetap laksanakan sesuai jadwal."


"Baik."


"Mmm, Leo."


"Ya?"


"Bagaimana keadaan Tuan Devan?"


Terdengar helaan nafas panjang dari Leo.


"Dia masih sama, baik-baik saja."


"..."


"Aku tutup, Mia."


"Sepertinya kamu akrab banget ya sama laki-laki itu."


"Siapa? Leo?"


Arka mengendikkan bahunya.


"Kenapa emangnya?" tanya Mia.


"Gapapa, cuma komen aja."


Mia tersenyum jahil, "Kamu cemburu ya?"


"Iya."


Senyum Mia luntur.


"Hahaha, cie Arka cemburu." Mia menganggap jawaban Arka adalah sebuah candaan, dia duduk di kursinya untuk kembali bekerja.


"Terserah." Arka menghilang setelah mengatakan itu, membuat Mia mau tak mau memikirkannya.


"Serius dia beneran cemburu?" tanya Mia memandang ke tempat Arka tadi berdiri. Entah kenapa senyum Mia tiba-tiba terbit tanpa dapat dia tahan.

__ADS_1


***


bersambung....


__ADS_2