Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
Go Public?


__ADS_3

Mia datang ke kantor seperti biasa, pada jam yang sama. Tapi saat melewati koridor banyak yang menatapnya sinis sambil bisik-bisik. Dia memang sering mendapat tatapan sinis sejak awal, tapi kali ini berbeda. Seperti ada kesalahan yang ia perbuat. Mencoba tak mengindahkan, ia berjalan menuju lift yang biasa ia naikki.


"Mia, bisa kau menolongku?" seorang wanita yang Mia ketahui bernama Amel tiba-tiba menghampirinya yang akan menaikki lift.


"Bantu apa?" Tidak biasanya ada yang mengajaknya bicara.


"Sepertinya pengait br@ku lepas. Bisa kau menolongku untuk mebenarkannya?"


Mia mengangguk. "Baiklah."


"Oke, ayo ke toilet." Amel menarik tangan Mia, dan Mia pasrah saja mengikutinya.


"Mana, ayo aku bantu." Ucap Mia ketika mereka sampai di toilet. Tapi, Amel malah pergi begitu saja keluar dari toilet.


Mia mengerutkan keningnya bingung, lalu hendak keluar dari sana. Tapi, di pintu masuk Maya dan Ola menghadangnya.


"Sepertinya kita perlu bicara, Mia." Ola mendorong Mia hingga Mia kembali ke dalam toilet.


"Kunci pintunya! Jangan sampai ada yang masuk!" Maya memerintah pada Amel.


"Baik." Amel menurut saja.


Kemudian Maya ikut menyusul Ola yang sudah di dalam bersama Mia.


"Apa mau kalian?" Mia masih berusaha tenang.


"Apa kau masih tidak mengerti? Atau sebenarnya kau memang benar-benar bodoh?" Maya melangkah mendekati Mia, emmbuat Mia melangkah mundur.


"Kau!" Maya menunjuk wajah Mia.


"Anak baru tak tau diri! Apa yang kau lakukan hingga tuan Devan tergoda olehmu?"


Mia melotot mendengar apa yang dikatakan Maya.


"Apa kau menggodanya dengan tubuhmu? Tapi aku rasa tubuhmu tidak ada apa-apanya dibanding tubuhku. Jadi pasti bukan karna itu." Ola ikut maju sambil mendorong bahu Mia dengan telunjuknya.


"Apa maksud kalian? Aku tidak mengerti." Mia semakin mundur.


"Oh, ternyata kau menganggap kami bodoh yang tak tau apa-apa ya?" Maya mengeluarkan ponselnya kemudian memutar sebuah video berdurasi dua menit. Di sana terdapat rekaman saat Devan memeluk Mia dan mengatakan kalau mereka berpacaran.


"Masih mau menyangkal? HAh?"


"Sebelumnya kau menggoda Pak Reyhan, tapi kemudian kau meninggalkannya karena ternyata kau mendapat tangkapan yang lebih besar." Ola menggelengkan kepalanya.


"Aku tak percaya, gadis kecil sepertimu ternyata begitu licik." Maya hendak mendorong Mia lagi, tapi tangannya ditahan oleh Mia.


"Ya, aku memang berpacaran dengan Devan! Lalu apa masalah kalian, hah?" Mia balik membentak kedua seniornya itu.


"Berani-beraninya kau!" Ola mengangkat tangannya ingin menampar Mia, dengan sigap Mia menahannya.


"Apa!? Kalian cemburu karna kalian sudah bekerja begitu lama tapi sama sekali tak dilirik oleh Devan maupun Leo? Harusnya kalian memperbaiki diri kalian bukan malah menyalahkan orang lain. Dasar tidak tau malu!" Mia pergi melewati keduanya dengan menabrak bahu mereka. Maya dan Ola hanya bisa melongo melihat kepergian Mia. Mereka tak menyangka Mia akan berani melawan mereka.


"Apa kau!" Mia membentak Amel yang berada di pintu toilet, membuat Amel menciut dan menyingkir dari jalan Mia.


***


"Kenapa kau terlambat? Aku menelponmu berulang kali tapi kau tidak menjawabnya?"


Devan langsung menyuguhi Mia dengan pertanyaan. Leo melihatnya hanya menghela nafas.


"Ada masalah kecil di jalan."


"Masalah apa? Apa kau kecelakaan? Apa kau terluka?" Devan memutar tubuh Mia, memeriksanya apa ada yang terluka.


"Bukan. Aku tidak apa-apa." Mia menahan tangan Devan yang akan memutar tubuhnya lagi.


"Lalu masalah apa?"

__ADS_1


Mia terdiam memikirkan apa dia harus memberitau Devan atau tidak.


"Bukan masalah penting." Mia tersenyum lalu duduk di kursinya.


"Lain kali jika kau terlambat hubungi aku."


"Iya, nanti aku akan memberitau Leo agar gajiku disesuaikan." Mia menghidupkan komputernya.


"Bukan masalah itu." Devan menyondongakan tubuhnya ke arah Mia dengan kedua tangan bertumpu di meja.


"Lalu?" Mia sedikit mundur karena wajah Devan begitu dekat.


"Aku khawatir, kau tau?" Devan menatap Mia dengan intens membuat Mia gugup. Devan semakin mendekat dengan sedikit memiringkan kepalanya.


"Ekhem.. Ini di kantor dan ada orang di sini jika kalian lupa." celetukan Leo membuat Mia sontak mendorong Devan, dia begitu malu.


Devan berjalan ke mejanya sambil menatap tajam Leo. Yang ditatap sama sekali tidak memedulikannya.


"Sialan lo!"


Leo mengendikkan bahunya, masa bodo.


***


"Dion!" Celina memasuki kamar Dion yang tidak terkunci. Niatnya dia ingin memberitau Dion bahwa obatnya hilang dan meminta Dion untuk mengantarnya ke psikiater.


Tak mendapati Dion di kamarnya, Celina hendak keluar lagi tapi dia terusik dengan dengan laci di di samping tempat tidur yang terbuka. Menimang sebentar antara melihatnya atau keluar saja akhirnya dia memilih untuk melihatnyas. Jika tak melihatnya dia pasti akan gelisah karena penasaran. Entah kenapa ketika tak meminum obatnya Celina merasa hampir sulit mengontrol dirinya sendiri.


Krek.. Celina menarik laci tersebut dan melihat dua botol obat yang selalu dia minum selama hampir setahun terakhir.


"Celina, sedang apa di sini?" Dion datang tiba-tiba dari luar kamar.


"Hah? Tidak." Celina kembali menutup laci tersebut, tapi suaranya di dengar Dion.


Dion mendekati Celina yang badannya sedikit gemetar.


"Apa yang kau cari?" tanya Dion lembut, tangannya menyentuh pundak Celina.


"Tenanglah, aku tidak marah." Dion tersenyum mengangkat wajah Celina yang menunduk.


"A..ku ingin mem..beritaumu ka..kalo obatku hilang."


Dahi Dion berkerut.


"Hilang? Dimana?"


Celina menggeleng. "Aku tidak tau. Tiba-tiba saja kemarin saat aku ingin meminumnya obat itu tak ada di dalam tasku." Celina sudah mulai tenang.


Dion mengambil salah satu botol di laci yang tadi Celina buka. "Ini, ambil yang ini dan vepat minum. Gejalamu sudah mulai terlihat lagi."


Celina menerimanya. Kemudian meminum satu pil dengan air yang ada di atas meja.


"Terima kasih." Celina menatap Dion.


"Tapi, Dion kenapa kau punya banyak obatku?" Celina bertanya sebelum melangkah keluar kamar Dion.


"Itu.. Aku meminta dosis lebih karna psikiater itu akan pergi ke luar negri selama beberapa bulan."


"Oh.." Celina tak curiga sama sekali. Kemudian keluar kamar sambil menutup pintu.


Dion merenung setelah kepergian Celina. Dia merasa curiga dengan hilangnya obat Celina. Entah apa, tapi instingnya mengatakan ada yang tidak beres.


***


"Devan, kau langsung pulang setelah ini?" Mia bertanya setelah membereskan mejanya.


"Iya. Kenapa?"

__ADS_1


"Mau pulang bersama?"


"Apa?"


"Apa? Masa kau tidak mendengarnya."


"Katakan sekali lagi agar aku yakin."


"Kamu mau gak nganter aku pulang?" Ucap Mia malas.


"Tentu. Tentu saja. Tapi kenapa?" Devan merasa heran, karna biasanya Mia selalu menolak ketika Devan ingin mengantarnya.


"Lagi males naik taksi."


"Oke, terserah apapun alasannya. Ayo, kita pulang." Devan berjalan mendahului Mia, tapi Mia menahan Devan kemudian menggenggam tangan Devan. Devan sampai kaget, karena perlakuan Mia. Begitupun dengan Leo yang sejak tadi menyimak.


"Kenapa?" Mia melihat Devan masih terpaku.


"Kamu keberatan aku pegang? Yaudah." Mia melepaskan genggaman tangannya, tapi diambil kembali oleh Devan.


"Aku tidak keberatan sama sekali. Justru aku selalu menunggu momen ini. Ayo, kita pulang!" Devan menarik Mia keluar ruangan.


Begitu sampai di depan lift mereka bertemu Bayu sang General Manager, dia melihat Devan dan Mia dengan sorot penasaran yang sangat kentara. Tapi tidak berani bertanya, jadi dia menyapa seadanya.


"Kita pakai liftku saja." Dia menarik Mia ke lift khusus. Begitu pintu hampir tertutup seseorang menahannya.


"Kalian lupain sesuatu?" Leo masuk dengan nada menyindir.


"Ishh, bisa gak lo gak ganggu."


"Gue gak niat ganggu, gue juga mau pulang."


"Kan bisa pake lift yang lain!"


"Lah, gue kan udah biasa naik yang ini." Ucap Leo santai dan pintu lift pun tertutup.


"Kalo gitu sekarang gue bikin peraturan baru, lift ini cuma buat gue dan Mia."


"Harus banget ya?"


"Udalah Dev!" Mia menahan Devan yang hendak bicara lagi, membuat Devan menyerah dengan menghembuskan nafas kasar.


"Ternyata kamu memang pawang yang cocok buat Devan. Liat aja, dia langsung nurut sama kamu." Leo mencibir.


"Diem lo!"


"Sssttt.." Mia kembali mengusap lengan Devan.


Pintu lift terbuka, Leo keluar lebih dulu. Mia menarik nafas dalam sebelum melangkah keluar lift.


"Ayo!"


Begitu melangkah keluar Mia dan Devan langsung jadi pusat perhatian para karyawan. Tentu saja lantai satu begitu ramai karena ini adalah jam pulang. Bisik-bisik mulai terdengar di telinga mereka. Namun bagi Devan itu sama sekali bukan apa-apa. Dia sudah terbiasa bersikap dingin. Lain lagi dengan Mia, dia sedikit ciut meski tadi dia berani melawan Ola dan Maya.


"Lihat lah, si anak baru itu sudah mulai melunjak."


"Jadi benar, dia memberi harapan palsu pada Reyhan karna ingin mendapatkan Tuan Devan."


"Apa sih yang Tuan Devan liat dari dia?"


"Apa jangan-jangan dia mengguna-guna Tuan Devan? Aku dengar dia berasal dari kampung. Di kampung kan banyak yang seperti itu."


Begitu kira-kira beberapa bisikkan yang ditujukkan untuk Mia. Devan sebenarnya mendengar dan ingin menegur, tapi tangannya digenggam erat oleh Mia.


"Biarkan saja!"


Devan sebenarnya penasaran dan ingin bertanya kenapa Mia tiba-tiba ingin seperti ini, yang secara tidak langsung mengumumkan tentang hubungan mereka. Tapi, dia akan menahannya hingga nanti sampai di rumah.

__ADS_1


***


bersambung....


__ADS_2