Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
Mood


__ADS_3

Leo bangun lebih awal dari Celina. Dia segera bangun lalu menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Semalaman dia terus saja memeluk Celina, menjadikannya pelukan terakhir keduanya sebelum Celina pergi.


Dia sudah memutuskan untuk melepas Celina menjalani pengobatan di luar negeri. Tapi bukan berarti dia akan menuruti kemauan Alex. Dia akan tetap menemuinya sesekali, baginya pengobatan Celina akan lebih cepat pulih jika ditemani oleh orang yang dia cintai dan juga mencintainya. Dia percaya, perasaan Celina untuknya bukanlah sekedar ilusi.


"Kau sedang apa?" suara Celina membuat Leo menoleh. Gadisnya terlihat sangat cantik alami khas bangun tidur dengan hanya berbalutkan kemeja miliknya yang kebesaran.


"Aku membuat sarapan untuk kita."


"Benarkah? Wahh, kau memang suami idaman." Celina memeluk Leo dari belakang.


"Benar. Karna itu kau harus segera sembuh agar aku bisa menikahimu."


Perkataan Leo membuat Celina melepaskan pelukannya lalu memutar tubuh Leo agar menghadapnya.


"Benarkah kau akan menikahiku?" Tanya gadis itu dengan mata berbinar.


"Tentu saja."


"Kau janji?" Celina menyodorkan jari kelingkingnya.


"Ya, aku janji." jawab Leo menautkan jari kelingkingnya juga.


"Ah aku mencintaimu." Celina memeluk Leo dengan erat yang dibalas oleh Leo.


"Aku mencintaimu." Bisik Leo.


***


Mia berangkat ke kantor menggunakan taksi. Tadi Devan menawarkan untuk menjemputnya tapi Mia menolak dengan alasan sudah memesan taksi online.


Sejak semalam, entah kenapa mood Mia sedikit turun. Mendengar kata menikah dari mulut kekasihnya tentu saja menjadi kebahagiannya tersendiri. Tapi Devan sama sekali tak membahasnya lagi membuat Mia sedikit kesal, sedih, gelisah, entah kata apa yang pantas menggambarkan perasaannya, yang jelas kini hatinya sedang kacau.


Ingin rasanya dia izin agar tak perlu bekerja hari ini. Tapi setelah dipikirkan, konyol sekali jika dia seperti itu. Belum lagi alasannya pada Devan, jika dia mengatakan tak enak badan dia pasti akan langsung meluncur ke rumahnya. Alasannya tak ingin bekerja adalah agar ridak bertemu Devan.


Sesampainya di kantor, dia langsung menghidupkan komputernya. Seperti biasa Devan dan Leo belum datang.


Dia segera mengerjakan pekerjaannya, menyibukkan diri dengan pekerjaan memang cara terbaik agar pikiran tenang. Namun cara itu hanya bertahan sebentar karena Devan masuk setelah beberapa menit.


"Hai, sayang!" sapa Devan kemudian mendekati Mia dan mengecup puncak kepala Mia. Mia hanya tersenyum sebagai balasan.


"Dimana Leo?" Mia melihat ke arah pintu, biasanya mereka berdua akan datang hampir dalam satu waktu.


"Hari ini dia tidak akan datang."


"Kenapa?


"Dia akan mengantar Celina ke bandara."


"Dia pergi hari ini?"


"Ya. Lebih cepat lebih baik bukan?"


"Benar juga. Semoga Celina cepat sembuh."

__ADS_1


"Ya, semoga saja."


Tidak ada obrolan lagi setelahnya. Mereka fokus pada pekerjaannya masing-masing. Hingga tiba waktu makan siang, baru mereka menutup komputernya.


"Kamu mau makan siang di mana?"


"Boleh aku request?"


"Tentu saja. Mau di mana?"


"Aku mau makanan Korea yang pedas-pedas." Dirinya butuh asupan untuk mengembalikan moodnya.


"Oke, ayo kita cari restoran Korea!"


Mia berdiri dengan semangat. Menggandeng tangan Devan kemudian melangkah.


"Ayo!"


Devan terkekeh dengan tingkah Mia yang seperti anak kecil. Kalau dipikir-pikir usia Mia dengannya memang terpaut cukup jauh. Tapi dia bersyukur, Mia termasuk gadis yang bersikap dewasa dibanding usianya. Dia jarang merajuk seperti remaja kebanyakan, malahan sepertinya dia yang sering marah dan merajuk.


Seperti biasa, semua mata yang dilewati Mia dan Devan memandang penuh iri dengki. Tapi ada juga beberapa yang memuji keserasian mereka berdua. Mia tak peduli lagi, sudah terbiasa pula menjadi sorotan kebencian sejak kuliah.


***


Mia memesan hotpot pedas ala Korea dengan banyak isiannya. Devan sampai heran debgan banyaknya yang Mia pesan.


"Kau yakin bisa menghabiskannya?" Devan memandang ngeri pada makanan-makanan pedas yang tertata hampir memenuhi meja mereka.


"Tentu, lagian kalo aku kenyang kan ada kamu." jawab Mia tanpa dosa.


Mia mulai menyuapkan satu persatu ke mulut kecilnya. Kuah pedasnya dia seruput tanpa beban.


"Kenapa gak makan? Kamu gak suka ini ya?"


"Enggak kok, aku cuma suka liat kamu makan."


"Jangan cuma liatin aku, gak akan kenyang. Nih, aku cobain deh!" Mia mengambil satu sendok kuah pedas dengan dumpling kecil.


"Aaa.. Ayo buka mulutnya!"


Devan menatap sendok di depan mulutnya. Ingin sekali menolaknya, tapi tak mau melihat wajah kecewa kekasihnya.


Akhirnya dia beranikan membuka mulutnya. Sensasi terbakar langsung menyerang mulutnya. Dia langsung menelan kuahnya dan mengunyah dumpling itu.


"Nah, gitu dong. Enak kan?"


Devan mengangguk kecil. Buru-buru dia minum air es yang dia pesan sampai habis setengah.


"Ayo makan lagi!" Mia lanjut memakan makanannya.


"Kayaknya aku pesan yang lain aja deh."


"Kenapa? Ini kan juga banyak, nanti kalo gak habis kan mubazir. Lagian kan tadi katanya aku boleh pesen apa aja yang aku mau buat kita." Mia mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Oke, oke. Aku makan ini aja. Kamu juga lanjut makan." Akhirnya Devan terpaksa makan makanan ini. Mia pu senang dan melanjutkan makannya. Pikirannya tentang pernikahan telah hilang sepenuhnya.


***


Pulang kantor, Mia diantar Devan. Moodnya sudah membaik sejak makan siang, jadi dia mau diantar oleh Devan.


"Aku pulang ya." Ketika mereka sudah sampai di depan rumah Mia.


"Gak masuk dulu?"


"Enggak, udah lumayan malem juga." Tadi mereka memang sempat lembur karena Leo tidak ada.


"Oke deh. Kalo gitu aku masuk." Mia berbalik tapi Devan menahannya.


"Besok, kamu mau temenin aku ke acara pernikahan temen aku?"


"Hah? Kamu yakin mau ajak aku?"


Devan mengangguk.


"Temen yang mana?"


"Temen jauh, kayaknya kamu belum pernah ketemu. Dia anak temen papa aku."


"Oh gitu. Tapi aku gak ada baju yang bagus, pasti acaranya mewah." Mia menunduk.


"Kalo itu kamu gak perlu khawatir, aku udah siapin buat kamu." Devan berjalan ke belakang mobilnya, membuka bagasi lalu mengeluatkan dua papper bag.


"Ini." Dia menyerahkan papper bag itu pada Mia.


Mia membukanya, yang satu berisi sebuah gaun satu lagi berisi sebuah kotak sepatu.


"Aku yakin itu cocok buat kamu, coba aja. Tapi, kalo nanti gak suka kamu bisa bilang sama aku biar aku cariin lagi."


"Aku pasti suka kok. Tapi, ini pasti mahal banget ya?"


"Gak semahal itu, karna ini buat kamu."


"Makasih, kalo gitu."


"Iya, acaranya jam10 pagi, besok aku jemput jam 9." Mia mengangguk.


"Yaudah gih masuk!"


"Oke. Kamu hati-hati."


"Iya, bye!"


"Bye!"


Mia pun masuk ke rumahnya. Dan Devan pergi setelah melihat Mia masuk. Sepertinya dia harus buru-buru pulang karena perutnya sudah berperang dari tadi gara-gara banyak makanan pedas yang dia makan.


***

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2