Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
Selasa


__ADS_3

"Aku akan ke Singapur sekarang. Tolong selesaikan semua pekerjaan, termasuk punyaku." ucap Leo sembari meletakan setumpuk berkas di meja Mia.


"Ada apa? apa terjadi sesuatu dengan Tuan Devan?" Mia ikut berdiri.


"Tidak, ada sesuatu yang harus aku kerjakan."


"Berapa lama di sana? terus gimana rapat sama Mr.Alex Selasa depan?"


"Besok juga aku pulang, jadi tidak perlu cemas soal itu."


"Oh begitu."


"Iya. Berdoalah supaya kita tidak perlu menggantikan Devan hari itu."


"Pasti."


Leo pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.


Mia kembali ke mejanya setelah mengantar Leo keluar. Dia melihat tumpukkan berkas yang Leo tinggalkan.


"Cih, enak sekali dia bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja."


"Butuh bantuan?" Arka muncul entah dari mana, tapi Mia sudah terbiasa dengan itu jadi tidak kaget lagi.


"Kau mau?" Mia antusias.


"Tentu."


"Tapi aku butuh kursi."


"Sebentar." Mia menarik kursi milik Leo ke mejanya dan Arka pun duduk di sana."


Dalam beberapa saat mereka langsung tenggelam dalam pekerjaan itu dengan satu kaki Mia menginjak kaki Arka.


"Aku sudah selesai." Ucap Arka.


"Benarkah?"


Arka mengangguk. Arka menyelesaikan pekerjaan yang Leo tinggalkan hanya dalam 2 jam. Meski tadi sempat beberapa kali berkasnya terjatuh karna Mia terus berganti posisi.


"Aku rasa kau memang benar-benar bukan OB." Mia kembali menyinggung masalah OB membuat Arka berubah mood.


"Sepertinya kau ingin sekali aku jadi OB." ucap Arka sarkas.


"Tidak, bukan begitu. Aku cuma bingung sebenarnya kamu itu siapa. Soalnya kamu bisa ngerjain pekerjaan ini dengan cepat, kayak kamu tuh berpengalaman banget."


"Aku juga gak tau, aku cuma ngerasa familiar aja sama berkas-berkas itu." Arka mau tidak mau ikut memikirkannya.


"Aku akan makan siang sekarang, kau ikut?" Mia berdiri.

__ADS_1


"Hari ini kamu gak nunggu mereka bubar dulu?" Arka bertanya karna setiap makan siang Mia selalu menunggu kantin sepi.


"Enggak, kerjaanku juga selesai lebih cepat karna kamu jadi aku mau langsung makan aja." Mia berjalan menuju pintu tapi diahadang oleh Arka.


"Apa?"


"Hadiahku?"


"Hadiah apa?"


"Aku udah bantuin kamu, masa gak ada imbalannya."


"Oh jadi kamu gak tulus bantuin aku?"


"Gak ada yang gratis di dunia ini." Arka mendekat.


"Apaan sih, yaudah yuk aku traktir makan." Mia kembali ingin berjalan.


"Kamu tau aku gak makan." Arka tetap menghadang.


"Terus apa? kamu juga gak pake baju baru." Mia menghindari Arka dan meraih gagang pintu namun dengan cepat Arka meraih tangan itu dan mendorong Mia ke pintu yang masih tertutup.


"Ngapain kamu?" Mia gugup.


"Aku mau ngambil hadiahku."


Bibir lembut nan dingin Arka kini menyapu basah bibir hangat Mia. Saling menyesap dengan penuh perasaan, ditambah dengan sedikit gairah membuat ciuman itu lebih terasa menggetarkan.


"Ak..Aku harus makan." Mia berkata disela ciumannya.


"Sebentar lagi." balas Arka dengan suara serak, kemudian melanjutkan aksinya. Mencium Mia sudah bagai candu bagi Arka, meski selama ini Arka berusaha menahannya setelah apa yang terjadi sebelumnya, tapi jika sudah seperti ini sulit untuk dia menarik diri.


Tangan Arka kini sudah berada di balik kemeja Mia. Menyentuh kulit Mia yang suhunya berbanding jauh dengan dirinya. Sentuhan itu membuat Mia sadar dan langsung melepaskan pagutan bibirnya, lalu menarik tangan Arka.


"Maaf." Arka mundur, namun Mia mengenggam tangannya.


"Tidak perlu kabur, aku tidak marah." Mia ingat terakhir kali Arka kabur karna melewati batas.


Arka tersenyum.


"Ini kantor dan aku sudah sangat lapar." Mia tersenyum lalu pergi ke toilet.


Senyum Arka semakin lebar.


***


Leo sudah sampai di Singapura dan langsung je rumah sakit dimana Devan dirawat. Dia menemui dokter penanggung jawab Devan dulu sebelum ke ruang rawat Devan.


"Bagaimana? apa sudah ada kemajuan?" Leo bertanya pada dokter Gu.

__ADS_1


"Sejauh ini kondisinya stabil."


"Apa dia bisa bangun dalam seminggu?"


"Saya tidak yakin. Ini bukan sesuatu yang bisa saya pastikan."


***


Leo kini sudah berada di samping Devan, duduk di kursi yang sama.


"Bangun, kayaknya Mia emang jodoh lo." Leo menyentuh tangan Devan, dia melihat cincin yang melingkar di jari kelingking.


"Dia bahkan udah pake cincin kalian tanpa lo kasih."


Leo ingat Devan begitu antusias saat membeli cincin itu 5 bulan lalu. Dia bilang akan memberikannya saat dia akan meminta Mia untuk menjadi kekasihnya. Tapi, karena terlalu sering membawanya kemana-mana Devan akhirnya kehilangan cincin miliknya. Sudah di semua tempat dia cari tapi tak menemukannya.


"Gue gak nemuin itu cincin gimana?" Leo sudah bermandikan keringat karena terus mencari cincin Devan yang hilang. Saat itu mereka sedang di taman belakan kantor.


"Yaudah mau gimana lagi." Devan mengangkat bahunya, lalu memakai cincin satunya di jari kelingkingnya.


"Kenapa dipake? itukan buat Mia." Leo duduk di samping Devan.


"Biar gak ilang lagi. Gak masalah punya gue ilang, yang penting yang mau gue kasih ke doi tetep ada." Devan menerawang jauh sambil tersenyum penuh cinta. Leo menggeleng meihat bos sekaligus sahabatnya itu.


Leo tersenyum mengingat hari itu.


"Oh iya, gue juga udah tau siapa yang buat lo kayak gini. Cuma gue bingung gimana caranya masukin dia ke penjara. Dia punya alasan kuat buat gak masuk penjara." Leo diam sejenak. Mendengarkan suara-suara dari alat penyangga hidup Devan seolah itu adalah jawaban Devan.


"Jadi lo harus bangun. Bantu gue biar dia bisa masuk penjara dan mempertanggungjawabkan semua perbuatan dia."


Tanpa Leo sadari mata Devan bergulir dalam kelopak yang tertutup.


"Minggu depan Mr.Alex minta lo dateng langsung buat rapat sama dia. Dia nolak Mia minggu kemarin. Coba lo bayangin, Mia yang masih anak baru udah harus dapet tekanan dari Mr.Alex. Lo gak mau bales dia?"


"Ayolah, lo bangun. Udah hampir tiga bulan lo tidur terus. Otot lu udah mulai kendur itu. Mia gak bakalan suka sama cowok kerempeng." Sengaja Leo selalu membawa nama Mia, karena dia tau arti Mia bagi Devan.


Air matanya tetap tak bisa dia tahan walau sejak tadi mengobrol dengan nada riang.


"Okelah gue balik dulu. Kasian calon pacar lo kalo gue tinggalin lama-lama, kerjaan lo kan banyak bisa stres dia kalo harus ngerjain semuanya sendiri." Leo berdiri.


"Pokonya lo harus bangun, akhir pekan nanti gue balik lagi ke sini. Inget, cincinnya udah dia pake tinggal lo bilang itu dari lo."


Leo berbalik meninggalkan Devan. Disaat bersamaan air mata Devan menetes.


****


bersambung....


Yang dicetak miring itu flashback ya😊😘😘

__ADS_1


__ADS_2