
Menjelang makan siang, Leo dihubungi oleh Rio kalau Celina keluar rumah dengan menyetir sendiri. Leo meminta Rio untuk terus mengikuti Cekina sampai ke tempat tujuan.
"Dia menjemput seorang pria." itu pesan yang Rio kirim, sontak Leo langsung berdiri tegak saking kesalnya.
"Kenapa?" Devan heran melihat Leo yang tiba-tiba berdiri sambil menghentakan kakinya.
"Lima menit lagi makan siang. Aku akan keluar lebih awal." Kemudian Leo keluar begitu aaja tanpa menunggu jawaban Devan. Devan pun hanya bisa melongo melihat sahabatnya yang seperti dikejar setan.
***
Leo sudah mengendarai mobilnya menuju lokasi yang Rio kirimkan. Dan sekitar 10 menit Leo telah sampai ke sebuah kafe tempat Celina berhenti. Bisa dilihat mobil Celina terparkir di depan kafe tersebut. Leo memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Celina yang kebetulan kosong.
"Sialan! Si anak kecil itu lagi!" Leo melihat Celina tertawa bersama Kris.
"Jika aku ke sana sekarang, sudah pasti Celina akan mengusirku lagi. Tidak tidak, aku tidak boleh menjatuhkan harga diriku di depan anak kecil itu." Akhirnya Leo keluar lagi dari kafe itu dan mamilih menunggu di dalam mobil saja.
Leo terus saja melihat jam tangannya, kenapa lama sekali? pikirnya. Matanya bolak balik antara melihat jam tangan dan pintu masuk kafe. Hingga suara ponsel mengejutkan konsentrasinya.
"Ada apa, Dev?" Tanya Leo tanpa basa-basi, matanya masih terus melihat pintu masuk kafe.
"Lo di mana? Ini udah lewat waktu makan siang, lima belas menit lagi meeting dengan klien."
"Benarkah? Kalo begitu hari ini gue boleh cuti aja?"
"Leo, lo ini lagi apa sebenarnya?"
"Dev, gue tadi ikutin Celina buat minta maaf lagi ke dia, tapi Celina malah makan sama si Kris jadi gue cuma bisa nunggu bocah itu pergi dulu."
Terdengar Devan menghela nafas di sebrang sana.
"Kenapa lo jadi bego gini sih? Pokoknya gue gak mau tau, sekarang lo harus balik ke sini buat meeting!" Devan langsung mematikan panggilannya membuat Leo tak bisa berkata-kata lagi. Mau tak mau Leo harus kembali lagi ke kantor karena itu adalah tanggung jawabnya.
Sekali lagi Leo melihat ke arah kafe, lalu menyalakan mobilnya dan pergi dari sana dengan tangan kosong. Ia harus cari cara lain untuk bisa bicara dengan Celina.
***
Celina melihat ke luar kafe dan seperti mengenali sebuah mobil yang baru saja keluar dari parkiran. Mungkin hanya mobil yang sama, pikirnya.
"Kenapa?" tanya Kris ketika melihat Celina tidak fokus padanya.
"Tidak ada. Apa kau sudah selesai? Aku harus pergi ke suatu tempat nanti sore."
"Kemana? Mau kuantar?"
"Tidak perlu, aku bisa sendiri."
"Kalo begitu kau bisa pulang duluan."
"Kau?"
"Aku bisa menunggu temanku di sini, katanya akan sampai dalam 20 menit."
"Benarkah? Kalo begitu tidak apa-apa aku pulang duluan?"
"Pulanglah! Terimakasih kau sudah menemaniku hari ini."
"Nevermind, sesama teman sudah biasa untuk seperti ini."
Kria membalas kata-kata Celina dengan senyuman.
"Aku pergi!"
__ADS_1
"Ya, hati-hati!" Senyuman Kris seketika luntur setelah Celina berbalik pergi.
"Ternyata jaraknya masih terlalu jauh untukku menggapaimu." Kris tersenyum kecut mengingat Celina bahkan tak mau mengatakan akan ke mana dia sore ini.
***
Begitu sampai, Celina melihat ada mobil ambulance terparkir di halaman rumah membuat Celina bergegas keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Pikiran buruk tentang daddynya memenuhi kepalanya. Namun begitu masuk, dia melihat Lola yang terlentang di atas blankar yang di dorong oleh beberapa petugas.
"Apa yang terjadi?" Celina bertanya pada Alex yang mengikuti petugas.
"Entahlah, dia jatuh di kamar mandi dan mengalami pendarahan. Maaf, daddy tidak bisa ikut denganmu, daddy harus menemaninya ke rumah sakit."
"Oke, dad, aku bisa pergi sendiri."
"Baiklah, kalo begitu daddy pergi dulu." Alex langsung meninggalkan Celina, menyusul Lola yang telah dinaikkan ke dalam ambulance.
Celina memang meminta Alex untuk pulang lebih awal untuk mengajaknya ke makam mommynya, karena hari ini adalah hari peringatan kematian sang mommy. Tapi, sepertinya dia harus pergi sendiri tahun ini dan dia tak bisa marah karena memang Lola lebih membutuhkan Alex.
Celina segera naik ke kamarnya dan bersiap-siap. Dia harus tampil cantik agar mommynya senang melihatnya.
***
Pulang dari kantor Leo langsung mandi dan berganti pakaian dengan pakaian formal lagi. Hari ini dia akan pergi ke suatu tempat yang sudah beberapa tahun ini dia kunjungi di hari yang sama. Setelah memastikan sekali lagi penampilannya, Leo keluar dari apartemennya. Di depan lift, Leo berpapasan dengan Kris yang sepertinya baru saja naik.
"Kau rapi sekali, mau kemana?" Kris menyapa Leo lebih dulu.
"Ke suatu tempat." jawab Leo seadanya lalu masuk ke dalam lift tanpa menghiraukan Kris lagi.
Kris memicingkan matanya menatap pintu lift yang tertutup.
"Kenapa aku seperti merasa mereka membicarakan hal yang sama?" mereka yang dimaksud Kris adalah Leo dan Celina. Tapi kemudian Kris mengangkat bahunya. "Mungkin kata-katanya saja yang sama." Dia pun masuk ke apartemennya.
***
Dari kejauhan Celina melihat seseorang berdiri membelakanginya. Awalnya dia mengira orang itu sedang mengunjungi makam yang lain, tapi ketika semakin dekat, Celina menyadari kalau orang itu tengah berdiri di depan makam ibunya. Celina melangkahkan kakinya pelan-pelan agar tak terdengar oleh orang itu. Orang itu adalah Leo.
"Halo, tante! Aku datang sendiri lagi tahun ini." Leo memulai pembicaraannya. Celina menunggu kalimat Leo selanjutnya.
"Sebenarnya dia sudah kembali dari Amerika, tapi aku tak bisa membawa Celina mengunjungi tante bersama karena sekarang hubungan kami tidak jelas."
"Tante ingat ketika aku bilang melihat Celina memeluk pria lain di Amerika dan aku mengira dia adalah kekasih barunya? Ternyata baru-baru ini aku mengetahui fakta kalo pria itu adalah dokternya, dan alasan kenapa dokter itu memeluk Celina adalah karena Celina sedang merindukanku. Alasannya adalah aku. Aku yang membuat semuanya menjadi seperti sekarang. Aku sendiri yang menghancurkan hubungan kami, padahal aku begitu mencintainya."
"Andai waktu itu aku meminta penjelasan pada Celina. Dan sekarang sudah terlambat. Celina sudah terlanjur kecewa padaku, karena aku telah mengatakan banyak hal menyakitkan untuknya. Aku bahkan mengatainya wanita murahan. Jadi wajar saja jika dia tak mau lagi bicara denganku."
Celina menitikan air mata mendengar suara serak Leo. Dari lubuk hatinya pun dia masih begitu mencintai Leo. Cintanya tak pernah berkurang sedikit pun.
Celina menghapus air matanya, kemudian melangkah mendekati Leo.
"Kau mengadu pada mommyku!" ucap Celina yang mampu membuat Leo terperanjat.
"Kau..."
"Kenapa kau kaget begitu?"
"Ku..kukira kau tidak akan datang." Leo sedikit gelagapan.
"Tentu saja aku harus datang. Sudah dua tahun aku tidak datang ke sini."
Leo mengangguk. "Kalo begitu aku duluan."
"Tunggu!" Celina menahan Leo yang hendak pergi.
__ADS_1
"Hari sudah mulai gelap, bisakah kau menungguku? Aku sedikit takut."
Leo mengeryitkan keningnya, merasa heran karena Celina sama sekali bukan penakut. Tapi, dia akhirnya mengangguk saat melihat mata indah Celina.
"Aku tidak akan lama." ujar Celina kemudian berbalik ke makam ibunya lagi.
"Hai, mom! Aku datang hari ini. Maaf dua tahun kemarin aku tidak datang. Maaf juga karena aku menerima Lola sebagai istri daddy. Dia tidak jahat, dia hanya mencintai daddy di waktu yang salah, dulu. Jadi, aku harap sekarang mommy tidak marah di sana melihat daddy menikahi Lola. Ohya, sekarang mommy tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi karena aku sudah sembuh sepenuhnya. Dan mommy juga tak perlu khawatir tentang masalah percintaanku, sepertinya sebentar lagi semuanya akan beres."
Leo yang mendengar itu langsung menatap Celina dengan penasaran. Apa maksudnya?
"Sudah dulu ya, mom! Bye!" Celina meletakkan buket mawar putih yang tadi dia bawa.
"Ayo!" Celina mendahului Leo yang masih mematung memikirkan kata-kata Celina.
"Kau tidak pulang?" Celina berbalik saat tak mendengar langkah kaki Leo.
"Hah?"
"Ayo pulang!"
Leo menangkap tangan Celina sebelum menjauh.
"Ada apa?"
"Aku ingin bicara."
"Nanti saja!"
"Tapi aku harus mengatakannya sekarang."
"Kamu mau ngobrol di pemakaman? Ini sudah hampir gelap. Bagaimana kalo 'mereka-mereka' ikut dalam pembicaraan kita." sentak Celina sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling saat menyebut mereka. Leo pun ikut melihat sekeliling dan sepertinya benar kata Celina, tempat ini bukan tempat yang cocok untuk mengobrol.
"Kalau begitu kita ke tempatku sekarang!" Leo menarik tangan Celina tanpa persetujuan, namun Celina tak menolak karena memang dia pun ingin membicarakan sesuatu dengan Leo.
Baru ketika Leo membuka pintu mobilnya, Celina berontak.
"Aku naik mobilku saja!" Celinamelepaskan genggaman Leo.
Leo kembali menggenggam tangan Celina, lalu tangan satu lagi mengeluarkan ponselnya. Dia menghubungi Rio yang memang dia suruh mengikuti Celina.
"Kemarilah!" titah Leo pada seseorang yang dia hubungi. Tak lama setelah itu sebuah mobil mendekat dan berhenti di depan mereka.
"Tolong bawa mobilku ke apartemenku. Kuncinya kau titipkan saja di pos keamanan." Leo memberikan kunci mobilnya pada Rio.
"Oke!" Rio turun dari mobilnya dan menyerahkan kemudi pada temannya.
Mobil Leo dan mobil Rio pun pergi meninggalkan Celina dan Leo sendiri.
"Mana kuncinya?" Leo mengulurkan tangannya oada Celina yang masih melongo melihat mobil Keo dibawa pergi.
"Celina!"
"Apa?"
"Mana kunci mobilmu?"
"Ini." Celina hendak memberikannya pada Leo tapi tidak jadi. "Biar aku saja yang menyetir!"
"Tidak! Aku tidak seperti bocah itu yang akan membiarkan kau menyetir untukku." Leo merebut kuci itu dari Celina dan masuk ke bagian kemudi.
"Bocah? siapa maksudnya?" Celina bingung sesaat, tapi kemudian mengendikkan bahunya masa bodo dan masuk ke dalam mobil.
__ADS_1