Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
Masalah Orang Baru


__ADS_3

"Apa yang kau minum?"


Leo melihat Mia menelan sebuah pil setelah sarapan bersama.


"Ini obat dari dokter. Kau tau aku masih menemui psikiater." Celina tersenyum.


"Benarkah? Itu sepertinya masih banyak, kapan kamu ke sana?"


"Aku tidak ke sana, kemarin Dion yang mewakiliku untuk mengambil obat."


"Kenapa? Memangnya bisa hanya mengambil obat tanpa pasiennya?" Dahi Leo berkerut curiga.


"Kemarin saat jadwal kunjunganku hujan petir dan aku selalu bertindak impulsif kalo mendengar petir. Jadi Dion menawarkan untuk mengambil obatku. Lagipula itu bukan pertama kalinya."


"Maksudmu Dion sering mengambilkan obat untukmu?"


"Ya. Aku hanya bertemu dokterku sesekali."


"Kau sudah selesai? Biar aku bereskan."


Leo masih merenungkan kata-kata Celina barusan. Terdengar mencurigakan. Mana bisa mengambil obat dari psikiater tanpa pasien. Setaunya, pasien itu sendiri pun tidak boleh hanya mengambil obat tanpa konsul lebih dulu.


"Apa yang kau pikirkan sayang? Kau tidak berangkat?"


"Tidak. Baiklah, ayo berangkat." Leo lagi-lagi tak bisa berterus terang tentang kecurigaannya. Dia takut akan membuat gejalanya kambuh. Biarlah dia akan mencari tau sendiri.


***


Devan keluar dari apartemennya bersamaaan dengan Celina dan Leo.


"Ternyata kau masih saja perjaka, Dev." Celina mengejek Devan yang pastinya tidak menginap di tempat Mia.


"Miaku masih lugu, tidak liar sepertimu."


"Tapi aku yakin Leo sangat menyukaiku saat liar. Benarkan, sayang?" Mata Celina beralih menatap Leo.


"Ya, tentu saja." Leo mengecup pelipis Celina.


"Cih, jangan sampe lo ngantuk pas rapat nanti." Devan melenggang pergi meninggalkan keduanya. Tadinya ia ingin menjemput Mia, tapi Mia menolaknya karena tak mau ada orang kantor melihatnya.


***


Mia turun dari taksi di depan gedung Astra Group. Sejak mendapat gaji pertamanya dia tak pernah naik ojek online lagi. Selain karena keuangannya sekarang sudah stabil, naik ojek juga membuat penampilanya jadi tak sefresh saat keluar dari rumah. Bukan apa-apa, Mia hanya ingin menjaga penampilan karena dia seorang sekretaris yang sering bertemu banyak klien.


"Kita ketemu lagi." Ternyata Reyhan sudah ada di depannya.


"Hai, kak."


Mereka menunggu lift terbuka.


"Sudah sarapan?" Terlihat Reyhan sedang mencari topik.


"Sudah. Aku gak pernah melewatkan sarapan."


"Baguslah, sarapan adalah yang terpenting untuk memulai hari."


Mia mengangguk mengiyakan.


Pintu lift terbuka, beberapa orang di belakang Mia langsung menerobos masuk membuat Mia hampir terjatuh untung saja dengan sigap Reyhan menahannya dengan merangkul Mia dari belakang.


"Mia!" Sebuah suara tak asing memanggilnya membuat Mia buru-buru melepaskan diri dari Reyhan.


"Tuan Devan." Mia membungkuk pada Devan dan Leo diikuti Reyhan.


"Saya permisi." Mia hendak masuk ke dalam lift mengikuti Reyhan.


"Kamu ikut ke lift saya." ucap Devan kemudian melangkah menuju lift khusus. Wajahnya begitu dingin dengan tatapan tajam. Wajah yang tak pernah Mia lihat sebelumnya, begitupun Leo. Dia seperti tak mengenal dua orang ini.


Semua yang ada di lift memandang Mia karena dia tak kunjung turun.


"Kalo gitu aku ke sana dulu, kak."


Reyhan mengangguk kemudian pintu lift tertutup. Mia melangkah mengikuti Devan dan Leo yang sudah ada di depan lift.

__ADS_1


Mereka bertiga masuk. Mia kira saat pintu lift tertutup suasananya akan berubah tapi ternyata tidak. Devan masih saja bertahan dengan wajah dinginnya. Sedang Leo seperti tak ingin peduli. Mia pun tak tau bagaimana memulai pembicaraan jadi dia memilih diam.


"Aku langsung ke ruang rapat, beritau semuanya untuk datang ke ruang rapat dalam 3 menit." Devan melenggang begitu saja tanpa mengidahkan Mia yang bingung akan sikap Devan.


"Dia kenapa? Apa ada masalah?" Mia bertanya pada Leo saat mereka sudah ada di ruangannya.


"Masalahnya itu kamu, Mia."


"Hah? Aku? Memangnya aku kenapa?"


Mia bingung, memang apa salahnya?


"Kau tanyakan sendiri padanya. Sekarang, cepat beritahu semuanya untuk datang ke ruang rapat seperti perintah Devan."


Mia segera melakukan pembeeitahuan, kemudian membawa berkas yang harus dibawa ke ruang rapat.


Selama rapat pun Devan sama sekali tak melirik Mia. Entah apa yang membuat Devan seperti ini.


***


Celina memasuki rumahnya. Dia melihat Alex duduk di ruang tamu.


"Pagi, dad. Daddy tidak ke kantor?" Celina menyapa Alex dengan ceria.


"Dari mana saja kau?" Bukannya menjawab, Alex malah melayangkan pertanyaan lain.


"Aku dari tempatnya Leo. Kurasa daddy sudah tau, kenapa masih bertanya."


"Sepertinya kau sudah tidak peduli lagi pada ucapan daddy."


"Apa? tentang daddy yang tidak akan merestuiku? Benar, aku memang tidak peduli." Celina hendak meninggalkan Alex.


"Daddy akan mengenalkanmu dengan putra dari kenalan daddy, meski perusahaan mereka masih di bawah Astra Group. Jadi, daddy minta tinggalkan si asisten itu."


Celina tak habis pikir dengan pola pikir Alex, bagaimana bisa daddynya ingin menjodohkannya demi bisnis.


"Sampai kapan pun aku takkan meninggalkan Leo!! Aku mencintainya!" Mia menaikkan suaranya.


"Kau melawanku demi si asisten itu!"


PLAK.. Alex menampar Celina tanpa sadar. Bukan hanya Celina, dia pun terkejut dengan apa yang baru saja dia lakukan.


"I HATE YOU!!!" kemudian Celina berlari keluar, masuk kembali ke mobilnya lalu meluncur dengan kecepatan tinggi. Entah kemana tujuannya.


***


"Dev, gue izin keluar ya Celina nelpon gue sambil nangis-nangis. Gue takut terjadi apa-apa."


Devan mengangguk tanpa mengatakan apapun. Leo langsung pergi begitu mendapat izin dari Devan.


"Devan!" Mia memanggil Devan dari kursinya.


"Hm.."


"Mau makan siang bersama?" Sebentar lagi waktu makan siang.


"Aku tidak lapar."


Ternyata benar Devan marah padanya, tapi kenapa?


"Bukannya kamu bilang, makan itu penting sesibuk apapun kita."


"Aku tidak pernah mengatakan itu, mungkin orang lain yang mengatakannya."


Orang lain?


"Benar juga, aku kira itu kamu. Soalnya wajahnya mirip banget sama kamu. Eh beda ternyata, dia tembus pandang kamu enggak."


Devan tau maksud Mia, tapi dia benar-benar dalam mood yang buruk.


"Jadi kamu mau kan temenin aku makan siang?"


"Kau makan siang sendiri saja. Nanti juga bakal ada yang nyamperin buat nemenin."

__ADS_1


Siapa?


"Tapi aku maunya kamu." Mia masih berusaha sabar menghadapi Devan.


"Aku sibuk." Devan beranjak dari kursinya hendak meninggalkan Mia. Tapi tangannya ditahan oleh Mia.


"Ada apa?" Tanya Mia.


"Gak ada apa-apa." Devan tak memandang Mia.


"Gak ada apa-apa tapi kamu begini sejak pagi."


"Aku memang selalu begini."


"Oke, kalo gitu. Aku pergi aja." Mia melepaskan tangan Devan kemudian berjalan menuju pintu keluar.


"Ya sudah, temui dia aja sana."


Mia berhenti melangkah.


"Dia siapa yang kamu maksud?"


"Aku yakin kamu tau."


"Tau apa? Memangnya aku bakal tau kalo kamu gak ngomong? Aku bukan peramal yang bisa tau semua apa yang ada di pikiran kamu." Mia akhirnya mengeluarkan apa yang ada dikepalanya sejak tadi.


"Sekarang aku tanya sama kamu. Apa alasan kamu rahasiakan hubungan kita?"


"Bukannya aku udah bilang kalo aku gak mau ada gosip yang enggak-enggak. Aku juga gak mau jadi pusat perhatian nantinya."


"Tapi, tadi pagi sepertinya gak masalah jadi pusat perhatian."


"Maksud kamu apa?"


"Kamu ngobrol sama orang itu tanpa beban, bahkan kamu gak risih dia rangkul di depan banyak orang. Kemarin kamu bahkan makan siang bareng kan sama dia." Hilang sudah wibawa Devan kala mengutarakan isi hatinya.


Akhirnya Mia mengerti akar permasalahannya.


"Jadi hanya karna itu kau mendiamiku seharian?"


"Hanya? Aku sakit hati Mia. Disaat aku dengan susah payah menahan agar tidak menunjukkan apapun yang membuat orang curiga tentang hubungan kita, kamu malah dengan akrabnya ngobrol sama pria itu membuat semua yang melihat beranggapan kamu punya hubungan sama dia." Devan memang sempat mendengar beberapa orang mengatakan Mia dan pria itu seperti punya hubungan spesial.


"Hubungan apa? Aku gak ada hubungan apa-apa sama Kak Reyhan."


"Jadi namanya Reyhan? Sudah seakrab apa kamu sama dia sampe kamu manggil dia kakak? Aku baru tau kalo kamu semudah itu akrab sama laki-laki."


Mia tak percaya Devan bisa menganggapnya seperti itu.


"Memangnya kenapa? Apa salahnya aku akrab dengan teman sekantor? Apa salahnya jika aku punya teman? Apa aku tidak boleh mengenal orang lain selain kamu? Apa duniaku harus selalu tentang kamu?" Mia yang tadinya ingin menjelaskan dengan baik malah ikut terpancing emosi melihat wajah meremehkan Devan.


"Tidak. Maaf jika aku sudah bertindak berlebihan." Devan pergi meninggalkan Mia yang masih emosi.


Akhirnya Mia melewatkan waktu makan siangnya. Dan Devan tak kembali ke ruangan sampai waktu pulang tiba. Begitupun dengan Leo.


Saat sedang membereskan mejanya, Mia menerima pesan dari Reyhan.


"Lembur gak?"


"Enggak."


"Kalo gitu, mau makan malam bareng?"


"Boleh."


"Aku tunggu di lobi."


"Oke."


Mia merasa kalau tidak ada salahnya makan malam dengan teman sekampungnya. Dia tidak peduli jika ini akan memoerkeruh masalahnya dengan Devan.


***


bersambung...

__ADS_1


Hai semuanya!!! Aku minta maaf banget untuk sisa bab double di bawah bab ini.. Aku sebisa mungkin untuk cepet2 update bab baru biar bisa cepet kembali tertata lagi bab nya. Tapi ternyata susah nyari waktu buat aku nulis di siang hari. Karena aku ibu rumah tangga yang punya anak kecil super aktif. Jadi gak ada waktu buat nulis kalo bukan anakku lagi tidur😔.


Senoga kalian tetap enjoy yah bacanya❤❤❤😊


__ADS_2