
Besoknya, Devan berangkat dengan Leo seperti biasa. Sebenarnya dia ingin sekali menjemput Mia, tapi karena Leo belum membolehkannya menyetir sendiri, mau tak mau dia mengalah.
Mereka memasuki gedung dengan dingin seperti biasa. Jika saat kuliah dulu Devan yang mendapat julukan Ice Prince, sekarang di Astra Group, Leo pun mendapat julukan yang sama.
"Pagi, Mia!" Leo masuk duluan dan menyapa Mia yang seperti biasa sudah ada di mejanya.
"Pagi."
"Kau tidak menyapaku juga?" rajuk Devan.
Mia menghela nafas dan Leo sedikit heran dengan sikap Devan.
"Selamat pagi, Tuan Devan." Mia tersenyum.
"Hey, kamu udah janji bakal panggil namaku tanpa embel-embel tuan." Devan semakin merajuk.
"Kapan? Aku tidak berjanji apapun."
"Tunggu-tunggu, apa yang tidak kuketahui di sini? Janji apa?"
"Aku tidak berjanji apapun pada Tuan Devan."
"Lo harus tau Le, sekarang Mia sama gue maksudnya kita udah jadian."
"HAH!!??"
"Mia?" Leo meminta penjelasan dari Mia, karena tak percaya pada Devan.
"Mia katakan pada Leo apa yang terjadi semalam."
Mia melotot mendengar kata-kata Devan yang sangat ambigu bagi yang mendengar.
"Semalam? apa yang terjadi sebenarnya?"
Mia cemberut karena sebenarnya dia ingin merahasiakan hubungannya dengan Devan.
Kini mereka duduk di sofa ruangan itu. Sofa yang jarang mereka gunakan kini bagai kursi panas bagi Mia dan Devan.
"Sekarang katakan, apa yang tidak aku ketahui."
Leo menatap Devan dan Mia secara bergantian.
"Kenapa lo jadi kayak orang tua yang mergokin anaknya pacaran." Devan menatap malas pada Leo, sedangkan Mia sejak tadi menunduk karena malu.
"Aku ingin kamu yang menjelaskan, Mia."
"Tidak ada yang terjadi." jawab Mia cepat.
"Mia, kamu tega gak ngakuin aku sebagai pacar kamu?" Devan menunjukkan raut wajah sedih yang dibuat-buat.
"Lo diem!" tunjuk Leo.
"Elo yang diem, gue bosnya di sini!" Seketika Leo langsung bungkam sambil mencibir.
"Biar aku yang jelasin sama orang ini." Devan menggenggam tangan Mia bermaksud menenangkan.
Sebenarnya Mia merasa sangat malu. Dia takut dibilang gampangan karna yang Leo tau dia baru kenal Devan tiga hari dan sekarang sudah jadian saja. Ingin menjelaskan tentang Arka pun Leo takkan mengerti. Itulah alasan dia ingin menyembunyikan hubungannya. Setidaknya beberapa minggu. Salahnya, ia tak memberitahu Devan tentang ini, dia harusnya tau, orang narsis macam dia pasti ingin selalu pamer.
"Semalem gue ke rumah Mia, buat nembak dia. Dan ternyata Mia pun udah suka sama gue sejak gue selalu datang ke tempat dia kerja. Jadilah kita pacaran tanpa basa-basi." Jelas Devan singkat.
"HAH??" dua kepala menyuarakan keterkejutannya. Mia kaget karena Devan berbohong, sedang Leo tak percaya semuanya sesimple itu.
"Udah? gitu aja?" Leo ingin penjelasan lebih lanjut.
"Iya, udah gitu aja."
"Mia?" Leo beralih pada Mia. Mia yang bingung mau tak mau mengangguk saja.
"Sungguh ajaib."
"Benar, dan keajaiban cuma berlaku buat kisah cinta gue, gak ada keajaiban dalam pekerjaan. Jadi gak mungkin kerjaan lo bakal selesai sendirinya secara ajaib kalo lo terus aja kepo sama kita berdua."
Leo segera bangkit dengan perasaan kesal, begitu juga dengan Mia.
"Kalo kamu mau duduk seharian pun gapapa sayang." Matanya mengerling pada Mia.
"Tidak! aku tidak mau makan gaji buta."
Kemudian Leo dan Mia fokus pada pekerjaannya masing-masing tanpa menghiraukan Devan.
__ADS_1
***
"Mau kemana?" Dion melihat Celina sudah rapi.
"Bukannya hari ini aku harus check up ke psikiater? Obatku juga sudah habis."
Dion terdiam mendengarnya, bagaimana bisa dia lupa jadwal check up Celina.
"Benarkah? bukannya minggu depan?"
"Bukan. Satu bulan lalu aku menyimpan tanggalnya di ponselku jadi tidak mungkin aku salah. Ini, lihatlah!" Celina menunjukan jadwal check up yang ia simpan.
"Oh iya, ya. Tapi di luar hujan, gimana kalo aku saja yang pergi dan mendapatkan obat untukmu."
"Tapi, bulan lalu kau bilang check up kali ini aku bisa pergi sendiri."
"Iya, benar aku bilang begitu. Tapi, di luar hujan petir. Gimana kalo kamu tiba-tiba kambuh di jalan? Bukankah itu lebih berbahaya?"
Celina tampak menimang ucapan Dion.
"Yasudah kalo begitu, kau saja yang pergi. Aku akan menonton film saja."
"Benar, lebih baik kau menonton film yang aku rekomendasikan."
Celina mengangguk, kemudian kembali naik menuju kamarnya.Dion tersenyum puas melihat Celina yang benar-benar mudah diatur.
Setelah keluar dari rumah sakit jiwa, Celina memang rutin mengunjungi psikiater untuk sekedar konsultasi. Psikiaternya pun adalah pilihan Alex sendiri.
Namun, beberapa bulan lalu Dion mengganti psikiater yang menangani Celina, tentunya tanpa sepengetahuan Alex. Dan Celina pun tak pernah mengatakan apapun karena dia pikir itu suruhan daddynya.
***
"Kita makan siang bareng." ajak Devan pada Mia.
"Kita bertiga?" liriknya pad Leo yang masih memeriksa dokumen.
"Tidak, hanya kita berdua."
"Tapi, Leo?"
"Astaga Mia! Dia itu sudah dewasa, tidak mungkin dia akan menangis jika kita membiarkannya makan siang sendiri." Devan benar-benar gemas dengan kekasihnya ini.
"Kami duluan, Leo." pamit Mia.
"Oke, pergi saja. Sebelum bayi besarmu merajuk." ejek Leo.
Devan tak menghiraukannya, dia menggandenga tangan Mia agar segera melangkah. Namun, saat pintu sudah terbuka Mia melepaskan tautan tangan mereka.
"Kenapa?" tanya Devan heran.
"Aku ingin rahasiakan ini dari karyawan Astra Group."
Devan hendak protes, tapi Mia kembali bicara dengan wajah memohon.
"Setidaknya sampai aku siap."
Devan membuang nafas. "Oke. Tapi, aku tidak ingin terlalu lama."
"Kau memang yang terbaik." puji Mia dan itu membuat wajah Devan kembali cerah.
Mereka berjalan dengan posisi Mia sedikit di belakang agar semua yang melihat tak curiga.
"Kita tidak ke kantin?" tanya Mia saat arah jalan Devan menuju basement.
"Jika kau memang tak ingin mereka tau hubungan kita, artinya kita harus mencari tempat yang tidak bisa mereka lihat."
Devan membuka pintu mobil untuk Mia. Mia menoleh kanan kiri sebelum masuk.
"Kamu harusnya gak usah bukain aku pintu. Ini masih area kantor."
"Oke, aku minta maaf."
Mia menyadari jika Devan kesal dengan permintaannya, tapi ia benar-benar belum siap untuk jadi buah bibir lagi.
Mereka sampai di sebuah gedung perhotelan berbintang. Devan menyerahkan mobilnya pada petugas valet.
"Kenapa ke hotel?"
"Kau bilang kan tidak ingin hubungan kita diketahui orang. Jadi tempat yang paling aman adalah hotel."
__ADS_1
"Devan, kau..." Air mata Mia tiba-tiba menyeruak. Bagaimana bisa Devan berfikir seperti itu.
"Ayo!" Devan menggandenga tangan Mia tanpa menyadari air mata Mia yang sudah hampir jatuh.
Devan membawa Mia ke lift. Dan karena lift tersebut ada beberapa orang, Devan jadi tak memperhatikan Mia.
Begitu lift terbuka, nampaklah sebuah restoran yang sama mewahnya dengan lantai tadi.
"Atas nama, Devan Arkadiana." ucap Devan pada pelayan di sana.
"Mari ikuti saya, tuan."
Devan beralih menatap Mia dan menyadari wajah Mia yang seperti hendak menangis.
"Ada apa Mia? Kau tidak suka tempatnya?"
Mia menggeleng.
"Lalu?"
"Kau membawaku ke restoran."
"Tentu saja, kita akan makan siang. Memangnya aku harus membawamu kemana lagi." Devan tak mengerti.
"Kukira kau.." Mia tak meneruskan ucapannya, dia terlalu malu untuk mengatakannya.
"Tuan?" Pelayan tadi kembali menghampiri Devan dan Mia karena mereka tak mengikuti.
"Ah iya, ayo Mia." Devan kembali menggandeng Mia ke meja mereka.
"Anda ingin saya bawakan menunya?"
"Ya,"
"Silakan."
Devan menerima buku menu tersebut.
"Kau ingin pesan apa?"
Mia menggeleng. "Kau saja yang pesan."
"Oke, aku pesan ini dan ini, lalu minumnya ini." Devan menunjuk yang ada di menu.
"Baik, tuan. Mohon ditunggu."
Setelah pelayan itu pergi Devan kembali menatap Mia.
"Jadi, apa yang kau pikirkan?"
"Aku pikir kau benar-benar akan mengajakku ke kamar hotel." Mia mengatakannya dengan pelan.
Devan tersenyum lebar hingga menampilkan sederet giginya.
"Kamu pikir aku lelaki macam apa? Membawa gadisnya ke hotel tengah hari begini."
Wajah Mia cemberut.
"Harusnya kau langsung mengatakan restoran tadi."
"Aku tidak bermaksud menakutimu. Kamu saja yang berfikir terlalu jauh. Tidak kusangka gadis mungilku punya pikiran seliar itu." Devan tampak puas menggoda Mia. Sedangkan Mia merengut kesal sekaligus malu.
"Silakan, tuan, nona." Pelayan membawa semua pesanan.
Mereka memulai menyantap makan mereka masing-masing.
"Sebenarnya aku tidak keberatan jika kau ingin memesan kamar untuk melanjutkan makan siang kita." celetuk Devan ditengah makannya.
"DEEVVV..!!!"
"Hahhaahaa."
***
bersambung....
Kerasa gak sih feel-nya? Aku nulis ini kurang fokus karena mikirin bab yang masih acak-acakan😔
Ini masih dalam masa berbenah ya teman-teman! Setelah aku minta bantuan ke pihak noveltoon akhirnya bab 'Hari H' yang hilang sudah kembali dan otomatis semuanya jadi double.
__ADS_1
Mohon pengertiannya😊