Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
Bukan OB


__ADS_3

"Daddyyyyy!!!!!" Celina berlari menghampiri Alex.


"Ahh sayang kau, aku rindu." Alex membuka tangannya lebar-lebar untuk menyambut putri satu-satunya.


"Kenapa kau ke sini? bukannya pameranmu sebentar lagi?" tanya Alex saat Celina sudah dalam dekapannya.


"Aku rindu daddy." rengek Celina, manja.


"Aku juga sayang."


Celina melepaskan pelukannya.


"Daddy bilang akan menjengukku di sana, tapi tidak pernah datang." gadis itu mempoutkan bibirnya.


"Aku terlalu sibuk akhir-akhir ini. Dan daddy sudah menyuruh Lola untuk mengatur jadwalku agar daddy bisa pergi dua hari sebelum pameranmu digelar."


Raut wajah Celina berubah setelah mendengar penjelasan Alex dan Alex menyadarinya.


"Kau masih membenci Lola?"


"Dia pembunuh mommy." Mata Celina memancarkan sorot kebencian.


"Bukan sayang."


"Kau selalu membelanya!" sentak Celina.


"Aku tidak membelanya, Lola memang tidak salah."


"Bagaimana tidak? jika saja dulu dia tidak hamil anak daddy, mommy tidak akan mati!" Celina mulai histeris.


"Lalu kenapa kau tidak membenci daddy? bukankah daddy juga menghianati mommymu?" Alex menaikkan suaranya.


"Kata siapa aku tidak membenci daddy?" Celina mengatakan itu dengan seringai yang baru kali ini Alex lihat.


"Aku membencimu, dad. Sangat."


Setelah mengatakan itu Celina pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Alex debgan keterkejutannya. Alex merasa ada yang salah dengan putrinya.


***


Mia berangkat ke kantor dengan niat untuk mencari tau tentang cincin itu. Ingin sekali sebenarnya dia melepaskan cincin itu dari tangannya, tapi tidak bisa. Pdahal dia merasa jarinya tidak besar, malahan terbilang kecil karena tubuhnya juga mungil.


"Pagi, Leo!" Mia menyapa Leo yang baru saja tiba. Arka mencebik mendengarnya.


"Pagi, Mia. Tumben pagi banget kamu."


"Ada yang mau aku tanya sama kamu." ucap Mia to the point.


Leo menatap Mia curiga. Terakhir kali Mia bertanya tentang anak haram Mr. Alex.


"Apa?"


"Apa kau tau OB yang selalu membersihkan tempat ini?"


Benar, kan dia yang dia tanyakan selalu tidak terduga.


"Siapa? Pak Agus?"


"Bukan, yang masih muda."


"Ohh, Rini?"


"OB itu laki-laki."


"Kalo begitu aku tidak tau."


"Isshh, masa kau tidak tau. Kamu kan sudah lama kerja di sini."


"Ya mana aku tau, kamu pikir kerjaanku ngurusin OB."


"Huhh,, ya sudah." Mia duduk dengan cemberut.


"Kamu tanyakan saja pada Pak Agus. Pasti dia tau."

__ADS_1


Mata Mia berbinar mendengar perkataan Leo, kemudian berdiri.


"Kau memang pintar, Leo. Terimakasih!!" seru Mia kedian berjalan cepat menuju pintu.


"Mau ke mana?" Leo bertanya sedetik sebelum Mia menyentuh gagang pintu.


"Aku mau menemui Pak Agus."


"Tinggal panggil aja, kenapa ribet?"


"Ahhh, iya. Kau memang benar-benar pintar, Leo." kemudian Mia kembali ke mejanya.


"Kau saja yang bodoh." ledek Leo.


"Cihh, kalo aku bodoh, tidak mungkin aku bertahan lama di sini."


Arka menyaksikan interaksi Leo dan Mia sejak tadi, dan itu membuatnya cemburu. Dia mendekati Leo dan menatapnya tajam.


"Apa setelah kau kecewa karna tak mendapat anak haram Mr.Alex, sekarang incaranmu seorang tukang bersih-bersih?" Leo bertanya sambil terkekeh.


"Bukan urusanmu." Mia menjawab ketus.


Leo semakin terkekeh mendengar jawaban Mia, tapi di dalam hatinya dia risau, takut Mia menemukan seseorang yang membuatnya tertarik sebelum Devan bangun.


Dengan ekor matanya Mia melihat Arka berdiri di belakang Leo dengan tatapan pembunuh. Dia melotot, memberikan kode pada Arka untuk menjauhi Leo tapi Arka tak menggubrisnya.


"Hey kemarilah, jangan di situ." Mia tanpa sadar mengucapkannya dengan lantang, tapi akhirnya membuat Arka melihatnya.


"Apa?" Leo terheran.


"Bukan kamu."


"Lalu siapa? cuma ada aku dan kamu di sini."


"Aku bicara pada seseorang di belakangmu." Mia mengatakan itu sambil melototi Arka.


Leo menoleh ke belakangnya, tak ada apapun.


"Kau gila."


Apa Devan akan tetap menyukainya setelah tau sifat tidak jelasnya ini.


Tok, tok, tok.


Pintu diketuk dari luar.


"Masuk." Mia menyaut, Leo menaikkan alisnya.


"Apa nona, panggil saya?"


"Iya, Pak Agus."


"Ada yang bisa saya bantu?"


Leo memilih mengabaikannya dan melanjutkan pekerjaannya.


"Saya mau tanya pak. Apa ada OB muda di sini? laki-laki."


"Kalo OB ya pasti laki-laki." Leo mengulang kata-kata Mia sebelumnya untuk meledek.


Mia melirik Leo dengan tajam tanpa membalas ledekannya.


"Gimana pak? tapi yang baru-baru ini resign atau cuti gitu pak."


"Kalo OB muda sih banyak, non di Astra. Tapi kalo yang baru resign adanya perempuan non, cuti hamil."


Mia tampak kecewa mendengarnya.


"Kalo yang suka bersihin ruangan ini?"


"Kalo petugas yang ke sini cuma saya sama Rini, non."


"Selain bapak sama Rini?"

__ADS_1


"Gak ada non. Lantai ini cuma saya sama Rini yang bertugas."


"Kalo misalnya Pak Agus atau Rini libur, yang gantiin siapa?" Mia tak berhenti bertanya.


Pak Agus menggaruk kepalanya, merasa bingung dengan pertanyaan atasannya.


"Kalo saya suka digantiin Dadang, non. Tapi kalo Rini saya gak tau. Memangnya non mau cari siapa?" Kali ini Pak Agus tak bisa menahan rasa penasarannya.


Mia tak langsung menjawab, tidak menduga akan mendapat pertanyaan balik.


"Gini..." Mia bingung bagaimana menjawabnya.


Pak Agus menunggu.


"Ada barang saya yang dia bawa. Iya itu."


"Ohh, kalo gitu non sebutin aja ciri-cirinya. Biar saya coba cocokin sama semua OB."


"Ciri-cirinya, tinggi, putih, ganteng, idungnya mancung, terus apalagi ya..."Mia mendeskripsikan sambil menatap Arka.


"Non yakin kalo itu OB? kok ciri-cirinya kayak artis aja." Pak Agus sedikit menahan tawa.


Mia nyengir kuda.


"Pokoknya itu lah pak, tolong dicari ya."


"Baik, non. Kalo begitu saya permisi."


Mia mengangguk lalu menoleh pada Arka.


"Sepertinya Aku memang bukan OB. Kamu dengar kan tadi, katanya wajahku gak sesuai sama kriteria OB." Arka tampak girang saat mengatakannya.


Mia tidak menjawab, dia berjalan lesu kembali ke mejanya.


"Kamu ini sebenarnya nyari siapa sih? Sejak kamu kerja di sini sudah dua kali kamu menanyakan seseorang yang tidak jelas."


Aku takut kamu nyari seseorang yang kamu suka, gimana kalo Devan bangun dan kamu menyukai orang lain.


"Andai aku punya potonya, aku bakal kasih liat kamu." jawab Mia sambil menatap Arka yang dibalas dengan usapan dikepalanya.


Leo tidak bertanya lagi.


"Ohya, Leo apa kamu tau tentang cincin ini?"


"Cincin apa?"


Mia mengacungkan tangan di mana cincin itu disematkan.


Leo memicingkan matanya, tapi sedetik kemudian melotot. Melihat reaksi Leo, Arka dan Mia yakin Leo tau sesuatu.


"Kau tau?"


"Tidak."


Arka tampak tak percaya.


"Dari mana kamu dapat cincin itu?"


"Aku menemukannya di bawah meja itu." Mia menunjuk meja tamu.


"Kapan?"


"Saat hari pertama aku bekerja di sini."


"Kenapa baru nanya sekarang?"


"Hehe, aku tidak bisa melepasnya, aku takut dianggap pencuri."


"Benar kamu gak tau cincin ini milik siapa?"


"Enggak, aku gak tau."


Leo langsung beranjak pergi, dia tak mau Mia menanyakan apapun lagi. Arka dan Mia menatap kepergian Leo dengan tatapan yang berbeda.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2