Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
Teman Kampung


__ADS_3

"Kamu ikut ya?" rengek Devan sekali lagi. Entah sudah berapa kali Devan meminta Mia ikut dengannya. Leo saja sudah jengah dengannya.


Besok adalah jadwal Devan check up ke Rumah Sakit Singapura. Jadi malam ini Devan dan Leo akan berangkat ke Singapura.


"Jika aku ikut siapa yang akan menggantikanmu di kantor?" Jawab Mia yang juga sudah dia ucapkan beberapa kali.


"Biarin aja, sehari kosong gak akan ada masalah. Atau enggak kamu ikut terus Leo yang tinggal." Devan seperti mendapatkan ide brilian. Kenapa tidak terpikirkan dari tadi!


"Jangan ngawur deh! udah sana masuk, nanti ketinggalan pesawat."


"Kalo ketinggalan aku tinggal beli tiket lagi." enteng Devan.


Mia berkacak pinggang mendengarnya.


"Kalo kamu tetep ngerengek kayak gini, aku gak akan biarin kamu main ke rumah."


"Kalo gitu, kamu aja yang ke tempatku. Atau enggak kita tinggal bareng."


Mia semakin kesal mendengar ucapan Devan yang semakin melantur.


"Sudahlah, capek ngomong sama kamu. Aku pulang aja. Hati-hati, Leo." Leo mengangguk.


Mia berbalik dengan wajah yang tak bersahabat. Devan langsung menahan Mia.


"Hey hey hey, jangan gitu! Aku akan bergenti merengek dan masuk sekarang." Devan memegang kedua bahu Mia sambil menatapnya teduh.


Mia menghela nafas.


"Tapi seenggaknya kamu kasih aku bekal." Devan tersenyum.


Dahi Mia berkerut bingung.


"Bekal apa? kenapa gak bilang dari tadi kalo kamu mau bawa bekal, kan aku bisa bikinin kamu sesuatu."


Leo menggeleng melihat sisi lain sahabatnya,0 juga dengan kepoĺosan Mia. Sedangkan Devan tersenyum licik.


"Kamu gak perlu bikin, yang fresh aja."


"Apa?"


"Ini."


Cup. Devan mencium tepat di bibir Mia. Dia menahannya selama beberapa detik sebelum kemudian melepasnya.


"Sepertinya cukup buat 24 jam." Devan tersenyum puas kemudian berjalan masuk ke tempat menunggu, meninggalkan Mia yang masih melongo.


"Kami berangkat Mia." ucapan Leo membuatnya sadar.


Wajahnya memerah malu mengingat apa yang baru saja Devan lakukan kemudian melihat sekeliling untuk memastikan tak ada yang melihatnya tadi.


Mia berjalan keluar setelah melihat Devan yang sudah menjauh dan tak terlihat.


***


Mia berangkat ke kantor dengan semangat. Entah kenapa setelah kehadiran Devan, bekerja seperti bukan lagi sebuah beban. Ia seperti memiliki booster alami. Meski sebelumnya pun ia tak pernah merasa malas.


Begitu masuk ke Astra Group, Mia menyapa beberapa karyawan yang berpapasan dengannya. Memang, sebelum ke lift yang menuju ke lantainya, dia harus melewati lantai yang berisikan banyak karyawan Astra Group. Tapi seperti biasa, mereka membalasnya dengan tatapan sinis. Entah apa yang membuat mereka begitu tak suka pada Mia.


"Mia?" Seseorang memanggil Mia saat berada di lift.


"Ya?" Mia menoleh ke arah pria yang memanggilnya.


"Ternyata aku gak salah, kamu beneran Mia."


Mia merasa tidak asing dengan pria tersebut, tapi juga tak bisa mengingatnya.


"Lho, kamu gak inget aku? Ini aku Reyhan kakak kelas kamu pas SMA."


Ternyata teman sekampungnya.


"Ah iya kak, maaf aku sedikit lupa."


"Gak apa-apa, sudah lama juga."


"Iya."


"Kamu kerja di sini sejak kapan?"


"Mungkin sudah hampir lima bulan, kak."


"Oh, ternyata kamu senior ya. Aku baru satu bulan di sini. Tapi kok aku gak pernah liat kamu."


"Oh, aku kerja di lantai 15 kak."


"Ohya, itu kan tempat yang punya jabatan tinggi. Emangnya kamu kerja sebagai apa?" Reyhan tampak begitu antusias.


"Aku jadi sekretaris CEO, kak."


"Wah, hebat banget kamu, baru lulus udah jadi sekretaris aja."


"Hehe, lagi hoki mungkin kak."


Pintu lift terbuka di lantai 10.


"Aku harus turun di sini, kapan-kapan kita harus hangout buat ngobrol-ngobrol."


"Iya, kak." Mia tersenyum saat Reyhan melambaikan tangannya sebelum pintu lift tertutup.


***


Devan telah menyelesaikan semua pemeriksaannya di rumah sakit. Dia dan Leo pergi ke restoran Jepang untuk makan siang.


Teringat kekasihnya, dia kemudian menelpon Mia.


"Halo, sayang!" sapa Devan ketika Mia mengangkat panggilannya.


Leo yang sedang memesan mencebikkan bibirnya mendengar nada manja Devan.

__ADS_1


"Sudah makan siang?"


"Belum."


"Kenapa belum? masih nunggu kantin sepi?"


"Enggak kok, ini aku udah di kantin, udah ambil makanan juga."


"Terus kenapa kamu bilang belum?"


"Ya karna aku emang belum memakannya."


"Oke oke, kalo begitu aku tutup telponnya. Pesananku juga sudah datang."


"Hm.."


"Aku akan pulang nanti sore."


"Iya."


"Love you.."


"Hmm.."


"Kenapa gak dibales?"


"Apa?"


"Ah udahlah kalo memang kamu gak mau. Aku tutup."


Tut.. Devan benar-benar mematikan panggilannya. Bisa Mia tebak kalo Devan saat ini sedang merajuk.


Mia menyimpan ponselnya lalu mulai memakan makanannya. Hari ini, Mia makan di waktu yang sama dengan yang lain. Jika biasanya Mia makan saat orang lain bubar, kali ini tidak, alasannya karena dia tidak sarapan.


"Boleh aku duduk di sini?"


Reyhan duduk di depan Mia.


"Sepertinya udah telat buat nanya, kak." Mia tersenyum lucu, begitupun Reyhan, dia ikut tersenyum melihat Mia.


"Kok aku baru kali ini liat kamu di kantin?"


"Ohh, biasanya aku ke sini pas yang lain udah bubar,"


"Kenapa?"


"Eh liat tuh si cewe so' itu lagi caper sama Reyhan karyawan baru." ucap satu wanita ke temannya.


"Iya ih, awal awal dia caper banget sama Tuan Leo, sekarang sama Reyhan."


"Kayaknya dia ditolak deh sama Tuan Leo, jadinya dia ngejar Reyhan."


Begitulah kira-kira pendapat karyawan lain pada Mia. Mia yang mendengarnya hanya tersenyum kecut kemudian memandang Reyhan yang juga sedang memandangnya dengan sendu.


"Terlalu berisik, kak kalo rame." Mia melanjutkan makannya, begitu juga dengan Reyhan. Dia tak berani berkata apa-apa lagi.


"Aku juga."


"Ohya, Mia aku boleh minta nomer hape kamu?"


Mia mengangguk. "Sini hape kak Reyhan."


Reyhan menyerahkan ponselnya. Lalu Mia mengetik nomornya di sana.


"Nih."


"Oke, makasih. Nanti aku kirim pesan boleh?"


"Oke. Aku duluan."


Reyhan mengangguk.


Kali ini Reyhan tak akan menyiakan kesempatannya lagi. Dia akan benar-benar mendekati Mia.


Sejak sma, Reyhan memang sudah menyukai Mia. Tapi, karena saat itu temannya juga menyukai Mia jadi dia tidak berani menyatakan perasaannya karena tidak ingin merusak pertemanan mereka. Tapi kali ini dia tidak punya penghalang seperti itu, jadi dia akan terus maju.


Reyhan tidak tau jika penghalannya kali ini lebih berbahaya dari rusaknya pertemanan. Kemungkinan hidupnya yang akan rusak jika sampai Devan tau.


***


Devan dan Leo sudah kembali dari Singapura dan baru saja tiba di bandara.


"Lo duluan aja, gue mau langsung ke rumah Mia."


"Really? Lo gak istirahat dulu?"


"Gak, gue udah kangen sama dia."


"Tadi aja lu so' so'an ngambek."


"Makanya sekarang gue mau minta dibujuk."


"Inget jangan kecapean, atur nafas kata dokter." Leo mengingatkan dengan maksud lain.


"Gue gak kayak lu ya, begitu ketemu langsung hajar. Hubungan gue sama Mia tuh sehat." Devan mengerti maksud Leo.


"Lo ngatain hubungan gue sama Celina gak sehat?"


"Bukan gue yang bilang." Devan mengangkat bahunya kemudian memasuki mobilnya.


"Sayang." Leo dan Devan menoleh ke sumber suara yang ternyata adalah


Celina. Dia langsung merangkul lengan Leo posesif.


"Hai, Dev."


Devan menunjukan smirknya.

__ADS_1


"Kayaknya elo deh yang harus atur nafas."


"Sialan, lo!" umpat Leo, tapi sepertinya tidak dia dengar karena Devan sudah melaju dengan mobilnya.


"Ayo, aku sengaja jemput kamu karena aku rindu." Celina merengek manja dan Leo tersenyum.


"Ayo, kita ke tempatku untuk meraih surga ke-7." bisiknya pada Celina membuat Celina tersipu sekaligus senang.


***


Mia baru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah dia biarkan terurai untuk mengering sendiri.


Ting..


Ponselnya berbunyi tanda pesan masuk.


"Hai, Mia. Ini aku Reyhan."


Mia tersenyum kecil, kemudian membalasnya.


"Halo, kak."


"Kau sedang apa?Apa aku mengganggu?"


"Enggak, kok. Aku lagi santai."


"Bagus deh. Besok pulang kerja kamu ada janji?"


"Enggak. Kenapa?"


"Aku mau ngajak kamu makan malam. Boleh?"


"Aku gak bisa janji, kak. Soalnya kadang suka ada lembur dadakan."


"Oh gitu ya."


"Iya. Tapi kalo misal gak lembur aku kabari."


"Oke deh kalo gitu. Selamat malam, Mia."


Mia tak membalasnya lagi karena mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Dia mengintip dari jendela sampin pintu dan ternyata itu Devan.


Mia panik dengan kedatangan Devan. Bukan karena tak suka, tapi karena penampilannya saat ini benar-benar berantakan. Entah kenapa dia merasa akan malu jika berhadapan dengan Devan dengan penampilan seperti ini, dulu dengan Arka dia sama sekali tak memikirkan penampilan. Padahal Arka dan Devan adalah orang yang sama.


Saat hendak berbalik menuju ke kamar, Devan lebih dulu melihat Mia mengintip.


"Buka, pintunya! aku sudah melihatmu."


Mau tak mau Mia langsung membuka pintu dengan wajah tersenyum kaku. Sedangkan Devan menunjukkan wajah merajuknya.


"Kenapa kabur?"


"Aku cuma mau simpan handuk ini." Mia beralasan.


"Kamu baru mandi?"


"Iya."


Devan memperhatikan penampilan Mia dari atas sampai bawah kemudian ke atas lagi, tepatnya ke wajah Mia.


"Kenapa menatapku seperti itu?"


"Enggak, ayo masuk! Bahaya kalo orang lain liat kamu kayak gini." Devan takut orang akan berpikiran kotor seperti dirinya saat melihat Mia, karena Mia terlihat sangat seksi dengan rambut basah yang acak-acakan. Ditambah dengan setelan celana pendek dengan kaos oversize yang sedikit miring di sebelah bahunya. Juga wajah yang sangat polos tanpa apapun.


Sayangnya, Mia mimikirkan hal lain. Dia menyangka jika Devan menyuruhnya masuk karena malu jika punya kekasih acak-acakan seperti Mia.


"Mau kemana?" tanya Devan yang melihat Mia melewati sofa yang biasa mereka duduki.


"Ke kamar, mau dandan." ketus Mia.


"Kenapa harus dandan? Ini kan sudah malam. Memangnya mau kemana?"


"Gak kemana-mana, cuma takutnya nanti tiba-tiba ada tamu dan penampilanku begini bakal bikin kamu malu." Mia melangkah lagi.


"Hey." Devan membalikkan tubuh Mia agar menghadapnya.


"Kenapa kamu bilang kayak gitu? siapa yang malu?"


"Kamu lah."


"Kapan aku bilang?"


"Tadi kan kamu bilang jangan sampe ada orang yang liat aku. Tandanya kamu malu dan gak suka kan sama penampilan aku." Mata Mia sudah berair hanya tinggal menunggu dorongan yang lebih kuat.


Devan menghembuskan nafasnya lalu terkekeh mendengar kata-kata Mia.


"Aku gak malu, aku cuma..." Devan tak meneruskan ucapannya.


"Cuma apa?" Mia semakin kesal dibuatnya.


Devan mendekat satu langkah, kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Mia.


"Aku cuma gak mau orang lain melihat keseksian kamu." Devan berbisik tepat di telinga Mia. Seketika wajah Mia memerah. Benar-benar tak menyangka ternyata itu yang Devan pikirkan.


Devan memundurkan wajahnya agar behadapan dengan wajah Mia. Dia hanya memberi jarak 3cm.


Hembusan nafas keduanya beradu. Wajah Mia semakin terasa panas ditatap intens seperti itu.


Devan sudah tak dapat menahannya lagi, dia mencium bibir merona Mia dengan sedikit menuntut namun tetap lembut. Ini adalah ciuman pertama Devan jika tak menghitung saat menjadi Arka.


Devan melepaskan ciumannya ketika dia merasa tak akan bisa mengontrol jika dia melanjutkan. Dia tersenyum pada Mia, begitu pun sebaliknya.


Rasa yang tumbuh antara keduanya semakin hari semakin meroket. Melambung tinggi ke angkasa.


***


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2