
Besoknya, Mia mencoba mencari tau tentang Mr.Alex sebagai bentuk janjinya pada Arka.
"Leo, aku mau tanya boleh?"
Saat ini mereka tengah bekerja, duduk di meja masing-masing.
"Nanya apa?" Leo sama sekali tidak menolehkan kepalanya pada Mia.
"Mr.Alex punya anak gak?"
"Hah?" kali ini Leo menatap Mia heran.
"Kenapa tiba-tiba nanyain Mr.Alex?"
"Ko malah balik nanya sih." Mia mengerucutkan bibirnya karna kesal.
"Ya kamu mau apa nanya-nanya tentang Mr Alex."
"Ya pengen tau aja, siapa tau ada yang jodoh gitu sama saya, hehe." Mia terpaksa berbohong supaya tidak terlihat mencurigakan.
"Kamu itu baru ketemu sekali udah pengen jadi menantu. Nanti bukannya jadi mantu malah kamu jadi istrinya."
"Ko gitu? maksudnya gimana?" Mia malah dibuat bingung oleh kata-kata Leo.
"Mr.Alex itu penjahat wanita, biarpun udah tua."
"Ohhh." Mia manggut-manggut.
"Eh ko malah keluar dari topik, saya kan nanyanya Mr.Alex pnya anak apa enggak."
"Ck.. Harapan kamu gak bakal terwujud kalo mau jadi mantunya, karna Mr.Alex cuma punya satu anak dan itu perempuan."
"Gitu ya? Kalo anak di luar nikah? Kan dia pemain wanita tuh, siapa tau ada gitu anak laki-lakinya yang gak diketahui."
"Mana saya tau, kamu nanyanya aja anak yang gak diketahui."
Mendengar itu Mia mengerucutkan bibirnya, kesal.
"Lagian kamu ngapain nanya-nanya tentang Mr.Alex, aneh banget."
"Enggak ko, cuma penasaran aja."
__ADS_1
Leo menatap Mia, curiga, sedangkan yang ditatap mencoba mencari kesibukan untuk menutupi kegugupannya.
"A,,aku ke toilet dulu." Mia kabur, karna tidak tahan ditatap penuh kecurigaan oleh Leo.
***
Hari ini Arka tidak ikut Mia ke kantornya, dia ingin mencari sendiri tentang dirinya. Setelah kemarin mendapat sekelebat bayangan, rasa penasaran tentang siapa dirinya dan bagaimana dia bisa ada di sini terus mencuat.
"Aku harus kemana mencari si mister bule itu. Nyesel gak nanya Mia, nama perusahaan Mr.Alex."
Sejak tadi Arka sudah berkeliling di sejumlah kawasan perkantoran. Hilang-timbul, kesana kemari mencari Mr.Alex yang membuatnya merasakan nyeri di kepala, kemarin.
"Aneh sekali, aku kan hantu tapi kenapa gak pernah ketemu sama hantu lain? Kan seru bisa nanya-nanya." Saat ini Arka tengah duduk di atas layar besar yang menayangkan sebuah iklan.
Matanya jelalatan mencari orang di tengah banyaknya orang di jalan ini. Lalu saat matanya tak sengaja menatap ke gedung kaca di depannya, dia melihat Mr.Alex sedang duduk bersama wanita yang kemarin dia lihat di restoran. Arka menengadah ke atas untuk melihat nama gedung itu dan di sana tertulis Giant Family.
Cling. Dalam sekejap Arka sudah ada di hadapan Mr.Alex, sangat dekat hingga jika Arka tak menghindar hidung mereka pasti sudah bersentuhan.
"Astaga, aku kebablasan." seru Arka yang kini sudah menjauhkan wajahnya dari Mr.Alex, lalu duduk di sofa single dekat situ.
Arka tak terlalu menyimak obrolan antara Mr.Alex dan Lola karna dia merasa tak akan mengerti isi pembicaraan itu. Dia bangkit, untuk melihat-lihat isi ruangan tersebut yang adalah ruangan direktur.
Figura pertama adalah poto Mr.Alex dengan seorang wanita cantik yang Arka tebak adalah istrinya. Poto kedua ada Mr.Alex dengan wanita yang sama tapi ditengahnya ada seorang gadis muda. Sisanya pun hanya berisi tiga orang itu dengan gaya dan waktu yang berbeda.
"Sepertinya memang Mr.Alex hanya punya satu putri."
"Jika aku bukan anaknya lalu ada hubungan apa aku dengan Mr.Alex? "
"Atau aku anak haramnya?"
"Tapi tidak mungkin, dilihat dari poto-poto keluarga yang memenuhi rak ruang kerjanya, tidak mungkin dia-.." kata-kata Arka langsung terputus ketika melihat Mr.Alex dan Lola sedang bercum-bu mesra di tempat yang sama ketika mereka bicara tadi. Hanya saja kini Lola sudah berpindah dipangkuan pria bule itu.
"Well, sepertinya masih ada harapan kalo memang aku anak haramnya."
Setelah mengatakan itu, kepala Arka terasa sakit dan bayangan buram itu kembali ia lihat. Adegan yang sama dengan apa yang sekarang di depannya, dua orang yang sedang bercum-bu.
Lalu, Arka menghilang dari sana.
Arka tiba di sebuah ruangan serba putih, tempat yang sama di saat sebelum dia tiba di rumah Mia.
"Kenapa aku ada di sini lagi?" Arka bertanya entah kepada siapa.
__ADS_1
Lalu terdengar suara.
"Arka!" Itu suara Mia, tapi Arka tidak tau harus bagaimana, dia saja tidak bisa melihat Mia ada dì mana.
***
Begitu sampai di rumah, Mia tak menemukan Arka di ruang tengah. Lalu dia pergi ke kamar untuk mengambil baju ganti. Dengan perlahan Mia membuka pintu kamarnya, takut Arka menjahilinya dengan muncul tiba-tiba, tapi sampai pintu terbuka lebar dia tak menemukan Arka juga.
"Apa dia belum pulang?"
"Sudahlah, kenapa juga aku mikirin dia."
Mia melenggang ke kamar mandi setelah mengambil baju gantinya.
Selesai mandi, Mia memasak nasi goreng sisa nasi tadi pagi. Sesekali dia menengok tak tentu arah, mencari keberadaan Arka. Namun, sampai Mia selesai makan pun Arka tak menunjukkan batang hidungnya.
"Arka!" panggil Mia.
"Arka? kau dimana?" hening. Tak ada jawaban dari siapa pun.
Tak.. Mia mendengar suara dari arah jendela.
"Arka?" Mia berlari ke arah suara.
Tapi ternyata itu hanya ranting dari pohon mangga ibu kontrakan. Dengan kecewa Mia duduk di depan tv, lalu menyalakannya.
Hampir satu jam Mia di sana, dia selalu menoleh setiap kali mendengar suara sekecil apapun yang tertangkap oleh telinganya. Mia mendesah, ada sedikit rasa hampa di hatinya.
Mia mematikan tv, lalu pergi ke kamar karna rasa kantuk menyerangnya. Tapi ketika sudah merebahkan diri di kasur, rasa kantuknya hilang. Dia kembali memikirkan kemana kira-kira Arka pergi. Lalu satu pertanyaan muncul di benaknya.
"Apa dia sudah menemukan kebenarannya dan pergi dengan tenang?"
"Kalo memang begiti, syukurlah. Berarti aku sekarang bisa hidup tenang tanpa gangguan hantu itu." ucap Mia dengan rasa sesak.
Setetes air mata menjadi pengantar tidur Mia malam itu.
***
bersambung...
Terimakasih untuk yang sudah membaca karyaku, semoga kalian suka😊. Mohon koreksinya jika ada typo dan kalimat yang kurang enak dibaca.
__ADS_1