Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
06


__ADS_3

Celina mendatangi apartemen Leo saat malam tiba. Dia tidak datang ke kantor tadi siang karena tidak ingin mengganggu pekerjaan Leo. Jadi dia datang setelah memastikan Leo telah selesai bekerja.


Dia menekan tombol kode pintu apartemen Leo yang selama ini dia ketahui dan ternyata Leo belum menggantinya, jadi dia bisa masuk dengan mudah.


"Kenapa kau hobi sekali menerobos rumah orang?" Celina dikejutkan dengan Leo yang berdiri tepat di depan pintu begitu dia membuka pintunya.


Celina hanya cengengesan melihat tampak garang Leo.


"Siapa suruh kodenya tidak diganti. Itu artinya kau memang mengharapkan aku menerobos rumahmu." Celina menabrak bahu Leo untuk masuk lalu duduk di sofa ruang tamu.


Leo hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kekasihnya itu. Apa mereka masih sepasang kekasih? Padahal Leo sendiri yang mengabaikan Celina.


"Ada apa?" Leo duduk di depan Celina sambil bersidekap.


"Hanya rindu." Ucap Celina dengan wajah sendu. Leo ditatap seperti itu hatinya sedikit terenyuh, tapi wajahnya tetap datar malah terkesan dingin.


"Aku ingin bertanya." Celina mengalihkan pembicaraan, wajah memelasnya tidak mempan jadi untuk apa dia mempertahankannya, dia kembali merubah raut wajahnya.


Leo menaikkan alisnya.


"Apa kau datang ke Amerika dua tahun lalu?"


Leo diam.


"Kenapa tidak menemuiku? Mia bilang kalo kau mengatakan 'aku tidak ingin datang ke pernikahan mereka' padahal kita sama sekali tidak bertemu."


"Aku berbohong pada mereka, agar mereka tidak terus bertanya tentangmu. Itu mengganggu."


Celina tak percaya dengan apa yang baru dia dengar.


"Lalu siapa yang kau temui? " Celina menaikkan intonasinya.


"Kenapa kau ingin tau? Siapa pun yang aku temui bukan urusanmu."


"Benarkah? Apa kau sudah tidak menganggapku sebagai kekasih lagi?" suara Celina sudah serak tangisnya hampir pecah.


"Memangnya kapan aku menjadikanmu sebagai kekasihku?"


Runtuh sudah pertahanan Celina, air matanya turun seketika. Lidahnya kelu tak kuasa lagi menjawab barang satu kata. Leo tak pernah menganggapnya kekasih? Lalu yang mereka jalani sebelum Celina ke Amerika itu apa? Leo anggap apa?


Leo berdiri tak menatap wajah Celina.


"Kau tau pintu keluarnya." Lalu Leo pergi dari sana, meninggalkan Celina yang masih menangis tanpa suara.


"Jangan pernah kembali lagi atau aku akan menghubungi keamanan." ucap Leo lagi sebelum masuk ke sebuah pintu.


Celina berdiri lalu melangkah pergi dengan membanting pintu. Wajar jika Celina marah dan kecewa. Leo mengatakan hal yang begitu menyakitkan baginya.


Celina mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, beruntung jalanan cukup sepi. Pikirannya kalut, hatinya terasa ditikam ribuan pisau namun air matanya sudah tak keluar, hanya tatapan datar yang memandang fokus jalanan.


Sementara Leo, tangannya kini sudah berlumuran darah. Sejak Celina pergi dia memukuli dinding dengan emosi. Dia juga begitu tersakiti dengan apa yang dia ucapkan sendiri. Hatinya mencinta sekaligus membenci.


***


Celina langsung pergi ke sebuah club malam terkenal. Dia butuh pengalihan agar tak mencelakai dirinya sendiri. Dia memesan tiga botol minuman berkadar alkohol tinggi. Ketika baru minum setengah botol ponselnya berdering.

__ADS_1


"Halo?"


"Kau dimana? kenapa berisik sekali?"


"Aku di club. Ada apa?"


"Club mana? aku akan kesana!"


Celina menyebutkan nama club itu.


"Oke, aku akan kesana." Kris langsung mematikan sambungan teleponnya. Celina tak peduki dengan itu langsung melanjutkan minumnya.


Celina mulai merasakan efek minumannya, dia turun ke lantai dansa, meninggalkan barang-barangnya di sofa. Celina menari mengikuti alunan musik yang diputar oleh DJ.


Parasnya yang cantik dan bodynya yang seksi membuat Celina jadi incaran para pria, bahkan ada beberapa pria yang secara terang-terangan mendekati Celina dan mengajaknya berdansa. Tapi Celina sedang kalut, jadi dia menjauh dari mereka dan melanjutkan tariannya, meliukkan badannya dengan indah.


Lagi-lagi ada seorang pria mendekati Celina, pria itu menari seperti yang lain tapi kakinya perlahan mendekat pada Celina hingga Celina menubruk pria tersebut membuatnya oleng dan hampir jatuh, tapi pria itu menahannya dengan memeluk pinggang Celina. Mereka bertatapan layaknya di film romantis.


"Maaf." Celina hendak melepaskan diri, tapi pinggangnya ditahan oleh pria tersebut.


"Tuan?" Celina menatap tajam pria itu.


"Biarkan aku menari denganmu sebentar."


"Tidak, lepaskan aku." Efek alkohol membuat tenaga Celina berkurang. Dan semakin Celina bergerak semakin pria itu mengeratkan tangannya.


"Lepaskan! Dia kekasihku." Kris tiba-tiba datang menghampiri mereka. Tatapannya setajam serigala yang melihat musuhnya membuat pria tadi segan dan langsung melepaskan tangannya dari pinggang Celina.


"Maaf, kukira dia free." Pria itu langsung pergi menembus kerumunan orang yang tengah menari. Tanpa kata Kris menarik Celina menuju mejanya lagi.


Tadi, begitu masuk dia langsung mencari Celina tapi tidak menemukannya. Dia mencoba menghubungi Celina dan menemukan ponsel Celina tergeletak di sebuah meja, yang itu berarri Celina masih ada di sini. Lalu dia menelusuri lantai dansa dengan matanya dan menemukan pemandangan yang membuat dadanya bergemuruh.


"Ya." Celina mengambil gelasnya yang tadi dan meminumnya.


"Minumlah!" Celina menyodorkan botol yang masih baru pada Kris.


"Tidak." tolak Kris, suasana hatinya buruk sejak tadi melihat Celina dipegang oleh laki-laki. Dia memang sudah jatuh cinta dengan Celina.


"Kalo begitu kenapa kesini kalo tidak mau menemaniku minum!" sentak Celina lalu menenggak minuman itu dari botolnya.


Kris mengambil botol itu yang sudah hampir habis.


"Kau kenapa sih?" tanya Kris.


Celina menyandarkan punggungnya. Air matanya tiba-tiba rembes membuat Kris kebingungan.


"Celina?" Kris menyentuh pundak Celina.


"Dia jahat." racau Celina dengan suara mabuknya.


"..."


"Leo jahat." kini Kris paham apa yang membuat Celina seperti ini.


"Dia kenapa?"

__ADS_1


"Dia bilang tak pernah menganggapku kekasih." Celina bangun menghadap Kris.


"Lihat aku!" Tangan Celina memegang kedua pipi Kris sedikit kasar. Wajahnya jadi begitu dekat dengan wajah sembab Celina.


"Apa aku sebegitu tidak menariknya sampai Leo mengabaikanku dengan mudahnya?" Celina menatap tajam Kris yang melongo.


"Tidak,,"


"Aku tidak menarik?"


"Tidak, kau sangat menarik. Kau tidak lihat tadi berapa banyak pria yang berusaha mendekatimu?"


"Lalu kenapa dia tidak bilang tidak pernah menganggapku kekasihnya?"


"Dia hanya bodoh." ucap Kris masih dengan menatap mata Celina.


Celina yang mabuk semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Kris. Tujuannya adalah bibir Kris yang sedikit maju karena tekanan tangannya di kedua sisi. Saat bibir mereka hampir bersentuhan Kris memalingkan wajahnya.


"Cih, kau mengatai Leo bodoh tapi kau juga melakukannya." Celina langsung melepaskan tangannya dari wajah Kris lalu kembali bersandar.


"Aku bukan lelaki bejad yang mengambil keuntungan dari wanita mabuk yang patah hati." Kris mengambil botol bekas Celina lalu menenggaknya. Dia pun sedikit heran dengan dirinya sendiri, padahal sejak pertama kali bertemu dia begitu tergugah dengan bibir Celina.


"Kau sudah memanggil sopir untuk pulang?" Kris menoleh pada Celina, tapi Celina sudah tidur dengan tenangnya. Kris tersenyum melihat itu.


Kris mengeluarkan ponselnya untuk memanggil seorang teman. Dan setelah setengah jam menunggu temannya pun datang.


"Wihh, siapa nih? Cakep bener." Teman Kria langsung menatap Celina yang tertidur dengan berselimut jaket Kris.


"Gak usah kayak gitu liatnya, dia bukan cewek sembarangan." Kris menegur temannya yang bernama Joshua.


"Lo gak bawa mobil kan?" tanya Kris.


"Enggak. Gue bela-belain naik ojol buat lo!" ujar Joshua sedikit kesal.


Kris melempar kunci mobilnya pada Joshua dan Joshua menangkapnya.


"Bawa mobil gue ke tempat lo, besok gue ambil."


"Terus lo gimana?"


"Gue mau bawa mobil cewek ini."


"Mau lo bawa kemana tuh cewek? Hotel?" tatapan nakal Joshua melirik Celina.


Plak.. Kris menepak kepala Joshua.


"Jaga mata lo! Dah gue bilang dia bukan cewek kayak gitu. Dia tuh salah satu anak dari kolega bokap gue."


"Oke-oke!" Joshua mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.


"Jadi mau lo bawa kemana?"


"Gue bawa ke apart gue aja, soalnya gue gak tau rumahnya dimana."


"Cari aja maps di mobilnya, pasti ada."

__ADS_1


"Oh iya, tumben lo pinter."


"Sialan lo! yaudah gue cabut duluan." Joshua pergi meninggalkan mereka.


__ADS_2