
Dion memarkirkan mobilnya di depan gedung ruko. Tempat para wirausaha kecil-menengah mencari nafkah. Lalu dia berjalan melewati beberapa ruko dan masuk ke pintu bertuliskan barber shop.
Di dalam, Dion berjalan melewati beberapa orang pekerja lalu masuk lagi ke sebuah pintu kaca gelap. Di situlah orang yang dia tuju berada. Seorang wanita dewasa dengan penampilan nyeleneh. Dia memakai celana jeans ketat dengan atasan croptop bermotif macan. Asap rokok mengepul dari mulutnya. Matanya memandang nakal pada Dion yang berdiri tak jauh darinya.
"Wah wah, lihat siapa yang datang sekarang." Wanita itu bertepuk tangan seolah mengejek.
"Ada yang aku butuhkan." ucap Dion tanpa basa-basi.
"Sudah pasti. Tidak mungkin seorang Dion yang terhormat tiba-tiba datang menemuiku hanya karna rasa rindu bukan?" dia mengatakannya dengan sarkas.
"Aku butuh ini." Dion menaruh sebuah pil berbungkus plastik bening di meja sang wanita.
Wanita itu mengerutkan keningnya melihat pil yang dibawa Dion.
"Kau dapat itu dari mana?"
"Kau tidak perlu tau. Berikan saja pilnya."
"Aku harus tau karna hanya aku yang memproduksi pil itu! Hanya aku, Mirna!" nafas wanita itu memburu karena amarah.
"Aku rasa kau sudah tau. Bukankah kalian masih berduka."
"Kau!!" Mirna menunjuk Dion dengan amarah yang memuncak.
"Aku penasaran siapa bedebah licik yang membunuh anak buahku setelah mengambil keuntungan darinya. Aku tidak menyangka seorang Dion yang terhormat mampu melakukan itu."
"Jangan lupa, sifat licikku itu menurun darimu, ibu." Seringaian Dion melebar.
"HAH! Setelah sekian tahun meninggalkanku kini kau masih menganggapku ibu."
"Tentu saja, hanya ibu yang aku punya saat ini."
"Tidak perlu repot berpura-pura untuk mendapatkan keinginanmu. Bisnis tetap bisnis meski kau anakku."
Dion mengangguk dengan bibir menipis.
"Berikan aku dua botol pil itu."
"Itu mudah, berikan saja uangnya padaku."
Dion mengeluarkan sebuah amplop besar yang isinya begitu tebal, lalu meletakkannya di meja di samping pil tadi.
Mirna mengambil dan membuka amplop tersebut.
"Aku mau dua kali lipat."
"Kau gila! Jumlah itu sudah melebihi harga yang biasa kau tawarkan."
"Anggap saja sebagai kompensasi karna kau telah membunuh anak buah kepercayaanku. Itu harga yang sangat murah dibanding kau harus menggantinya dengan nyawamu. Aku tidak akan berbelas kasihan meski kau adalah darah dagingku." Mirna mengangkat alisnya. Dua orang pria bertubuh besar yang sejak tadi diam di sudut ruangan maju mendekati Dion.
Bugh.. Dion melemparkan satu amplop lagi.
__ADS_1
"Cepat serahkan barangnya!"
Mirna memberi kode pada salah satu pria tadi, lalu pria tersebut mengambil sesuatu dari sebuah brankas yang tersimpan di bawah lantai.
"Kau kubiarkan tau di mana letak penyimpanan rahasiaku karna kau termasuk tamu spesial, Dion." Mirna melihat Dion yang tengah mengamati pria tadi.
"Terimakasih, aku sangat tersanjung." ejek Dion.
Pria itu menyerahkan dua botol kecil pil yang diminta Dion pada Mirna. Lalu Mirna menyerahkannya pada Dion. Namun, sebelum Dion mengambilnya Mirna kembali menarik tangannya.
"Jangan coba-coba untuk menghianatiku seperti apa yang kau lakukan pada anak buahku."
"Tenang saja, aku hanya mewarisi sifatmu, ibu."
Mirna tersenyum. "Bagus." Kemudian Mirna benar-benar menyerahkan botol itu.
Dion menyimpan dua botol kecil itu di saku dalam jaketnya. "Aku pergi." Dia berbalik meninggalkan ruangan itu. Kembali melewati beberapa pria yang sedang antri untuk dicukur rambutnya. Tidak akan ada yang menyangka, jika barber shop ini adalah tempat bandar narkoba beroperasi.
***
Seminggu berlalu, Devan dan Leo masih menemui jalan buntu tentang bagaimana cara Dion atau siapapun memasukkan racun ke dalam minuman kemasan yang masih tersegel. Dan jika itu Dion, bertambah lagi pertanyaannya. Kapan? Lebih masuk akal memang jika Celina pelakunya, karena gadis itu sendirian di dalam apartemen Devan. Tapi, baik Leo maupun Devan sama-sama menyangkal pemikiran tersebut.
Menyinggung tentang Celina, Leo sudah mengambil obat yang selalu Celina minum secara diam-diam saat Celina tidur akhir pekan lalu.
"Apa kalian tidak akan terus seperti utu sepanjang hari?" Mia berkacak pinggang di sebrang meja keduanya. Dia sudah tak tahan lagi melihat kedua atasannya melamun sejak tadi. Ini sudah masuk waktu makan siang, tapi mereka tetap betah dengan posisi mereka yang bersandar di kursi sambil menengadahkan kepala menatap langit-langit.
"Aku tau kalian sedang memikirkan tentang siapa pelakunya, tapi bukankah ini terlalu berlebihan?"
"Kalian bisa melamun di rumah, kenapa repot-repot datang ke kantor?"
Leo dan Devan masih bergeming.
"Ah sudahlah, kalian melamun saja sepuasnya. Lebih baik aku pergi makan siang." Mia berjalan keluar ruangan untuk menuju ke kantin.
Bugh.. Mia menutup pintu dengan sedikit keras.
"Dia marah." seru Devan menoleh pada Leo.
Leo pun menoleh pada Devan.
"Susul sana, dia pacar lo."
"Benar juga."
"Tunggu apa lagi!" Leo geram melihat Devan yang masih duduk bersandar.
Devan kemudian bangkit untuk menyusul Mia. Takut dia semakin marah.
***
"Apa suasananya masih sama seperti dulu?" Devan duduk di depan Mia sambil meletakkan piringnya. Maksud ucapannya adalah tentang Mia yang selalu di jauhi.
__ADS_1
"Seperti yang kau lihat." Mia melirik ke sekitar. Benar saja, banyak pegawai yang bisik-bisik melihat Devan duduk dengan Mia. Devan ikut melirik mereka, membuat semuanya langsung menunduk.
"Leo mana? Apa dia masih melamun?"
"Sudah ada aku di sini, kenapa menanyakan laki-laki lain?"
Mia melirik tajam mendengar jawaban Devan.
"Leo bilang akan pesan makanan."
Mia mengangguk tak peduli.
"Mia."
Mia segera menarik tangannya saat Devan hendak menyentuhnya.
"Maaf." Devan tak sadar.
"Aku duluan." Mia bangkit lalu pergi meninggalkan Devan.
Devan pun segera menyusulnya.
"Hey hey hey!" Devan mernarik tangan Mia ketika berada di koridor sepi.
"Lepas, Dev! Kalo ada yang liat gimana?"
"Kalo gitu ayo ke sini." Devan menarik Mia ke bagian tangga darurat.
"Kamu apa-apaan sih, ini di kantor."
"Aku tau. Tapi di sini udah gak ada orang."
"Terus?"
Greb.. Devan memeluk Mia dengan tiba-tiba. Tentu saja Mia memberontak karena takut ada yang melihat.
"Dev!"
"Segitu takutnya ya ketauan?" Devan melepaskan pelukannya.
Mia mengangguk.
"Kamu gak liat tadi? Kita makan bareng aja mereka udah kayak gitu. Apalagi kalo mereka tau kita pacaran."
"Oke oke. Aku minta maaf. Aku duluan kalo gitu." Devan mengusap puncak rambut Mia, lalu keluar dari tangga darurat. Setelah beberapa saat Mia pun mengikutinya.
Setelah mereka pergi, satu orang lagi keluar dari sana sambil memasukkan ponselnya ke dalam kantung celana.
***
bersambung....
__ADS_1
Finally, babnya udah bener, udah gak acak-acakan lagi. Makasih buat temen-temen yang masih setia membaca😍😍😍