Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
05


__ADS_3

Hari ini Celina ingin mengunjungi Mia di rumahnya. Dia berdandan ala kadarnya, mengenakan atasan hoodie hitam dengan celana jeans pendek sepaha. Toh, tidak akan bertemu Leo juga, pikirnya.


Saat menuruni tangga ponselnya berdering. Celina melihat siapa yang menelpon. Kris, itu yang tertera di layar depannya.


"Halo?"


"Kau sibuk hari ini?"


"Sedikit, kenapa?"


"Tadinya aku ingin mengajakmu makan siang bersama."


"Sepertinya tidak bisa. Aku sudah berjanji akan makan siang bersama temanku."


"Wanita?"


"Apa?"


"Temanmu. Apa dia wanita."


Celina terkekeh.


"Bukan urusanmu dia wanita atau pun pria." Lalu dia memutuskan panggilan secara sepihak. Membuat Kris di sebrang sana tersenyum gemas akan tingkah Celina.


Celina meneruskan langkahnya lalu pergi ke dapur untuk mengambil puding mangga yang telah pelayannya siapkan sesuai perintahnya. Dia mendengar Mia sering mual dan sulit makan, jadi dia berinisiatif memberi Mia sesuatu yang segar dan manis.


Celina mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Suasana hatinya cukup bagus hari ini.


***


Leo melajukan mobilnya ke rumah Devan, karena lagi-lagi Devan tidak masuk kantor dan ada dokumen yang harus Devan sendiri yang menandatanganinya. Alasannya masih sama, yaitu tidak tega meninggalkan Mia. Padahal waktu itu dia melihat Mia baik-baik saja, dan Mia mengatakan kalau dia tidak selemah itu sampai harus ditunggui Devan seharian. Leo jadi curiga, kalo ternyata yang mengalami morning sickness adalah Devan sendiri.


Leo mengerutkan keningnya ketika melihat satu mobil asing yang terparkir di depan rumah Devan. Sepertinya baru saja berhenti karena lampunya masih menyala.


Pintu kemudi mobil tersebut terbuka, tampak seorang wanita berambut pendek keluar dari sana. Kacamata hitam bertengger di hidungnya melindungi mata indah itu dari sinar matahari. Wanita itu berjalan ke pintu penumpang lalu mengambil sesuatu yang dapat dia lihat adalah sebuah kotak bening. Mungkin kue, entahlah.


Celina tak menyadari kehadiran mobil Leo. Dia melangkah menuju pintu yang telah dibuka oleh pelayan.


Leo mengikuti langkah Celina dengan jeda beberapa menit agar tak terlihat kalau dia sudah ada sejak tadi.


"Celina!!" Mia yang menunggu Celina di ruang tamu langsung menyambut kedatangan Celina. Dia melangkah mendekati Celina.


"Hati-hati sayang!" Devan mengingatkan saat melihat Mia berjalan cepat.


"Mia, bagaimana kabarmu?"


"Aku baik. Bagaimana denganmu?"

__ADS_1


"Tidak bisa lebih baik lagi."


"Syukurlah, aku senang kau kembali."


"Me too. Ini, kudengar kau tidak bisa makan makanan berat jadi aku buatkan puding mangga."


"Waahh, terimakasih. Aku akan memakannya nanti." Mia menyerahkan kotak puding itu pada pelayan.


"Buatanmu atau buatan koki?" Cibir Devan.


"Dev!" Mia melotot ada Devan.


"Tentu saja buatan koki, jika aku yang membuatnya maka aku tidak bisa menjamin keselamatan istri dan anakmu." balas Celina sarkasm.


"Sudahlah, ayo duduk." Mia menarik tangan Celina untuk duduk.


"Kau akan terus di sini?" sindir Celina.


"Memangnya kenapa?"


"Tidak."


Mia hanya bisa tersenyum melihat debatan kecil dari suami dan sahabatnya itu.


"Dev!" Leo masuk tanpa peringatan.


Celina langsung mengalihkan pandangannya dari Leo. Dia sudah bertekad untuk balik mengabaikan Leo.


"Ada apa?" tanya Devan.


"Ada dokumen yang harus kau tanda tangani."


"Ayo ke ruang kerjaku." Devan melenggang ke ruang kerjanya, Leo pun mengikuti. Begitu melewati Mia dan Celina dia sedikit melirik Celina tapi wanita itu sama sekali tak melihat ke arahnya. Dalam hati dia bertanya, bagaimana dalam beberapa hari Celina begitu berubah. Dia sudah tak mendatanginya lagi, atau pun menghubunginya.


Di ruang tamu, Mia memperhatikan gerak-gerik Celina dan Leo. Sedikit banyak dia tau hubungan Leo-Celina dari Devan, tapi sekaramg dia melihatmya langsung rasanya tidak percaya mereka yang dulu begitu mesra melebihi kemesraan dia dengan Devan kini begitu dingin bahkan untuk sekedar saling menyapa.


"Kita ngobrol di atas?" ajak Mia.


"Baiklah ayo."


Mia dan Celina menaikki tangga menuju ruang santai di lantai dua. Suasana nyaman langsung Celina rasakan begitu memasuki ruangan tersebut. Ruangan yang bisa dibilang seperti rumah kaca versi mini, banyak tanaman berjajar memenuhi hampir seluruh ruangan tersebut.


Mia dan Celina duduk di sebuah sofa di sudut ruangan. Atap di bagian ini tertutup, tidak terbuat dari kaca sehingga tidak membuat silau ataupun kepanasan.


"Gimana hubungan kamu sama Leo?"


"Seperti yang kamu lihat, kita udah kayak orang asing."

__ADS_1


"Kenapa bisa?"


"Aku gak tau. Sebelum aku pergi ke Amerika kami baik-baik saja. Dia bahkan berjanji akan sering menemuiku di sana, tapi sekali pun dia tidak menemuiku."


Mia mengerutkan dahinya mendengar itu.


"Tapi Cel, seminggu sebelum aku dan Devan menikah, dia pergi menemuimu."


"Apa kau bilang?"


"Dia pergi ke Amerika untuk menemuimu. Dia bilang ingin mengajakmu menghadiri pernikahan kami. Tapi, dua hari kemudian dia kembali dan bilang kalau kau tidak bisa hadir."


"Apa maksudmu? Aku tidak pernah bertemu Leo sama sekali di Amerika."


Celina memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.


"Aku mau tanya langsung sama Leo." Celina berdiri lalu berjalan cepat menuruni tangga.


"Di mana Leo?" tanya Celina pada Devan yang tampak keluar dari sebuah ruangan.


"Dia sudah keluar."


Tanpa kata lagi, Celina langsung berlari keluar rumah untuk mengejar Leo. Tapi sampai di luar mobil Leo sudah hampir keluar dari gerbang rumah Devan. Dengan nafas terengah-engah Celina menatap kepergian Leo kecewa.


"Sebenarnya ada apa?" Devan bertanya pada Celina. Dia mengikutinya karena ingin tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa benar Leo pernah ke Amerika?"


"Iya. Memangnya kenapa?"


"Lalu apa yang dia bilang saat pulang?" Dia ingin memastikan lagi kebenarannya.


"Dia bilang kau tidak ingin menghadiri pernikahan kami." Persis seperti yang Mia katakan.


"Tidak mungkin aku tidak mau datang!" Celina menaikkan intonasinya.


"Aku tau. Tapi setiap aku tanya alasan sebenarnya dia selalu menghindar bahkan marah."


Celina dan Devan sama-sama diam. Sama-sama memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Kebenaran apa yang Leo sembunyikan.


"Sebaiknya aku pulang. Sampaikan maafku pada Mia."


Devan mengangguk. "Oke, hati-hati."


"Bicaralah dengan Leo saat dia sudah siap, jangan memaksanya." ucap Devan ketika Celina hendak membuka pintu mobilnya.


"Ya, aku tau." Kemudian Celina pergi meninggalkan pelataran rumah Devan.

__ADS_1


__ADS_2