
Leo berangkat ke kantor dengan wajah sumringah. Ini wajah ceria pertamanya setelah lebih dari dua tahun berwajah dingin.
"Lo kayak orang gila!" tegur Devan pada Leo yang senyum-senyum sendiri. Dia bahkan tidak menyadari kehadiran Devan yang sudah memperhatikannya sejak tadi. Leo hanya mendelik dan kembali fokus pada monitornya dengan wajah datar.
"Kayaknya semua udah clear." tebak Devan. Leo mengangkat alisnya sebagai jawaban.
"Berapa ronde?" tanya Devan lagi.
Pletak!
Leo melemparkan bolpoinnya pada Devan yang berwajah mesum.
"Sialan lo!"
"Lagian lo usil amat jadi orang."
"Ya kan gue cuma penasaran." Devan duduk di kursinya sambil mengusap dahinya.
Devan menghidupkan komputernya dan mulai mengecek pekerjaannya.
"Eh tapi gue nanya serius, berapa ronde semalem?"
"Sekali lagi lo ngomong gue banting pake ini!" Leo mengacungkan tempat pensilnya yang terbuat dari kayu jati.
"Hehe.." Devan cengengesan mengangkat tangannya.
Akhirnya Devan menyerah, dia memilih kembali melakukan tugasnya daripada menggoda Leo lagi. Bisa-biaa kepalanya bocor jika tempat pensil itu terbag ke kepalanya.
***
Celina pergi ke kantor sesuai jadwalnya. Dia memang tidak bekerja penuh di sana, hanya mengerjakan beberapa proyek yang Alex tugaskan padanya.
"Dad?" Celina memunculkan kepalanya saja. Terlihat Alex tengah fokus memeriksa dokumen, lalu dia melirik Celina sebentar setelah itu kembali pada dokumennya.
Celina tanpa bertanya, meski agak heran pada Alex yang tak menyambutnya.
"Di mana dokumen yang harus bawa untuk rapat kali ini?"
Alex tak menjawab, kali ini dia bahkan tidak meliriknya sama sekali.
"Apa daddy sesibuk itu?" Celina memeluk Alex dari belakang tapi dengan cepat Alex menghindar.
"Daddy kenapa?" Celina semakin yakin kalau ada yang tidak beres.
"Kau masih bertanya?" sergah Alex.
Celina mengerutkan keningnya, bingung. Kemudian dia teringat sesuatu.
"Apa daddy sudah tau?" tanya Celina hati-hati.
"Tau apa?"
"Tentang kemarin? tentang aku dan Leo."
"Baguslah kalau kau mengerti." Alex bicara dengan dingin, tidak ada nada lembut dan hangat seperti yang biasa ia lakukan ketika bicara dengan putrinya.
"Ternyata kami hanya salah paham."
__ADS_1
"Salah paham?"
"Ya, dia menjauhiku karna melihatku dipeluk oleh Edward. Karena dia sangat mencintaiku, tentu saja dia kecewa dan berpikir kalau aku menghianatinya."
"Cinta? Kalau dia begitu mencintaimu dia tidak akan menjauhimu begitu saja tanpa penjelasan!"
"Tapi, dad semuanya sudah kami selesaikan. Dan kami sekarang sudah bersama kembali."
Celina masih bicara dengan lembut, dia tak ingin Alex semakin meledak.
Alex tak menjawab lagi. Dia malah mengabaikan Celina.
"Ayolah, dad restui saja kami." Celina mengeluarkan suara gemas nan manja.
"..." Alex tak merespon.
Celina menghela nafas.
"Sebenarnya apa yang membuat daddy begitu tak menyetujui hubungan kami?"
"Dia bukan seorang pewaris. Dia hanya seorang asisten. Daddy ingin kau menikahi pria yang bisa memperluas bisnis kita." Alex mengatakannya dengan lugas tanpa ada yang ditutup tutupi.
"Oh my God, dad! Aku ini anak daddy satu-satunya! Masa iya daddy mau mempertaruhkan kebahagiaanku hanya demi perusahaan." Anehnya Celina tidak merasa marah, justru dia merasa ini lucu.
"Justru karna kau anakku satu-satunya! Jika daddy punya anak lain daddy akan membebaskanmu dan tidak akan membebanimu dengan perusahaan ini." Alex seperti sudah lelah menjelaskan hal ini. Sudah sejak dulu Alex mengatakan kalau dia ingin menantu pewaris.
Celina menghentakkan kakinya dan berjalan ke arah sofa yang ada di ruangan itu. Dia duduk sambil melipat tangan dengan wajah yang cemberut. Alex menatapnya dengan mata memicing.
"Dad!" rengek Celina.
"Hmm."
"Jadi?"
"Jadi, dia juga bisa membantu daddy mengembangkan Giant Family!"
"Tidak!" tolak Alex, tegas.
"Isshhh! Aku pergi saja kalau begitu!"
"Lalu rapatmya bagaimana?"
"Daddy saja yang pergi." ketus Celina, dia meninggalkan ruangan Alex sambil membanting pintu. Alex hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan putrinya.
***
Malam ini Leo hendak menemui seseorang di sebuah restoran bintang lima. Seseorang yang tak mungkin Leo tolak undangannya, meski tadi Celina sempat merajuk.
Seorang pelayan telah menunggu Leo di pintu masuk dan langsung menuntunnya ke sebuah ruangan private.
"Duduk!" kata orang itu, dia adalah Alex.
"Kau pasti tau tujuanku ingin bertemu." ucap Alex tanpa basa-basi begitu Leo duduk.
"Ya, saya tau."
"Kenapa kau masih nekat menjalin hubungan dengan putriku padahal sudah jelas-jelas aku melarangmu."
__ADS_1
"Saya mencintainya dan Celina pun sangan mencintai saya. Jadi apa salahnya bila kami bersama?" Leo menjawabnya dengan wajah tegas.
"Cinta." Alex tersenyum miring. "Di kalangan kami, cinta sama sekali tidak punya peran."
"Benarkah? Tapi putri anda begitu tergila-gila pada saya."
"Tergila-gila katamu? dia sudah lepas darimu jika kau tak terus mengejarnya."
Leo tak menjawab lagi, dan Alex pun diam, dia menyeruput kopi hitamnya.
Leo tiba-tiba menyodorkan sebuah berkas pada Alex.
Alex mengambil berkas itu lalu membacanya perlahan. Matanya perlahan membelalak melihat isi dari berkas tersebut. Berkas itu berisikan kepemilikan Leo atas beberapa saham dan juga satu perusahaan yang bergerak di bidang kuliner.
"Hanya itu yang saya punya, saya harap ini bisa membuat anda mempertimbangkan lagi hubungan kami."
"Kau pikir ini cukup?"
"Saya rasa begitu."
Alex tertawa keras-keras mendengar jawaban Leo membuat Leo bingung.
"Kau keras kepala juga ternyata." ucap Alex ditengah tawanya.
Leo hanya bisa diam dengan wajah bingungnya. Apakah ada yang lucu? Atau dia menertawakan rasa percaya diriku? Leo terus saja bertanya?tanya dalam hatinya.
Setelah beberapa saat akhirnya Alex menghentikan tawanya, dia mengusap air matanya yang keluar akibat tawanya.
"Kau yakin kemampuanmu bisa membawa kejayaan untuk Giant Family?"
"Tentu saja!" jawab Leo cepat, tapi setelah menjawab dia kaget dan baru sadar dengan pertanyaannya.
"Apa maksud anda?"
"Jika kau serius dengan putriku tingkatkan perusahaanmu sendiri."
"Apa itu artinya anda akan merestui kami?"
"Hanya jika kau bisa meningkatkan level perusahaanmu menjadi bertarap internasional. Setidaknya kau harus punya cabang di dua tiga negara."
Mata Leo berbinar, dia tak bisa menutupi kegembiraannya mendengar syarat dari Alex.
"Akan saya lakukan!" semangat Leo.
"Dan berhentilah jadi asisten! Kau tidak akan fokus jika terus-terusan berada di sana!"
"Baik, akan saya lakukan sebaik mungkin!"
"Aku beri waktu satu tahun, jika dalam jangka itu perusahaanmu tidak mengalami peningkatan maka jangan harap kau bisa melihat Celina lagi."
"Saya tidak akan mengecewakan anda."
Leo menundukkan kepalanya ketika Alex pergi hingga dia tak tau kalau sebelum pergi Alex sempat meliriknya sambil tersenyum..
***
**Dua atau tiga episode lagi bakal tamat ya cerita ini. Aku masih pemula, jadi belum bisa terlalu mengembangkan cerita lebih panjang, takutnya malah jadi gak jelas alurnya. Begitupun dengan novel sebelumnya yaitu Hantu CEO Nakal. Harap maklum ya teman-teman!
__ADS_1
Aku juga lagi rancang novel baru, nanti bakal aku up kalo yang ini udah tamat**.