
"Daddy mau bicara." Alex menghampiri putrinya yang sedang duduk di pinggir kolam renang mansion mereka.
"Bicaralah, dad. Aku mendengarkan." Sejak hari itu, mereka belum bicara lagi.
"Apa hubunganmu dengan Leo?" mendengar nama Leo Celina membalikkan badannya, menghadap Alex.
"Apa yang daddy ketahui?"
"Daddy tidak tau apa-apa, karna itu daddy tanya sama kamu."
"Daddy tidak mungkin bertanya kalau daddy tidak tau apa-apa."
Alex memberikan sebuah foto pda Celina. Foto yang dia dapat dari Lola.
"Dari mana daddy dapat foto ini?"
"Kamu tidak perlu tau. Sekarang jawab daddy, apa hubungan kamu dengan Leo?"
"Aku mencintainya." jawab Celina mantap.
Alex tampak terkejut, dia tidak mengiranya sama sekali. Dia akan lebih tenang jika Celina mengatakan mereka melakukan one night stand.
"Bukannya kamu mencintai Devan? Bagaimana bisa kamu beralih pada Leo?"
Celina mengendikan bahunya. "Sejak awal aku menyukai Leo." Kali ini Alex lebih terkejut lagi, karena setau Alex Celina selalu mengejar Devan.
*Satu tahun lalu*
Celina ikut dengan Alex menghadiri pesta perayaan ulang tahun sebuah perusahaan. Pesta yang dihadiri orang-orang penting dari berbagai perusahaan. Momen ini biasanya digunakan oleh orang-orang seperti itu untuk membangun koneksi dengan orang yang lebih berpengaruh agar perusahaannya lebih berkembang.
Hari itu pula Devan datang bersama Leo. Devan tak pernah datang dengan siapapun kecuali Leo sejak dirinya menjabat menjadi direktur utama sekaligus CEO di Astra Group dua tahun lalu menggantikan ayahnya.
Alex yang melihat kedatangan Devan, tak membuang kesempatannya untuk menyapa, meskipun Giant Group miliknya bisa dikatakan sebanding dengan Astra Group, tapi dalam beberapa bidang Astra masih jauh lebih unggul. Jadi dia ingin menjalin kerjasama untuk meningkatkan miliknya.
Dulu, saat Dirga, ayah Devan masih menjabat Alex selalu mendapat penolakkan. Image Alex yang terkenal sebagai penjahat wanita membuat Dira enggan menjalin hubungan dengannya. Itulah kenapa kini dia akan berusaha lagi, siapa tau yang muda akan lebih open minded.
"Selamat malam, nak Devan." Alex menyapa Devan, kemudian mengulurkan tangannya.
Devan menatap tangan Alex sesaat sebelum kemudian menjabatnya.
"Selamat malam, Mr.Alex. Bagaimana kabar anda?"
"Saya baik, nak Devan. Kau bisa berbicara santai kepadaku, kau tau aku teman lama ayahmu." Alex bersikap seakrab mungkin.
"Tidak mungkin saya berbicara santai kepada pemimpin Giant Family." Wajah Devan sama sekali tidak berubah ekspresinya, tetap datar seperti saat baru tiba tadi.
"Ohya, kenalkan ini putriku satu-satunya, Celina."
Celina tersenyum, lalu menyalami Devan yang mengulurkan tangannya lebih dulu. Devan memang dingin tapi dia masih bisa menjaga kesopanan, apalagi kepada wanita. Namun raut wajahnya tetap datar.
"Ini asistenku, Leo." Devan menunjuk Leo yang ada di sampingnya. Leo mengangguk kepada Celina dan Alex tapi hanya Celina yang membalas dengan senyuman manis, sedangkan Alex hanya melirik sekilas.
"Aku lihat beberapa kali kau ke acara seperti ini selalu datang dengannya, apa kau belum punya pendamping?"
"Tidak, belum. Saya masih fokus mengembangkan Astra Group."
"Astra sudah berkembang pesat, lebih dari saat Dirga memimpin."
__ADS_1
"Itu karna ayah saya sudah membangun fondasi yang sangat kuat, saya hanya meneruskan."
"Giant Family akan ada proyek baru, aku harap kau mau bergabung dengan proyek tersebut."
"Benarkah? kalau begitu anda bisa kirimkan proposalnya lewat Leo."
"Oke. Kan aku siapkan nanti."
"Kalau begitu saya permisi." Devan pamit pada Alex dan Leo pun mengangguk pada ayag dan anak itu kemudian mengikuti Devan.
"Daddy harus bisa bekerja sama dengan mereka." ucap Celina ketika jarak Devan dan leo sudah jauh.
"Kenapa? kau menyukainya?" Alex bisa melihat mata putrinya yang berbinar menatap Devan yang sedang berbincang. Setidaknya itu yang Alex lihat. Dia tidak tau kalau sebenarnya Celina menatap Leo.
"Iya. Nanti biar aku yang mengurus proyek ini jika benar-benar sudah bekerjasama." Alex terkekeh.
"Kau seorang seniman, tidak mungkin tau bagaimana caranya menjalankan proyek seperti ini."
"Daddy bisa menyuruh Dion membantuku."
"Oke-oke, akan daddy serahkan jika memang Astra Group menerima kerjasama dengan kita."
*
Dalam beberapa bulan akhirnya Giant Family dan Astra Group resmi bekerja sama. Dan Celina yang bertanggungjawab atas proyek ini.
Setidaknya seminggu sekali Celina berkunjung ke Astra Group dengan alasan diskusi atau secara gamblang mengajak Devan dan Leo untuk makan siang bersama.
Devan tak pernah menolak, dia malah selalu mengajak Celina dan Leo untuk makan di tempat Mia bekerja paruh waktu. Sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Dia mengiyakan ajakan Celina sekaligus bisa melihat pujaan hatinya tanpa harus dicurigai karena meraka datang bertiga.
Hingga malam itu, untuk pertama kalinya Celina mengajak Devan dan Leo ke tempat yang jauh berbeda. Kalau biasanya mereka makan di restoran atau cafe mewah, malam itu Celina mengajak ke club malam.
Devan pun tak menolak karena Celina sampai memohon padanya karena ingin Leo juga hadir. Selama tiga bulan mereka sering keluar bersama tak membuat sikap Leo melunak. Jika dulu saat kuliah Devan dijuluki Ice Prince, maka sekarang sikap Leo lebih dari itu. Apalagi setau Leo, Celina sedang mendekati Devan.
"Lo datang duluan aja, gue mau ke cafe dulu buat liat Mia." Devan bicara dengan Leo via telpon.
"Kalo gitu gue nunggu lo aja, tar bareng."
"Jangan gitu, kasian Celina dia cewe sendirian di sana. Harus ada yang nemenin." Devan sebenarnya sengaja ingin membiarkan Leo dan Celina punya waktu berdua.
"Oke kalo gitu."
Leo pun pergi ke club itu seorang diri, mencari Celina yang katanya sudah berada di dalam.
"Leo, di sini." Celina berteriak sembari melambaikan tangannya agar Leo melihatnya.
Leo mendekat dan duduk di sofa seberang Celina.
"Duduklah di sini." Celina menepuk tempat duduk di sampingnya.
"Tidak, aku di sini saja." Leo terlihat kurang nyaman. Meski dulu dia sering ke tempat seperti ini saat masih menjadi anggota gangster, rasanya berbeda karena sekarang dia hanya duduk dengan seorang gadis.
"Minumlah." Celina menuangkan minuman ke gelas yang dia minta pada pelayan. Sebelumnya dia sudah memesan sebotol minuman alkohol berkadar tinggi dan sudah meminumnya beberapa teguk.
Leo meminumnya, ingin sedikit menurunkan ketegangannya.
Seorang pria mabuk tiba-tiba duduk di samping Celina. Awalnya Leo tidak terlalu peduli, tapi melihat pria itu hendak menyentuh Celina Leo pun berdiri lalu menarik pria tersebut.
__ADS_1
"Siapa kau hah? beraninya menggangguku." racau pria tersebut.
"Jangan sentuh dia." Leo mengatakan itu dengan tatapan pembunuh membuat pria tersebut ciut dan pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
Setelah melihat pria itu pergi dia menatap Celina yang juga sedang menatapnya. Leo mengalihkan matanya lebih dulu, lalu hendak kembali duduk ke tempatnya tapi ditarik sekaligus oleh Celina, jadilah Leo duduk di samping Celina, tanpa jarak.
"Terimakasih." ucap Celina.
"Bukan apa-apa." Leo hendak berdiri namun tetap ditahan oleh Celina.
"Aku menyukaimu." ungkap Celina tiba-tiba.
Leo menatap Celina beberapa saat.
"Aku menyukaimu, Leo. Kau dengar itu?"
"Kau mabuk, Celina." Leo membuang muka.
"Tidak, satu gelas tidak akan membuatku mabuk."
"Lalu kenapa kau mengatakan hal tidak masuk akal seperti ini."
"Aku tidak mabuk, dan aku mengatakan yang sebenarnya. Aku suka kamu, sejak pertama bertemu di pesta itu."
"Lalu Devan? bukankah kau jadi penanggung jawab proyek agar dekat dengan Devan?"
"Aku tidak menyukainya. Dan alasanku ingin memegang proyek ini agar bisa dekat denganmu."
"Mr.Alex bahkan menyuruhku untuk memberi ruang agar kau dekat dengan Devan."
"Daddy? dia salah paham."
"Benarkah?"
Celina mengangguk.
"Lalu kenapa selalu Devan yang kau ajak makan bersama jika yang kau sukai adalah aku?"
"Karna kau tak pernah mau bicara denganku. Kau bahkan tidak pernah menatapku lebih dari lima detik. Kau selau menghindar setiap Devan meninggalkan kita berdua. Jadi gimana bisa aku ngajak kamu keluar kalo kesempatan bicara saja tidak ada. Sekarang saja kalau bukan karna Devan, kau pasti tidak akan datang."
Leo terdiam mendengar penuturan panjang lebar Celina. Dia benar-benar tidak menyadari hal itu.
"Cih, setelah aku ngomong panjang lebar pun kamu masih diam, dasar batu." Celina tiba-tiba berbicara santai membuat Leo tersadar dari lamunannya.
"Kenapa? gak terima dipanggil batu? terus kalo bukan batu nam--.."
Cup.
Leo membungkam bibir terbuka Celina dengan bibirnya. Celina membelalakan matanya, antara kaget, senang dan tak percaya Leo menciumnya.
Beberapa detik saling menempel akhirnya Celina duluan yang menggerakkan bibirnya, dia juga mengalungkan tangannya ke leher Leo. Celina bukan gadis polos, dia sudah beberapa kali berciuman dengan beberapa mantan kekasihnya, berbeda dengan Leo yang masih kaku. Ini adalah ciuman pertamanya. Walaupun dia dulu biang onar, tapi untuk masalah seperti ini dia nol besar.
Tak jauh dari sana, Dion menyaksikan ciuman keduanya dengan tangan terkepal kuat.
***
bersambung....
__ADS_1