
"Sekarang aku mau tau, kenapa kamu jadi tiba-tiba kayak tadi?" Mereka kini sudah sampai di rumah Mia.
"Ya gak apa-apa. Kamu gak suka?"
"Bukan gak suka. Tapi heran aja, selama ini kan kamu yang kekeh mau rahasiain hubungan kita terus tiba-tiba kamu kayak gitu."
"Jadi, ada apa?" Devan menatap Mia dengan intens, menunggu jawaban Mia.
"Mereka sudah tau."
Dahi Devan berkerut bingung.
"Ya, mereka udah tau kita pacaran. Kemarin ada yang rekam kita pas di tangga."
"Oh ya?" respon Devan sama sekali tak menunjukkan keterkejutan.
"Kamu udah tau?"
Devan mengangguk.
"Tau dari mana?"
"Mia, aku itu CEO. Mana mungkin ada yang tidak aku ketahui, apalagi tentang pacarku sendiri."
"Benarkah? Terus kenapa kamu masih tanya kalo udah tau?" Mia sedikit kesal.
"Aku cuma mau tau aja, kamu mau jujur atau enggak. Tapi, ternyata ada satu hal yang gak kamu kasih tau ke aku."
"Apa?"
"Alasan kamu telat tadi pagi."
"Hah?"
"Aku tau kamu dilabrak sama Ola dan Maya kan?"
"Ko'..."
"Sudah aku bilang tidak ada yang tidak aku ketahui. Dan aku sudah memecat mereka hari ini."
"Apa!!! Kamu serius mecat Ola dan Maya?"
Devan mengangguk santai.
"Itu konsekuensi karna ganggu pacar seorang Devan."
"Tapi bukannya itu berlebihan?"
"Enggak bagi aku."
__ADS_1
"Seenggaknya kamu cukup ngasih mereka surat peringatan. Aku juga gak apa-apa ko'."
"Orang kayak mereka harus dikasih pelajaran biar kapok, sayang."
Mia tak menjawab lagi, karena rasanya akan percuma berdebat tentang ini. Ada sedikit rasa bersalah di hatinya. Mereka dipecat karena dirinya.
"Oh ya, aku juga udah pecat orang yang rekam dan share video kita."
"Hah? Siapa emangnya?"
"Senior kamu, Reyhan."
"Kamu bercanda kan?"
"Yang mana? Tentang dia yang rekam dan share video kita atau tentang aku pecat dia?" ada nada tak suka dalam suaranya.
"Dua-duanya."
"Aku serius. Dia yang rekam dan share video kita karena dia gak terima kamu jauhin dia. Dan aku serius udah pecat dia."
Mia tidak bisa berkata-kata lagi. Bukan tentang pemecatan Reyhan, tapi karena dia tidak percaya bahwa Reyhan lah yang menyebarkan video tersebut. Reyhan memang sempat marah krena Mia selalu menolak waktu dia ajak keluar. Mia juga tak pernah membalas lagi chat maupun telpon dari Reyhan. Kalau memang itu penyebabnya, baguslah dia dipecat, jadi dia tak perlu lagi mengindar dari Reyhan.
"Kamu marah karna aku pecat kak Reyhanmu?" Devan salah paham karena Mia terus diam.
"Jadi benar ya kamu dulu sempat punya rasa sama dia?"
"Enggak kok."
"Dua-duanya. Aku memang agak kasian sama mereka yang kamu pecat, tapi sisi lainku merasa lega karna itu artinya aku gak perlu berurusan lagi sama mereka. Dan satu lagi, aku gak pernah ada rasa sedikitpun sama Kak Reyhan."
"Benarkah?" Tanya Devan memastikan.
Mia mengangguk.
"Apa aku boleh menciummu?" Devan bertanya tiba-tiba.
"Kenapa harus bertanya." Mia memalingkan wajahnya karena malu. Harusnya hal seperti itu tidak perlu ditanyakan dulu.
Tangan Devan menyentuh wajah Mia, memalingkannya agar kembali menghadap dirinya. Tatapan keduanya bertemu, lalu ciuman itupun terjadi. Saling memberikan kenyamanan satu sama lain. Lu-ma-tan lembut kini semakin menuntut. Tubuh mereka pun semakin rapat dengan satu tangan Devan menekan kepala Mia dan satu lainnya memeluk dan mengusap punggung Mia.
"Eeuggh" Lenguhan Mia mulai terdengar, kedua tangannya mere-mas rambut Devan.
Ciuman Devan turun ke leher jenjang Mia, spontan Mia menengadahkan kepalanya memberi ruang bagi Devan.
"Eummmhhh, Dev.."
Lagi-lagi de-sahan Mia bagai alarm bagi keduanya. Mereka langsung melepaskan tautan mereka dan memberi jarak pada tubuh mereka.
"Maaf, aku selalu tak bisa menahan diriku." Devan merasa bersalah karena dirinya benar-benar sulit mengontrol dirinya.
__ADS_1
"Aku ke toilet dulu." Mia beranjak meninggalkan Devan. Dia mencuci mukanya lalu menatap diri di cermin.
"Ternyata kau tidak selugu itu, Mia." Mia berbicara pada pantulan dirinya. Dia merasa malu karena juga menginginkannya dan merasa kecewa saat Devan menghentikannya. Padahal dia sendiri yang berjanji ingin melakukannya setelah menikah, tapi ternyata tubuhnya begitu murahan hingga begitu terlena dan menginginkan lebih.
"Haruskah aku melakukannya?" Mia bertanya lagi pada cermin.
Sedangkan Devan dia sudah meredakan gairah dan rasa sakit yang tadi dia rasakan di pusat tubuhnya.
Dia melihat Mia kekuar dari kamar mandi dengan kepala menunduk, lalu duduk kembali di tempat tadi.
"Sebaiknya aku pulang." Devan berdiri. Sebenarnya dia masih ingin bersama Mia lebih lama, tapi dia takut dia tidak bisa menahannya lagi. Begitupun Mia, dia enggan mengiyakan ucapan Devan.
"Baiklah, hati-hati." putus Mia akhirnya.
"Oke, tidak perlu mengantarku, ini sudah malam." Devan memeluk Mia menjalarkan rasa hangat di tubuh dan hati Mia.
"Sebenarnya aku masih ingin di sini, tapi aku takut setan dalam diriku kembali keluar." Devan mengeratkan pelukannya.
"Aku juga." balas Mia, namun dia hanya mengatakannya dalam hati.
"Oke, aku pergi. Besok aku jemput."
Cup. Dia mengecup bibir Mia sekilas sebelum akhirnya keluar dari rumah kekasihnya itu.
***
Celina mengambil satu gelas air, kemudian mengeluarkan satu pil dari dalam botol lalu dan meminumnya.
"Kau sedang apa?" Leo memeluk Celina dari belakang.
"Seperti biasa, aku minum obatku." Celina hendak menyandarkan tubuhnya pada dada bidang Leo, tapi Leo keburu melepaskannya tiba-tiba.
"Ada apa?"
"Bukannya obatmu hilang? Kau menemui psikiater lagi?"
"Tidak, aku mendapatkannya dari Dion. Dia bilang psikiater itu pergi ke luar negri, jadi Dion meminta dosis lebih."
Leo melotot mendengar penjelasan Celina yang tersengar sama sekali tidak curiga.
"Tunggu, kapan aku bilang obatku hilang? Rasanya aku tak pernah memberitaumu."
Leo gelagapan sebelum menjawab.
"Aku rasa kau pernah menghubungiku, apakah obatmu ada di sini."
"Benarkah? Kurasa obatnya memang benar-benar bekerja, tidak minum dua hari saja aku jadi."
Leo bingung harus berkata apa. Sepertinya dia memang benar-benar harus berbicara dengan Dion tentang ini.
__ADS_1
***
bersambung....