
Besoknya, sebelum pergi ke mall yang dituju, Devan dan Leo terlebih dulu mengantarkan Mia ke kantor. Yah, mereka-Leo dan Devan- membolos bekerja demi mencari rekaman cctv tersebut. Sebenarnya Mia juga ingin ikut, tapi tidak mungkin ruangan CEO dibiarkan kosong tanpa wakil. Apalagi hari ini jadwal Devan begitu padat. Harusnya Devan segera mengangkat seseorang untuk jadi wakil CEO.
Perjalanan dari kantor menuju mall menghabiskan waktu sekitar 45 menit. Tampak mall masih sangat sepi. Tentu saja, bahkan gerai-gerai di sana pun belum ada yang buka. Tapi, pintu masuk sudah terbuka, mereka pun masuk ke sana dan memarkirkan mobil.
Mereka segera naik ke lantai tempat pengawas cctv berada. Leo mengetuk pintu dan dibuka oleh seorang pria separuh baya.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Apa saya bisa meoihat rekaman cctv 7 bulan lalu?"
"Maaf, tapi anda berdua siapa?"
"Kami.."
"Saya Devan Arkadiana CEO Astra Group, salah satu pemegang saham juga di mall ini. Bisa tolong berikan saja tanpa bertanya." Devan menatap tajam pada petugas tersebut.
"Oh, iya baiklah. Silakan!" Petugas itu mempersilakan Leo dan Devan masuk.
"Sudah kubilang, nama dan jabatanku berguna." Devan berbisik angkuh pada Leo, yang dibisikki tampak tidak peduli.
Setelah menyebutkan tanggal dan lokasinya akhirnya Devan mendapat rekaman cctv tersebut. Tak lupa Devan memberikan uang tutup mulut untuk jaga-jaga agar identitasnya tak diberitahukan pada orang lain.
Mereka bergegas pulang ke apartemen Devan. Lekas membuka file-file yang berisi rekaman cctv hari itu. Mia tak mengingat dengan pasti basement mana dia bertemu Dion waktu itu, jadi mereka terpaksa mengambi rekaman cctv seluruh bagian basement.
"Dia bilang ingatannya sangat kuat, tapi ditanya basement bagian mana saja dia tidak tau." Leo mulai mengomel karena sudah hampir dua jam mereka berdua memantau monitor tapi belum menemukan adegan yang dimaksud Mia.
"Gak usah banyak ngomong, cari aja yang bener! Jangan meleng!" Devan mengusap matanya yang sedikit berair.
"Jam berapa sih waktu itu?" Leo bertanya lagi.
"Katanya sih antara jam 3 sampai jam 4."
"Sial, kenapa gak lo bilang dari tadi! Jadikan kita bisa mempersingkat pencarian." Leo kesal karena Devan baru mengatakannya sekarang.
"Lo kan gak tanya. Lagian gue juga baru inget pas lo tanya barusan."
Leo menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan bosnya yang terkenal jenius hingga bisa mengembang pesatkan Astra Group tapi bisa berlaku bodoh seperti sekarang. Akhirnya mereka menonton sisa rekamannya dalam jangka waktu pukul 3 sampai 4 sore.
30 menit kemudian...
__ADS_1
"Pacar gue biarpun diliat dari kamera cctv tetep keliatan cantik banget." Devan mengusap layar laptop dihadapannya sambil tersenyum.
"Maksud lo Mia?" tanya Leo antusias.
Devan mengangguk, lalu matanya melebar menyadari sesuatu.
"Eh iya benar ini Mia."
Leo segera mendekati Devan dan ikut melihat yang dikatakan Devan. Terlihat Dion di satu sudut, lalu datang Mia melangkah ke arah Dion, membuat Dion menjatuhkan sesuatu karena terkejut. Lalu Dion kembali mengambil benda yang jatuh itu dan pergi begitu saja. Mia terlihat memanggil Dion tapi Dion hilang dari jangkauan cctv tersebut. Leo memutar ulang video tersebut ke bagian saat Dion menjatuhkan benda, lalu memperbesar gambarnya dan nampaklah sebuah jarum dan botol kaca bening seperti yang Mia katakan.
"Gue yakin itu racunnya." Devan menoleh pada Leo.
"Ya, benar. Berarti kita tinggal cari lagi rekaman yang merekam mobil Dion dan Celina." Leo kembali duduk di kursinya. Devan memotong video tadi lalu memindahkannya ke folder baru. Setelah itu, dia kembali mencari rekaman yang Leo sebutkan tadi.
Keduanya kembali fokus pada layar yang menampikan rekaman-rekaman yang terjadi hari itu. Kali ini mereka memanjangkan durasi yang tadinya dari jam 3 sekarang dari jam 2.
Sebuah dering telpon membuyarkan fokus mereka.
"Punya lo!" Leo menegur Devan yang tak segera mengangkat ponselnya.
"Halo, Mia." Nada suara Devan berubah menjadi lembut membuat Leo mencibir tanpa suara.
"Ya, masih."
"Begitu. Aku mengirimkan makanan untuk kamu dan Leo. Mungkin sebentar lagi sampai."
"Benarkah? Harusnya kamu gak perlu pesan buat Leo juga." Devan merajuk manja. Mendengar namanya disebut Leo hanya mendelik.
"Baiklah lain kali aku hanya akan pesan untukmu." Mia tak ingin memperpanjang durasi karena tak ingin mengganggu.
"Udah dulu ya, sampai nanti."
"Oke, makasih.." Devan mengeluarkan suara kecupan kecil sebelum menutup sambungan telponnya.
Tak lama suara bel pun berbunyi. Devan bangkit untuk membuka pintu yang sudah dipastikan adalah makanan yang Mia pesankan.
"Sebaiknya kita makan dulu." Devan membuka kantong makanan tersebut.
"Tanggung."
__ADS_1
"Pacar gue udah berbaik hati pesenin kita makan, seenggaknya lo hargain dia."
Leo menghela nafas.
"Oke, mana sini makanannya."
Untungnya Mia memesankan pasta jadi tidak repot memakannya sambil menonton video.
"Uhukkk..." Leo terbatuk-batuk karena tersedak mi yang dia makan.
"Pelan-pelan, b*go!" Devan menyodorkan air pada Leo. Leo meminumnya, kemudian setelah tenang dia menunjuk layar komputernya.
"Akhirnya, kena lo sekarang." Leo menggeser laptopnya ke arah Devan.
Cctv itu merekam dari arah samping-belakang mobil Dion. Awalnya terlihat Celina berjalan bersama Dion, beberapa detik kemudian Celina memeluk Dion membuat Leo mengepalkan tangannya. Tentu saja ia cemburu melihat kekasihnya memeluk pria lain, meski pelukan itu hanya sebentar karena setelah itu Celina pergi.
Dion meletakkan dua kantung belanjaan di bagasi mobilnya setelah kepergian Celina. Kemudian dia terlihat mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya, itu suntikan dan botol kecil yang mereka lihat tadi. Dia menancapkan jarumnya ke penutup botol kecil itu lalu menyedotnya hingga masuk semua ke suntikan.
Setelah itu Dion terlihat bingung, tapi kemudian mengambil minuman dari salah satu kantung belanjaan Celina dan menancapkan jarum ke penutup minuman tersebut, s!!!!!!-atu persatu minuman dan beberapa camilan basah kemasan dalam kantung tersebut hingga cairan dalam suntikkan tersebut habis. Kemudian dia membereskan lagi belanjaan tersebut, lalu berjalan keluar dari area kamera cctv yang ini.
Devan dan Leo saling pandang, sedetik kemudian mereka berteriak.
"Woohoooooo, akhirnyaaaaaaaa!!!!" Mereka saling menautkan kedua tangan sambil melompat-lompat. Tapi setelah beberapa lompatan mereka sadar dan melepaskan tautan tangan mereka.
"Akhirnya si bedebah Dion itu akan mendapat hukumannya." Leo berkata penuh emosi. Raut sumringah tadi lenyap entah kemana.
"Yah, berani-beraninya dia meracuni seorang Devan Arkadiana." Sorot mata Devan tak berbeda jauh dari Leo. Keduanya sama-sama menampilkan wajah dingin dan kejam yang sangat ditakuti oleh banyak pesaing mereka.
***
Devan dan Leo segera menyerahkan video tadi ke polisi yang menangani kasus Devan selama ini. Sebenarnya polisi sudah hampir menyerah karena tidak ditemukannya bukti, tapi mengingat siapa korbannya mereka tetap melakukan pencarian.
Akhirnya saat itu juga polisi bisa langsung membawa surat penangkapan untuk Dion sebagai pelaku tunggal.
Dion ditangkap di kediaman Alex hari itu juga. Dia tak melakukan perlawanan sama sekali ketika polisi memborgolnya. Celina yang saat itu sedang bersamanya menangis histeris melihat banyaknya polisi yang datang ke rumahnya. Untungnya Leo ikut dengan polisi, sehingga bisa menenangkan Celina.
Setelah tenang, Leo membawa Celina ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Menyusul Dion yang sudah hampir satu jam dibawa polisi.
***
__ADS_1
bersambung...