Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
Rasa Yang Sama


__ADS_3

Sampai di rumah, Mia tak menemukan Arka. Dia langsung mencari baju ganti kemudian menuju kamar mandi. Dia sebenarnya kecewa karna Arka tidak ada, dia penasaran dengan pernyataan Arka tadi siang yang mengatakan kalo dia cemburu. Sampai-sampai dia tidak sabar untuk kembali ke rumah.


Setelah makan malam Mia langsung ke kamar, untuk beristirahat. Niatnya bertemu Arka harus dia urungkan karna hantu itu tidak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Entah kemana dia sudah semalam ini. Apa mungkin dia bermain dengan para hantu juga? Mia terkikik geli sekaligus merinding membayangkan hantu-hantu lainnya.


Mencari posisi nyaman tiba-tiba saja ponsel Mia berbunyi, dan ternyata Leo yang menghubunginya.


"Halo, Leo."


"Mia, apa aku mengganggu?"


"Tidak, ada apa?"


"Sepertinya, aku harus menunda kepulanganku, karna ada masalah dengan perusahaan di sini."


"Ohh, benarkah? baiklah kalo begitu, aku bakal jadwal ulang rapat-rapat dengan klien."


"Tidak, jangan."


"Kenapa?"


"Kamu aja yang rapat sama mereka."


"Tapi, aku gak bisa."


"Aku percaya kamu bisa, Mia."


"Tapi, Leo apa Tuan Devan tidak punya wakil? bukannya CEO itu ada wakil CEOnya?"


"Tidak ada. Devan sudah memecatnya sejak 6 bulan lalu. Jadi posisi itu kosong sekarang."


"Ohhh.."


"Nah, Mia tetap jalankan jadwal sesuai yang sudah kamu atur, nanti aku usahakan untuk mengulas sedikit sebelum kamu rapat."


"Baik kalo begitu,."


"Oke, selamat malam, Mia."


"Malam, Leo." sambungan pun terputus.


Mia menghela nafas panjang, beban pikiran Mia semakin bertambah jika memikirkan harus berbicara di depan banyak orang lagi.


"Sepertinya kamu memang dekat ya sama lelaki itu, sampe ada ucapan selamat malam segala."


Mia terperanjat kaget mendengar Arka yang tiba-tiba muncul.


"Leo cuma ngasih tau kalo aku harus rapat sama klien karna dia gak jadi pulang."


"Ohh, makin kangen dong kamu,"


"Kangen apaan sih, aku sama Leo tuh ga ada hubungan yang kayak gitu."


"Bahkan kamu udah gak canggung lagi nyebut nama dia."

__ADS_1


"Kamu kenapa sih? ngomongnya ngelantur kemana-mana."


"Kan aku udah bilang kalo aku cemburu." Arka mengatakannya dengan keras.


"Kenapa? kenapa kamu cemburu?" Nada suara Mia juga tak kalah keras dari Arka. Dia menaikkan dagunya menatap Arka yang berdiri dihadapannya.


"Karna aku suka sama kamu!" tegas Arka


Mia ternganga mendengar pengakuan Arka.


"Ka, kamu becanda kan?"


"Apa mukaku keliatan becanda?"


Mia menatap mata Arka untuk mencari setitik sinar gurauan di sana, tapi dia tak menemukannya.


"Tapi,-" Mia tak melanjutkan lagi ucapannya karna mulutnya sudah dibungkam oleh bibir Arka.


Mia melotot mendapat serangan tiba-tiba dari Arka. Namun, perlahan matanya tertutup saat merasakan sesapan lembut di bibirnya.


Kupu-kupu semakin beterbangan seiring ci-uman lembut mereka berubah menjadi lu-matan yang semakin dalam.


Arka membawa Mia dari duduknya untuk berdiri kemudian merapatkan tubuh mereka dengan pelukan erat. Sementara Mia mengalungkan tangannya ke leher Arka, sambil sesekali mere-mas rambut Arka.


Ci-uman mereka terhenti kala Mia menepuk-nepuk dada Arka karna pasokan oksigennya mulai menipis. Arka tak melepaskan pelukannya, wajah mereka pun tetap tak berjarak. Mia meraup oksigen dengan sesikit rakus, Arka yang melihatnya gemas kemudian mengecup bibir Mia sekilas. Keduanya saling bertatapan, saling menyalurkan perasaan.


"Jadi, gimana?" tanya Arka.


"Apa?"


Mia menunduk, kemudian mengangguk kecil.


"Katakan Mia."


"Iya, Arka. Aku juga suka sama kamu."


Senyum Arka terbit, kemudian memeluk Mia semakin erat.


"Aku ngantuk." ucap Mia ditengah pelukan mereka.


Arka terkekeh mendengarnya, kemudian menggiring Mia ke tempat tidur.


Arka berbaring dengan satu lengannya dijadikan bantalan oleh Mia, dan Mia memeluk Arka dengan wajah yang disematkan di dada Arka. Meski tak ada detak jantung yang cepat seperti miliknya, Mia tetap nyaman tidur dipelukan Arka.


Saat matanya mulai terpejam, sayup-sayup Mia mendengar Arka berkata, "Mulai sekarang kau milikku, Mia."


***


Hari sudah memasuki waktu makan siang, tapi pekerjaan Mia belum juga selesai. Ketidakadaannya Leo membuat pekerjaannya bertambah dua kali lipat.


Mia meregangkan dulu otot-ototnya dengan menyandarkan punggungnya ke kursi. Kembali ia mengingat pagi tadi, ketika bangun tidur posisinya sama sekali tidak berubah dengan waktu dia memejamkan mata semalam.


Entah sudah berapa kali dia senyum-senyum sendiri setiap mengingat kejadian tadi malam. Bahkan orang-orang akan menganggapnya gila karna saking seringnya Mia senyum tak jelas seperti sekarang.

__ADS_1


"Sedang memikirkanku?" Kehadiran Arka yang tiba-tiba tidak lagi membuatnya terkejut. Namun, Mia segera mengubah raut wajahnya menjadi datar kembali.


"Tidak, aku lagi mikirin mau makan apa." Mia kembali menatap laptopnya.


"Kalo gitu kenapa gak makan? ini kan sudah waktunya."


"Kerjaanku masih banyak. Aku gak mau sampai ini terlambat. Apalagi berkas ini akan aku bawa besok saat rapat."


"Tapi tetap saja kamu harus makan supaya punya tenaga buat ngerjainnya." Arka menutup laptop Mia.


Mia menghembuskan nafasnya. Sebenarnya dia malas harus makan di kantin karna banyak karyawan yang selalu menatapnya sinis.


"Ayo!" Arka mengulurkan tangannya.


"Aku temani." Senyum Arka yang manis membuat Mia menerima uluran tangannya.


Mereka keluar menuju kantin melewati ruangan-ruangan yang kosong karna penguninya pasti sedang keluar makan siang.


Ketika baru sampai, benar saja banyak pasang mata yang menatap tak suka ke arahnya. Entah apa salah Mia sebenarnya, sampai-sampai mereka seperti itu.


"Gak usah peduliin mereka yah."


Mia hanya tersenyum menanggapi ucapan Arka. Tak mungkin dia menjawabnya, yang ada orang-orang akan semakin menganggapnya aneh karna bicara sendiri.


Sebenarnya, Mia sudah terbiasa dengan suasana seperti ini, karna sejak masuk kuliah pun dia tak pernah punya teman dekat. Kampus yang dia masuki adalah kampus elit yang berisi orang-orang kaya, diangkatannya pun hanya Mia seorang yang mendapat beasiswa. Jadi, Mia tak bisa menemukan teman senasib di sana.


Pernah, ada perempuan yang mendekatinya tapi ternyata dia hanya memanfaatkan kepintarannya saja. Memintanya mengerjakan tugas ini dan itu. Akhirnya, Mia memilih menjauhinya.


Mia tak menyangka jika keadaan itu berlanjut ke dunia kerjanya. Menjadi cecaran orang-orang karna prestasinya.


Mia memakan makan siangnya dengan tenang. Sesekali dia mengangguk atau hanya sekedar tersenyum untuk menanggapi Arka yang terus bicara padanya. Ternyata, dia hantu yang cerewet. Gimana ya kalo dia lagi ketemu sama mbak Key? Pasti jadi biang gosip deh mereka berdua. Mia terkikik geli dengan pemikirannya sendiri.


"Kamu kenapa ketawa gitu? ada yang lucu?"


"Hah? enggak," Mia menjawab Arka sambil menahan tawanya.


"Duh, kok bisa ya Tuan Devan milih sekretaris gila kayak dia? gue kira dia cuman bego sama jelek aja, ternyata gila juga ngomong sendiri." Mia mendengar Ola bicara pada temannya Maya, Mia tau dia bicara keras-keras supaya Mia mendengarnya.


Kemudian Mia menarik rambutnya ke belakang telinga. Dia memastikan Maya dan Ola melihat earphone yang terpasang di sana.


"Maaf Leo tadi gak kedengeran, soalnya ada lalat berisik banget." Sengaja Mia menaikkan suaranya agar mereka mendengarnya. Dan benar saja Ola dan Maya langsung menundukkan kepalanya, panik.


"Kapan kamu pasangnya?" Arka merasa tidak melihat Mia mengenakannya tadi.


"Tadi, sebelum masuk ke sini aku pasang sebelah, buat jaga-jaga kalo aku keceplosan."


"Pinter banget sih, sayangnya aku." Arka mengusap gemas puncak kepala Mia.


"Apaan sih, lebay banget."


Mia memilih untuk menyudahi makannya. Walaupun masih banyak yang memandangnya tak suka, tapi dia merasa puas karna sudah membalas dua biang gosip di Astra Group.


***

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2