
Leo tengah duduk di kursi samping ranjang, tempat Devan terbaring lemah sejak dia bulan lalu. Badan Devan mulai mengurus dibandingkan dengan saat dia sehat. Hanya Leo keluarga yang dia punya saat ini. Keluarga yang bukan dalam artian sedarah, melainkan keluarga yang selalu ada dalam setiap keadaan.
Pamannya, keluarga sedarah Devan satu-satunya hanya menganggapnya sebagai penghalang untuk memiliki Astra Group. Dan Devan sudah memecatnya dari jabatan Wakil CEO, karena korupsi dan penghianatan dengan menjual rahasia perusahaan kepada rival Astra Group. Itulah salah satu sebab kenapa Leo memilih menyembunyikan keadaan Devan saat ini.
Mama Devan meninggal saat Devan berusia 15 tahu. Itulah yang membentuk Devan menjadi dingin dan bermulut kotor seperti sekarang. Tapi, Leo mampu membuat Devan perlahan berubah menjadi dirinya yang dulu, meski itu hanya pada Leo.
Kemudian, tiga tahun yang lalu papanya meninggal menyusul mendiang sang istri yang begitu dia cintai. Kehilangan orang tua untuk kedua kalinya membuat Devan kembali terpuruk.
Sampai pada saat Devan bertemu Mia satu tahun lalu, senyumnya benar-benar kembali. Senyum yang sama sekali tidak pernah Leo lihat sebelumnya.
"Dev, lo gak mau bangun?" Leo kembali memulai pembicaraan, meski hanya suara alat penyangga hidup Devan yang selalu menjawabnya.
"Mia sekarang udah kerja di Astra Group. Dan sesuai kemauan lo, dia ditempatkan di ruangan yang sama, sama lo."
"Tiap hari gue sama dia berduaan, lo gak takut dia bakal jatuh cinta sama gue?"
"Lo tau sendiri kan pesona gue? Lo sendiri yang bilang kalo saya tarik gue hampir sebanding sama lo." Leo terkekeh dengan mata yang sudah mulai berair.
"Dan kalo diliat-liat, Mia manis juga, apalagi kalo lagi ngambek, bibirnya manyun. Ck, cakepnya nambah seribu kali lipat. Yakin lo gak bakal nyesel kalo doi jadinya sama gue?" Air matanya sudah tak terbendung lagi.
Bagi Leo, Devan adalah adik yang selalu dia sayangi. Setelah diangkat menjadi anak oleh Dirga, Leo berjanji untuk menganggap Devan sebagai saudaranya, sama seperti Dirga menganggapnya sebagai anak.
"Oke, gue harus ke perusahaan dulu. Nanti gue balik lagi. Gara-gara lo tidur mulu nih, kerjaan gue jadi nambah dua kali lipat."
Sebelum benar-benar pergi, Leo menunduk membisikkan sesuatu di telinga Devan.
***
Disaat yang sama Mia tengah menyusun beberapa berkas yang akan dia bawa untuk pertemuannya dengan Mr. Alex.
Dia begitu gugup, karena terakhir kali dia ikut bersama Leo, Mr. Alex begitu sinis dan sarkas. Dia takut tak bisa menahan rahasia itu keluar dari mulutnya jika saja Mr. Alex menggertak nya sedikit saja.
"Kamu kenapa?" Arka yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Mia, menyadari sikap anehnya.
"Apa? Emangnya aku kenapa?"
"Kamu keliatannya gelisah banget dari tadi."
"Aku lagi mikirin meeting nanti. Gimana kalo aku keceplosan bilang kalo Leo ada di Singapura? terus bilang kalo Tuan Devan lagi koma di sana?"
"Hey hey hey, tenang dong. Kenapa mikirnya yang enggak-enggak." Arka mendekat pada Mia lalu mengusap rambutnya.
"Tapi aku takut."
"Kamu tenang aja. Nanti kalo kamu beneran mau keceplosan, aku geplak mulut kamu biar kamu gak jadi ngomong."
"Ih apaan sih kamu malah becanda." Mia merengek kesal.
"Siapa yang becanda? aku serius. Nanti pas mulut kamu udah mangap mau ngomong, hap, tangan aku bakal langsung jepit bibir kamu." Arka mengatakan itu sembari memeragakannya membekap mulut Mia.
__ADS_1
Plak, Mia memukul bahu Arka.
"Kamu ya, berani-beraninya kayak gitu sama aku."
Arka tergelak, lari dari hadapan Mia dan Mia mengejarnya sembari memberi pukulan-pukulan kecil saat dia menggapai Arka.
Sampai saat Arka berada di sudut ruangan Arka mendengar bisikkan di telinganya.
"Bangunlah dan temui wanita impianmu."
Arka menoleh ke arah suaranya, tapi tak menemukan siapapun. Lalu, suara itu kembali terdengar dan terus berulang.
"Arrghh.." Arka menutup telinganya.
Mia yang melihat itu ikut panik.
"Arka kamu kenapa?"
"Hey.." Mia hendak menyentuh tangan Arka tapi segera ditepis dengan keras oleh Arka yang membuat Mia terhempas cukup jauh.
"Aww.. Arka.." Mia mengaduh merasakan sakit pada bokongnya.
"ARRGHH.."
"DIAAMM.. !!"
"Arka.. Kamu kenapa?"
Mia masih dalam posisinya saat dia terjatuh, dia menangis karena tak tega melihat Arka yang terlihat begitu tersiksa.
"CUKUUP.."
Mia bangun, mencoba mendekati Arka lagi. Namun, Arka lebih dulu menghilang dari sana.
"Arkaaa,,??" Mia mencari ke segala arah, tapi tak menemukan kekasihnya itu. Mia semakin sesegukan karena takut terjadi sesuatu pada Arka, atau lebih buruknya dia tak bisa lagi bertemu Arka.
Tangisannya terputus ketika terdengar suara alarm dari ponselnya. Ini sudah waktunya berangkat untuk meeting dengan Mr. Alex. Mia memang selalu memasang alarm untuk semua jadwalnya, kalau-kalau dia lupa.
Mia menghapus air matanya. Melihat masih ada waktu sekitar 40 menit sebelum waktu pertemuan, dia memilih untuk memperbaiki riasannya yang sudah berantakan karena menangis.
***
"Selamat siang, Mr. Alex. Maaf saya terlambat." Mia memang kesiangan karena terjebak macet. Alasan klasik memang, tapi itulah kebenarannya.
"Tak apa, nona. Saya selalu bisa mentolelir wanita cantik." Mr. Alex berdiri untuk mempersilahkan Mia duduk, begitupun dengan Lola, sekretarisnya.
Mia tersenyum menanggapi ucapan kliennya tersebut.
"Dimana Leo dan Devan?"
__ADS_1
"Tuan Leo dan Tuan Devan tidak bisa hadir karna sedang berada di Jepang." Mia berusaha untuk tetap tenang saat mengatakan kebohongannya.
"Begitu? Sepertinya proyek kerjasama dengan perusahaanku tidak benar-benar penting untuk Devan, sampai-sampai dia hanya mengirim asisten dari asistennya untuk membahas ini. Benar-benar merendahkanku. " Mr. Alex dengan sinis menatap Mia, membuat Mia kembali diserang panik.
"Tidak, bukan begitu. Di sana sedang ada masalah yang benar-benar harus diselesaikan oleh Tuan Devan dan Tuan Leo sendiri."
"Kalau begitu aku akan membuat masalah dalam proyek ini, agar Devan mau menghormatiku dan segera pulang menemuiku."
"Tidak! Jangan." Tanpa sadar Mia menaikkan suaranya sembari mengangkat tangan di depan dada membentuk huruf X.
"Saya mohon anda jangan berpikiran seperti itu. Kondisi di sana benar-benar darurat. Dan Tuan Devan justru sangat menghormati dan mempercayai anda, karna itulah beliau tak perlu merasa khawatir dengan proyek ini."
"Hahahahaha.." Mr. Alex tertawa, membuat wajah panik Mia berubah kikuk.
"Tenanglah, nona, aku hanya bergurau. Aku yakin Devan mengirim kau ke sini sudah penuh dengan pertimbangan. Dan aku percaya dengan penilaian Devan." Kata-kata Mr.Alex membuat Mia bingung sekaligus lega, tapi sedetik kemudian dia kembali gugup karna wajah Mr. Alex kembali serius.
"Tapi, maaf, aku tidak bisa meneruskan meeting ini."
"Kenapa?"
"Seperti yang sudah aku katakan pada Leo di pertemuan lalu. Saya ingin Devan sendiri yang datang menemuiku."
"Tapi.."
"Kapan jadwal ku kosong, Lola?" Mr. Alex bertanya pada sekretarisnya.
"Ini mister." Lola menunjukkan tabletnya.
"Dua minggu, nona. Katakan pada Devan, meeting berikutnya aku ingin dia yang hadir. Kalau tidak, lebih baik aku tidak melanjutkan kerja sama ini."
"Ya?"
"Aku tidak keberatan untuk membayar ganti rugi, nona."
"Baik, mister. Saya akan langsung menyampaikan ini pada Tuan Devan."
"Oke, aku pergi kalau begitu. Ingat nona, harus Devan yang datang, bukan kau ataupun Leo." Kemudian Mr. Alex dan Lola pergi.
Mia kembali duduk sembari menarik nafas lega. Berhadapan langsung dengan direktur perusahaan yang setara dengan Astra Group ternyata begitu menguras tenaganya.
Saat sedang meneguk minumannya, Mia tiba-tiba teringat Arka.
Mia membayar minumannya, kemudian memesan taksi online untuk pulang. Meeting dengan Giant Family adalah agenda terakhirnya. Siapa sangka, meeting yang diagendakan 2 jam, ternyata berakhir kurang dari 30 menit.
"Aku akan mencarinya di rumah."
***
bersambung...
__ADS_1