
Devan keluar dari apartemennya dengan wajah sumringah. Bagaimana tidak? Tadi malam dia berhasil menahan Mia agar mau tidur di tempatnya. Hanya tidur, tidak lebih. Tapi itu mampu membuatnya begitu bahagia. Tadi pagi, dia sengaja bangun lebih awal agar bisa memandangi Mia yang sedang tidur lebih lama. Dan hal itu membuat Mia merona karena begitu membuka mata dia langsung berhadapan dengan wajah Devan yang begitu dekat.
"Ohoooo, sepertinya ada yang telah melewati malam panjang di sini." Celina langsung menyambar begitu melihat dua insan yang baru menutup pintu.
Devan melotot kaget seperti pencuri yang tertangkap basah. Lain lagi dengan Mia yang kaget karena melihat Leo keluar dengan seorang gadis.
"Kau pasti Mia. Kenalin, aku Celina kekasih Leo." Mia melirik Leo kemudian membalas uluran tangan Celina sambil tersenyum. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Leo sudah punya kekasih.
"Well, jadi kau sudah tidak perjaka lagi Devan." Celina kembali menggoda Devan.
Mia memerah mendengarnya. Bagaimana bisa seorang gadis berkata begitu vulgar.
"Diam kau! Ayo, Mia." Devan menarik tangan Mia lalu pergi meninggalkan keduanya. Dia tak ingin Mia mendengar lebih banyak lagi kata-kata vulgar dari Celina.
"Aku gak tau Leo punya pacar." seru Mia ketika mobil mereka sudah melaju.
"Ya, mereka udah cukup lama menjalin hubungan."
"Oh ya? Kok kamu gak pernah cerita?"
"Kamu gak pernah nanya."
Mia menelengkan kepalanya.
"Iya juga sih."
"Cantik ya dia." celetuk Mia setelah cukup lama mereka terdiam.
"Iya."
Mia menoleh.
"Tapi cantikan kamu."
Mia membuang muka salah tingkah.
"Sejak kapan mereka pacaran?" Mia bertanya untuk mengalihkan rasa malunya
"Mungkin setaun, aku gak tau pastinya mereka jadian. Tapi, kita udah berteman hampir dua tahun."
"Oh, jadi kamu juga udah kenal lama sama Celina?"
Devan mengangguk.
"Kita bertiga kenal di sebuah pesta. Waktu itu, dia dateng sama daddynya, Mr.Alex."
"Jadi, Celina anaknya Mr.Alex?"
"He-em."
"Eh, turunin aku di halte depan aja."
"Kenapa?"
"Gak apa-apa. Takut banyak yang curiga kalo aku turun di depan gedung."
"Bukannya di sini juga banyak orang ya? Kan banyak karyawan Astra yang naik bus."
"Iya juga sih, tapi seenggaknya di sini resikonya lebih kecil."
"Yaudah kalo gitu, kamu ikut aku aja ke basement."
Devan melewati halte yang dimaksud Mia.
"Tapi.."
"Seenggaknya orang-orang yang masuk basement bukan orang yang suka gosip."
__ADS_1
"Baiklah."
***
Dion tidak jadi masuk ke mobilnya, ketika melihat mobil Celina memasuki gerbang mansion Alex. Dia menunggu hingga Celina turun dari mobilnya.
"Akhir-akhir ini sepertinya kamu bahagia sekali."
"Ya, aku bahagia karna Leo benar-benar mencintaiku."
"Apa minum obatmu teratur?"
"Ya, kemarin aku minum, tapi hari ini belum."
"Kau harus minum setiap hari supaya cepat sembuh." Dion mengelus puncak kepala Celina lalu masuk ke mobilnya dan melaju meninggalkan Celina.
***
"Ada yang mau gue omongin." Leo menggeser kursinya yang beroda mendekati meja Devan.
"Apa?"
"Ini tentang Celina."
"Yaudah ngomong aja."
Mia yang diam-diam menajamkan pendengarannya. Dia penasaran saat nama Celina disebut. Ada rahasia apa antara mereka bertiga?
Leo melirik Mia.
"Kau tidak makan siang Mia?"
"Ini baru mau." Mia berdiri.
"Kamu di sini aja Mia. Dan tolong pesankan makanan untuk kita bertiga."
Devan tau Mia penasaran dan akan berpikir yang bukan-bukan jika tak membiarkannya di sini.
"Gak ada yang perlu disembunyiin tentang ini." Devan melihat raut wajah Leo yang sedikit keberatan.
"Kita duduk di sana." Devan melangkah menuju sofa di ruangan itu, kemudian diikuti Leo dan Mia.
"Jadi?" Devan meminta Leo untuk melanjutkan ucapannya saat mereka sudah bertiga sudah duduk saling berhadapan.
"Coba lo liat ini!" Leo menyerahkan sebuah amplop putih berlogo sebuah rumah sakit.
"Apa ini?" Devan membuka amplop tersebut. Di sana tertera hasil tes terhadap sebuah obat. Setidaknya itu yang sedikit Devan mengerti.
"Maksudnya?" Devan meminta penjelasan Leo.
"Itu hasil penelitian sebuah obat."
"Iya gue tau. Tapi, maksudnya apa? Apa hubungannya sama gue? Sama Celina?"
"Obat itu yang selama ini Celina minum."
"Tapi disini tertulis kalo obat ini golongan halusinagen. Narkoba, Leo! Maksud lo selama ini Celina pecandu?" Devan tak habis pikir jika memang benar. Mia pun tampak kaget, jika kekasih Leo adalah pemakai narkoba.
"Iya, tanpa dia sadari."
"Lo kalo ngomong yang jelas, jangan setengah-setengah!!"
"Celina bilang dia dapat obat itu dari Dion. Dia bilang, selalu Dion yang ngambil obat itu dari psikiater. Dan setelah gue cari tau, seorang psikiater gak berwenang ngeresepin obat itu."
"Jadi maksud lo Dion sengaja, ngasih narkoba ke Celina? Buat apa? Setau gue dia sayang dan protectif banget sama Celina."
"Gue juga gak tau. Tapi, ada satu hal lagi yang mesti lo tau tentang Dion."
__ADS_1
Devan menunggu begitupun Mia, dia sedikit banyak mengerti apa yang mereka bicarakan.
Tok..Tok..
Semua mata tertuju pada pintu.
Mia bangkit untuk membuka pintu. Dia yakin itu makanan yang mereka pesan. Dia meletakkan makanan milik Devan dan Leo di meja begitu saja. Rasanya tak mungkin Devan dan Leo akan makan dalam pembicaraan penting ini. Sedangkan dirinya, mulai makan sambil menyimak.
"Gue pernah cerita ke lo kalo Celina mengidap bebberapa gangguan mental yang bisa dibilang parah."
Devan mengangguk.
"Kemarin, habis gue nenangin Celina, gue pergi ke psikiater dan nunjukkin foto hasil diagnosa Celina yang Dion kirim ke gue dan lo tau apa yang dokter itu bilang? Orang yang mengidap gangguan mental sebanyak itu pasti udah gak bisa hidup normal lagi. Dia udah gak bisa berbaur sama orang lain, dia pasti udah di rehabilitasi."
"Jadi maksud lo, itu diagnosa palsu?"
"Pasti. Gue yakin Dion memalsukan hasil tes itu."
"Tapi kenapa?" Devan masih tak habis pikir.
"Gue rasa ini ada kaitannya sama lo yang keracunan."
Dahi Devan mengerut.
"Apa motif dia sampe harus ngeracunin gue? Gue gak pernah ngerasa nyinggung dia."
"Mungkin aja dia cemburu kamu deket-deket sama Celina." celetuk Mia tanpa beban. Dia kembali menyuapkan makanan ke mulut kecilnya.
Devan dan Leo sontak menoleh ke arah suara, membuat Mia berhenti mengunyah karena diberi tatapan oleh kedua pria itu.
"Hehe, aku hanya asal bicara. Kalian lanjutkan saja." Mia menyampingkan arah duduknya agar tak menghadap mereka. Namun, sebuah tangan mengusap pipinya tiba-tiba.
"Jangan peenah bicara saat mulut penuh, liat nih jadinya berantakan." Mia tersipu malu dengan tindakan tiba-tiba Devan, apalagi jari bekas mengusap noda di pipinya langsung di e mut sebentar oleh Devan.
Leo menggeleng melihatnya. Bisa-bisanya mereka bucin saat pembicaraan serius. Tapi kemudian sebuah dugaan muncul dibenaknya.
"Gimana kalo sebenarnya target racun itu gue, bukan lo."
"Maksud lo?"
"Kata-kata Mia barusan. Dion cemburu karna Celina deket sama gue, jadi dia berusaha buat bunuh gue lewat minuman yang udah dia kasih racun."
"Lhoo, deket doang? Bukannya kalian pacaran?" Mia kembali berseru.
"Kamu makan aja Mia, gak usah banyak ngomong." Leo menekan giginya saat bicara pada Mia.
Mia menunjukkan deretan giginya, tau kalau Leo jengkel padanya.
"Kenapa lo larang Mia ngomong? Gak apa-apa sayang, kalo kamu mau berpendapat omongin aja." Devan mengusap puncak kepala Mia.
"Tck!" Leo tambah kesal.
Devan berdehem.
"Oke, jadi Dion cemburu karna Celina suka sama lo, terus dia berniat buat ngeracunin lo lewat minuman yang Celina beli, tapi minuman itu malah nyampe ke gue, gitu?"
"Ya, Celina bilang kalo dia belanja untuk kita berdua karna Mr.Alex mata-matain dia. Bisa jadi Dion salah masukkin racunnya jadi ke kantong buat lo." suara Leo tampak senang karena merasa sudah menemukan titik terang.
Devan merengut kesal mendengar kemungkinan itu.
"Berarti yang harusnya kemarin koma itu lo." Dia menatap tajam Leo, yang ditatap hanya mengangkat bahu.
"Tapi, kalo kamu gak koma, belum tentu aku jatuh cinta sama kamu." Mia menggenggam tangan Devan.
"Benar juga. Tapi aku yakin kok, kamu bakalan tetep jadi pacar aku meski tanpa Arka." Devan tersenyum seraya membalas genggaman tangan Mia.
"Hah? Gimana-gimana? Apa maksudnya ini?" Leo kebingungan dengan topik yang mendadak muncul ini.
__ADS_1
***
bersambung....