Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
07


__ADS_3

Kris membopong Celina keluar dari club setelah membayar minuman yang Celina pesan. Dia menekan tombol di kunci mobil Celina agar dia tau di mana Celina memarkirkan mobilnya. Setelah menemukannya di segera ke sana dan mendudukan Celina di kursi depan dan memasang sabuk pengaman.


"Oke, sekarang kita cari alamat rumahmu." Kris mencari alamat rumah Celina di layar navigasi mobil Celina.


"Aku tidak mau pulang." Celina berkata membuat Kris menoleh, gadis itu membuka matanya setengah.


"Lalu aku harus bawa kamu kemana?" tanya Kris.


"Kemana saja." kemudian Celina kembali menutup matanya.


Kris menghela nafas, tapi kemudian memasukkan alamat apartemennya dan ia terkejut karena alamatnya adalah alamat terakhir yang Celina kunjungi. Ingin bertanya tapi sepertinya Celina sudah kembali tak sadar. Jadi Kris memendam kepenasarannya dan memilih untuk segera melajukan mobil itu ke apartemennya.


***


Sampainya di gedung apartemennya, Kris membangunkan Celina dengan menepuk pipinya lembut.


"Bangunlah, kita sudah sampai!"


"Mmmh." Celina hanya bergumam lalu memalingkan mukanya.


"Kau sengaja ya ingin kugendong lagi?" Kris tersenyum meledek tapi Celina bergeming.


Kemudian Kris keluar dan membuka pintu tempat Celina duduk. Dia membuka sabuk pengaman dan memposisikan dirinya bersiap menggendong Celina lagi di depan.


"Kau makan apa sebenarnya? Kenapa ringan sekali?" Kris bicara sendiri sambil berjalan ke arah lift. Dia heran dari yang dia lihat tubuh Celina begitu sempurna dengan lekukan dan menonjol tepat pada tempatnya, tapi dua kali dia menggendong Celina dia tidak merasakan beban gang berarti.


"Atau aku saja mungkin yang terlalu kuat." Kris cengengesan sendiri. Celina yang sedikit sadar tersenyum dengan mata tertutup.


Sesampainya di apartemennya, Kris merebahkan Celina di kasur kamar tamu, lalu menyelimutinya.


"Apa tidak apa-apa tidur tanpa membersihkan diri?" Kris bertanya pada dirinya sendiri melihat keadaan Celina.


"Ah sudahlah biarkan saja." putus Kris, rasa kantung menyerangnya, dia pun pergi ke kamarnya lalu tidur setelah mandi air hangat.


***


Celina mengerjapkan matanya karena silau dari cahaya matahari yang mengintip dari balik tirai. Begitu matanya terbuka sempurna, dia melihat ke seluruh ruangan, merasa asing.


"Aku dimana?" Celina bangun, seketika kepalanya terasa berputar dan pandangannya gelap. "Akhh.." Celina memegangi kepalanya.


"Kau sudah bangun?" Kris masuk tanpa mengetuk pintu.


"Kau?" tunjuk Celina dengan dahi mengernyit.

__ADS_1


"Kenapa kau ada di sini?"


"Ini rumahku, tentu saja aku di sini." Kris mendekati Celina dan duduk di pinggir ranjang.


"Ini rumahmu?"


"Ya."


"Kenapa bisa aku ada di rumahmu?"


"Semalam kau mabuk dan aku membawamu kesini."


Celina mengangguk, tidak meminta penjelasan lebih. Dia memang ingat semalam minum sampai mabuk dan setelah itu dia tak ingat apa-apa lagi.


"Terimakasih sudah menjagaku, aku akan pulang sekarang." Celina bangkit menyambar tasnya.


"Tidak mau sarapan dulu?" Kris ikut berdiri.


"Tidak perlu, aku tidak mau merepotkanmu lebih jauh lagi."


"Tidak repot, ko'."


"Sekali lagi terimakasih atas perhatianmu, tapi aku harus pulang sekarang."


"Tidak ada tapi!" Kris menyela Celina yang hendak mengatakan tidak.


"Yasudah." Celina berjalan mendahului Kris. Kris hanya tersenyum mengikuti Celina.


Celina memperhatikan ruangan-ruangan yang ia lewati, kenapa terasa familiar? Tapi Celina tidak bicara apapun, hanya menyimpannya dalam hati. Kris pun sedikit heran karena Celina tampak tak kebingungan mencari jalan keluar.


Ceklek, Celina membuka pintu keluar apartemen Kris dan bersamaan dengan itu seseorang juga keluar dari unit seberang. Mereka bertatapan dengan wajah sama-sama terkejut.


"Celina ada apa?" terdengar suara Kris dari dalam, dia penasaran kenapa Celina mogok disela pintu, dia mendorong Celina hingga dia bisa keluar.


"Oh, Leo? Jadi kau tetanggaku."


Leo mengalihkan matanya menatap Kris. Sedang Celina, matanya melihat pada tangan Leo yang dibalut perban.


"Ya. Saya permisi." Leo langsung pergi dengan wajah datarnya tanpa melirik Celina lagi. Celina menatap kepergian Leo dengan hati yang masih terasa remuk hingga matanya berembun.


Celina tersadar ketika tiba-tiba Kris mengusap punggungnya seolah memberi kekuatan.


"Ayo! Kuantar kau ke bawah." Kris menggandeng tangan Celina dan anehnya Celina sama sekali tak menolak.

__ADS_1


Begitu sampai di basement, Kris mendorong Celina agar duduk di kursi penumpang samping kemudi lalu dia masuk di bagian kemudi.


"Kenapa kau malah masuk?" tanya Celina yang seolah baru tersadar.


"Kau melamun begitu, gimana bisa aku biarkan kamu menyetir."Kris menyalakan mesin dan mulai melaju.


"Aku tidak apa-apa."


"Aku tau."


"Apa?"


"Mobilku semalam dibawa temanku jadi sekarang aku akan mengambilnya."


"Jadi maksudnya kau menumpang?"


"Hehe.."


***


Leo melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia begitu emosi melihat Celina dan Kris keluar dari apartemen yang sama. Apalagi baju yang Celina kenakan adalah baju yang kemarin. Sudah dipastikan kalau Celina menginap di sana.


Jadi yang semalam itu apa? Menangis seperti orang yang sangat tersakiti tapi begitu keluar dari apartemennya langsung menemui laki-laki lain. Benar-benar tak dapat dipercaya!


Leo terus saja menginjak pedal gasnya, sampai tak melihat ada seorang anak yang hendak menyebrang.


Cittt!!! Leo beruntung karena dapat menginjak rem tepat waktu. Dia syok, tapi kemudian segera keluar dari mobil untuk memastikan keadaan anak tersebut.


"Kau tidak apa-apa?" Leo jongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan anak perempuan itu. Anak itu tampak masih ketakutan.


"Kenapa sendirian? Dimana orang tuamu?" Leo bertanya lagi dengan nada yang lebih lembut.


Anak itu menunjuk seorang wanita yang tengah berlari ke arah mereka.


"Sayang, kau tidak apa-apa?" Wanita tersebut langsung memeluk anaknya yang berusia sekitar lima tahun.


"Lain kali jangan sampai lengah lagi, mbak. Itu bisa mencelakai orang lain juga." Leo berkata dengan sedikit dingin.


"Iya, maafkan saya." Wanita itu membungkuk meminta maaf.


"Yasudah, saya pergi dulu." Leo melenggang masuk lagi ke mobilnya, lalu melaju kembali setelah ibu dan anak tadi minggir.


Leo merutuki dirinya yang tidak bisa mengontrol emosinya. Padahal dia sendiri yang semalam mengusir Celina tapi dia sendiri pula yang sakit hati melihat wanita itu dengan lelaki lain. Celina benar-benar masih menguasai hati dan pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2