
"Leo ada yang ingin ku tanyakan!"
"Astaga Mia! aku baru saja masuk satu langkah."
Memang, Mia menunggu Leo di depan pintu ruangannya untuk bertanya.
"Ih serius aku mau nanya." Mia membuntuti Leo yang berjalan menuju mejanya.
"Apa? pertanyaan darimu tidak pernah berbobot. Kau selalu menanyakan hal konyol." Leo menatap malas Mia, kemudian duduk di kursinya.
"Kali ini aku serius."
"Apa?" tanya Leo dengan malas, bahkan dia tak menatap Mia.
"Apa Tuan Devan baik-baik saja?"
"Dia baik. Hanya itu yang ingin kau tanyakan?"
"Bukan. Bagaimana wajahnya? apa dia tampan?"
Leo mengangkat alisnya heran.
"Kenapa memangnya?"
"Aku hanya ingin tau. Selama ini aku sudah bekerja untuknya, tapi aku bahkan tidak tau rupanya."
Sebenarnya bukan itu alasan Mia. Ia hanya sedikit curiga karena Arka terlihat sangat cerdas dan kompeten sampai sering membantu pekerjaannya. Dia hanya ingin menghilangkan kecurigaannya, tidak sama sekali berharap.
"Kalo begitu kau lihat saja di bagan kepemimpinan."
"Aku sudah melihatnya, tapi yang kulihat jabatan CEO kosong, tidak ada fotonya."
"Devan memang tidak suka difoto."
"Lalu kenapa kau menyuruhku untuk melihat di sana."
"Karna aku tau kau sudah melihatnya."
Kata-kata Leo membuat Mia diam.
"Aku tau semenjak aku pergi kau masuk ke situs daftar karyawan Astra Group."
"Aku.."
"Siapa sebenarnya yang kau cari Mia? tadinya aku tidak curiga saat kau menanyakan tentang anak Mr.Alex, tapi kemarin kau bahkan bertanya tentang seorang OB. Mau tak mau aku harus menaruh curiga padamu." Leo menghela nafas.
"Katakan Mia, siapa yang kau cari?"
Mia bergeming dia tak tau harus jawab apa. Bukannya dia ingin merahasiakannya tentang Arka, tapi bagaimana ia harus mengatakannya? Mana mungkin dia mengatakan sednag mencari jati diri seorang hantu, itu bahkan terdengar lebih konyol dari menanyakan anak haram Mr Alex.
"Mia!" Leo terus mendesak Mia untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Aku hanya bertanya karna penasaran, bukan ada maksud apa-apa."
"Lalu untuk apa kamu mengakses situs daftar karyawan beberapa hari ini."
Mia mengendikkan bahunya santai.
"Aku hanya iseng, saat senggang."
"Begitu?" Leo masih curiga.
Mia mengangguk.
__ADS_1
Leo menjentikkan jarinya.
"Kalo begitu pekerjaanmu aku tambah, biar kamu gak ada waktu buat iseng." Leo memilih mengalihkan kecurigaannya. Dia bisa mencari tau sendiri kebenarannya.
Mia menganga mendengar kalimat enteng Leo barusan. Menambah pekerjaannya? Ternyata benar berbohong itu tidak baik dan sekarang dia langsung kena karmanya.
"Baiklah." Mia kembali ke mejanya dengan wajah cemberut, meninggalkan Leo yang tersenyum penuh kemenangan.
***
Arka sedang berada di rooftop gedung Astra Group. Sejak pagi, dia terus berkeliling di gedung tersebut untuk mencari informasi tentang dirinya walau sekecil apapun. Dia merasa malu pada Mia yang begitu semangat mencari tau.
"Besok adalah jadwal meeting dengan Mr.Alex. Alasan apalagi yang harus gue katakan buat ngelindungin lo?"
Arka mendengar suara seseorang di balik dinding. Dia langsung mendekat. Terlihat Leo sedang duduk sambil menatap lekat ponselnya.
Arka mendekat lagi, penasaran dengan apa yang ada di ponsel pria itu. Di sana terpampang foto Leo dengan seorang pria tengah tersenyum lebar. Pria itu nampak tak asing bagi Arka.
Dia terus saja memandangi pria difoto tersebut begutu pun dengan Leo, sampai kemudian dia sadar siapa itu.
"Dev, gue mohon bangun!"
Bagai disambar petir, bagai dihantam batu besar, tubuhnya sama sekali tidak bergerak mendengar ucapan Leo.
Berbeda dengan Leo, dia langsung pergi setelah mengatakan itu. Dia tidak tau bahwa ucapannya telah memberikan dampak yang begitu besar untuk Arka.
Pandangannya kabur, kepalanya serasa berputar. Satu persatu bayangan tentang dirinya muncul. Mulai dari saat pertama melihat Mia di restoran, saat dia bersama Leo, lalu saat dia bersama orang tuanya.
Wusss.. Arka menghilang bersama angin.
***
"Sudah waktunya pulang, di mana Arka." Sejak tadi izin tak ikut masuk, Arka tidak kembali.
"Apa dia sudah pulang duluan?" Mia kembali bermonolog.
"Aku tidak selemah itu. Bahkan sekarang aku sudah menyelesaikan semuanya." Mia tersenyum sombong.
Leo menaikkan sebelah sudut bibirnya, menampilkan senyum licik.
"Kalo begitu besok aku akan tambah lagi." ucapan Keo langsung melunturkan senyuman di wajah Mia.
"Tidak! Jangan! Aku sungguh lelah." kali ini Mia menampilkan wajah memohon.
"Hahhh sudahlah, pulang sana kalo memang sudah selesai."
"Bagaimana dengan rapat besok?" yang Mia maksud adalah rapat dengan Mr.Alex.
"Siapkan saja berkasnya, masalah Mr.Alex biar aku yang tangani."
"Baiklah, aku pulang."
Leo mengangguk.
"Kita harus siap mengalami kerugian jika Mr.Alex benar-benar memutuskan kerjasama ini, Devan." Leo berbicara setelah Mia pergi.
***
"Sudah sore, kenapa tidak masuk?" Dion duduk di sebelah Celina yang sedang duduk di bangku taman belakang mansion.
"Sorenya begitu cerah, aku tak ingin melewatkannya." jawab Celina memandangi langit jingga.
Dion ikut memandangi langit.
__ADS_1
"Bagaimana pertemuanmu dengan Leo hari itu?" Dion baru bisa bertemu Celina hari ini karena kemarin dia melaksanakan tugas dari Mr.Alex.
Celina menoleh pada Dion.
"Bagaimana kau tau aku menemui Leo?" Celina malah balik bertanya.
Dion tersenyum.
"Satu, kau tidak punya teman. Satu-satunya teman yang kau punya adalah Devan."
"Kau juga temanku."
Dion terdiam mendengar itu, hatinya tercubit.
"Kedua, kau tidak akan sesumringah itu kalau bukan dengan Leo."
"Kau memang paling mengerti aku."
"Tentu saja."
"Jadi?"
"Aku dan Leo masih sama."
Dion menaikkan alis meminta penjelasan.
"Kau tau, Leo kembali manis padaku. Ternyata Leo masih mencintaiku sama seperti setahun terakhir."
Dion tersenyum miris mendengar itu.
"Benarkah?"
"Ya, aku terlalu khawatir kalo dia akan menuduhku tentang apa yabg terjadi pada Devan. Tapi nyatanya, dia mempercayaiku sepenuhnya. Bahkan kemarin kami menghabiskan akhir pekan bersama."
"Kalau begitu selamat!" Dion berlalu begitu saja setelah mengatakan itu.
Celina menatap kepergian Dion heran, tapi kemudian mengendikan bahunya tanda tak peduli.
***
"Kau mempercayainya?" Dion berbicara dengan Leo lewat ponsel.
"Apa masalahnya?"
"Bukankah sudah tercetak jelas kalo Celina bisa saja mengalami delusi. Kau akan terus bersama wanita yang telah meracuni sahabat sekaligus sodaramu?"
"Itu urusanku."
Tut. Leo memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
"Dasar bodooh!! aku sudah memberinya bukti tapi dia malah melindunginya. Kalo begitu, aku akan bertindak sendiri."
Dion mengatakan itu sambil meremas foto Celina.
***
"Arka?" Mia mencari Arka lagi setelah tadi tak menemukannya saat pulang kantor.
"Biasanya dia aku muncul begitu aku panggil, kenapa sekarang tidak."
"Cihh, dia bahkan bilang kalo dia akan mendengar suaraku di mana pun dia berada."
Mia terus bicara sendiri. Lambat laun matanya terpejam karna terlalu lama menunggu Arka.
__ADS_1
***
bersambung....