Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
Akuarium


__ADS_3

Bagaimana Dion memasukkan racun ke semua minuman itu? Sedangkan mulai dari belanja hingga sampai apartemennya Celina selalu bersamanya.


Pertanyaan itu yang terus memenuhi kepalanya sejak kemarin berbicara dengan Devan. Dia benar-benar resah, bahkan mulai meragukan asumsinya itu. Benarkah Dion pelakunya? Atau benarkah Celina menderita delusi hingga dia yakin kalau dia tidak melakukannya? Apalagi setelah dipikirkan, Celina mengonsumsi halusinogen. Bisa saja dia-.. Leo menggelengkan kepalanya menolak pemikiran itu.


"Apa yang kau pikirkan?" suara Celina membuyarkan lamunannya.Dia bahkan tidak mendengar Celina masuk.


Ditatapnya lekat-lekat wajah Celina yang perlahan berjalan mendekat. Rasanya tidak mungkin wajah secantik ini bisa melakukan itu dengan alasan cemburu. Selama bersama Celina, Leo tak pernah melihat tingkah mencurigakan dari kekasihnya itu.


"Sayang?" Celina melambaikan tangannya di depan wajah Leo.


"Hah? Tidak ada, aku hanya kagum lihat kecantikan kamu sekarang."


Celina tersipu.


"Kita makan siang di luar?"


"Ayo, aku ganti baju dulu."


Leo pergi ke kamarnya. Lebih baik dia pikirkan lagi nanti tentang itu. Sekarang saatnya menghabiskan waktu dengan kekasihnya selama akhir pekan. Kebiasaan yang selalu mereka lakukan sejak dulu.


***


Tok. Tok. Tok..


"Masuk aja!" Mia berteriak sambil memunculkan kepalanya dari kamar mandi.


Devan akhirnya masuk tanpa ada Mia yang menyambutnya. Dia hendak ke kamar untuk mencari keberadaan Mia, tapi saat mendengar suara gemericik air dari kamar mandi dia mengurungkan niatnya dan duduk di sofa.


"Kenapa cepat sekali?" Mia keluar kamar mandi dengan sebuah bathrobe.


Devan baru menghubunginya sepuluh menit yang lalu, jadi wajar Mia bertanya karena waktu tempuh apartemen Devan ke rumahnya sekitar 45menit.


"Kenapa kau ceroboh sekali!" Bukannya menjawab, Devan malah menyerang Mia dengan nada tinggi.


"Apa maksudmu?"


"Kau langsung menyuruh orang masuk tanpa tau itu siapa. Gimana kalo yang ngetuk pintu bukan aku?"


"Ya tapi kan beneran kamu yang dateng."


"Iya, kali ini kamu selamat. Tapi jangan gitu lagi, apalagi dalam keadaan kamu yang kayak gini. Gimana kalo orang itu jahat sama kamu!" Membayangkan seseorang melihat Mia dalam keadaan sekarang membuatnya geram.


"Iya, lain kali aku gak akan gitu lagi."

__ADS_1


Devan menarik nafas panjang demi menurunkan kadar kekesalannya.


"Yaudah, sekarang kamu pake baju. Aku tunggu di sini." Suaranya melembut.


Mia mengangguk kemudian masuk ke kamar.


"Mau aku ambilin minum dulu?" Mia kembali memunculkan kepalanya dari pintu kamar.


"Enggak, kamu pakai baju aja sebelum aku berubah pikiran." Mia melotot mendengarnya lalu buru-buru menutup pintu. Devan terkekeh melihat Mia ketakutan.


Entah kenapa Mia selalu membuatnya merasa jadi orang mesum. Gairahnya selalu muncul saat berada dekat Mia. Padahal dulu dia tak pernah merasakan apapun saat ada banyak wanita yang mendekatinya, bahkan terang-terangan menggodanya ke tempat tidur. Tapi dengan Mia, melihat bibir merah alaminya saja sudah membuatnya meremang.


Apalagi sekarang, Mia keluar kamar dengan memakai dress putih sederhana serta riasan tipis, rambut pendeknya dia biarkan terurai dengan satu jepitan di samping. Jika orang lain yang memakainya mungkin akan tampak biasa saja, tapi kenapa di matanya Mia terlihat sangat bersinar, membuat degupan jantungnya kembali berpacu setelah sesaat tadi berdetak normal ketika Mia di kamar.


"Apa aku terlihat aneh?" Mia melihat lagi penampilannya karena Devan menatapnya tanpa kedip sejak tadi.


"Hah? Enggak, kamu cantik kok." Jawab Devan gelagapan.


"Benarkah? Kalo begitu ayo pergi!"


"Ayo!"


Devan bangkit dan menggiring Mia keluar rumah. Hari ini mereka akan pergi ke aquarium besar di kota itu. Mia selalu ingin pergi ke sana tapi tak pernah punya teman yang bisa dia ajak. Sekarang dia punya Devan, jadi ketika Devan bertanya dia ingin berakhir pekan kemana, langsubg saja dia jawab tempat itu. Dia bukan tipe gadis yang suka memberi kode, dia lebih nyaman mengatakan apa yang ada di hati dan pikirannya.


***


Saat biota-biota laut mulai terlihat Mia tanpa sadar melepaskan tautan tangannya dan berjalan mendahului Devan. Devan hanya tersenyum melihat Mia yang melangkah ringan bagai peri. Dia tetap menjaga jarak agar Mia leluasa, namun matanya tak pernah lepas mengamati, takut jika Mia hilang karena tempat ini cukup ramai mengingat ini adalah akhir pekan.


"Hati-hati." Devan dengan sigap menangkap Mia dari belakang ketika Mia ditabrak oleh beberapa anak yang berlarian.


Mia tersenyum, "Makasih."


"Harusnya aku menyewa tempat ini agar lebih tenang." Devan tampak tak nyaman dengan suasana di sini. Dia terus menghindar dari beberapa orang yang hampir menabraknya.


"Maaf, harusnya aku tidak mengajakmu ke sini." Mia merasa bersalah karena mengajak Devan ke tempat ramai sedangkan Devan adalah orang yang suka ketenangan.


"Tidak, bukan begitu. Aku hanya khawatir, takut kamu kenapa-kenapa." Devan menyelipkan anak rambut Mia ke belakang telinga. Dia tersenyum menenangkan, meyakinkan Mia kalau dia tidak keberatan berada di sana.


"Ayo! Kita lihat yang sebelah sana." Devan menggandeng tangan Mia lagi lalu menariknya lembut.


"Lihat! Yang itu mirip kamu." Devan menunjuk seekor penguin yang sedang berenang.


"Mirip apanya!" Mia cemberut.

__ADS_1


"Mirip, dia mungil, lucu sekaligus imut sama kayak kamu." Devan mencolek ujung hidung Mia yang sedikit merona akibat ucapannya. Dia berjalan mendahului Devan lagi. Entah sudah berapa kali dia tersipu oleh Devan hari ini.


Mereka menyusuri lorong yang bernuansa biru gelap. Terasa seperti berjalan di tengah laut. Di sini agak sepi, tidak ramai seperti sebelumnya.


"Kalo aku mirip penguin, kalo kamu mirip itu!" Celetuk Mia tiba-tiba menunjuk seekor hiu raksasa di depannya.


"Apa aku terlihat seperti itu di matamu?" Matanya memicing memperhatikan hiu itu. Panjangnya mungkin ada sekitar 3 meter.


"Tidak secara fisik, tapi karakteristiknya."


"Memang aku seperti apa?" Devan penasaran, seperti apa dirinya di mata Mia. Karena walau mereka sudah berkencan beberapa bulan, dia belum pernah mendengar Mia mengomentari dirinya.


"Hiu terlihat sangat gagah, banyak yang merasa kagum padanya tapi dalam satu waktu hiu juga begitu ditakuti, banyak penghuni laut yang menjaga jarak agar tak mendapat masalah karena hiu terkenal dengan kekejamannya."


"Tapi aku tidak kejam. Aku gak pernah melakukan kekerasan sebagai solusi."


"Ya, kamu memang gak pernah gunain kekerasan tapi kamu gak pernah kasih toleransi kesalahan sekecil apapun." Mia ingat tempo hari Devan memecat seorang karyawan karena kesalahan ketik yang dia buat dan itu membuat salah satu klien marah. Atau memerintahkan orang untuk mencabut SIM dari pengemudi wanita yang tidak sengaja menggores mobilnya.


"Makanya orang-orang kagum sekaligus takut padamu." lanjut Mia.


Devan tampak merenung. Memandangi hiu yang sudah berenang menjauh ke dalam gelap digantikan oleh beberapa biota yang bersinar ditengah gelap.


"Apa menurutmu begitu? Bagiku, kesalahan kecil adalah akar dari sebuah masalah besar. Jika dibiarkan akan menimbulkan masalah besar dikemudian hari. Apa aku salah selama ini?" Devan menatap lekat Mia.


Cukup lama Mia terdiam sebelum akhirnya menjawab.


"Tidak. Tidak ada yang salah sebenarnya. Tapi terkadang toleransi dibutuhkan dalam kehidupan, agar hidup kita lebih damai dan lebih banyak orang yang bahagia."


"Apa sekarang kau tidak bahagia denganku?"


"Bahagia. Sangat. Tapi, aku akan lebih bahagia kalo kamu bisa sedikit demi sedikit membuka diri pada dunia."


"Kalo begitu, temani aku sampai aku mencapai titik itu. Kamu mau?"


"My pleasure." Mia menunduk sambil mengangkat kedua sisi gaunnya ala princess membuat Devan tersenyum lucu.


Betapa bahagianya dia memiliki Mia di sampingnya. Rasanya tak salah memberikan seluruh hatinya pada gadis mungil ini.


Tak dapat menahan euforia dihatinya, Devan menarik pinggang Mia dan menciumnya dengan penuh kelembutan. Mia memeluk tubuh Devan dengan nyaman. Merasakan luapan perasaan Devan yang juga dia rasakan. Sungguh, dia tak pernah merasa sebahagia ini dalam hidupnya.


***


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2