Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
20


__ADS_3

Satu tahun berlalu, kemajuan perusahaan Leo semakin jelas terlihat. Nusa Food Company telah bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar dari mancanegara. Cabangnya pun telah tersebar di 6 negara.


Sedikit sokongan dari Devan yang merekomendasikan Nusa Food Company pada kenalannya membuat perusahaan Leo lebih cepat dikenal oleh investor. Meski begitu, tak sedikit kenalan Devan yang menolak bekerja sama dengan Leo, jadi semuanya sama sekali tak tergantung Devan.


Hubungan Celina dan Leo sedikit merenggang karena kesibukan masing-masing. Leo yang sering bepergian ke luar negri dan Celina yang juga sudah mulai mengambil alih Giant Family membuat keduanya hanya bisa sesekali berkomunikasi lewat telpon. Tapi, bukan berarti hubungan mereka menjadi tak jelas, justru setiap mereka bicara yang dibahas selalu saja tentang masa depan.


Tapi, kali ini sedikit berbeda, Leo yang biasanya selalu menyempatkan waktu untuk menghubunginya walau sesibuk apapun kini tak bisa dihubungi sejak seminggu terakhir. Celina jadi tak karuan rasanya. Berbagai pikiran buruk pun menghantuinya. Apakah Leo bosan padanya? Apa Leo menemukan kesenangan baru? Atau daddy kembali menyabotase komunikasi mereka lagi?


Sepertinya pertanyaan terakhir sedikit masuk akal, mengingat Alex memang belum secara resmi memberi restu hubungan mereka. Jadi, Celina mendatangi ruang kerja Alex untuk bertanya langsung.


Tok Tok Tok


"Masuk!" suara Alex menyahut dari dalam.


Celina masuk kemudian menutup pintu kembali.


"Ada apa?"


"Apa yang daddy lakukan pada Leo?" tanya Celina tanpa basa-basi.


"Apa maksudmu?"


"Sudah seminggu Leo tidak menghubungiku, pasti daddy bicara yang tidak-tidak lagi padanya."


"Kau pikir dia akan mau?"


"Hah?"


"Kau pikir Leo akan mendengarkan jika daddy kembali menyuruhnya untuk menjauhimu?"


Celina terdiam, benar juga yang daddy katakan. Tak mungkin Leo mau dibodohi lagi.


"Lalu kemana di seminggu ini?" Celina jadi merengek di depan Alex, air matanya sudah berkumpul di pelupuk matanya.


"Mungkin dia masih sibuk. Kau tau sendiri, sekarang perusahaannya sedang maju-majunya."


"Tapi sebelumnya sesibuk apapun dia pasti menyempatkan diri menelponku, dad!"

__ADS_1


"Lalu daddy harus apa?" Alex bingung menghadapi putrinya itu.


"Mana aku tau!" Celina pun bangkit dan meninggalkan Alex sambil menghentakkan kakinya.


"Astaga! Tempramennya benar-benar menurun dariku."


***


Di suatu desa yang indah, Leo sedang mengawasi orang-orang yang sedang mendekor sebuah pondok kecil. Tempat itu ia siapkan untuk merayakan ulang tahun Celina sekaligus melamarnya.


Ya, Alex telah memberikan restu sepenuhnya seminggu yang lalu, jadi Leo langsung menyiapkan ini semua. Tidak menghubungi Celina pun itu bagian dari rencananya. Itu ia lakukan agar kejutannya lebih sempurna. Meski ia tau nantinya Celina akan merajuk. Ah, membayangkan wajah kekasihnya yang cemberut membuat Leo semakin merindukannya.


"Halo!" sapa Leo pada seseorang yang menghubunginya.


"Dia sudah uring-uringan setiap hari, apa persiapannya belum selesai juga?" Alex mengadukan tingkah Celina. Alex memang tau rencana ini.


"Sepertinya hari ini sudah selesai. Anda bisa membiarkan Celina menyusulku kemari."


"Oke." Alex langsung mematikan sambungan telponnya membuat Leo menghela nafas sabar. Tapi kemudian dia tersenyum, sebentar lagi dia akan melamar kekasihnya dan menjadikan dia wanita satu-satunya dalam hidupnya.


"Daddy serius aku boleh menyusul Leo ke Swiss?" tanya Celina dengan mata berbinar.


"Pergilah! Daddy sudah pusing mendengar rengekanmu tiap hari." ujar Alex dengan wajah pura-pura risih.


"Thank you, dad!" Celina menerjang Alex dengan pelukan erat juga beberapa kecupan di kedua pipi Alex.


"Kau memang yang terbaik!" Alex tertawa mendapat acungan jempol dari Celina.


Celina segera kembali ke kamarnya untuk packing. Pesawatnya akan take off dalam 3 jam, jadi Celina tak ada waktu lagi. Dia hanya mengemas beberapa helai pakaian dan juga skincare yang sering dia gunakan, sisanya akan dia beli ketika dia sampai di sana, jadi dia tak memakan waktu lama untuk berkemas.


***


Perjalanan yang panjang telah Celina lewati, kini dia sedang merebahkan diri di kasur kamar hotel di pusat kota. Badannya terasa begitu pegal meski tadi di pesawat dia tidur. Matanya perlahan terpejam, menghubungi Leo adalah hal terakhir yang ada dibenaknya sebelum akhirnya terlelap.


Leo sudah berada di depan sebuah kamar hotel, kamar Celina. Dia tau karena dialah yang memesan kamar itu, begitupun dengan tiket pesawat.


Dia menempelkan keycard di sensor pintu kamar tersebut, dia yang memesan tentu saja dia punya kunci cadangannya. Dia berjalan dengan perlahan takut ketauan. Dilihatnya Celina sedang tidur meringkuk seperti bayi membuat sudut bibir Leo spontan terangkat. Cantik sekali.

__ADS_1


Dua paper bag yang dia bawa diletakkan di ujung ranjang sebelum dia melangkah lebih dekat lagi pada Celina. Tangannya terulur untuk mengelus rambut kekasihnya, tapi Celina lebih dulu menggeliat hingga Leo mengurungkan niatnya. Akhirnya dia pergi karena takut Celina bangun dan memergokinya.


***


Celina bangun setelah beberapa jam tertidur. Tangannya mencari ponsel dan terkejut karena hari sudah hampir malam.


"Bagaimana bisa aku tidur begitu lama! Aku bahkan belum membongkar koper."


Celina cepat-cepat turun dari ranjang, tapi karena matanya belum sepenuhnya terbuka dia menyandung sesuatu di ranjangnya.


"Aww, apa itu?" Celina melihat dua paper bag tergeletak di lantai.


"Milik siapa ini? Tadi tidak ada di sini." Celina jongkok mengambilnya lalu duduk di kasur untuk membukanya.


Kantung pertama berisi sebuah gaun hitam yang cantik, lalu kantung kedua berisi kotak yang didalamnya ada sepasang heels berwarna hitam dengan taburan berlian yang begitu mewah. Celina bingung ini milik siapa, tapi kemudian rasa penasarannya terbayar ketika dia sebuah kartu jatuh dari kantung pertama.


~*Pakailah ini, lalu turun pukul 7 malam ini, akan ada yang menunggumu di depan.


Leo, kekasihmu*~


Celina tersenyum membaca pesan singkat dari Leo yang terasa sangat kaku bagi Celina. Tapi senyumannya langsung luntur ketika tak sengaja dia melihat jam dinding.


"Jam enam? Astaga!! aku harus cepat-cepat!" Celina langsung lari menuju kamar mandi lalu mandi secepat kilat. Baginya, mandi tak terlalu penting, yang penting adalah wangi dan tampilannya, karena itu dia akan lebih mengjabiskan waktunya di depan meja rias daripada di kamar mandi.


Tepat pukul 7 Celina akhirnya menyelesaikan riasannya. Dia turun menuju ke luar seperti yang Leo katakan. Dan ternyata benar, di depan pintu masuk hotel ini ada seseorang yang telah menunggunya.


"Nona Celina?"


"Ya."


"Mari!" Sopir itu menuntun Celina untuk masuk ke sebuah mobil mewah.


"Kita akan ke mana?" Tanya Celina dengan bahasa Inggris karena tadi sopir itu bicara bahasa Inggris.


"Lauterbrunnen."


Celina sedikit mengerutkan keningnya karena merasa asing dengan nama tempat itu. Dia memang tidak terlalu tau tentang negara ini. Setelah setengah jam perjalanan Celina semakin gelisah karena jalan yang mereka lalui semakin gelap dan sepi.

__ADS_1


"Pak, ini benar jalannya?"


"Benar, nona." jawab sopir itu tenang, berbanding terbalik dengan Celina yang sedikit panik. Apalagi Leo tak bisa dia hubungi, membuatnya semakin khawatir.


__ADS_2