
...༻◈༺...
Julie baru tiba di apartemen. Kedatangannya disambut oleh Sasya dan Axton. Seperti biasa, kedua orang itu hampir tidak pernah absen berkunjung.
"Julie, bagaimana?" Axton langsung mendekat. Dia jelas membicarakan perihal kedekatan Julie dengan Fred.
"Baik." Julie menjawab singkat. Dia masuk ke kamar dan berganti pakaian.
Bertepatan dengan itu, Julie melihat asap berwarna jingga di luar jendela. Dia yakin sosok tersebut sama persis seperti dengan yang merasuki Shane.
Akibat penasaran, Julie membuka jendela. Dia ingin melihat asap berwarna jingga itu lebih dekat. Tetapi asap tersebut malah bergerak melesat mengelilinginya.
Julie tersenyum. Dia merasa kalau sosok hantu berbentuk aneh itu mengajaknya bercanda.
"Apa kau tidak bisa bicara? Itulah alasanmu merasuki Shane tadi?" tanya Julie sembari terus memperhatikan sosok hantu yang tidak lain adalah June.
Lama-kelamaan Julie dapat menyaksikan ada keindahan dalam wujud June yang sekarang. Sebab dia melihat jelas ada sedikit percikan cahaya yang menyala.
"Hantu jenis apa kau? Warnamu persis seperti langit saat senja," imbuh Julie. Alhasil dia tiba-tiba teringat dengan June. Dirinya baru sadar kalau hantu tampan tersebut tidak menemuinya seharian.
"Bicara dengan Fred membuatku melupakannya," gumam Julie. Dia tidak bisa membantah kalau dirinya cukup merindukan June. Namun itu tidak berlangsung lama. Julie langsung menggeleng kuat. "Tapi... Bukankah itu bagus? Ini artinya semua rencanaku berhasil," sambungnya sambil menyatukan tangan ke depan dada.
Julie bertekad ingin lebih akrab dengan Fred. Dia sadar, seharusnya sejak awal dirinya mencoba mencari teman. Tetapi untung saja segalanya belum terlambat. Julie masih memiliki kesempatan untuk memulai.
Jendela ditutup oleh Julie. Mengabaikan asap berwarna jingga yang tadi sempat menarik perhatiannya. Ia membersihkan diri dan bergabung bersama keluarganya.
Keesokan harinya, Julie bekerja seperti hari biasa. Kini dia sedang berada di kantornya. Pintu tiba-tiba diketuk. Julie lantas menyuruh orang yang datang untuk masuk.
Shane muncul dari balik pintu. Ia membawa berkas di tangannya. Lelaki berkacamata itu segera menyerahkan berkas tersebut kepada Julie.
"Halo, Shane!" sapa Julie ramah. Shane hanya membalas dengan senyuman. Lelaki tersebut segera menyerahkan berkas yang dibawanya kepada Julie.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Julie sembari memeriksa berkas bawaan Shane. Mengingat Shane sempat kerasukan tadi malam.
"Baik. Kau?" Shane menanggapi.
__ADS_1
"Lebih dari baik." Julie menjawab sambil tersenyum.
Setelah berkas ditandangani, Shane keluar dari kantor Julie. Dia tidak bisa berhenti tersenyum ketika menyaksikan senyuman gadis yang dirinya suka.
Sementara Julie, asyik berbalas pesan dengan Fred. Dia merasa lelaki itu sangat menyenangkan dan cocok dengannya. Terutama terkait selera humor.
Kebetulan hari ini Fred mengajak Julie makan malam di rumahnya. Julie sendiri sama sekali tidak masalah akan hal tersebut.
Julie yang telah merampungkan semua pekerjaan, segera pulang. Dia menunggu Fred yang berjanji akan menjemputnya.
Dari kejauhan Julie dapat menyaksikan June yang berdiri memperhatikannya. Detak jantung Julie kembali tidak terkontrol. Dia segera membuang muka dari June. Julie benar-benar tidak mau terus terikat dengan lelaki yang jelas bukan manusia.
Tak lama kemudian, Fred datang. Julie langsung masuk ke mobilnya. Fred otomatis menjalankan mobil dengan pelan.
Di perjalanan, jantung Julie kembali berdegup tidak karuan. Pupil matanya membesar tatkala menyaksikan June mengikuti. Hantu itu mengekori dengan cara menaiki mobil yang ada di sekitar mobil Fred.
Jika mobil yang dinaiki June sudah melewati mobil Fred, maka hantu tampan itu akan menghilang. Lalu tiba-tiba berada di mobil terdekat dengan keberadaan Julie. Hal itu terus terjadi ketika mobil Fred terus berjalan.
Kali ini tidak ada senyuman yang terukir di wajah June. Dia hanya menatap Julie dengan ekspresi datar.
"Kau kenapa terlihat sangat tegang?" tanya Fred yang berhasil memergoki ekspresi yang ditunjukkan Julie. Dia menghentikan mobil karena lampu merah sedang menyala.
June sendiri merasa kecewa ketika menyaksikan Julie terus pergi menemui Fred. Dia berpikir kalau Julie tertarik dengan lelaki berambut pirang itu.
"Kau kenapa tidak mendekatinya seperti dulu?" Molly mendadak muncul. Dia sudah duduk di sebelah June. Kebetulan mobil yang mereka naiki hanya dikendarai oleh seorang lelaki paruh baya.
"Karena aku tahu Julie sengaja menjauhiku. Dia tentu lebih memilih manusia dibanding aku," sahut June. Dia berhenti menatap ke arah Julie.
"Kenapa kau jadi pesimis begitu? Aku jamin lelaki yang dekat dengan Julie itu bukan orang baik. Karena aku pernah melihatnya pergi bersama wanita lain di bar."
"Benarkah? Kau yakin?"
"Sebenarnya tidak juga. Hehehe..." Molly menjawab sambil menggaruk kepala. Cengengesan menampakkan giginya.
"Sekarang bisakah kau pergi?!" hardik June yang sudah tidak tahan dengan gangguan Molly.
__ADS_1
"Kau kenapa tidak mencoba mencari lelaki yang berhasil kau rasuki itu? Padahal kau bisa memanfaatkannya dengan baik. Apalagi dia kan bekerja sebagai sekretaris Julie," ucap Molly.
"Tidak. Julie tidak suka dengan orang seperti Shane. Jadi menurutku, sia-sia memanfaatkan lelaki itu. Lagi pula sikapnya sangat berbanding terbalik denganku." June kembali menatap Julie. Mobil berjalan saat lampu hijau menyala.
"Jadi apa rencanamu sekarang?" tanya Molly.
"Mungkin pergi dari kehidupan Julie. Aku yakin itulah yang dia inginkan..." lirih June.
Selang sekian menit, Fred tiba di tempat tujuan. Dia membawa Julie ke rumahnya yang berukuran sedang namun terlihat mewah.
"Rumahmu sangat bagus," komentar Julie.
"Thanks. Aku yang mendesainnya sendiri," jawab Fred percaya diri. Dia memang memiliki pekerjaan sebagai arsitek.
"Ya, kau memang harus gunakan keahlianmu untuk properti milik sendiri," tanggap Julie seraya berjalan mengiringi Shane. Dia juga tak lupa mengedarkan pandangan ke sekitar. Mencoba mencari June.
'Apa dia berhenti mengikuti?' benak Julie bertanya-tanya. Meskipun begitu, dia langsung menggeleng kuat. 'Apa yang kupikirkan? Kenapa aku malah mencarinya?' batinnya. Menyadarkan diri.
"Ayo masuk. Anggaplah seperti di rumah sendiri." Fred membukakan pintu untuk Julie. Keduanya segera menghilang di telan pintu.
Fred menyuruh Julie duduk menunggu di meja makan. Sedangkan dirinya akan menyiapkan hidangan untuk makan malam.
"Kau akan memasak apa, Fred?" tanya Julie.
"Spageti dan salad. Kau suka kan?" tanggap Fred yang telah menaruh spageti mentah ke dalam air mendidih.
"Ya, aku suka. Apa kau perlu bantuan?" Julie bangkit dari tempat duduk. Dia masuk ke area dapur untuk membantu Fred.
"Aku tidak akan menolak jika mendapat bantuan dari gadis cantik," ujar Fred. Menyebabkan Julie tidak kuasa menahan senyum. Keduanya memasak bersama.
"Ayolah, Julie. Potonganmu salah," kritik Fred kepada Julie yang sibuk memotong buah.
"Maaf, aku tidak pandai berada di dapur," sahut Julie.
"Sini! Biar aku ajari." Fred memegang kedua tangan Julie dari belakang. Posisi mereka sekarang sangat dekat. Fred dapat mencium bau parfum Julie yang harum.
__ADS_1
Suasana hening terjadi. Julie menoleh ke arah Fred. Hingga mereka saling bertukar pandang.
Dari luar jendela, June melihat semuanya. Matanya memicing penuh amarah kepada Fred.