
...༻◈༺...
"Kau harus mencari alasan, Julie. Lagi pula aku yakin Shane akan mengerti," ujar June.
"Kau benar. Dia pasti mengerti." Julie setuju dengan pendapat June.
"Aku sangat ingin menyentuhmu sekarang. Memelukmu, menciummu... Tapi dengan tubuhku sendiri," ungkap June. Raut wajahnya tampak sendu.
"Sebentar lagi kita akan bersama. Kau tidak perlu mencemaskan hubunganku dan Shane. Lelaki yang selalu ada di hatiku itu hanyalah kau," tutur Julie. Senyumannya menular kepada June. Pembicaraan mereka berakhir disitu. Julie segera kembali bergabung bersama yang lain.
Pesta pernikahan berakhir saat malam. Julie dan Shane akan tidur di kamar hotel VIP untuk satu malam. Mereka akan pergi ke rumah pribadi saat esok hari.
Kini Julie sudah berada di kamar. Dia baru selesai membersihkan make up yang ada di wajah. Sedangkan June yang sedang dalam wujud asap jingga, selalu ada di sekitarnya.
Bertepatan dengan itu, Shane datang. Dia terlihat kikuk saat melihat keberadaan Julie. Meskipun begitu, Shane berusaha memberanikan diri.
Shane berulang kali menggaruk tengkuknya. Dia bingung harus berbuat apa. Alhasil Shane memilih duduk ke tepi ranjang. Lalu melepas jas dan dasinya. Shane juga beberapa kali mendengus kasar.
Pupil mata Julie membesar tatkala melihat Shane duduk di ranjang. Dia menenggak ludahnya dan sudah memikirkan segala kemungkinan.
Julie menghembuskan nafas dari mulut. Dia akan bicara kepada Shane secara baik-baik.
"Shane..." panggil Julie lirih.
"I-iya. Julie." Shane gelagapan. Dia langsung berdiri dan memutar tubuhnya menghadap Julie.
"Aku ingin membicarakan sesuatu. Kau bisa duduk," tanggap Julie. Dia dan Shane duduk bersama ke tepi ranjang.
__ADS_1
Shane tampak gugup. Dia terus memainkan jari-jemarinya.
"Ini mengenai hubungan kita. Ma-maksudku tentang bagaimana hubungan suami istri seharusnya. Kau tahu maksudku bukan?" ujar Julie yang merasa enggan. Sebab apa yang dibicarakannya cukup sensitif. Apalagi kepada Shane. Lelaki yang tidak begitu dikenalnya.
"Ka-kau membicarakan tentang s-e-k-s." Shane terpaksa mengeja untuk mendapatkan kepastian. Kemudian menenggak ludahnya sendiri. Dia benar-benar gugup sekarang. Terlebih Shane tidak memiliki pengalaman. Alias masih perjaka.
Julie mengangguk. "Aku butuh waktu untuk melakukannya. Jadi..." ucapnya.
"Ya, aku mengerti. Lagi pula aku tidak begitu mementingkan itu," kata Shane yang langsung setuju. Entah kenapa dirinya justru merasa lega. Dia terlalu baik. Selain itu, cintanya terhadap Julie sangat besar. Ia tentu akan selalu mengiyakan apapun yang di inginkan Julie.
"Benarkah?" Julie merasa senang. "Terima kasih, Shane. Kau memang lelaki yang sangat baik," sambungnya sembari menggenggam tangan Shane. Lelaki tersebut hanya mengangguk malu. Dia membiarkan Julie beranjak ke kamar mandi.
Malam itu, Julie dan Shane bahkan tidak tidur seranjang. Shane memilih mengalah dan tidur di sofa. Ia membiarkan Julie tidur dengan nyaman di ranjang.
...***...
Setibanya di rumah, Julie dan Shane saling membantu untuk mengangkat barang. Setelah selesai, Shane mengajak Julie mengikutinya.
"Pilihlah kamarmu," ucap Shane.
"Apa?" Julie melebarkan kelopak mata. Dia merasa sedikit kaget sekaligus terenyuh. Ternyata Shane adalah lelaki sebaik itu. Julie lantas memilih kamar untuk dirinya.
"Beristirahatlah, biar aku yang merapikan barang di luar," ujar Shane. Pamit dari hadapan Julie.
"Terima kasih, Shane." Julie segera mengeluarkan pakaian yang ada di koper. Kemudian memindahkannya ke lemari. Ketika semuanya sudah selesai, Julie langsung beristirahat. Ia tidak sengaja jatuh ke dalam lelap.
Julie terbangun saat mencium bau masakan yang enak. Dia melangkah keluar kamar. Atensinya tertuju ke meja makan yang dipenuhi makanan kesukaannya.
__ADS_1
"Wah... Ini terlihat lezat," ungkap Julie.
"Kau sudah bangun?" tegur Shane. Dia sejak tadi ada di depan kompor. Shane menghampiri meja makan sambil membawa kentang goreng. "Ini tidak akan sempurna dengan kentang goreng bukan?" ujarnya.
"Kau tahu aku sangat menyukai kentang goreng?" tanya Julie.
"Ya, kau bahkan selalu makan ini saat kau sedih." Shane berucap sambil meletakkan piring berisi kentang goreng. Dia sadar dirinya keceplosan ketika selesai bicara.
"Bagaimana kau tahu?" Julie penasaran.
"Em... A-aku pernah melihatmu makan kentang goreng saat terkena masalah di sekolah dulu." Shane terpaksa berkata jujur.
"Maksudmu saat SMA?" Julie memastikan.
"Ya." Shane menjawab sembari menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
Julie terkesiap. Dia baru sadar kalau Shane sudah memperhatikannya sejak SMA.
"Ayo kita makan bersama." Shane segera merubah topik pembicaraan. Dia menarikkan kursi untuk Julie.
"Shane, kau tidak perlu--"
"Duduklah." Shane memotong perkataan Julie. Gadis itu otomatis duduk ke kursi yang disediakan Shane. Mereka menikmati makan siang bersama.
Julie tertegun ketika merasakan makanan masakan Shane. Makanannya begitu enak.
"Kau ternyata ahli memasak. Ini sangat lezat!" komentar Julie.
__ADS_1
"Syukurlah kalau kau menyukainya," tanggap Shane. Dia merasakan bahagia tiada tara. Walau belum bisa menyentuh Julie sepenuhnya sebagai seorang suami, Shane tetap bahagia. Karena dapat melihat wajah Julie setiap hari sudah sangat disyukurinya. Shane juga berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia akan menjadi suami yang sempurna untuk Julie.