Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 48 - Kecemburuan June


__ADS_3

...༻◈༺...


Shane begitu perhatian kepada Julie. Dia memperlakukan gadis itu seperti seorang ratu. Apa yang dilakukan Shane tentu membuat June iri.


"Biar aku saja yang mencuci piringnya. Kau bisa langsung beristirahat ke kamar," tutur Shane sembari mengumpulkan piring dan gelas kotor.


"Tidak. Kau sudah memasak untukku. Biar aku saja yang mencucinya." Julie menolak. Dia mengambil tumpukkan piring kotor lebih dulu. Lalu mencoba membawanya ke wastafel.


"Jangan, Julie. Aku tidak mau kau lelah." Shane mencegah Julie.


"Lelah? Aku sama sekali tidak lelah." Julie bersikeras.


"Kalau begitu kita saling membantu saja," saran Shane.


"Ya, itu ide bagus." Julie setuju. Dia dan Shane bekerjasama membereskan meja makan. Kemudian mencuci piring di wastafel.


Shane bertugas meletakkan piring yang sudah dicuci ke rak. Dia tidak kuasa menahan diri untuk tidak menatap Julie. Sesekali Shane tersenyum karena tak bisa membendung kebahagiaan.


Sejak tadi, June terus mengawasi dalam wujud jingga. Cara terbangnya tidak karuan. Jelas hantu itu cemburu dengan hubungan yang terjadi di antara Julie dan Shane.


"Julie, bolehkah aku jujur?" ungkap Shane dengan tatapan meragu.


"Katakan saja. Kenapa kau harus minta izin terlebih dahulu?" tanggap Julie seraya terkekeh.


Shane menghela nafas terlebih dahulu. Setelah itu, barulah dia angkat bicara.


"Aku sudah lama mengagumimu. Tepatnya ketika kau membelaku saat aku dibuli oleh orang banyak. Semenjak itu, aku selalu memperhatikanmu dari jauh. Sampai... Perasaan sukaku tercipta untukmu. Bahkan apa yang aku rasakan sekarang terasa seperti mimpi," ungkap Shane panjang lebar.


Deg!


Jantung Julie berdegup kencang secara alami. Langsung terlintas banyak kesimpulan di kepalanya.

__ADS_1


"Sejak itu?" Julie menoleh. "Apa berarti kau tetap menyukaiku meski aku sudah berpacaran dengan June?" tanyanya.


Shane mengangguk. "Aku mau bagaimana lagi. Perasaan tidak mudah dihapus begitu saja bukan?" tanggapnya.


Julie terpaku menatap Shane. Begitu pun sebaliknya. Mereka saling bertukar pandang dalam sepersekian detik. Hingga Julie akhirnya sadar kalau dia hampir lupa diri. Gadis itu bergegas membuang muka.


"Ah benar. Aku punya sesuatu untukmu." Shane beranjak dari hadapan Julie. Dia masuk ke kamar.


Tanpa diduga, June memanfaatkan kesempatan itu untuk merasuki Shane. Dalam sekejap tubuhnya diambil alih oleh hantu tersebut.


Raut wajah Shane yang tadinya berseri dan dipenuhi kebahagiaan, berubah langsung cemberut. June berjalan ke depan cermin. Di sana dia bisa melihat wajah Shane lebih jelas.


"Kau benar-benar menyebalkan!" geram June ketika melihat wajah lelaki yang sedang dirasukinya.


Plak!


Karena kesal, June memberikan tamparan ke pipi Shane. Jika ditilik, dia memang terkesan seperti menampar dirinya sendiri. Padahal June hanya berniat memberi hukuman kepada Shane.


Bersamaan dengan itu, sebuah ingatan muncul. June berhenti menampar Shane. Dia terpaku dengan ingatannya yang muncul.


June mematung dalam sesaat. Dia merasa agak kaget dengan ingatan yang terlintas. Bagaimana tidak? Dalam ingatannya itu, June bisa melihat dia dan teman-temannya membuli Shane di toilet saat masih SMA.


"Apa yang sudah aku lakukan?" June semakin syok ketika ingatan tentang Shane tambah banyak bermunculan. Ia juga ingat dengan pertengkarannya bersama Julie di tangga. Ternyata saat itu Julie memarahinya karena berhasil mengetahui June merundung Shane.


"Apa aku seburuk itu?" June gemetaran. Kini dia memegangi pipinya. Alias pipi Shane yang sedang dia rasuki.


June mencoba untuk membantah fakta yang pernah terjadi di kehidupannya. Akan tetapi dia tidak bisa menepis dengan sejarah hidupnya sendiri. Semua hal itu tentu akan terekam jelas dalam memori.


Selain mengingat perihal Shane, June juga sukses mengingat apa yang terjadi saat kecelakaan.


Flashback saat insiden kecelakaan...

__ADS_1


Kala itu Julie tiba-tiba menghalangi mobil June. Membuat June terpaksa menghentikan mobil. Julie menggunakan momen tersebut untuk masuk ke mobil June.


"June! Sudahlah. Kita akan menikah hari ini. Lupakan saja semuanya."


"Sebentar saja! Kau tahu ini sangat penting bagiku. Keluarga Davison sudah membuat kesalahan besar! Kau tahu aku melakukan ini demi menyelamatkan banyak orang. Lagi pula hanya Wilson yang bersedia memberikan buktinya kepadaku!"


"June, kumohon. Setidaknya lakukan saat kita selesai mengucap janji di altar!"


"Julie, aku tak punya waktu untuk bertengkar denganmu, oke?!" June menjalankan mobil dalam kecepatan tinggi.


"Kau sangat keras kepala! Mau sampai kapan kau begini?! Kembali atau aku tidak akan menikah denganmu!" Julie menutup wajahnya dan terisak.


Pertengkaran berakhir saat Julie berucap begitu. June menghentikan mobil. Lalu menggenggam tangan Julie.


"Maafkan aku, Julie. Aku tidak bermaksud ingin membuatmu menangis." June langsung memeluk Julie. Berusaha menenangkan gadis itu.


"Ayo kembali ke acara pernikahan, barulah aku mau memaafkanmu," ujar Julie.


"Baiklah. Tapi aku ingin melihatmu berhenti menangis." June memilih mengalah.


Julie lantas berhenti menangis. Sedangkan June segera menjalankan mobil.


Hening menyelimuti suasana. June merasa Julie masih kesal kepadanya.


"Aku sudah minta maaf. Kita juga akan segera menikah, bisakah aku melihatmu tersenyum?" pinta June.


Julie melayangkan tatapan malas. Dia memaksakan diri tersenyum.


"Senyuman apa itu? Seperti senyuman seseorang yang sedang menahan buang air besar," komentar June bermaksud bercanda.


"Enak saja." Julie tergelak. Candaan June sukses mencairkan suasana. Saat itulah sebuah truk menabrak mobil mereka. June sigap melindungi Julie dengan pelukan erat. Sehingga tubuhnya yang menjadi tameng Julie, harus mendapat luka teramat parah.

__ADS_1


__ADS_2