Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 21 - Ingatan Aneh


__ADS_3

...༻◈༺...


Madam Sharon memberitahu kalau Julie harus melakukan pengikatan kepada tubuh yang cocok dengan June. Pemilik tubuh tersebut tidak lain adalah Shane.


"Pengikatan seperti apa maksudmu?" tanya June. Membutuhkan penjelasan lebih lanjut.


"Julie harus menikah dengannya," jawab Madam Sharon.


"Apa?!" Julie dan June kaget bersamaan.


"Dia akan menjadi tubuh yang ditempati June kan? Jadi dia otomatis dia harus terbiasa ada di sisimu," jelas Madam Sharon.


"Tapi menikah dengan Shane itu akan terasa..." Julie tidak tahu harus berkata apa. Memikirkan menikah dengan Shane sendiri tidak pernah terlintas dalam benaknya.


"Kalau tidak sanggup, ya sudah. Kalian sebaiknya pulang saja. Katanya mau bersama, tapi mendengar syarat pertama saja sudah menyerah," ungkap Madam Sharon sembari menyilangkan tangan di depan dada.


June dan Julie bertukar pandang. Mereka seakan bicara lewat tatapan tersebut.


"Kami ingin mendengar semua caranya dulu," ucap June.


"Andai aku sudah menikah dengan Shane, apa yang harus aku dan June lakukan?" tanya Julie.


"Kalian harus bisa membuat Shane setuju untuk melakukan ritual pengikatan. Setelah itu, barulah June bisa memiliki tubuh Shane!" ucap Madam Sharon. Dia terlihat mematikan rokoknya.


Julie dan June bertatapan lagi. Keduanya segera pergi usai memastikan penjelasan Madam Sharon selesai. Julie juga tidak lupa memberikan uang untuk Madam Sharon.


"Sial! Biayanya mahal sekali. Padahal tadi wanita tua itu hanya bicara. Kita bahkan belum memakai sedikit pun jasanya," keluh June seraya berjalan di samping Julie.


"Itu wajar, June. Tidak semua paranormal bisa memiliki cara seperti Madam Sharon," sahut Julie.


"Lalu bagaimana sekarang? Apa kita akan melakukannya?"


"Entahlah. Aku merasa kasihan dengan Shane. Kau pasti merasakannya juga."


June mengangguk setuju. "Ya. Menumbalkan seseorang untuk kepentingan diri sendiri memang keterlaluan," ungkapnya. Dia tiba-tiba mengingat fakta tentang Shane. Terutama saat dirinya mendatangi apartemen lelaki itu.

__ADS_1


"Aku pernah pergi ke apartemen Shane. Aku pikir Shane cukup menderita dengan hidupnya. Dia merasa tidak nyaman menjadi bagian keluarga Davison."


"Benarkah? Itu pasti berat. Menjadi bagian keluarga Davison pasti tidak mudah. Setahuku orang tua Shane sudah berpisah." Julie menunduk sedih. "Beritahu aku dimana apartemennya. Aku ingin mengajaknya makan malam. Lagi pula kau juga tidak bisa menolongku dalam insiden pesawat itu kalau tidak merasuki Shane. Kita harusnya berterima kasih kepadanya, dan bukannya menjadikan tumbal," tambahnya.


June tidak bisa membantah. Ia memberitahukan dimana apartemen Shane. Keduanya memutuskan langsung mendatangi tempat tersebut.


Setibanya di tempat tujuan, senja berakhir. June otomatis berubah wujud.


Julie menaiki lift. Ketika pintu lift terbuka, June dengan wujud asap jingga terbang lebih dulu untuk menunjukkan jalan. Sampai tibalah dia di depan pintu unit apartemen Shane.


Julie menghembuskan nafas dari mulut. Kemudian menekan bel pintu. Selang sekian menit, pintu terbuka.


Sosok Shane terlihat sangat terkejut menyaksikan kedatangan Julie. Dia sempat membeku dan bingung harus bicara apa. Kehadiran Julie memang selalu berhasil membuat lidahnya kelu.


"Shane! Aku mencemaskanmu karena kau tiba-tiba mengundurkan diri." Julie memberikan alasan mengenai kedatangannya.


"A-aku..."


"Bolehkah aku masuk?" Julie melangkah maju satu langkah.


"Duduklah," ujar Shane.


Julie tersenyum. Dia segera duduk ke sofa. Meletakkan tasnya ke atas pangkuan. Gadis itu mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Memperhatikan bagaimana hunian Shane.


"Aku tidak yakin seorang putra Paul Davison tinggal di tempat seperti ini," celetuk Julie.


Shane menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Sebenarnya alasan dia berhenti dari perusahaan Julie karena indentitasnya yang sudah terkuak. Dia merasa bersalah karena sudah berbohong kepada Julie.


"Aku ingin hidup mandiri. Tanpa nama besar keluargaku. Tapi sepertinya tidak berjalan lancar," ungkap Shane. "Kau tidak marah kepadaku kan?" tanyanya memastikan. Menatap Julie dengan perasaan bersalah.


Julie tersenyum tipis. "Tentu tidak. Lagi pula kau sudah menyelamatkanku saat di pesawat," sahutnya.


Shane terkesiap. Dia bingung harus berkata apa. Bagaimana tidak? Dia sama sekali tidak ingat sedikit pun kejadian di pesawat. Apa yang dilakukannya terhadap Julie terjadi di luar kesadaran. Hal itu wajar saja, karena Shane kala itu sedang dirasuki oleh June.


"Kau mau makan malam bersamaku? Jujur saja, kejadian di pesawat itu membuatku cukup syok. Aku yakin kau juga merasa begitu. Aku merasa kau adalah satu-satunya orang yang paham bagaimana perasaanku," tutur Julie.

__ADS_1


"Makan malam bersamamu?" Pupil mata Shane membesar.


"Ya." Julie mengangguk yakin.


"Aku akan bersiap!" Shane merasa sangat senang. Dia bangkit dari tempat duduk. Namun langkahnya terhenti karena melupakan sesuatu untuk ditawarkan. "Ah, benar. Kau mau minum sesuatu?" tawarnya.


"Tidak perlu repot-repot, Shane. Aku bisa minum saat makan malam nanti," sahut Julie.


Shane mengangguk dengan kikuk. Dia buru-buru berganti pakaian. Shane sekarang berdiri di depan cermin. Menepuk-nepuk pipinya secara bergantian. Memastikan apakah yang dialaminya nyata atau tidak.


"Ini bukan mimpi! Aku akan makan malam bersama Julie!" seru Shane dengan nada pelan. Sebagai orang yang mencintai Julie dalam diam, dia tentu merasakan kebahagiaan tiada tara.


Shane menyisir rambutnya dengan rapi. Lalu mengenakan pakaian terbaik. Dia dan Julie segera pergi bersama untuk melakukan makan malam. Keduanya berjalan kaki bersama di trotoar. June yang sedang berwujud asap jingga selalu mengawasi di sekitaran mereka.


"Shane, beritahu aku. Bagaimana kau bisa mengenalku saat SMA? Karena jujur, aku tidak bisa mengingatmu," kata Julie sembari terus melangkah bersamaan dengan Shane.


"Kau tidak akan bisa mengingatku. Aku hanya kutu buku yang tidak populer di sekolah. Berbanding terbalik denganmu," sahut Shane.


"Apa saat itu kau juga sengaja menutupi identitasmu sebagai anak Paul Davison?"


"Ya." Shane menjawab singkat. Dia masih belum siap menjelaskan semuanya. Terutama terkait rumitnya hubungan keluarganya.


"Bolehkah aku tahu kenapa?" Julie bertanya dengan ragu.


"Ada alasan." Shane masih enggan bercerita.


Julie lantas mengangguk dan mencoba mengerti. "Apapun itu, aku berharap yang terbaik untukmu," ungkapnya seraya menyentuh lembut pundak Shane.


Ketika hendak menyeberang, tiba-tiba ada mobil yang bertabrakan dengan truk. Itu semua terjadi tepat di depan mata Julie dan Shane. Keduanya dan orang-orang di sana sangat kaget dengan insiden tak terduga tersebut.


Saat itulah Julie merasakan sakit kepala yang sangat menusuk. Dia melihat kilatan aneh di ingatannya. Wajah June! Dia melihat lelaki tersebut menyetir mobil. Sementara Julie melihat dirinya duduk di sebelah June. Gadis tersebut melihat sebuah truk yang menghantam mobil mereka. Julie bisa melihat jelas June memeluknya dan mencoba melindungi.


Ingatan yang dilihat Julie terus berlanjut. Dia juga melihat dirinya mengenakan gaun pengantin. Ingatan yang datang tiba-tiba itu membuat kepala Julie tersiksa. Hingga gadis tersebut tak mampu lagi menopang tubuhnya.


"Julie!!!" seru Shane panik. Dia langsung menangkap Julie yang hampir jatuh ke tanah. Gadis tersebut pingsan.

__ADS_1


__ADS_2