Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 34 - Rencana Merasuki Shane


__ADS_3

...༻◈༺...


"Sekarang beritahu. Bagaimana aku saat SMA dulu?" ujar Julie sembari melipat tangan ke meja. Memusatkan perhatiannya kepada Shane.


"Kau cantik," jawab Shane.


June yang mendengar memecahkan tawa. "Hahaha! Itu jawaban terbodoh yang pernah kudengar," imbuhnya. Dia lanjut tertawa.


Julie mendelik. Menurutnya jawaban Shane sama sekali tidak lucu.


Sementara Shane, dia langsung memegangi bibirnya. Dia sadar bahwa jawabannya sangat konyol.


Julie mengabaikan June. Dia kembali menatap Shane. "Maksudmu sekarang aku sudah tidak cantik?" simpulnya.


"Ti-tidak. Bukan itu maksudku, Julie. Aku hanya..." Shane gelagapan. Seperti biasa. Otaknya selalu linglung saat berhadapan dengan Julie. Wajahnya memerah padam.


"Lupakan, Shane. Aku hanya bercanda. Aku tahu maksudmu." Julie terkekeh.


"Astaga, Julie. Lihat wajah Shane. Dia sepertinya akan meledak. Itu merah sekali," komentar June. Dia tidak berhenti berceloteh di samping Julie.


"Kau itu selalu cantik, Julie. Dulu ataupun--"


"Bisakah kau diam?!" kata Julie. Membuat perkataan Shane terpotong. Julie sebenarnya tidak bicara dengan Shane. Melainkan kepada June.


"Aku hanya berusaha memberikan pendapat." June menciut. Dia sedikit memajukan bibirnya.


"Maaf, Julie..." Shane mengira Julie marah kepadanya. Gadis itu sontak menoleh ke arah Shane. Bergegas memperbaiki kesalahpahaman.

__ADS_1


"Tidak, Shane! Aku tidak bicara denganmu. Ponselku sejak tadi terus bergetar." Julie segera memberikan alasan.


Tak lama kemudian makanan datang. Senja beberapa detik lagi berakhir.


"Sial. Aku tidak mau berubah sekarang," ungkap June. Saat itulah Julie terpikirkan sesuatu hal.


"Shane, aku ke toilet sebentar." Julie bangkit dari tempat duduk. Dia tidak lupa memberikan kode kepada June. Hantu berwajah tampan itu lantas mengikuti.


Julie mengajak June bicara empat mata. Gadis itu memaparkan idenya yang baru saja terpikirkan.


"Aku punya ide, June! Aku pikir kau bisa merasuki Shane untuk mencari tahu," cetus Julie.


"Ah, kau benar! Aku sama sekali tidak kepikiran hal itu," tanggap June antusias.


"Kita harus melakukannya tanpa sepengetahuan Shane. Tapi bagaimana caranya?" Julie mendengus kasar. Dia lantas memikirkan caranya.


"Begini saja. Bagaimana kalau aku merasukinya saat Shane tidur? Ide bagus kan?" ungkap June. Membuat pupil mata Julie seketika membesar.


"Nanti setelah aku berhasil merasuki Shane, aku akan menghubungimu lewat ponsel Shane. Oke?" ucap June. Malam baru saja tiba. Dia segera berubah wujud menjadi asap jingga.


Julie mengangguk. Dia segera kembali menemui Shane. Ternyata hidangan baru saja disajikan oleh pelayan. Julie dan Shane menikmati makan malam bersama.


"Mengenai pertanyaanmu tentang bagaimana dirimu saat dulu, aku bisa menjawabnya sekarang," kata Shane. Memulai pembicaraan.


"Kau sepertinya berpikir keras saat aku pergi ke toilet tadi," sahut Julie seraya tersenyum tipis. "Katakan saja, Shane. Buatlah dirimu nyaman. Kita berteman bukan?" sambungnya.


Shane tersenyum simpul. Dia menaikkan kacamatanya. Lalu berkata, "Kau dulu populer saat di sekolah. Kau pintar dan baik kepada semua orang. Termasuk aku. Sejujurnya ada kenangan berkesan yang sangat aku ingat."

__ADS_1


"Apa-apaan itu, Shane? Kau mencoba merayuku? Apa orang sepertiku tidak memiliki kekurangan dimatamu?" tanggap Julie.


Shane menggeleng. "Tidak," jawabnya singkat. Shane bahkan tampak serius dengan jawabannya. Padahal Julie mencoba memancing untuk mengajak bercanda.


"Kau pernah menolongku dari para pembully, Julie. Saat itu kau satu-satunya yang mau membelaku," tutur Shane. Dia menceritakan insiden celana melorot kepada Julie.


"Itu pasti sangat berat untukmu," komentar Julie.


"Aku baik-baik saja. Kau lihat aku bisa bertahan sampai sekarang."


"Aku ikut senang mendengarnya." Julie mengambil segelas kopi dan menyesapnya. Dia meneruskan, "Shane, apa kau tipe orang yang tidur dengan cepat?"


"Tidak juga. Aku biasanya akan tidur cepat saat kelelahan. Tapi kalau tidak, aku akan banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku," jawab Shane.


"Bagaimana dengan hari ini? Apa kau cukup lelah?"


"Sepertinya tidak. Aku malah merasa bersemangat." Shane mengembangkan senyuman cerah. Mengingat dia sedang makan malam bersama gadis pujaannya.


Setelah menyelesaikan makan malam, Julie dan Shane pulang. Shane yang sudah memiliki mobil, mengantarkan Julie pulang ke apartemen. Sekarang gadis itu baru saja melambaikan tangan untuk berpamitan. Dia segera turun dari mobil Shane. Membiarkan June ikut bersama Shane.


'Semoga rencana kita kali ini berhasil, June.' Julie berharap. Kini dia hanya perlu menunggu kabar dari June.


Di waktu yang sama, Shane masih berada di perjalanan menuju apartemen. Dia sekarang tinggal di apartemen yang lebih bagus. Karena telah bersedia meneruskan bisnis orang tuanya, Shane mendapat fasilitas mewah.


Shane tak berhenti bersenandung saat menyetir. Dia sesekali senyum-senyum sendiri. Hati Shane sedang berbunga-bunga karena merasa mendapat perhatian dari Julie. Terlebih gadis tersebut mengajaknya bertemu lagi di akhir pekan.


Sesampainya di apartemen, Shane melakukan banyak aktifitas. Kegiatan terlama yang dia lakukan adalah membaca buku.

__ADS_1


June yang sejak tadi mengikuti, sudah tidak sabar. Apalagi malam semakin larut. Alhasil June nekat masuk ke tubuh Shane tanpa harus menunggu lelaki itu tidur.


"Lama sekali. Lagi pula apa asyiknya membaca buku seperti ini." June yang sudah masuk ke tubuh Shane, meletakkan buku ke atas nakas. Dia bergegas menghubungi Julie. Mereka akan berencana untuk mendatangi Paul Davison. Sosok yang diduga terlibat dengan insiden kecelakaan June dan Julie.


__ADS_2