Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 17 - Pembajakan Di Pesawat [2]


__ADS_3

...༻◈༺...


June mendengar adanya keributan di dalam pesawat. Ia yang sedang berwujud asap jingga, terbang melayang memasuki area penumpang berada. June tentu berusaha memastikan keadaan Julie.


"Kami sedang mencari seseorang di sini. Putra seorang bisnis terkenal dan kaya raya!" ungkap salah satu lelaki yang sedang membajak pesawat. Dia menyebut dirinya Xander. Lelaki itu beserta sembilan rekannya mengenakan topeng untuk menutupi wajah.


Seluruh penumpang ketakutan. Termasuk para awak pesawat. Mereka tidak bisa berkutik karena todongan senjata para penjahat.


"Mike! Kau urus pilot yang bertugas untuk menurunkan pesawat ke bandara terdekat!" titah Xander. Posisinya jelas sebagai pemimpin.


"Cepat mengaku! Siapa yang merasa sebagai putra dari Paul Davison! Jika tidak mengaku." Xander menarik seorang anak kecil. Lalu menempelkan ujung pistol ke kepala anak tersebut. Apa yang dilakukannya sontak membuat semua orang tambah panik. Terutama untuk ibu dari anak itu. Namanya adalah Marlyn.


"Hentikan! Jangan sakiti anakku..." mohon Marlyn. Air matanya bercucuran. Hal serupa juga terjadi kepada sang anak. Keduanya menangis tersedu-sedu.


"Aku akan menembaknya kalau orang yang kucari tidak kunjung muncul! Cepat tunjukkan dirimu!" ujar Xander. Dia semakin menekan pistol ke kepala anak yang ditawannya.


Julie yang melihat sangat takut. Dia mencemaskan nasib anak yang sedang ditawan oleh Xander.


Sementara Shane, dia sama takutnya seperti Julie. Dia tengah berpikir sekarang. Bagaimana tidak? Shane merupakan orang yang dicari oleh Xander dan komplotannya.


Suasana masih hening. Xander tidak melihat ada seseorang yang mengaku sebagai putra Paul Davison.


"Bagaimana ini? Kenapa orang itu tidak mengaku juga? Apa dia tidak kasihan dengan anak itu?" imbuh Julie dengan nada berbisik. Membuat Shane semakin merasa didesak.


"Belum ada yang mengaku juga? Ya sudah kalau begitu, aku akan tembak--"


"Aku! Akulah putra Paul Davison! Kumohon lepaskan anak itu!" Shane mengaku. Dia langsung menjadi pusat perhatian seluruh orang. Apalagi Julie. Mata gadis itu membulat sempurna. Julie tentu tidak menduga kalau Shane adalah putra dari Paul Davison.


"Shane..." panggil Julie lirih. Ia jadi merasa bersalah terhadap apa yang di ucapkannya tadi.


Xander tertawa puas. Dia menyuruh dua rekannya untuk menangkap Shane.


"Periksa kartu identitasnya untuk memastikan kalau dia tidak berbohong!" titah Xander. Karena sudah menemukan orang yang dicari, dia menyerahkan anak Marlyn. Wanita paruh baya itu langsung memeluk sang anak.

__ADS_1


Dor!


Dor!


Tanpa diduga, Xander menembakkan peluru tepat ke kepala Marlyn dan anaknya secara bergantian. Hal itu tentu mengejutkan semua orang di pesawat. Mereka semua berteriak riuh dan merasa tidak sanggup melihat apa yang terjadi.


"Apa yang kau lakukan!" seorang lelaki memberanikan diri melakukan protes. Dia mencoba menyerang Xander. Tetapi dirinya justru juga menjadi korban tembak lelaki kejam itu.


"Aaarkkhhh!!!" seluruh orang lagi-lagi berteriak histeris. Mereka tentu ketakutan.


"Kalau ada yang berani melawan. Maka dia akan mengalami nasib yang sama. Diamlah sampai pilot mendaratkan kita ke bandara terdekat!" ucap Xander. Dia meniup ujung pistol yang tampak sedikit mengeluarkan asap.


Xander segera menghampiri Shane yang masih diperiksa oleh dua rekannya. Bersamaan dengan itu June merasuki Shane. Tepat sebelum lelaki berkacamata tersebut di ikat dengan tali oleh Xander.


Ketika dirasuki June, tubuh Shane langsung mendapatkan sensasi kejut. Kini badannya sudah di ambil alih oleh June.


Dengan gerakan cepat, June mengambil pistol salah satu rekan Xander. Dia juga berhasil menendang Xander dan dua bawahannya.


Akibat ulah June, para penumpang pesawat lain jadi berani melakukan perlawanan kepada para penjahat.


Xander kesal. Dia bergegas mengejar Shane yang sedang kerasukan June.


Keadaan di dalam pesawat jadi kacau balau. June memeluk Julie dengan erat. Berharap apa yang dilakukannya mampu menenangkan gadis tersebut.


"June, aku sangat takut..." isak Julie dalam keadaan terpejam. Dia tentu tahu kalau orang yang memeluknya sekarang adalah June.


"Aku di sini, Julie... Sudah kubilang aku akan selalu menjagamu," sahut June.


Julie mengeratkan pelukannya. Dia merasa sangat lega terhadap keberadaan June sekarang. Julie seolah menemukan tempat teraman dan ternyaman di dunia.


"Hei! Kau!" Dari arah depan, salah satu penjahat terlihat muncul. Dia adalah Mike. Lelaki yang ditugaskan Xander untuk memaksa pilot mendaratkan pesawat ke bandara terdekat.


"Tunggu sebentar. Aku sepertinya harus mengurus lelaki itu!" ujar June sembari melepas pelukan Julie. Dia segera melakukan baku hantam dengan Mike.

__ADS_1


Perkelahian lantas terjadi. Saat itulah Xander datang. Dia berhasil masuk karena memaksa seorang pramugari untuk membukakan pintu ke ruang kokpit.


Dor!


Shane terkena tembakan Xander. June lantas keluar dari tubuh Shane. Untung saja, ada beberapa lelaki yang langsung membekuk Xander dan Mike. Jadi dua penjahat itu tidak sempat memberikan serangan tambahan kepada Shane.


"Shane!" pekik Julie. Dia langsung memeriksa keadaan Shane. Lelaki itu mengeluarkan darah cukup banyak dari perut.


Karena kerjasama seluruh penumpang, para penjahat berhasil dibekuk. Mereka di ikat dengan tali dan diketakkan di bagian paling belakang pesawat.


Pilot melakukan pendaratan darurat di bandara terdekat. Semua korban dan pelaku penyerangan langsung mendapat penanganan. Termasuk Shane yang sempat kena tembakan peluru.


Julie menemani Shane di rumah sakit. Sekarang dia menunggu lelaki itu menjalani proses operasi.


Julie termangu sendiri. Dia memeluk tubuhnya sambil memasang tatapan kosong. Di sebelahnya terlihat ada asap jingga yang terbang mengitari.


"Terima kasih, June..." lirih Julie. Perlahan dia menatap June.


"Kau menyelamatkanku lagi. Aku tidak tahu apa yang terjadi kalau kau tidak ikut. Mungkin Shane sudah hilang dibawa oleh para penjahat itu," ucap Julie. "Aku harap operasinya berjalan lancar," sambungnya.


Selain mencemaskan Shane, Julie juga merasa kalut memikirkan hal lain. Yaitu perihal identitas Shane yang sebenarnya. Jika memang lelaki itu adalah putra Paul Davison, lalu kenapa Shane mau bekerja sebagai sekretarisnya?


Julie tenggelam dalam pikiran cukup lama. Sampai dering ponsel harus menyadarkan lamunannya.


Berita mengenai pembajakan pesawat sudah tersebar ke berbagai media. Keluarga Julie yang mengetahui itu, tentu sangat khawatir.


Julie mendengus kasar. Dia lantas memberitahukan kepada semua orang bahwa dirinya baik-baik saja. Julie juga tidak lupa mengatakan kalau Shane terluka.


Operasi Shane berjalan lancar. Meskipun begitu, dia masih belum siuman. Julie memilih menunggu di taman. Gadis tersebut duduk dengan tenang di sana. Kebetulan June masih terus menemani.


"Aku menunggu senja karena ingin bicara banyak denganmu," ungkap Julie pada June yang masih dalam wujud asap jingga.


Julie memeriksa jam yang melingkar di pergelangan tangan. Sepuluh menit lagi senja akan tiba.

__ADS_1


__ADS_2